Bab 5 : Aku hamil anakmu

1070 Kata
Flavia pulang ke apartemennya, dia melirik apartemen sebelah sambil tersenyum kecil, ia lekas mengetuknya dan ingin membelikan oleh-oleh dari Roma, tetapi tidak ada sahutan dari dalam sana. Flavia mencoba menggunakan kata sandi yang dipakai pada pintu itu, tapi ternyata sudah salah. Saat bersamaan petugas kebersihan datang dan hendak membersihkan kamar Fabiano, mereka menjelaskan jika apartemen itu akan dikosongkan karena sang pemilik sudah pindah. Mendengar hal itu membuat Flavia kaget, kenapa dia tidak diberitahu oleh Fabiano tentang kepindahannya? Selepas itu Flavia mencoba menghubungi kekasihnya tapi nomor itu sudah tidak aktif. "Apa aku dibohongi?" tanya Flavia. Beberapa hari kemudian, Flavia masih belum bisa menghubungi Fabiano dan ia mendapatkan kabar berita dari televisi jika Fabiano ternyata kembali menjadi CEO setelah setahun lebih menghilang. Di televisi Fabiano nampak gagah berwibawa, ia juga menggandeng seorang wanita cantik yang diduga adalah calon istrinya yang baru. Perasaan Flavia begitu tercabik-cabik bahkan mangkok yang berisi sup di tangannya terjatuh kemudian pecah begitu saja. "Dasar penipu! Dasar pengkhianat!" Flavia menangis sejadi-jadinya karena sudah dibohongi duda itu dan padahal ia sudah memberikan keperawanannya untuk Fabiano. Cinta dan nafsu memang berbeda akan tetapi sepertinya kali ini Flavia sangat bodoh. Tak mebutuhkan waktu lama, Flavia memutuskan untuk pergi ke Roma untuk menyusul Fabiano dan memberitahu jika ia sedang mengandung anak dari CEO itu. Dengan perjalanan menggunakan bus membutuhkan beberapa jam dan pada akhirnya sampai juga, ia berjalan sedikit dari halte menuju ke gedung perusahaan Moreno yang dimiliki keluarga besar Fabiano. Ada rasa was-was dan Flavia sampai berpiki berulang kali kenapa dia bisa ada di sini tetapi tentu saja ada janin yang harus dipertanggungjawabkan ayah biologisnya yaitu Fabiano. Flavia masuk ke dalam dan menemui resepsionis, ia langsung mengatakan ingin bertemu dengan Fabiano. "Permisi, saya Flavia dan ingin bertemu Fabiano." "Sudah ada janji sebelumnya?" "Saya pacarnya." Dahi resepsionis itu berkerut. "Maaf, Tuan Fabiano sekarang tidak bisa diganggu karena sedang ada acara besar untuk menyambut kembalinya sang presdir," jelas resepsionis. "Saya akan menunggu." Flavia langsung duduk di sofa sambil membawa majalah di atas meja, ia menunggu berjam-jam sampai suatu ketika Fabiano keluar dari lift bersama beberapa asistennya. Flavia tersenyum senang kemudian berlari dan memeluknya dengan erat. "Hei!" teriak Asisten Javer, dia adalah asisten utama dari Fabiano. Flavia mendongak ke wajah Fabiano, dia tersenyum manis, tetapi Fabiano tidak, tubuh Flavia diseret dengan paksa oleh petugas keamanan dan ia melihat Fabiano membersihkan jas hitamnya seolah merasa gadis itu kotor. "Kamu tidak sopan sekali, Nona," ucap Asisten Javer. "Fabiano, kenapa kamu mendadak menghilang dan sekarang berubah?" tanya Flavia masih dipegangi petugas keamanan. "Kamu siapa? Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Fabiano. "Kamu lupa padaku? Aku Via, kita tetangga saat di Milan," jawab Flavia. Asisten Javer ikut menyahut. "Anda mengenalnya, Tuan?" Fabiano menggelengkan kepalanya. "Tidak," Dia lalu berjalan melewati Flavia begitu saja, di saat bersamaan Selina keluar dari lift dan melirik Flavia, wanita itu menggandeng tangan Fabiano lalu kepalanya bersandar pada bahu pria itu. Ini sungguh penghinaan bagi Flavia, bisa-bisanya dia terkena tipuan duda itu. Flavia diseret lalu di dorong keluar dari gedung tersebut, ia hanya bisa meneteskan air mata karena perlakuan kekasihnya. Flavia memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, ia menangis sejadi-jadinya sambil memukuli bantal. Dia hamil, tapi pria itu berpura-pura tidak mengenalinya. "Fabiano jahat! Fabiano jahat!" Nasi sudah menjadi bubur, memangnya Flavia pikir dirinya siapa sampai menaruh harapan besar kepada pria kaya tersebut? Dia hanya seorang mahasiswi miskin yang hanya beruntung bisa tidur dengan Fabiano padahal jika dipikir-pikir pasti pria itu sudah meniduri banyak wanita. *** 6 bulan kemudian. Flavia mengelus perut buncitnya yang kini akan menuju ke 7 bulan, orang tuanya tidak tahu jika dirinya hamil dan saat ini ia mulai mengajukan cuti kuliah. Kenapa dia tidak mengejar Fabiano lagi dan memberitahukan jika ia sedang mengandung anaknya? Fabiano sudah mengumumkan siapa calon istrinya dari sejak beberapa bulan yang lalu dan hari ini adalah pernikahan mereka yang disiarkan di beberapa stasiun televisi. Selina adalah seorang bangsawan sementara Fabiano adalah CEO terkenal maka dari itu pernikahan mereka membuat semua jagad media heboh. "Aku tidak akan tertipu pada laki-laki lagi," ucap Flavia sambil mengelus perut buncitnya dan matanya melihat pengantin itu berciuman setelah dinyatakan sah menjadi suami istri. Tiba-tiba perut Flavia terasa sakit karena ditendang bayinya dari dalam perut, saat ini bayi itu sedang aktif-aktifnya bahkan membuat hidup Flavia sedikit melupakan Fabiano. Saat bersamaan pintu apartemennya terketuk, ia membukanya dan ada sepucuk surat di depan pintu. Flavia mengambil dan membawa masuk ke dalam apartemen lalu membacanya. Dear, Via. Maaf atas segalanya, anggap saja hubungan kita tidak ada apa-apa. Aku sudah menikah jadi jangan pernah ungkit apa yang kita lakukan dulu. Di dalam amplop ini juga ada uang, anggap saja itu ganti rugi karena sudah merepotkanmu selama sebulan menjadi tetanggaku. Dari Fabiano. Flavia meremas kertas tersebut, dia sangat kesal sekali dan sangat hancur. Bisa-bisanya Fabiano dengan semudah itu mengatakan hal seperti itu. Semoga saja suatu saat dia mendapatkan karma setelah apa yang dia perbuat kepada Flavia. Hari melahirkan pun tiba, Flavia datang ke rumah sakit sendirian dan berjuang sendirian tanpa siapa pun disisinya. Rasa sakit menyeruak di sekujur tubuhnya dan dia terus mengejan dengan arahan dokter, ia juga membayangkan wajah Fabiano yang bahagia dengan istrinya sekarang sedangkan Flavia sendiri berjuang mati-matian melahirkan anak Fabiano. Tak berselang lama terdengar suara bayi, Flavia meneteskan air mata karena anak yang dia kandung selama 9 bulan ini sudah lahir dengan jenis kelamin laki-laki. "Selamat Bu Flavia, anda boleh menyusuinya," ucap dokter. Flavia memberikan asi pertama pada bayi itu kemudian memandang bayi itu dan ia merasa wajahnya sangat mirip dengan Fabiano. "Maaf, suami anda di mana? Mau saya telponkan supaya bisa melihat wajah bayinya?" tanya dokter itu. "Tidak perlu, dia sudah bersama wanita lain," jawab Flavia. "Maaf, saya tidak tahu," ucap dokter merasa tidak enak hati. Flavia tersenyum. "Saya tidak akan sedih karena saya sudah punya bayi ini. Ludovic Dominico Moreno, saya akan memberi nama itu." "Nama yang indah sekali, dia akan menjadi anak yang hebat di masa depan," jawab dokter tersebut. Di sisi lain. Fabiano merasa hatinya terus berdesir saat sedang bekerja di kantornya, perasaannya mengatakan terjadi sesuatu, tapi dia bingung sendiri sesuatu apa itu? Asisten Javer datang melihat sang tuan sedang gundah gulana. "Ada apa, Tuan?" "Bagaimana kabar wanita itu? Maksudku Flavia? Apa dia datang lagi kesini?" "Saya pastikan dia tidak akan datang lagi, Tuan Fabiano." "Cepat cari kabar wanita itu sekarang! Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya. Apa dia baik-baik saja di sana setelah aku campakkan atau mungkin menjadi gila? Dasar wanita bodoh! Mudah sekali aku tipu," ucap Fabiano menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN