Selesai

2745 Kata
Cat rumah itu mulai pudar. Ketika dihujani sinar matahari, setiap sudutnya terlihat pucat. Rumah itu tampak sunyi tak berpenghuni. Hembusan angin membuat daun-daun pohon yang ada di dekatnya gugur, beterbangan dan jatuh di terasnya yang berdebu. Pada waktu yang bersamaan, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah dengan kursi rodanya. Sebagian rambutnya putih dimakan usia. Matanya cekung, pipinya tampak kurus, dan ia semakin tampak kecil dengan daster cokelat tua yang dikenakannya. Ia masih ingat rupa langit. Biru. Namun pandangannya kini tampak buram hari demi hari. Ah ... langit. Seseorang yang dicintainya kini berada di sana. "Bunda?" suara itu mengalihkan perhatiannya dari langit yang silau. Ketika ia menoleh ke arah pagar rumah, tampak seorang pria bertubuh tinggi berseragam pilot berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Senyum yang terlampau manis ketika lesung pipi di kanannya terlihat. Arjuna-nya sudah dewasa. Di usianya yang ke-23 tahun, garis-garis tampan di wajahnya semakin memesona. Langkah kakinya tegap dan bersemangat. "Bunda ngapain nih di rumah sendirian?" tanyanya setelah mencium tangan Bunda. "Nungguin anak-anak Bunda pulang. Jevilo mana?" sahut Bunda, suaranya terdengar serak. "Masih di Rumah Sakit, Bunda. Katanya masih ada pasien," jawab Arjuna. Sekilas, wajah Jevilo terbayang di benaknya. Jevilo dengan jas dokter-nya, rambut hitamnya yang dipotong rapi, dan tubuh tinggi yang sama tegap dengannya. Jevilo sudah berhasil. Tidak, mereka berdua sama-sama berhasil mewujudkan cita-cita itu. Cita-cita yang juga diinginkan adik kesayangan mereka. "Oh," ucap Bunda tenang. Ia mengembuskan nafas panjang. "Bunda pasti keingat Nagita, ya?" kata Arjuna lalu menoleh menatap Bunda. Bunda tidak menjawab, sebagai gantinya, ia hanya mengangguk kecil. Senyum terakhir Nagita di pagi hari dua tahun silam masih terpatri di benaknya. Senyum itu polos, tulus, namun juga menyiksa secara bersamaan. Nagita meninggal sehari setelah ulang tahunnya yang ke-10. Ia meninggal di rumah dengan ditemani semua orang yang mencintainya. Ia berhenti berjuang melawan kanker itu sejak kedua kakinya tidak dapat menopang berat tubuhnya lagi. Ia akhirnya menerima dengan senyuman. Seperti malaikat kecil yang rapuh, begitu ia terlihat setiap kali tersenyum. Tawa Nagita yang lembut, kepolosannya, tangisannya ketika ia merasa sakit, masih membekas di ingatan. Bunda dan Arjuna tanpa sadar sudah menitikkan air mata. "Iya, Bunda rindu suaranya, senyumnya, semuanya ...," lirih Bunda. Tercabik-cabik oleh rindu akan kehadiran sosok Nagita, membuat Bunda tak kuasa menahan isak tangisnya. Ia menunduk dalam dengan kedua tangan menutupi wajah. "Bunda," Arjuna tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya menaruh sebelah tangannya di bahu Bunda, meremasnya pelan. "Hem.... hem," Deheman itu membuat tangis Bunda mereda. Ia mendongak menatap ke depan. Jevilo yang dibalut kemeja putih rapi tersenyum lebar padanya. "Bunda nangis lagi, kan? Hemmm, Bunda gimana sih, kan udah janji sama Nagita nggak boleh nangis lagi," serunya sambil menekuk lutut, menyeka air mata yang jatuh di pipi keriput bundanya. Arjuna menarik kursi kayu di dekatnya lalu duduk di sana. Jevilo meliriknya sekilas seraya tersenyum. "Makanya ... kalian cepat-cepat menikah, biar Bunda punya cucu dan nggak kesepian lagi," kata Bunda tiba-tiba. Mendengar itu, Jevilo terbatuk-batuk, sementara Arjuna meringis. Ini bukan kali pertama Bunda mengatakan itu. "Bunda apaan, sih," cibir Jevilo setelah duduk di teras dengan kaki bersila. Sama sekali tidak peduli celana hitamnya kotor karena debu. "Kok apaan? Kalian udah waktunya nyari istri. Bunda nggak mau tau, tahun depan, kalian harus udah menikah!" ucap Bunda tegas namun ada nada bercanda dari suaranya. "Tahun depan apaan, Bunda. Ya ampun, masih dua puluh tigaan ini, Bun," komentar Arjuna yang diiyakan Jevilo dengan anggukan. Bunda mendesah panjang. "Bunda nggak ingin melewatkan pernikahan kalian. Cepat atau lambat, Bunda pasti akan ke langit, menyusul Nagita. Bunda dan Ayah sudah tua, kalian harus ingat itu." Arjuna dan Jevilo bungkam. Mereka saling pandang sejenak. "Kalau itu mau Bunda ...," Jevilo memberi jeda, tersenyum lalu menaruh kepalanya di lutut Bunda, "Jevilo bakal menikah tahun depan." "Apa dia?" tanya Bunda sambil mengulum senyum. "Dia?" Jevilo mendongak. "Oh, ya, Bunda ... Vinka. Dia baik kan, Bun?" kata Jevilo malu-malu. Bunda mengangguk. "Siapa pun pilihan kamu, semoga bahagia." Hening untuk beberapa saat. Arjuna sama sekali tidak sadar kalau selama itu ia sedang diperhatikan. Ketika satu tinju halus mengenai lengannya, barulah ia menoleh dengan tampang bingung. "Lo kapan?" tanya Jevilo setelah menarik tangannya dari lutut Arjuna. "Gu-gue ... apanya?" "Nikahnya. Biar kita bikin acara bareng-bareng," kata Jevilo semangat. Entah kenapa Arjuna merasa geli melihat ekspresi Jevilo detik itu, juga kata-katanya. Apaan itu bikin acara bareng-bareng. "Nikah masal aja sekalian," cibirnya. "Nggak masalah kalo lo mau, haha," kata Jevilo lalu mengacak rambut Arjuna. "Laper, makan dulu, ah!" ucap Jevilo kemudian masuk ke dalam rumah. Melihat wajah Arjuna yang cemberut, Bunda membawa kursi rodanya lebih dekat ke Arjuna. Ia merogoh saku dasternya lalu menyodorkannya pada Arjuna. Selembar foto yang sangat familier. Arjuna sampai terkejut melihatnya. "Bunda ini kan—" Bunda menarik tangan Arjuna dan menaruh foto itu di telapak tangannya yang terbuka. "Bawa Bintang pulang ke sini." Arjuna terhenyak, ia mengatup bibirnya rapat-rapat. Ia mengurungkan diri untuk bertanya di mana Bunda mendapatkan foto itu. Padahal selama ini Arjuna menyimpannya di tempat rahasia, berharap Jevilo maupun Bunda tidak pernah tahu tentang foto itu. "Kalau kamu aja masih menyimpan foto ini baik-baik, kamu pasti juga masih menjaga cinta itu baik-baik, kan?" Arjuna menatap mata Bunda yang teduh. Jantungnya berdegup kencang. Foto itu menguak rindu yang berusaha ia tahan. Meskipun ia tidak menyuarakannya, pertanyaan Bunda ia jawab dengan lantang dalam hati. Iya, cinta itu ... masih ia jaga dengan sangat baik. Dengan hati-hati. Bahkan, sampai hari ini, tidak ada seorang pun yang mampu membuatnya tersenyum seperti yang Bintang lakukan. Bunda menepuk bahu Arjuna lembut sebelum masuk ke rumah. "Mau butuh waktu berapa lama lagi? Jevilo sudah jatuh cinta lagi." Arjuna hanya membalas dengan senyuman. Semenit setelah Bunda masuk ke rumah, Jevilo muncul lagi dan langsung duduk di kursi sebelahnya. "Bunda benar. Mau butuh waktu berapa lama lagi? Gue udah ngabisin waktu gue selama ini buat ngelupain dia. Gue bisa." "Lo sama Vinka serius?" Jevilo terkekeh. "Selama ini, dia selalu dengerin cerita gue tentang Bintang. Dia ngerti, dia tau caranya ngehibur gue. Dia pendengar yang baik. Gue pikir, gue udah jatuh cinta sama dia. Gue udah terbiasa dengan adanya dia." Melihat cara Jevilo bercerita, binar matanya, senyum di wajahnya, Arjuna akhirnya percaya. Jevilo sudah jatuh cinta lagi. "Gimana kalo ternyata dia udah jatuh cinta sama orang lain?" tanya Arjuna lalu diakhiri dengan tawa kecil. "Dia udah jatuh cinta sama lo dua kali asal lo tau itu." Arjuna tersenyum. Teringat masa-masa pertama kali ia masuk SMA beberapa tahun lalu. Saat ia meminta botol minuman Bintang ketika selesai bermain basket. Senyum malu-malu dan semburat merah di pipi Bintang masih melekat di ingatannya. Lalu, hari-hari berikutnya, ia sering menangkap basah Bintang melihatnya dari kejauhan, juga saat Bintang sering-sering lewat di depan kelasnya dan mencuri pandang ke arahnya. Sepasang mata itu tidak lagi memperhatikannya sejak ada Jevilo. Dan ya, berita tentang Bintang dan Jevilo jadian sampai juga ke telinganya. Baru sekarang Arjuna menyadari ia pernah merasa kehilangan Bintang bahkan saat ia belum memiliki. Tapi, siapa sangka, Bintang kembali jatuh cinta padanya bahkan ketika ia sedang memiliki dan dimiliki. "Lo pasti istimewa banget buat dia," kata Jevilo membuyarkan lamunannya. "Gue percaya, dia masih ngarepin lo." Arjuna tersenyum lagi. Ia mengangguk lalu melempar pandangan ke langit. "Dan semoga aja dia percaya, kalo gue juga masih ngarepin dia." "Ciyeee, sama-sama ngarep ciyeee," Jevilo mentoel-toel pipinya sambil cengengesan. "Apaan, sih," ucap Arjuna berusaha untuk tidak tertawa. Kadang-kadang, Jevilo memang masih sering bersikap kayak anak remaja yang sok gaul dan sok lucu. Tapi, terkadang, itu pula yang membuat mereka akrab dan sering tertawa bersama. Seperti sekarang. "Cicieee, muka lo merah tuh kayak p****t monyet." "Omongan lo jorok banget sih, Dokter juga." "Haha." "Lama-lama gila lo kayak si Vinka. Alay, lebay. Eh, masih malu-maluin nggak dia?" "Masih banget, haha." *** Vinka mengibas rambut hitam sebahunya dengan gaya berlebihan, membuat murid-murid perempuan di depannya mencibir dan menatapnya iri. Sementara itu, murid laki-laki terkagum-kagum dengan wajahnya yang masih terlihat seperti anak SMA. Cantik, imut, lucu, dalam satu porsi. "Panggil saja saya Ibu Vinka. Saya wali kelas kalian yang baru. Salam kenal semuanya!" kata Vinka semangat. Caranya berbicara dan warna suaranya masih seperti anak remaja umur 17 tahun. "Ya, Buuuu!" Vinka meringis. Dipanggil ibu rasanya agak gimana gitu, ya? Mengingat ia masih unyu banget. Baru saja Vinka mau membuka suara, terdengar ketukan pintu. Seorang pria berkumis tebal, yang tidak lain adalah Kepala Sekolah, tersenyum lebar padanya. "Bu Vinka, kelasnya yang di sebelah, bukan yang ini," ucap si Kepala Sekolah penuh penekanan. Suara gelak tawa terdengar riuh, sukses membuat wajah Vinka merah karena malu. Vinka cemberut, mengambil tumpukan buku di meja lalu berjalan ke luar kelas dengan kesal. Masih didengarnya suara tawa murid-murid itu bahkan ketika ia sudah tiba di kelas yang seharusnya. Ah, kelas ini ... Kelas di mana ia menghabiskan hari-hari terakhirnya di SMA ini dulunya. Ah, tuh kan, mengingat masa-masa SMA-nya entah kenapa mata Vinka jadi panas gini. Mungkin karena rindu. Iya, rindu seseorang yang tiba-tiba menghadirkan rasa bersalah di hatinya. Vinka menaruh bukunya di meja, memperkenalkan diri sebentar. Setelah itu, ia pamit keluar. Ia berjalan menuju bangku panjang di lapangan basket. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku rok, menekan nomor yang dihapalnya di luar kepala. Beberapa detik kemudian, teleponnya dijawab oleh orang di seberang sana. "Bintang? Ini gue, Vinka ..." Terdengar gumamam panjang dari seberang sana. Vinka cemberut. "Bintang! Lo ngapain sih? Ini gue kaliiii!" "VINKA?" "Iyalah, siapa lagi? Lo ngapain sih? Gitu ya, gue nelpon masa nggak dihargain!" "Hmmm, Vinka ... lo ngapain nelpon gue tengah malem gini? Nggak tau orang lagi tidur apa?" "Ha? Tengah malem? Astaga iya gue lupa! Kan beda waktu! Eh, ya udah sih lo bangun aja. Gue cuma nelpon lo bentar kok, hehehe." "Haha, ya udah. Apa kabar lo?" "Baik." "Oh, udah jadi guru?" "Udah." "Lo niat nelpon nggak sih?" Di seberang sana, tepatnya di sebuah ruangan di lantai tiga di Rue Cler, Bintang turun dari tempat tidur dan berjalan ke jendela kamarnya. Dari situ, ia bisa melihat menara eiffel yang berdiri kokoh dan angkuh di ujung sana. Satu-satunya pemandangan yang menghiburnya selama ini di Paris. Untuk sejenak, Bintang mengamati cahaya keemasan yang dipancarkan menara itu dengan perasaan kagum yang masih sama ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di kota itu. "Bintang, gue ..." "Iya, Vinka? Lo kenapa?" tanyanya. "Jevilo nge-ngelamar gue se-semalam," jawab Vinka terbata-bata. "Hah? Serius? Sumpah? Ya ampun Vinka! Selamat, ya!" seru Bintang senang. "Lo nggak apa-apa, Tang? Jevi kan mantan lo. Sumpah gue nggak enak banget. Gue juga belum bilang iya, kok!" "Aduh, Vinka! Lo ngomong apaan sih? Lo belum nerima dia? Astaga Vinka!" "Bintaaaaaang, gue nggak enak. Masa gue sama mantannya sahabat gue siiiih?" Bintang terkekeh. Bisa ia bayangkan wajah gelisah Vinka di sana. "Vinka, dengar gue ..." "Ya?" "Lo cinta kan sama Jevi?" Agak lama Vinka menjawab. "I-iya, sih." "Nggak ada yang salah sama orang yang jatuh cinta. Terima dia. Semoga kalian bahagia, ya..." Vinka menangis terisak. Ada kelegaan luar biasa yang menyirami hatinya mendengar ucapan Bintang. "Serius? Tapi, lo masih anggap gue sahabat lo, kan?" "Selalu. Selamanya. Sampai kapan pun," ucap Bintang penuh penekanan. "Makasih. Gue ngajar di sekolah kita. Kelasnya juga kelas kita kemaren. Ah, gue sedih nih. Ah banjir nih Jakarta! Banjirrrr!" "Haha, rasain!" "Jahat, ih! Oh, ya, lo nggak mau nanyain Arjuna, nih?" Bintang mengatup bibirnya. Arjuna? Orang itu, bagaimana dia sekarang, ya? "Kalo nggak mau nanya ya udah gue tutup ya teleponnya, byeeeeee!" "Eh, Vin! Ehm, dia apa kabar?" "Baik. Dia jadi Pilot, Bintang." "Pilot?" "Iya. Mungkin dia mau metik Bintang di langit. Habis, yang di sini nggak dapet siiiih." "Ih, apaan sih?" Bintang mau tak mau tersenyum. Kalau saja ini pagi, semburat merah di pipinya pasti terlihat. Ia memilin-lilin ujung bajunya, salah tingkah. "Kangen, yak? Hayo ngaku!" Bintang terkekeh pelan, ia kembali ke tempat tidur. Brak! Salah satu novelnya jatuh dari lemari di samping tempat tidur karena tersenggol lututnya. Bintang berjongkok, mengutip beberapa lembar foto yang ikut jatuh ke lantai. "Bintang. Udah dulu, ya! Gue mesti ngajar nih! Kapan-kapan telponan lagi, ya! Bye, love you, muach!" "I-iya," sahut Bintang, mulai kehilangan fokus karena melihat foto-foto itu. "Bintang?" "Hem?" "Semoga bahagia juga, ya." Bintang tersenyum, bersamaan dengan air matanya yang mengalir turun. "Iya." Telepon terputus. Bintang menjatuhkan ponselnya ke lantai lalu mengutip tiga lembar foto yang sedari tadi mencuri perhatiannya. Fotonya dan Arjuna lima tahun yang lalu. Air mata itu akhirnya jatuh ke salah satu foto yang berisi gambarnya sedang cemberut, di belakangnya Arjuna sedang tersenyum dengan satu alis terangkat. Rindu. Lalu foto saat ia tersenyum dan Arjuna meliriknya pura-pura sebal membuat Bintang ikut tersenyum. Hatinya hangat, disesakkan rindu. Wajah Arjuna, suaranya, wangi tubuhnya, pelukan hangat terakhirnya, seolah baru saja kemarin ia rasakan, masih membekas. Bintang memandang langit kota Paris yang gelap. Ia memejamkan mata sambil memeluk foto-foto itu dengan seluruh hatinya. Apakah dia yang di sana tahu, kalau Bintang tersiksa oleh rindu? *** Keesokan harinya, ketika Bintang terbangun dari tidur, ia mendapati sang nenek duduk di pinggir tempat tidurnya. Wanita itu membangunkannya dengan sabar. Tidak biasanya, neneknya mau naik ke kamarnya, mengingat beliau sudah tidak kuat menaiki tangga. "Bangun Bintang, ada yang mau ketemu sama kamu," kata neneknya sambil mengusap wajah Bintang yang masih terkantuk-kantuk. "Siapa, Nek?" tanya Bintang seraya bangun, ia meluruskan tangannya ke atas untuk merenggangkan otot-ototnya. Beliau tersenyum. "Katanya, dia mau ketemu kamu di dekat menara." "Hah?" Bintang mengangkat alisnya, memiringkan kepala sedikit. "Siapa, Nek?" ulangnya, tapi beliau tidak menjawab. Ia malah tersenyum, mengelus rambut Bintang lalu bergegas turun. "Cepat," ucapnya sambil lalu. Bintang memberengut. Siapa emangnya yang mau menemuinya di menara? Karena didesak oleh rasa penasaran, Bintang bangkit lalu masuk ke kamar mandi. Di depan kaca, ia memandangi wajahnya yang tampat kusut. "Ah, mata gue bengkak banget ini," gerutunya. Tapi, detik berikutnya, ia tersenyum tipis. Kenangan tentang foto-foto itu, juga seragam sekolah Arjuna yang ia cari-cari di kardus tengah malam tadi, membuatnya bahagia walaupun merasakan hampa dalam waktu yang bersamaan ketika melihatnya. *** Langit kota Paris yang cerah menyambut Bintang ketika ia keluar dari rumah. Para tetangganya di sepanjang Rue Cler menyapanya seperti biasa. Hangat dan bersahabat. Musim panas tahun ini terlihat lebih ramai dibandingkan tahun lalu. Banyak turis-turis bersileweran ketika Bintang tiba di hamparan rumput luas di bawah menara Eiffel. Hembusan angin membuat rambut Bintang yang hampir menyentuh pinggang berkibar. Ia berhenti tepat di bawah menara, menatap sekeliling, mencari-cari. Siapa sih yang ingin menemuinya? Neneknya bilang orang itu akan menghampirinya nanti di menara. Tapi, sampai sekarang, orang itu—entah siapa—belum juga muncul. Bintang mengikat rambutnya membentuk sanggul. Saat itulah ia merasakan ada sebuah tangan menahan gerakannya. Bintang tertegun, wangi ini ... Ia menoleh dengan jantung berdegup kencang. "Gini aja, keliatan manis," kata orang itu dengan senyum lebar hingga lesung pipi kanannya terlihat. Kedua tangannya mengusap rambut Bintang yang tergerai. Bintang terhenyak. Jantungnya mencelos saat tahu kalau orang yang berdiri di hadapannya adalah Arjuna. Orang yang selama ini ia rindukan kehadirannya. Yang semua kenangannya ia simpan baik-baik. "Juna?" lirih Bintang di tengah keterkejutannya. "Bintang ... masih ingat gue?" Bintang merasa kakinya gemetar. Demi Tuhan, bertemu dengan Arjuna adalah hal yang selama ini ia harapkan. Bertemu dalam keadaan di mana mereka masih sama-sama sendiri. Pengharapan bodoh yang ia ucapkan lewat doa sepanjang harinya. Melihat Bintang tercengang di depannya, Arjuna semakin tersenyum lebar lalu menarik tubuh Bintang dan memeluknya. "Kangen nggak?" bisik Arjuna di telingannya. Bintang merasakan air matanya mengalir pelan di sudut mata. Ia membalas pelukan Arjuna dengan erat. "Kangen." "Banget?" "Banget." Arjuna terkekeh. Ia melerai pelukan mereka lalu menatap Bintang dalam-dalam. "Masih ada besok buat kita cerita-cerita. Tapi, sebelum itu, lo eh ... kamu ... masih itu nggak sama gue... eh aku?" Mendengar ucapan Arjuna yang tumpang tindih, Bintang tidak bisa menahan tawanya. "Masih itu apa?" Arjuna cemberut. "Bintang jangan ketawa dong. Orang lagi serius ini." "Ya lo eh kamu sih, ngomongnya nggak jelas." "Tuh kan, Bintang aja ikut-ikutan nggak jelas," ucap Arjuna. Bintang tersenyum, tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka sudah saling menggenggam. Hangat dan terasa pas. "Bintang?" "Hem?" "Love you...." Akhirnya kata-kata itu bisa lolos setelah tertahan di ujung lidahnya sejak tadi. Bintang termangu. Ditatapnya mata Arjuna yang memancarkan kesungguhan hatinya. Tatapan yang masih sama. "Love you too," balasnya sambil tersenyum. Arjuna mengembuskan napas lega, seolah tadi begitu banyak udara yang menyesakkan dadanya. Kembali direngkuhnya tubuh Bintang. Seperti dulu, ia memeluk Bintang dengan hatinya. Menyatukan perasaan mereka yang sempat tidak bisa berdiri pada garis yang sama. "Bintang buncit nih, makannya pasti banyak, ya?" ucap Arjuna sambil tertawa kecil. "Hmm, biarin deh." "Haha, Bintang?" "Apaan?" "Nikah, yuk?" "Ha?" "Nikah Bintang nikah!" "Serius?" "Nggak ah becanda." "Iiihh!" Bintang menginjak kaki Arjuna dengan gemas. "Seriuslah, Sayang," kata Arjuna sambil mencium puncak kepalanya. Bintang tersenyum malu-malu, sebagai jawaban, ia hanya mengangguk di pelukan Arjuna. Selesai
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN