Bab 1 : Sebuah Kebenaran

1264 Kata
Melihat mobil Bara yang sudah tidak ada di tempat terakhir kali ia melihatnya, Queen menduga jika ia sudah pergi dari apartemen Liandra. Tak membuang waktu dan keberaniannya, Queen keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung apartemen, tempat tinggal yang ia duga adalah milik selingkuhan suaminya itu. Ia mendekati salah satu petugas apartemen yang berjaga di lantai satu. “Maaf, Tuan, saya ingin bertanya. Apa di apartemen ini ada unit yang ditempati atas nama Liandra? Dia teman saya yang baru pindah kemari,” tanya Queen ramah pada pria setengah baya tersebut. “Benar, Nona Liandra tinggal di sini. Sesekali kekasihnya juga datang berkunjung. Dia ada di unit lantai 3 nomor 112.” Mendengar informasi yang dikatakan oleh sang petugas, ia semakin yakin jika suaminya memang berselingkuh dengan gadis ini. “Terima kasih, Tuan. Selamat bekerja kembali.” Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena sudah mendapatkan informasi, Queen segera menaiki lift untuk mencapai lantai tiga. Tak sulit untuk menemukan unit apartemen nomor 112 di lantai 3. Setelah menemukannya, Queen segera menekan bel di samping pintu tersebut, dan tak butuh waktu lama pintu di depannya segera terbuka. “Apa ada sesuatu yang kamu tinggalkan, Bara?” Ekspresi wajah Liandra yang semula ceria, berubah ketika mengetahui bukan Bara yang ada di depan apartemennya. “Sepertinya saya bukan orang yang kamu harapkan, Nona Liandra.” Queen tersenyum tenang. Sedangkan Liandra menampakkan ekspresi terkejut di wajahnya dan ada sebuah sorot mata ketakutan ketika melihat Queen. “Maafkan saya, Nona Queen.” Liandra hanya menundukkan kepalanya karena tak tahu harus berkata apa. “Sepertinya suami saya sering berkunjung kemari. Apa saya juga boleh berkunjung kemari?” tanya Queen yang dengan yakin tidak akan mendapatkan penolakan dari Liandra. “Si-silahkan masuk, Nona Queen.” Liandra yang lagi-lagi bingung dan tak mempunyai pilihan lain, mempersilahkannya masuk. Begitu masuk ke dalam apartemen, Queen segera meneliti seisi ruangan. Untuk ukuran pekerjaan Liandra yang hanya seorang sekretaris Bara, tidak mungkin ia bisa membayar sewa apartemen mewah yang cukup luas ini, ditengah biaya hidup di kota yang cukup mahal. Atau Bara, suaminya, yang membayarnya. Tentu saja begitu. Liandra segera membereskan ruang tamu yang cukup berantakan dengan peralatan makannya tadi. Lalu pergi ke dapur sekaligus untuk menyiapkan minuman. Ia mulai memikirkan alasan yang bagus untuk menutupi hubungannya dengan suami dari wanita itu. “Apa suami saya baru saja berkunjung kemari?” tanya Queen berbasa-basi setelah ia duduk di sofa ruang tamu. “Ya, kami baru saja membicarakan beberapa pekerjaan. Soal yang tadi, Tuan Bara menyuruh saya untuk menggunakan bahasa non formal ketika di luar kantor. Seperti rekan kerja yang lainnya.” Liandra menjelaskan dari dapur. Ia sepertinya masih memiliki keberanian dengan berbohong pada Queen. “Apa kamu tinggal sendiri? Dimana orang tuamu?” tanya Queen kembali yang tak membahas lebih jauh mengenai hubungan Bara dan Liandra. “Orang tua saya ada di kampung halaman kami, Nona,” sahut Liandra yang tak lama datang dari arah dapur dan menghidangkan dua gelas minum. “Apa mereka tidak kamu ajak tinggal di sini saja? Apartemen ini cukup mewah dan luas,” komentar Queen yang masih saja berbasa basi. “Mereka tidak menginginkannya.” Bagaimana bisa ia mengajak kedua orang tuanya tinggal bersama dengannya, sementara ia memiliki kekasih yang sudah beristri. Liandra berusaha menghindari kontak mata dengan Queen untuk menyembunyikan kebohongannya. Queen meminum teh yang disajikan oleh Liandra. Begitu pun dengan Liandra yang juga tengah berharap, Queen segera pergi setelah menyelesaikan basa basinya. Namun, pada kenyataan, Queen tidak datang hanya untuk berbasa basi. Ia meletakkan gelas yang tinggal tersisa setengah itu ke atas meja. Kali ini ia menatap lurus tanpa senyuman lagi di wajahnya pada Liandra yang semakin gugup. “Ada hubungan apa antara kamu dan suami saya?” tanya Queen yang menjadi tujuan utamanya kemari. “Apa yang Anda katakan, Nona? Saya dan Tuan Bara-” “Saya memiliki bukti foto-foto kalian yang pergi setiap makan siang di luar kantor dan saat kalian bersama di hari libur seperti ini. Apa foto-foto mesra kalian ini tidak bisa saya pertanyakan, hubungan apa sebenarnya yang kalian miliki?” potong Queen sambil membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Bara dan Liandra yang sudah ia kumpulkan. Liandra sudah tidak bisa mengatakan apapun mengenai foto tersebut yang memang adalah dirinya dan Bara bahkan yang terbaru tadi. Jika ia sekarang mengatakan semuanya pada Queen, maka semua rencana Bara yang sudah tersusun akan hancur karena Queen sudah mengetahuinya lebih dulu. Setelah itu, entah apa yang akan dilakukan oleh Queen. Dan itu akan berdampak pada hubungannya dengan Bara. Tidak, tunggu. Jika setelah Queen mengetahuinya sekarang dan memutuskan untuk menceraikan Bara, bukankah itu hal yang bagus? Bara tidak memiliki pilihan lain selain menikahinya karena bayi ini. Itu justru akan mempermudah hubungan mereka. “Saya harap kamu menjawabnya dengan jujur, Liandra. Saya lebih baik menerima kejujuran daripada sebuah kebohongan.” Queen kembali berbicara sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Liandra masih tak menatap Queen, tatapannya lurus ke arah gelas di tangannya. Dengan suara gemetar dan berkeringat dingin, Liandra berbicara, “Kami memang memiliki hubungan spesial yang melebihi atasan dan bawahan, Nona Queen.” Queen menghela napas dan memalingkan wajahnya ke samping tak lagi menatap Liandra. Sedangkan Liandra menunggu dengan harap-harap cemas apa jawaban yang akan dikatakan Queen. “Kalau begitu saya meminta sebagai sesama wanita terhormat, untuk meninggalkan suami saya, Nona Liandra. Saya tahu dan percaya bahwa kamu adalah wanita cerdas yang mengetahui mana-mana saja hal yang benar dan salah. Masih ada banyak-” “Hubungan spesial kami sudah tidak bisa dipatahkan hanya dengan ucapan Anda saja, Nona Queen.” Liandra segera memotong ucapan Queen dengan panik yang membuat Queen kembali menatap pada dirinya. “Apa maksudmu?” tanya Queen tajam. “Ka-karena Tuan Bara harus bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam perut saya. Itu adalah hubungan spesial kami.” Perkataan Liandra membuat Queen membelalakkan matanya dengan sempurna karena terkejut. “A-apa?” Otaknya segera mencerna arti dari apa yang dikatakan oleh Liandra. Dirinya dan Bara yang sudah menikah selama 5 tahun saja masih belum juga memiliki anak. Sedangkan Liandra sedang mengandung sekarang dan itu adalah anaknya Bara. Itu tidak mungkin. “Apa dia benar-benar adalah anak dari Bara?” Queen mencoba untuk tetap tenang. “Saya sama sekali tidak berhubungan dengan pria lain sejak saya lahir selain dirinya, Nona Queen!” jawab Liandra lantang, merasa jika Queen merendahkannya. “Apa Anda mempertanyakannya karena Anda dan Tuan Bara masih belum memiliki anak sampai sekarang?” tanya Liandra dengan nada mengejek. “Tuan Bara selalu mengatakannya pada saya, jika ia terkadang kecewa pada istrinya. Di saat istri lain memberikan perhatian penuh hanya pada suami dan rumah, istrinya justru sibuk bersaing dengannya dalam pekerjaan. Itulah kenapa, Tuhan tidak memberikan kalian anak karena sang istri masih saja seperti seorang gadis lajang yang bekerja di luar saat suaminya sudah lebih dari cukup memenuhi kebutuhannya.” Queen menancap pedal gas mobilnya untuk segera sampai di rumahnya. Begitu sampai, ia belum juga turun dari mobil, mengetahui jika Bara ternyata sudah pulang lebih dulu. Jujur saja, saat ini dirinya sangat enggan bertemu dengan Bara setelah ia mengetahui kelakuan suaminya. Namun, belum sempat Queen memutar mobilnya, Bara sudah keluar dari rumah dan melihat mobilnya. Ia mendekat dan mengetuk kaca mobilnya. “Queen … “ Pikirannya berubah, Queen merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya sebelum akhirnya ia keluar dari mobil. Sebuah rekaman suara yang dikenali oleh mereka berdua, terdengar dari ponsel Queen. Perkataan dari suara tersebut membuat Bara terkejut dan tak bisa berkata apapun. Sedangkan Queen yang sekali lagi mendengar perkataan Liandra tadi, sudah tidak bisa menahan air matanya. “Queen, aku bisa jelaskan semuanya,” ucap Bara sambil berniat menggapai tangan Queen. - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN