Memperkuat diri

1723 Kata
Hari demi hari ku lewati.. Waktu demi waktu telah habis.. Bahkan semuanya akan menjadi sebuah kenangan.Kisah,canda,tawa,senyuman,kebahagiaan bahkan tangisan pun ku lalui bersama denganmu.Semua itu akan berakhir menjadi sebuah kenangan di antara kita berdua.~Bella,You're (Not) My Sugar Daddy. Pagi ini aku seperti biasa melakukan rutinitas perkuliahanku untuk menyetor tugas tertulis kepada dosen kesayangan ku yaitu Bu elwis.Dia adalah Dosen kedokteran yang sangat tegas dan keren. "Bell, tungguin... " ujar Erika menghampiriku setengah berlari. "Haha santai Ka'... " ujarku sambil berjalan bersama dengannya. "Tahu gak gosip tentang adik tirimu?" "Hah?aku gak peduli tentang ya." "Yakin dirimu gak mau tahu.." ujarnya seraya membuatku penasaran. "Memang apaan?" "Kata ya dia ikutan kompetisi Fashion jadi model gitu.. " "Ohh, biarkan saja." jawabku tidak peduli. "Aihh gak asik kamu bell.. " ujarnya seraya cemberut. "Hahahaha..ayo kita kumpulin tugas dulu, baru kita sarapan pagi.. " "Oke deh bell.. " Setelah aku dan Erika mengumpulkan tugas kami pun menuju kantin di kampus dan memesan beberapa makanan dan minuman. "Hai Bella cantikk... " sapa Anthony bersama teman-teman ya menghampiriku. "Ada apa ya kalian kesini?" tanya Erika terasa terusik oleh keberadaan mereka di meja makan kami. "Aku gak sapa kamu loh, aku sapa Bella." ucap ya sinis. "Memang ya ada urusan apa kamu nyapa aku?Sok baik banget kamu!" jawabku sinis. "Wow.. santai bell, santai... Makin hari makin cantik aja nih.. jalan yuk sama aku." ucapnya cengengesan kepadaku. "Gak level banget kamu jalan sama Bella.. " ujar Erika menyindir ya. "Maksud mu apaan!Dia loh cuman wanita simpanan orang kaya tua saja!Mending aku lah masih muda, aku juga kaya!" angkuhnya berbangga diri. "Kaya hasil kerja orang tua kan? bukan hasil kerja mu!" jawabku lantang. "Berani sekali kamu Bell!Kamu gak takut kalau ku buat bisnis ayahmu bangkrut untuk ke dua kali ya!" ancam ya kepadaku. "Aku gak peduli!" jawabku. "Hahaha benar ya kata teman-teman kamu udah berubah dan sombong.Jangan-jangan kamu memang perebut calon suami adikmu atau bisa jadi kamu jual dirimu ke om-om tua itu hahaha." 'Plaaakkkkkk' sebuah tamparan sukses mendarat di pipi Anthony, Erika dan orang-orang di sekitar kami tersentak melihatku menampar pipi Anthony. "CUKUP!SEKALI LAGI AKU DENGAR MULUT KURANG AJAR MU ITU!KAMU AKAN MENYESAL!" ucapku sambil menujuk tanganku di depan wajahnya. "Kenapa?Kamu takut kalau terbongkar semua sifat murahan mu itu!" "Apa yang kamu lakukan terhadap istriku!" ucap William secara tiba-tiba menyela. Semua orang terkejut melihat kedatangan William,ada yang sempat-sempat ya memvidio dan ada yang berbisik-bisik seraya terpesona melihat William. "Hah? istrimu? Dia itu istri om-om tuan William.. Wah parah kamu Bell, bisa-bisa ya menjalin hubungan dengan tuan William." Ucapnya melirik sinis ke arahku. "Sepertinya harus aku jelaskan kepadamu.Bella adalah istriku!Istri dari seorang pengusaha properti terkenal di seluruh negara!Dan kamu.. Aku baru ingat kamu anak dari Pak bram?" "Tu-tunggu.. jadi be-benar tuan William yang di bicarakan selama ini suami ya Bella?" ucapnya mulai ketakutan karena tahu fakta sebenarnya langsung saja teman-teman ya yang awal ya berada di dekat ya mulai menjauh karena tidak mau terlibat. "Iya benar.Sepertinya aku harus memberimu pelajaran." "Ja-jangan.." "Tenang saja aku cuman mengajarimu sebuah tanggung jawab atas perbuatan mu kepada istriku!" "Ma-maksud tuan... " William pun tiba-tiba mengeluarkan handphone ya dan langsung menghubungi seseorang. "Hallo..rencana proyek dengan pak bram kemarin, tolong semua ya di batalkan!Aku akan memberikan alasan ya langsung kepadanya dan jangan lupa masukkan dia di daftar Hitam kolega bisnis!" ucapnya langsung menyudahi pembicaraan di telpon. "Tu-tuan William, ja-jangan seperti ini! Ku mohon, aku menyesal! Jangan buat keluargaku bangkrut!" ujarnya memohon. "Ayo Bell kita pergi dari sini.. ajaklah sahabat mu juga.. " ucap William seraya menggenggam tanganku. Aku dan Erika pun langsung berlalu meninggalkan Anthony yang terpuruk dan menyesal atas tindakan ya sedangkan yang lainnya mulai menyalahkan perbuatan Anthony kepadaku. Sepanjang jalan aku dan Erika hanya diam mengikuti William dari belakang. "Bisa kah anda duluan masuk ke dalam mobil Bella... " ucap William kepada Erika. "Tentu saja bisa.Aku duluan ya bell.. " "Tu-Tunggu... " ujarku terpotong tapi segara di cegah William. "Kamu disini saja!" Aku pun tercekat serba salah menghadapi William yang menatap ku seperti meminta penjelasan. "Ehmm.. Eh, a-aku.." "Aku apa?coba jelaskan.. " "Kamu ngapain di kampusku?" tanyaku berdalih. "Hmm, kamu pintar ya berdalih.. " ucapnya tersenyum menatapku. "Ehmm.. oh.. cepat jawab saja!" ujarku serba salah. "Aku kesini karena ada urusan dengan pemilik kampusmu dan ternyata aku mendapati istriku lagi mengamuk di kantin bersama para lalat." ujarnya setengah mengejek. "Aku gak ngamuk ya." ujarku cemberut. "Hahaha yasudah kamu cuman hanya mengelus pipi ya hingga meninggalkan bekas merah." sindir ya lagi. "Aku melakukan ya karena dia sudah keterlaluan!" ujarku menjelaskan. "Hahahaha ya sudah,kamu pergilah duluan bersama Erika,aku masih ada urusan disini!" ujarnya berlalu. Aku pun segera menuju ke parkiran mobilku dan masuk ke dalam mobil untuk menemui Erika di dalam. "Maaf ya lama Erika.. " "Gak masalah Bell.. ternyata suami loh ganteng ya dan aku baru tahu ternyata bokap ku sedang bekerjasama di proyek tertentu dengan suamimu loh." ucapnya antusias menjelaskan. "Benarkah?Semoga sukses ya proyek ayahmu dengan suamiku." ucapku senang mendengar hal ini. "Pantas saja adik tirimu menjelekkan dirimu dan ia menyesal dong..mampus hahaha" 'Keluar deh sifat ya nih anak!' pikirku sesaat. "Hmm.. iya.Oh iya, kamu mau kemana biar aku antarkan." ujarku menawarkan. "Bisa antar aku ke perpustakaan negara?" "Untuk apa kesana?" "Untuk meminjam buku lah bell masa iya aku kesana untuk rebahan." "Haha siapa tau dirimu tertidur disana kan... " "Ihh kamu ini... " seraya ya memukul lenganku pelan. Kami pun akhirnya berpisah di perpustakaan,aku melanjutkan perjalananku sendirian dan memutuskan ke sebuah cafetaria untuk menikmati waktu senggang ku karena tidak ada jadwal kuliahku lagi. Aku pun langsung memesan segelas minuman Coffee tiba-tiba 'Drrtttt Drrtttt' handphone ku bergetar, segara ku lihat nama yang tertera di layar handphone ku 'Ayah', aku sempat ragu ingin mengangkat panggilan telpon ya namun hati kecilku sebenarnya sangat merindukan sesosok ayah walaupun beliau pernah mencampakkan ku. "Hallo, ayah.. ada apa menelpon ku?" tanyaku to the poin. "Hallo nak, bagaimana kabarmu?" ucapnya terdengar lirih. 'Aku tidak boleh menangis!' pikirku menyemangati diriku sendiri. "Kabar ku sangat baik yah.Ayah bagaimana?" "Syukurlah nak kalau kabarmu baik.Nak, mampirlah ke rumah ayah malam ini.. Ayah ingin bertemu denganmu dan menantu.Sejak pernikahan kalian,kamu tidak pernah datang lagi ke rumah ini.. " ucap ayah terdengar parau suara ya. "Aku tidak bisa janji yah akan datang atau tidak." ucap ku sedikit sedih. "Ayah tahu ayah banyak salah denganmu.. Bisa kah kita memulai dari awal lagi nak?" "Ayah, maaf.. aku banyak urusan." ucapku menahan air mataku. "Iya nak.Jagalah kesehatanmu." ujarnya sembari menutup panggilan telpon terlebih dahulu. Aku hanya terdiam memandang layar handphone ku yang mulai meredup. 'Aku ingin sekali memeluk ya dan memaafkan ya tapi.... ' pikirku menunduk sambil menepuk dadaku perlahan. "Maaf..apa nona baik-baik saja?" tiba-tiba salah satu waiter menegurku. "Oh.. Gak apa-apa.Aku baik-baik saja." jawabku tersenyum paksa. "Baiklah nona kalau ada apa-apa silahkan panggil saja saya." ucapnya ramah. Aku pun melanjutkan minum coffee ku dan setelah ya memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat di rumah aku melihat ada Asisten Jordan dan Iris di ruang tamu sedang sibuk membenahi dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. "Kalian sedang apa?" "Ma-maaf nona, kami tidak tahu nona sudah pulang." ujar Iris menyapa sambil membantu Jordan. "Kenapa tidak di ruang kerja William?" "Itu dia masalahnya nona.. " ungkap Jordan frustasi. "Loh memang ya masalah ya apa?" tanyaku penasaran seraya duduk di kursi bersama mereka yang sedang sibuk. "Tuan William belum pulang-pulang nona.. Dan.. dan dokumen ini harus segera kami serahkan ke kolega lain." ujar Iris ikut frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Memang ya dia kemana?Kalian tidak menelpon ya?" "Kata ya dia mau ke suatu tempat nona, itu kami tidak tahu juga kemana... telpon?" ujar Iris memandang Jordan.Mereka berdua saling tatap dan memberi kode melalui mata mereka. 'Kok perasaan ku gak enak ya!' firasat ku mengatakan. "Nona... " ucap mereka bersamaan dengan memasang wajah memohon di hadapanku. "Aku tidak mau!" "Please nona... " ujar Iris memohon di kakiku.. "Iya nona, tolong kami.. kami mohon.. " ujar Jordan memohon juga. "Gak.Gak mau!" "Nona.... " ucap mereka dengan kompak ya merengek di depan ku. "Oke.. Oke.. tapi ada syaratnya... " ucapku saling tawar menawar dengan mereka. "Baik.. apa itu nona?" tanya Jordan antusias. "Hmmm...Aku mau kalian berkencan." jawabku spontan karena aku pikir mereka berdua sangat cocok. "Ta-tapi nona, Pak Jordan mungkin... " "Baik nona, akan saya lakukan!" jawab Jordan lantang yang membuat Iris terkejut dan aku tersenyum-senyum mendengarkan ya. 'Haha rencana ku sukses!' pikirku kesenangan. "Sekarang giliran nona yang telpon tuan William." ujar Jordan menagih janji kepadaku. "Oke.. " aku pun langsung mengeluarkan handphone ku dan segera menelpon William. "Hallo, ada apa Bell?" "Sayang, bisa gak pulang sekarang ke rumah.. " ucapku terpaksa harus berakting di depan Iris dan Jordan. "Oke, sayang.. Tunggu sebentar ya, 10 menit aku sudah sampai di rumah." jawabnya seraya menutup panggilan telpon duluan. "Wahh, nona sangat hebat!" ungkap Jordan terpukau. "Iya, baru kali ini tuan William langsung nurut loh..Dulu kalau ibu atau ayah tuan William menelpon menyuruh ya pulang dia tidak akan langsung pulang sampai besok, baru ia pulang." ungkap Iris menceritakan kebiasaan William yang jelek. "Benar sekali.Semenjak menikah dengan nona tuan William sangat banyak berubah nona yang awal ya suka mempermainkan hati wanita sekarang benar-benar luluh dengan nona.. " ungkap Jordan. 'Seandainya itu benar aku akan sangat bahagia tapi aku tahu mungkin itu hanya lah peran yang wajib William lakukan, seperti hal ya aku... ' pikirku diam sambil memandangi mereka yang asik menggibah bos ya sendiri. "Wahh sepertinya ada yang asik menceritakan keburukkan ku ya?" ujar William secara tiba-tiba dan menghampiri kami, otomatis Iris dan Jordan bersembunyi di balik ku. "Loh.. kalian..?" seraya ku menoleh kepada mereka. "Tolong kami nona.. " Iris dan Jordan mulai takut-takut. "Sayang.. jangan marah mereka hanya menceritakan kebaikan mu saja." ujarku sedikit berbohong. "Pasti dong.Aku ini bos yang sangat baik, aku pun sangat royal sayang.Jadi ada apa meminta ku untuk pulang?" tanya ya setelah sedikit pamer lagi. "Sayang, kata ya mereka hari ini semua dokumen-dokumen ini akan di antar ke kolega lain,dapat kah kamu membantu mereka sayang.. Kan ini hasil kerja kerasmu juga,Gimana kalau tiba-tiba ada kesalahan di dalam dokumen terus mereka gak tahu atau kurang teliti?pastinya kamu gak mau seperti itu kan... " ucapku sedikit memuji ya agar dia dapat membantu mereka berdua yang hampir frustasi karena ulah bos ya sendiri. "Benar juga sayang sedangkan mereka tidak terlalu tahu.Aku kan cerdas dan cepat tanggap pastinya aku akan membantu kalian." "HOREEEE.... " sorak mereka kegirangan. Aku pun tertawa melihat tingkah mereka semua.Akhirnya William menyuruh mereka berdua membawa semua dokumen ke ruangan kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN