Bab 3 : Godaan duda panas

1002 Kata
Flavia tentu saja sangat kaget sekali karena pria itu mendadak menciumnya. Fabiano memang idolanya, tapi ini tidak benar. Mereka baru saja kenal, tapi apalah daya harus terjadi seperti ini. Flavia mendorongnya dengan kuat sembari menampar pipinya. Dia langsung berdiri, tapi tangannya dicekal oleh Fabiano. "Via, aku minta maaf. Aku tidak sadar telah melalukannya," ucap Fabiano. "Kamu sadar melakukannya. Tak seharusnya aku sok dekat denganmu," jawab Flavia kemudian pergi dari sana. Flavia keluar dari kamar Fabiano dan masuk ke apartemennya sendiri. Apa-apaan ini? Kenapa ciuman pertamanya diambil oleh Fabiano? Dia memang senang, tapi tetap saja ini tidak boleh terjadi. Jantungnya berdetak dengan kencang, ia kemudian duduk di sofa sembari meminum air putih. Ah! Dia lupa jika Fabiano adalah duda yang haus akan belaian. Semoga saja jika mereka bertemu lagi maka tidak canggung. Setelah detak jantungnya normal kembali, Flavia menghela nafas panjang dan menuju ke apartemen sebelah lagi. Tugasnya masih tertinggal di sana, mau tak mau dia harus mengambilnya. Suara pintu terdengar diketuk, pintu langsung terbuka, Fabiano sungguh meminta maaf. Dia tidak bisa mengontrol hawa nafsunya dan melakukan hal yang tidak-tidak pada Flavia. "Aku minta maaf, sebagai gantinya aku akan membantu mengerjakan tugasmu," ucap Fabiano. "Tak usah, aku ke sini hanya mengambil tugasku saja dan aku bisa mengerjakan sendiri," jawab Flavia. Flavia masuk ke dalam dan mengambil tugasnya, ia pamit lalu masuk ke kamar apartemennya lagi. Fabiano mengusap wajahnya kasar, dia sudah melakukan kesalahan dan tentu saja semua ini adalah salahnya. Andai saja dia tidak khilaf sampai melakukan hal seperti itu pasti Flavia tak akan marah. Fabiano mengambil air dan lekas meminumnya, ia masih mengingat rasa bibir itu yang manis serta kenyal. Dia jadi merindukan sentuhan Wanita, tapi apalah daya sekarang dia hanya bisa menelan ludah kasar. Karena dia sudah terlanjur gerah, maka dari itu dia memutuskan untuk mandi saja. Setidaknya rasa panas pada hawa tubuhnya bisa mendingin. Ya, duda memang seperti ini. Setelah masuk ke kamar mandi, Fabiano berdiri si atas shower, dia masih teringat benda kenyal tadi yang membuatnya oleng. Dia sangat frustasi karena tidak bisa menuntaskannya. Karena tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, dia memutuskan keluar dan memakai pakaiannya. Fabiano menghabiskan satu liter air karena merasa kehausan, ia lalu membuang botol itu dan menendang tembol berkali-kali. Tidak ada hal yang berubah dalam hidupnya dan masih sama seperti ini. Di apartemen sebelah tentu saja terdengar suaranya, Flavia mendengarkan dengan seksama. Dia tentu saja khawatir dengan duda depresi itu dan menghampirinya lagi. "Ada apa?" tanya Flavia. Fabiano terhenti dengan kuku yang sudah bersimbah darah. Flavia lekas mengobatinya dan mengelapnya dengan tisu terlebih dahulu. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa menyakiti dirimu sendiri?" tanya Flavia. "Apa pedulimu? Menyingkirkah!" teriak Fabiano. Flavia tidak memperdulikan ucapannya kemudian terus mengobati Fabiano. Dia tak paham apa yang dirasakan pria itu, tapi ia paham jika perceraian memang menyakitkan, itu yang dirasakan orang tuanya dulu. "Kuku mu terlepas, tapi aku sudah mengobatinya. Kamu jangan begini hanya karena satu wanita," ucap Flavia. Flavia memeluknya dengan erat, dia tak peduli seberapa jahatnya Fabiano, tapi tetap saja saat ini dia masih butuh perhatian dan kasih sayang. *** Malam hari. Flavia membawakan makanan lagi karena pertanda terima kasih sudah membantu menyelesaikan tugas dan meminjamkan laptop. Fabiano memakannya dengan lahap sembari menonton televisi, setidaknya sekarang ini dia punya teman untuk mengobrol."Orang tuamu tidak mencarimu?" tanya Flavia. "Aku sudah besar dan kenapa mereka harus mencariku? Katanya aku ini bisa mengurus diri sendiri," jawab Fabiano. "Mereka tahu jika kondisimu mengenaskan seperti ini?" tanya Flavia. "Katanya ini adalah karmaku dan aku harus menerimanya, tapi seiring berjalannya waktu aku merasa gila," jawab Fabiano. Flavia menggenggam tangannya dengan erat. "Pasti ada solusi dan kehidupanmu akan seperti sedia kala. "Fabiano mengangguk, ia berdiri dan mencuci piring mereka sementara Flavia berkirim pesan pada mantan kekasihnya. Pria itu masih ingin menjalin hubungan dengannya, tapi Flavia tidak mau. Ponselnya tiba-tiba berdering, Flavia tidak mengangkatnya dan berpura-pura menonton televisi. "Ada telpon, kenapa tidak diangkat?" tanya Fabiano. "Ah! Tidak penting. Oh iya, aku harus kembali ke kamarku. Aku mengantuk," jawab Flavia. Fabiano mengangguk paham, dia mengantar sampai di luar, tapi tepat di depan pintu apartemen gadis itu ada seorang pria yang seolah menunggunya. "Flavia, kenapa tidak mengangkat teleponku?" tanya pria itu. "Joe, pergilah! Aku sedang sibuk," ucap Flavia. "Ikut aku!" ucap Joe sambil menarik paksa tangan gadis itu. Tiba-tiba Fabiano menarik tangan Flavia yang satunya seolah tidak memperbolehkan untuk pergi. "Dia tidak mau pergi denganmu maka dari itu jangan memaksa!" Joe memandangnya dengan tajam, dia tidak tahu siapa Fabiano, tapi dengan jelas sudah mengusiknya. Adu debat pun terjadi apalagi Fabiano adalah orang yang tidak mau terkalahkan. "Aku kekasihnya. Jadi kamu lepaskan Flavia sekarang juga!" ucap Joe." Jika aku tidak mau bagaimana? Dia tetanggaku dan aku berhak melindunginya," jawab Fabiano. "k*****t! Lepaskan kekasihku sekarang juga!" gertak Joe. Fabiano maju selangkah kemudian melepaskan genggaman tangan Joe kepada Flavia. Joe hendak melemparkan pukulan, tapi dihalau oleh gadis itu. "Hentikan, Joe! Aku tidak mau ikut denganmu," ucap Flavia, dia terus memberontak. "Siapa pria itu? Apa dia sugar daddy barumu?" "Jika iya kenapa?" sahut Fabiano. Tentu saja Flavia kaget mendengarnya. Joe juga nampak kaget, dia kemudian pergi dari sana dengan perasaan kesal sementara Flavia menjadi canggung dengan duda itu. "Kenapa kamu mengaku sebagai sugar daddy-ku?" "Kamu bodoh rupanya? Supaya dia pergi. Begitu saja tidak tahu." Fabiano membuka pintu apartemen Flavia, ia baru melihat isi di dalamnya yang sangat rapi sekali. Dia langsung masuk tanpa izin dan melihat beberapa poster bergambar dirinya. Ya, tentu saja dulu Fabiano orang yang sangat terkenal sekali. "Ah! Ini sangat memalukan, seharusnya aku melepaskan semua poster ini," ucap Flavia. "Ternyata aku masih ada penggemar setelah skandal yang aku alami. Terima kasih sudah mengagumi pria sepertiku. Kamu tahu 'kan dulu aku berselingkuh dan diceraikan istriku? Apa kamu masih mengidolakan pria sepertiku?" tanya Fabiano. Flavia tersenyum. "Terlepas dari skandalmu, kamu adalah pemimpin perusahaan yang keren. Ya, aku sempat kecewa di awal, tapi alasanku mengidolakanmu bukan hanya itu saja. Toh, sekarang skandal itu sudah berlalu." Fabiano senang mendengarnya. "Kamu mau menjadi sugar baby-ku? Mungkin sekarang aku masih miskin, tapi aku sungguh butuh orang sepertimu untuk menemani sisa hidupku yang kelam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN