Bab 5 Semakin Menjadi-Jadi

1103 Kata
Hal yang ditakutkan oleh Kalea pun terjadi karena ketika hendak makan di kantin wanita itu mendengar nada sumbang tentang dirinya yang di cap sebagai wanita simpanan sang bos. Selain itu, beberapa bahkan hampir seluruh karyawan seolah menjaga jarak darinya entah secara terang-terangan atau sebaliknya. Hal itu sangat jelas terlihat ketika meja yang ditempatinya seharusnya berisi empat orang, malah hanya diisi oleh Dinda dan juga Kalea. Bukan hanya sekedar perasaan Kalea, bahkan ketika suasana kantin sedang penuh mereka memilih untuk berdesak-desakan dengan yang lainnya. Atau ada yang menarik temannya agar tidak semeja dengan keduanya. Mereka hanya tidak ingin bernasib serupa dengan Selly hingga memilih untuk tidak berurusan dengan Kalea. “Udah jangan dipikirin makan aja sih, Kal.” Dinda sejak tadi memperhatikan Kalea yang juga memperhatikan sekitarnya. Wanita itu tahu betul apa yang dirasakan oleh sahabatnya karena memang mereka ada di posisi yang sama, diasingkan. “Gue rasanya mau resign aja deh, Din,” kata Kalea sambil mengacak-acak makanannya. Padahal menu hari ini adalah kesukaannya yaitu ayam bakar madu tapi entah kenapa rasanya hari ini makanan itu terasa tidak mengiurkan seperti biasanya. “Lo mau resign cuman karena gosip murahan itu, Kal?” tanya Dinda dengan alisnya yang bertaut. “Iya,” lirihnya sambil menganggukkan kepala tanpa menatap sahabatnya tersebut. “Lo itu....” “Permisi, gue boleh enggak gabung makan sama kalian soalnya meja yang lain penuh,” kata Juan meminta izin dan berhasil membuat keduanya menatap ke arah pria itu. Yang ada dipikiran Kalea saat ini adalah apakah Juan memang tidak peduli dengan gosip yang beredar? Atau memang belum mendengar gosip tersebut? Karena bisa dibilang ‘kan pria itu baru hari ini masuk kerja di kantor mereka, lebih tepatnya dipindahkan. “Boleh kok, iya ‘kan, Kal?” Dinda seolah meminta persetujuan dari sahabatnya yang masih menatap Juan yang masih berdiri sebelum diizinkan. “Apa lo enggak takut kalau nanti lo bakalan dipecat cuman gara-gara....” Mulut Kalea sudah lebih dulu disumpal dengan tangan Dinda. “Apaan sih lo, Din?” “Udahlah, enggak usah dianggap serius soal gosip itu, biarin Juan gabung sama kita ‘kan kasihan enggak dapet tempat duduk.” “Ya lo boleh duduk kok.” Kalea seketika sadar kalau dirinya memang tidak boleh larut dalam situasi buruk yang diciptakan oleh Selly di kantor. Padahal bisa saja ‘kan wanita itu sedang bersenang-senang di luar kantor karena berhasil menjatuhkan mentalnya saat ini. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali menikmati makan siangnya. Dengan Juan yang juga sudah duduk di sebelah Dinda. “Sorry bukannya mau bikin napsu makan kalian jadi enggak enak tapi gue udah denger kok tentang gosip yang beredar terutama tentang lo, Kal.” Mendengar hal itu membuat Kalea langsung menatap wajah pria itu. Tatapan mata pria itu seolah terlihat tulus, tidak mengejek atau hal aneh lainnya, bahkan terkesan menenangkan hatinya. “Terus, menurut lo? Apa mungkin Kalea ini beneran seorang wanita simpanan?” tanya Dinda yang ingin tahu bagaimana pendapat pria itu. Juan sempat menatap ke arah Dinda dan juga Kalea secara bergantian, lalu pria itu tersenyum. “Soal itu gue enggak mau berkomentar karena bukan ranah gue.” Kalea sempat membuang napas kasar karena menganggap kalau pria itu juga pasti akan menilainya sama dengan yang lain. Hanya saja mungkin pria itu ingin mengambil keuntungan dari gosip tersebut pikir Kalea yang enggan berpikir buruk kepada Juan. “Tapi rasanya enggak adil aja buat kalian dijauhin begini karena hal yang belum tentu benar,” lanjut Juan yang berhasil membuat Kalea bergeming. “Dan satu lagi, pasti bos punya alasan lain kenapa harus mindahin Selly ke divisi lain,” tambah pria itu sambil menatap Kalea ketika pandangan mereka bertemu dengan sudut bibirnya yang ditarik. “Mungkinkah pria ini mengatakan hal itu untuk menyenangkan aku saja? Atau memang dia menyatakan kalau dirinya tidak benar-benar percaya tentang gosip itu.” Tapi hal itu berhasil menarik perhatian Kalea dan hatinya mengatakan pria itu memang berbeda dari yang lainnya, malah jauh lebih baik. Hanya saja Kalea tidak ingin mengambil kesimpulan secepat itu karena ia baru bertemu dan mengenal sosok Juan. *** Dua hari sebelumnya. Juan baru saja sampai di apartemen miliknya, yang sebelumnya sudah dipilih serta melakukan transaksi jual beli kepada pihak pengelola, tepat dua bulan yang lalu ketika pria itu mendapatkan kabar tentang kepindahannya. “Halo Bu, aku baru saja sampai di apartemen,” kata Juan yang sedang melakukan panggilan video dengan sang ibu. “Syukurlah, kalau kamu sudah sampai, Nak.” Kamera langsung beralih kepada bocah laki-laki berumur tiga tahun yang tidak lain adalah putra Juan yang bernama Naufal. “Naufal, bicara dulu yuk sama Papa.” Pria itu tersenyum ketika melihat putranya sedang asyik bermain menyusun tumpukan balok dan juga ada beberapa mobil di sana. “Halo Nak, kamu lagi apa?” “Papa kenapa pergi enggak ajak aku? Papa di mana?” Terasa getir memang mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Naufal, tapi Juan berusaha menguatkan hatinya kalau apa yang dilakukannya saat ini untuk masa depan putranya. “Papa sekarang lagi kerja Nak, jadi enggak bisa aja kamu pergi deh.” Juan terpaksa berbohong agar putranya tidak merengek minta dijemput saat ini juga karena hal itu bisa saja meruntuhkan dinding yang sudah dibangun tebal oleh pria itu. “Terus Papa kapan pulang?” “Papa belum tahu kapan pulangnya tapi nanti kamu tidur sama Kakek dan Nenek ya, jangan tunggu Papa.” “Kenapa Papa belum tahu kapan pulang?” Degh. Jawaban apa yang harus Juan berikan, sungguh otak pria saat ini tidak bisa berfungsi dengan baik, mungkin akibat kelelahan karena tadi berusaha menyetir dari Bandung ke Jakarta. “Naufal, ayo kita makan dulu,” ajak Sardi yang baru saja muncul dari layar ponsel Juan hingga pria itu bisa bernapas lega. “Tuh diajakin Kakek makan, kamu makan dulu ya Nak, Papa juga mau balik kerja lagi cari uang buat beli s**u kamu.” “Iya, Pa.” Beruntung Naufal adalah anak yang penurut dan mudah diatur jadi pria itu merasa sedikit lega untuk menitipkan putranya kepada kedua orang tuanya, walau masih saja ada perasaan bersalah malah melimpahkan tugas tersebut kepada mereka. “Ya sudah Nak, kamu jangan lupa makan siang dan istirahat yang cukup,” pesan ibu Warsih kepada putranya. “Baik Bu, aku titip Naufal ya dan maaf karena masih harus merepotkan Ibu sama Bapak.” “Udah enggak usah dipikirin kamu fokus saja bekerja, soal Naufal biar kami yang urus lagian Ibu sama Bapak juga seneng kok kalau ada Naufal di rumah jadi rame,” kata ibu Warsih sambil tersenyum. “Iya Bu, kalau begitu salam buat Bapak ya.” Kali ini wanita itu meresponsnya denga menganggukkan kepalanya, lalu panggilan telepon keduanya pun berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN