Bertahan Hidup

1066 Kata

"Apa?" Alana menggumam dalam hati, tapi masih bergeming di tempatnya dan tak berani membalikkan badan. "Kenapa kamu nangis?" ulang lelaki itu. Alana segera mengusap buliran-buliran yang jatuh membasahi mukanya. Mengusapnya dengan kasar, dan secepat mungkin, agar lelaki itu tak dapat menemukan bekasnya. "Nangis ya nangis aja." Suaranya setengah mengejek. Alana menelan ludah, malu sekali rasanya saat ketahuan kalau ia menangis seperti ini. "Udah, gak usah dihapus, nangis aja gak apa-apa." Rafael berjalan memutar, kini lelaki itu sudah berada di depan Alana. Tubuhnya membungkuk, dan matanya lurus menatap wajah Alana. Jarak mereka hanya terpisah beberapa senti saja. "Dihapus pun, mata kamu gak bakalan bisa bohong kalau habis nangis," ujarnya. "Benar juga," batinnya. Membuat gadis itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN