Bab 7 Rekan Senasib

1320 Kata
“Sena, menurutmu bagaimana jika aku mengajak seluruh anggota di divisi keuangan untuk mengadakan acara tahun baru bersama di vilaku yang ada di puncak?” Genta menayakan pendapat asisten pribadinya tentang rencananya tersebut. Jujur saja, hal ini semata-mata dilakukan karena ingin menghabiskan waktu dengan Kalea sekaligus minta maaf pada wanita itu. “Soal itu, saya tidak yakin jika semua karyawan di divisi keuangan bisa ikut nantinya Pak karena mereka pasti sudah memiliki rencana dengan keluarga mereka masing-masing.” Jika dipikirkan kembali memang benar apa yang baru saja dikatakan oleh Sena, kalaupun mereka mau ikut pasti suasananya tidak akan berjalan nyaman dan menyenangkan. “Saran saya, sebaiknya Bapak juga merayakan akhir tahun bersama keluarga Bapak karena sejak kemarin Ibu Wilo menanyakan tentang keadaan Bapak,” sambung Sena. Genta yang mendengar hal itu bukannya merasa senang tapi malah semakin kesal karena sang mama pasti akan merencakan hal untuk mempertemukan dirinya dengan wanita yang hendak dijodohkan dengannya. “Jika Mama sampai bertanya lagi katakan saja kalau aku sibuk di kantor.” “Baik, Pak.” Kalau sudah begini Genta harus mencari cara lain agar bisa bertemu dengan wanita itu walau hanya berdua saja dan meluluhkan hati Kalea agar mau memaafkannya serta memperbaiki hubungan mereka. *** “Kal... Kalea,” panggil Juan ketika mereka baru saja keluar dari lift. Sejak tadi pria itu hendak menawari tumpangan kepada Kalea tapi karena suasana lift sedang ramai dan juga wanita itu sedang asyik mengobrol dengan Dinda. “Kenapa?” “Gue cuma mau nawarin pulang bareng itu juga kalau lo mau sih.” “Pulang bareng?” Kalea mengerutkan dahinya karena pasalnya wanita itu sama sekali belum bertukar informasi tentang alamat mereka. Jangankan untuk mengobrol banyak hal, sejak tadi mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang sedang dikejar deadline. “Iya gue tahu kok kalau lo tinggal di Ocean Tower, ‘kan?” Mendengar hal itu berhasil membuat Kalea membulatkan matanya dengan dahinya yang berkerut, seolah ada tanda tanya besar yang mewakili di sana. “Lo— lo tahu dari mana?” “Sorry kalau gue udah bikin lo kaget tapi....” Juan melirik ke arah Dinda yang sejak tadi ada di samping wanita itu dan mengamati percakapan mereka. “Lo yakin mau gue bongkar kenapa gue tahu soal alamat apartemen lo?” Bola mata Juan yang bergerak ke arah Dinda sempat membuat wanita itu kebingungan untuk memahami kode darinya. Namun, berbeda dengan Kalea, Dinda seakan lebih pintar dan mengerti hingga akhirnya memutuskan untuk pamit. “Kenapa sih lo, Juan? Tinggal ngomong aja susah banget,” omel Kalea. “Kal, gue kayaknya pulang duluan ya soalnya mau mampir ke tempat lain,” pamit Dinda yang langsung direspons dengan anggukan kepala oleh Kalea. Wanita itu tidak lupa memberikan pelukan hangat sebelum pergi meninggalkan sahabatnya. Sebenarnya Juan bisa saja langsung mengatakan tentang kejadian kemarin tapi takut jika nanti malah menyinggung perasaan wanita itu. “Jadi, lo mau pulang bareng sama gue atau....” Kalea melipat tangannya dengan sorot matanya yang tidak lepas dari pria yang ada di hadapannya. Wanita itu mau saja sih pulang jika memang searah tapi ia merasa harus waspada dengan sosok Juan. “Mending lo sekarang ikut gue deh, nanti gue jelasin alasan kenapa gue tahu soal alamat lo,” kata Juan sambil menarik tangan wanita itu hingga ikut dengannya ke arah parkir. Namun ketika pria itu sudah membukakan pintu mobil, Kalea enggan masuk ke dalam karena takut jika dirinya diculik, apalagi mereka baru saling kenal di kantor lagi. “Kal, udah sore nih, bisa-bisa nanti kita kejebak macet loh,” kata Juan memperingati. “Sorry gue enggak bisa pulang sama lo karena bisa aja ‘kan ada udang di balik bakwan.” “Ya ampun Kal, gue masih butuh duit kok jadi mana mungkin gue mau macem-macem sama lo,” balas Juan. “Tapi kalau lo enggak mau pulang bareng gue yaudah.” Pria itu melangkahkan kakinya memutari bagian depan mobilnya lalu masuk ke dalam. Tapi di detik berikutnya, Juan tersenyum karena wanita itu sudah duduk di sebelahnya. “Lo jangan salah paham, gue ikut pulang bareng sama lo karena gue cuman penasaran aja kenapa lo bisa tahu tentang alamat apartemen gue,” jelas Kalea sebelum pria yang duduk di kursi pengemudi membuka matanya. Juan hanya bisa tersenyum lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area kantor. “Kal, gue enggak tahu lo bakalan inget atau enggak kalau kita pernah ketemu sebelumnya, bahkan gue kasih sapu tangan buat lo.” “Sapu tangan?” Kalea mengerutkan dahinya untuk mengingat kapan ia menerima sapu tangan dari orang lain entah di mana. “Astaga,” gumam Kalea sambil menutup mulutnya dan menoleh ke arah Juan dengan bola matanya yang nyaris ingin keluar dari tempatnya berada. “Jadi lo orang yang waktu itu—” Juan menoleh sebentar dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sungguh wanita itu merasa sangat malu dan hal itu terlihat dari wajahnya yang sudah memerah. Jujur Kalea tidak pernah ingin dilihat banyak orang ketika sedang sedih apalagi sampai menangis, karena baginya hal itu menadakan dirinya menerima kekalahan dan juga menjadi manusia yang sangat lemah serta rapuh. Jadi bisa dibilang wanita itu jarang serta bahkan tidak banyak orang yang tahu kalau Kalea memang secengeng itu. Malah sering kali orang lain mengatakan kalau dirinya adalah wanita yang tidak memiliki hati hanya karena tidak pernah menangis di depan umum. “So, apa sekarang lo mikir kalau gue ini orang jahat yang mau nyulik lo?” Kalea berdehem dan berusaha untuk bersikap sesantai mungkin. “Enggak sih tapi thank’s ya karena lo tadi enggak bilang soal hal ini di depan orang lain.” Wanita itu menatap ke luar jendela. “Dan soal sapu tangan lo na—“ “Enggak usah buat lo aja atau mau dibuang juga gpp kok,” potong Juan. Kalea hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan pria itu yang seolah baru saja memberikan sapu tangan bekas untungnya. “Tapi kemaren itu lo nangis bukan karena habis putus cinta terus sampai guling-gulingan di tanah, ‘kan?” Mendengar hal itu membuat Kalea merasa terkejut tapi ia tahu maksud pria itu hanya ingin membuka obrolan dengan sebuah candaan, ya walau memang terdengar garing sih. “Sembarang enggaklah, gue bukan anak kecil yang suka tantrum tapi lo pasti juga denger ‘kan kabar tentang gue yang masih belom bisa move on.” Kalea terlihat lesu. “Sorry ya, kalau gue udah bikin lo jadi sedih.” “Enggak apa-apa kok, lagian emang itu faktanya,” kata Kalea dengan senyumnya yang terasa getir dan siapapun yang melihatnya pun akan merasakan kesedihan yang sedang dirasakan olehnya. Namun hal yang tidak disangka membuat wanita itu terkejut karena Juan memegang tangannya hingga ia langsung menoleh. “Lo yang sabar ya, gue yakin suatu saat akan ada bahagia yang datang ke kehidupan lo tapi lo juga jangan sedih berkelanjutan ya.” Entah kenapa hatinya menghangat mendengar ucapan pria itu, hal yang mungkin hanya akan didapatkan dari sahabatnya Dinda, karena biasanya orang-orang akan menghakimi atau mungkin salah menilai tentang dirinya. “Hidup ini berputar Kal, gue juga pernah kok apa di posisi lo dan ngerasain bagaimana kehilangan orang yang paling kita sayang tapi ya bedanya dia masih hidup dan gue enggak tahu di mana dia sekarang.” Seakan mendapatkan rekan yang senasib dengannya, Kalea jadi ingin memberikan semangat yang sama kepada pria itu hanya saja ia bingung. “Thank’s tapi kayaknya lo juga harus semangatin diri lo sendiri deh karena kisah lo enggak jauh miris dari gue,” kata Kalea dengan senyumnya yang mengejek. Juan sendiri tidak keberatan diejek seperti itu karena tandanya mereka sekarang sudah seakrab itu sebagai teman. Tapi ketika tiba-tiba saja langkah Kalea terhenti ketika mereka baru saja keluar dari lift. Wanita itu menoleh ke arahnya dengan dahinya yang berkerut. Sejak tadi memang Kalea merasa heran karena pria itu terus saja mengikutinya, mungkinkah Juan ingin terus mengikutinya? “Ada apa?” “Gue cuma heran aja, kenapa dari tadi ngikutin gue sampai ke sini? Lo enggak punya hobi jadi penguntit, ‘kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN