JAM belajar-mengajar kelas XI IIS-3 diakhiri pelajaran Bahasa Inggris oleh Pak Jeffry, idolanya anak-anak cewek dan beberapa guru wanita di sekolah karena status luar biasa Pak Jeffry yang masih single. Salah satu hal yang sepertinya sudah terjadwal dengan baik oleh Pak Jeffry adalah pemberian homework alias PR.
"Kebiasaan ya tuh, Mr. Jeff. PR seabrek gitu harus dikumpulin hari Rabu," keluh Juki sambil mengerucutkan bibirnya yang tebal.
"Uwaaaah ... uenak e poool!" Kinar melakukan gerakan perenggangan dengan meluruskan tangan kanannya ke atas tinggi-tinggi, sementara tangan kiri memegangi siku tangan kanan.
"Cepat tutupin itu ketekmu. Baunya mencemari udara, tahu!" celetuk Juki, pura-pura menutupi hidungnya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengipas-ngipas udara, seolah bau menyengat khas ketek berkeringat sedang mengepul di depannya.
Serta-merta Kinar menendang kaki kanan Juki. Dibiarkannya Juki mengaduh-aduh kesakitan karena tendangan kakinya yang keras tepat mengenai tulang kering cowok itu.
"Kebangetan kamu, Kinong. Awas, kamu ya. Besok kalau Rumaisha masuk, aku aduin kamu ke dia," ancam Juki sambil membungkuk dan mengusap-usap bekas tendangan Kinar.
"Aduin aja. Yang ada Rumaisha lebih cs-an sama aku," tantang Kinar. Kepalanya lalu menoleh ke belakang sampai ia menatap Rissa yang masih membereskan peralatan tulis di mejanya. "Ris, kamu pulangnya gimana?"
"Naik angkot atau bus lah," sahut Rissa tanpa menatap Kinar.
"Ya udah, sekalian naik bus sama aku yuk, Ris." Juki menggandeng Rissa yang usai mengemasi semua peralatan tulisnya ke dalam tas untuk keluar kelas bersama.
Kinar mengimbangi jalan kedua temannya, mengisi lorong koridor yang memang cukup dilalui dengan tiga orang saling berjajar. "Sori ya, Ris, aku sama Kak Karren nggak bisa kasih tebengan. Habis Kak Karren bawa motor."
"Nggak masalah. Lagian ini cuma sampai motorku selesai diservis. Kata Mas Damar sih sore ini udah bisa diambil," ujar Rissa.
"Bagus, deh. Tapi, Ris, daripada naik angkot atau bus ini, bukannya kamu bisa nebeng mobil Kenzie lagi? Kayak berangkat tadi pagi. Lumayan kan nggak keluarin ongkos. Toh, kalian juga satu kompleks."
Rissa memutar bola matanya malas ketika Kinar mulai menyebut cowok itu lagi. "Males, ah. Mending aku keluarin ongkos yang nggak seberapa daripada aku kena darah tinggi berurusan sama dia."
Kinar melipat tangan kirinya di depan d**a, sedangkan tangan kanannya menopang dagu. "Tapi kalau menurut aku ya, Kenzie itu anaknya asyik, kok. Buat ukuran anak baru, dia itu supel, baik, bawaannya friendly. Dan setelah aku perhatikan dari dekat, Kenzie itu juga cakep banget. Terus-terus, kamu juga perhatikan matanya nggak? Awalnya aku kira dia pakai softlens. Eh, ternyata warna iris matanya beneran kehijau-hijauan gitu. Amboi, nambah-nambahin cakepnya aja."
"Oh, itu karena Kenzie masih ada darah campuran Indonesia-Arab-Turki. Bapaknya keturunan Jawa-Arab. Ibunya orang Turki. Katanya mata itu sama seperti punya ibunya," timpal Juki.
"Kok kamu tahu, Juk?" Kinar membulatkan mata takjub.
Juki berkacak pinggang dengan perasaan bangga. "Ya iya lah. Tadi waktu aku sama Kenzie ke kantin, dia udah cerita semuanya. Makanya kamu kalau punya teman baru ajakin dia ngobrol yang berfaedah biar kamu bisa kenal dia luar-dalam."
"Iiih, kalian berdua kok malah jadi ngomongin dia, sih?!" gerutu Rissa, walaupun tidak dimungkiri ia sempat tertarik mengetahui sedikit fakta tentang Kenzie yang ikut didengarnya dari obrolan kedua temannya itu.
"Kamu juga yang nggak nyantai sih, Ris. Buktinya dia baik sama aku, sama Juki. Makanya kamu jangan galak-galak sama cowok kalau nggak mau itu cowok bikin kamu illfeel."
Bibir Rissa hanya bisa mengerucut. Dalam kasus ini, ia memang tidak bisa memaksa Kinar maupun Juki harus ikut illfeel sama Kenzie. Terlebih di hadapan semua teman sekelasnya yang lain pun sikap Kenzie bisa bertolak 180° dibanding sikap yang biasa ditunjukkannya kepada Rissa. Maka, tidak salah kalau teman-temannya akan lebih percaya dengan Kenzie yang menyenangkan, Kenzie yang supel, Kenzie yang baik, Kenzie yang friendly, dan sebagainya daripada Kenzie yang ... menyebalkan.
❤
Mereka bertiga baru saja keluar gerbang sekolah. Kinar langsung pulang karena kakaknya yang juga baru selesai mata kuliah sudah menunggunya. Sementara itu, Rissa dan Juki berniat menuju halte bus trans Semarang. Namun, ketika baru hendak melangkah, keduanya sudah dikejutkan oleh bunyi klakson mobil dari arah belakang. Sebuah MPV hitam kini berhenti di samping Rissa dan Juki.
"Ayo, naik!" kata Kenzie begitu membuka pintu geser mobilnya di hadapan kedua teman sekelasnya itu.
Rissa langsung mencari arah yang tidak menghadapkannya secara langsung ke wajah Kenzie, sehingga ketika ia berbicara tidak perlu menatap cowok itu. "Nggak perlu. Aku bisa pulang naik bus bareng Juki. Iya kan, Juk?" Ia menengok Juki, tetapi matanya tidak menemukan batang hidung cowok kerempeng itu di sampingnya. Ke mana dia?
"Ris, ayo, cepetan naik!" Dari dalam mobil Kenzie, terlihat Juki yang sudah dengan santainya mengambil posisi duduk di jok penumpang depan sebelah sopir. "Sana, kamu duduk belakang sama Kenzie."
Rissa berjengit. Sejak kapan si Kecap Asin itu menyelonong masuk ke mobil Kenzie? Padahal baru beberapa menit lalu mereka sepakat mau pulang naik bus sama-sama.
"Udahlah, Ris. Ikut mobil Kenzie aja daripada naik bus. Jam segini waktunya bubaran sekolah. Bus-bus kebanyakan penuh. Kamu mau berdiri desak-desakan di bus?" ujar Juki persuasif.
Embusan napas keras keluar dari mulut Rissa, tetapi ia masih bergeming.
"Ris, Kenzie udah bukain pintunya buat kamu. Nggak baik lho menolak kebaikan orang." Juki menambahkan.
Napas Rissa berembus lebih keras. Ucapan Juki ada benarnya. Tapi bukan berarti kalau Rissa menerima tumpangan Kenzie jadi kesannya ia yang ngebet gratisan. Anggap saja ia sedang tidak menolak rezeki.
Setelah Rissa masuk dan duduk di sampingnya, Kenzie meminta Pak Mahmud melajukan mobil meninggalkan area sekolah.
Sepanjang perjalanan itu Rissa lebih banyak diam dan hanya mendengarkan Juki yang sibuk bercerita dengan Kenzie, membahas topik-topik tidak jelas.
"Wah, mobilmu adem banget, Ken. Keseringan kayak gini, aku juga nggak bakalan nolak." Juki menyengir lebar. "Oh ya, aku sampai lupa belum minta nomormu. Punya id Line juga nggak?"
Rissa hanya melengoskan pandangannya ke luar kaca pintu mobil selagi kedua cowok itu sibuk tuker-tukeran nomor ponsel, id aplikasi chatting, sampai malah merembet ke akun-akun media sosial lainnya. Rissa bahkan tidak tertarik saat Juki juga menyuruhnya menyimpan nomor Kenzie.
"Jangan gitu dong, Ris. Kamu kan ketua kelas. Ya minimal harus punya semua nomor anak-anak sekelas. Kalau kamu nggak punya nomor Kenzie, gimana kamu bisa nyebar info grup chat kelas kita ke dia?" kata Juki sambil mengambil beberapa selfie terbaiknya dari ponsel Kenzie. "Nih, Ken, aku udah pasang foto kontakku. Nanti kalau ada wajah cakep ala cover boy tampil di layar ponselmu, tandanya itu Marjuki Sasongko yang lagi nelepon kamu."
Tawa Rissa nyaris menyembur. Ini kalau Kinar yang dengar, pasti Juki langsung dibilang cover boy majalah fauna laut semisal ikan teri yang diasinin. Berkat terlahir dari keluarga juragan ikan teri, terkadang Juki suka jadi bahan candaan teman-teman sekelas memakai profesi orang tuanya itu. Ditambah Juki yang over percaya diri menyebut-nyebut dirinya cover boy, padahal muka pas-pasan.
Rissa sempat melirik Kenzie yang juga tersenyum geli. Entah kenapa Rissa merasakan sesuatu yang familier saat melihat wajah itu dari jarak dan sudut pandang seperti ini. Ternyata Kenzie memiliki gigi gingsul. Uniknya dengan gigi gingsulnya justru membuat senyum cowok itu terlihat lebih manis, semanis saat dipadukan dengan t**i lalat kecil yang nangkring di bawah bibir sebelah kirinya.
Seperti kata Kinar, mata Kenzie berwarna hijau. Mata yang seakan menyimpan sejuta telaga di dalamnya. Tiba-tiba Rissa merasa tidak asing dengan mata itu. Ia tidak yakin, tapi ... ah, mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin gara-gara teringat perkataan Kinar tadi, makanya Rissa jadi baper. Duh, amit-amit baper sama cowok itu.
"Ken, depan pagar biru berhenti, ya. Rumahku, tuh. Kapan aja kamu mau mampir, pintu kediaman rumahku selalu terbuka lebar buat kamu. Tenang aja, keluargaku nggak gigit, kok. Malah senang kalau ada temanku main ke rumah. Apalagi simbahku paling jago bikin sambal teri. Kapan-kapan kamu mesti cobain. Dijamin makan pakai sambal teri bisa habis nasi sak wakul."
Mobil Kenzie kembali melaju setelah menurunkan Juki yang sekalian sukses berpromosi tentang sambal teri ala simbahnya. Di sisa perjalanan, Rissa mencoba bersikap cuek dengan terus memalingkan perhatiannya pada pemandangan di luar. Hingga tidak lama kemudian, ponselnya berdenting singkat tanda ada pesan masuk.
[Juki Marjuki Hei Hei]
Ris, nih nomor sama id Line Kenzie.
082144422345
@kenzie2102
Btw, kalian berdua cocok, kok. Wajah kalian juga hampir mirip. Jarene wong tuwo kalau wajahnya mirip tandanya jodoh.
Rissa jadi ingin muntah membaca isi chat itu. Jodoh p****t Juki tepos. Apa bagusnya coba seorang Atharva Kenzie Hanggara yang tahunya cuma bisa bikin orang makan hati itu?
"Kenapa? Ada yang pingin kamu omongin sama aku?" tanya Kenzie yang melihat Rissa komat-komat tidak jelas di depan layar ponselnya.
Bahu Rissa bergidik. Ia menatap Kenzie sekilas, lalu cepat-cepat berpaling. "Nggak ada," dalihnya.
"Oh ya?" Kenzie tidak percaya.
Rissa mendesah. "Oke, karena aku selalu dididik untuk menghargai kebaikan orang lain, jadi aku cuma mau bilang makasih karena kamu udah ajak aku pulang bareng."
"Memang seharusnya gitu, kan? Kalau nggak aku antar pulang, aku juga yang repot kalau kamu nanti malah dibawa pawang macan."
Jawaban Kenzie sama sekali tidak ada enak-enaknya untuk didengar. Yah, Rissa juga tidak berharap mendengar jawaban manis keluar dari mulut cowok itu.
"Gawat juga kan kalau pawang itu ternyata salah mengira kamu macan judes yang kabur dari kebun binatang apa itu namanya tadi? Mang ... Mangkang?" lanjut Kenzie tertawa menggoda.
"Apa kamu bilang? Rasakan, nih!"
"ADUH!"
Ups! Rissa membekap mulut ketika timpukan tasnya yang mendarat di bahu Kenzie malah kelepasan membuat kepala cowok itu terdorong ke depan dan mengenai layar TV headrest jok sopir. Pasalnya bersamaan Rissa menimpukkan tasnya, bersamaan Kenzie tengah membungkuk demi mengambil uang recehnya yang jatuh di bawah jok. Pak Mahmud bahkan sampai menepikan mobilnya ketika mendengar erangan putra majikannya itu.
"Den Kenzie, kenapa, Den?" Pak Mahmud bertanya khawatir.
"Nggak kenapa-kenapa, Pak. Jalan lagi aja," jawab Kenzie menenangkan sopirnya. Sambil mengelus-elus bekas kejedotnya, ia lalu menatap keki si pelaku 'k*******n' yang malah menyengir tanpa dosa. "Dih, kejam banget sih kamu jadi cewek. Kalau kepalaku benjol gimana? Tanggung jawab!"
"Salah sendiri kamu nyebelin."
"Sakit, nih. Awas aja kalau aku sampai kenapa-kenapa."
"Biarin. Siapa tahu kamu malah kena amnesia terus berubah jadi anak pendiam dan nggak lagi merecoki orang."
"Jahatnya mendoakan aku amnesia. Kalau aku nggak ingat kamu beneran gimana?"
Rissa terdiam. Kalimat terakhir Kenzie itu padahal sangat kentara diucapkannya sebagai gurauan. Akan tetapi, kenapa perasaan Rissa memberontak? Seakan ada perasaan berkecamuk di hatinya saat mendengar ucapan cowok itu. Rissa mengedikkan bahunya. Aneh sekali ia bisa terbawa perasaan seperti itu terhadap cowok yang bahkan bukan siapa-siapanya itu.
Menepis perasaan aneh itu, Rissa kembali menyeret cepat matanya ke arah Kenzie. Garang dan tajam. "Habisnya kamu juga, kenapa selalu menyamakan aku sama macan, hah?! Memangnya kamu nggak bisa panggil aku pakai sebutan yang lebih baik, lebih pantas, lebih bagus gitu?"
"Sebutan yang lebih bagus, ya ...?" gumam Kenzie pura-pura berpikir serius hingga kemudian dari nada suaranya yang berubah lembut menyebutkan, "Princess ...."
"Princess?" gumam Rissa hati-hati. Wajahnya seketika bersemu merah.
"Princess jelas bukan panggilan bagus buat kamu. Mana ada princess judes?"
Kerut-kerut kemarahan memenuhi wajah Rissa yang sudah bersiap mengirim burung-burung berterbangan mengelilingi atas kepala Kenzie.
PLETAK! DUAGH! BUGH! @#$%^&!
Beres!