Baru saja Airi berbalik setelah menutup pintu. Suara pintu yang kembali dibuka mengagetkannya. "Ai!" . . . . . . . . . . . . . . Aiden menutup pintu perlahan. Khawatir membangunkan putranya. "Orang tua kamu udah pulang?" tanya Aiden dengan suara pelan. Airi mengangguk. "I-iya." Airi menggigit bibir. Perempuan itu berbalik menghadap putranya, tak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah pada Aiden. "Aku kira mereka nginap." Kepala Airi bergerak ke kanan dan ke kiri, membantah pertanyaan Aiden. Perempuan itu masih memunggungi Aiden, masih belum berani menunjukkan pipinya yang merona hebat. Detak jantungnya pun lebih cepat. Airi mengembuskan napas, berharap dengan itu reaksi aneh tubuhnya berhenti. "Ng-nggak." Airi menggeleng lagi. "Mereka nggak nginap. Be-besok ke si

