K a r m a n e l o| DUA BELAS

3518 Kata
BINTANG melamun sambil bersandar di kusen jendela kamarnya yang dibasahi hujan. Tepat sepuluh menit setelah Arjuna pulang, hujan turun deras, seakan langit ikut menangis bersamanya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang Bintang rasakan. Dan kalau memang benar langit sedang bersedih untuknya, dia akan mengucapkan terima kasih karena sudah mau menemaninya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya,  Bintang tidak takut pada hujan dan angin kencang yang menerjang pohon-pohon di luar sana. Kemudian, ia mendesah panjang, memeluk lutut, dan menangis lagi. Bahagia dan menderita pada saat yang sama. Bintang bahagia setiap ada di dekat Arjuna, melihat senyumnya, mendengar suaranya. Namun perasaan bersalah pun turut hadir ketika wajah Jevilo berkelebat dalam ingatannya. Pada akhirnya, kedua orang itu menempati hatinya. Bimbang tidak harus memilih karena Arjuna sudah lebih dulu pergi darinya. Ia akan tetap berada di sisi Jevilo selamanya, seperti yang mereka janjikan. Memang, kita nggak pernah tahu cinta yang lain akan datang. Kita juga nggak pernah bisa menolak hadirnya. Seperti apa pun usaha kita untuk mengelak, jika panahnya sudah mengenai hati, tak pelak kita harus mengakui. Bukan begitu? Dan Bintang mengakui. Ia telah jatuh hati pada Arjuna untuk yang kedua kalinya. Ia memaligkan wajah ke tempat tidur ketika mendengar suara getaran ponsel-nya di dalam tas. Dengan langkah gontai, ia beranjak ke tempat tidur dan merogoh tas-nya. Telepon dari Jevilo. Dengan jantung berdebar-debar, ia menjawab telepon itu. “Halo?” “Happy Birthday, Bebek …” kata Jevilo di seberang sana dengan suara serak. Samar-samar Bintang juga bisa mendengar suara hujan. “Semoga menjadi lebih baik, sehat selalu, makin dewasa dalam menghadapi setiap masalah.” Bintang merasakan air matanya kembali turun.  Rasa bersalah itu datang lagi. “Ma-makasih.” “Maaf, ya, kalo kemaren aku kasar sama kamu,” ucap Jevilo lagi. “Tadi, aku mau datang ke rumah kamu. Tapi, nggak jadi, habisnya mau hujan." “Oh, ya, nggak apa-apa. Kamu … lagi ngapain?” “Bebek kok suaranya beda? Lagi sakit, ya?” “Eng … Aku,” Bintang mengembuskan napas panjang sambil mengerjapkan mata, setitik air bening mengalir pelan di sudut matanya. “Maafin aku juga, ya,” katanya pelan. “Bebek nggak ada salah, kok. Oh, ya, Bebek …,” Ada jeda sesaat. “Aku sayang kamu ….” Bintang diam sebentar, tersenyum sedih lalu menjawab, “Aku juga sayang kamu.” *** Arjuna berdiri menghadap dinding yang dipenuhi foto-fotonya di masa kecil. Ia tersenyum melihat foto mandiang mamanya yang sedang tersenyum dengan satu tangan merangkul pundaknya. Foto itu diambil ketika ia masih kelas enam SD. Di sebelahnya, ada Jevilo yang bersidekap sambil tersenyum. Dulu, ketika pertama kali masuk ke rumah ini, Jevilo yang menyambut kedatangannya di depan pintu. Cowok itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Hari demi hari berlalu, hubungan mereka baik-baik saja sampai tanpa terasa keduanya semakin besar dan mulai mengerti. Ketika Arjuna melihat mamanya menangis untuk pertama kalinya, Arjuna pun paham. Air mata itu dikarenakan sang ayah yang lebih banyak menumpahkan perhatiannya pada bunda Jevilo. Yah, mungkin karena mamanya istri kedua, ia selalu dinomor-duakan. Tahun demi tahun, Arjuna semakin mengerti kalau kehadirannya dan mamanya di rumah ini hanya mengganggu. Sikap Jevilo yang selalu sinis dengan mereka, juga sikap diam yang selalu ditunjukkan bunda Jevilo pada mamanya, terang saja membuat Arjuna nggak tahan tinggal di rumah itu. Sampai akhirnya, ketika ia melihat sendiri sang ayah menampar mamanya dan memakinya, hari itu Arjuna tahu, kelahirannya di dunia, pernikahan mamanya, tidak pernah diinginkan sang ayah. Kejadian itu berulang dan menciptakan banyak luka. Belum lagi, hubungannya dan Jevilo memburuk sejak ia dilarang mendekati Nagita. Begitu banyak garis yang diciptakan Jevilo di rumah ini. Ketika mamanya meninggal karena penyakit ginjal, Arjuna semakin mengerti arti dari kesepian. Bukan tak jarang ia menangis dalam diam ketika melihat Jevilo bercanda tawa dengan bunda dan Nagita. Betapa Arjuna menginginkan ia ada di antara keluarga itu. Di hari-hari yang menyiksa itu, satu-satunya orang yang ia miliki hanyalah Seena. Ia menumpahkan seluruh tangis dan isi hatinya pada gadis itu. Namun akhirnya, ia kembali jatuh ke dalam jurang kesunyian yang penuh luka karena Jevilo mengambil Seena dari hidupnya. Luka, dendam, kesepian, membuatnya menjadi pribadi keras kepala. Begitu banyak rasa sakit yang tak terungkapkan selama bertahun-tahun. Tak diduga kehadiran Bintang pun membuat dunianya kembali berwarna. Suaranya, senyumnya, setiap sentuhannya, membuat Arjuna dibanjiri kebahagian. Sosok Bintang yang apa adanyalah yang membuatnya jatuh hati. Tetapi, lagi-lagi, ia harus merelakan sepi menyambut kedatangannya kembali karena Bintang tidak akan pernah menjadi miliknya. Dengan perasaan sedih yang berlebihan, Arjuna memejamkan matanya perlahan, membiarkan air mata jatuh ke pipinya. Pada semua rasa sakitnya, Arjuna ingin mengatakan selamat tinggal. Tetapi, kenyataan menariknya kembali ke jurang yang penuh penderitaan. Tok-tok-tok Arjuna menoleh cepat ke pintu ketika mendengar suara ketukan. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melangkah untuk membuka pintu. Tepat ketika pintu terbuka, didapatinya Jevilo tengah berlutut sambil menatapnya lurus-lurus dengan mata merah seperti habis menangis. "Gue nggak pernah ngerasa sesakit ini seumur hidup gue," kata Jevilo dengan suara bergetar. Ia mengangkat dagunya lebih tinggi. "Gue udah dapetin karma itu," tambahnya. Arjuna bergeming. "Lo boleh dekat sama Bunda gue, sama Nagita juga. Tapi, gue mohon, jangan ambil Bintang dari gue," ucapnya lagi. "Gue salah, gue ngaku salah udah ngerebut Seena dari lo. Gue sayang banget sama Bintang, Juna." "Gue kembaliin semuanya," kata Arjuna akhirnya. Jevilo terhenyak, ditatapnya nyalang Arjuna yang tersenyum sedih. "Mereka semua milik lo. Seperti apa yang pernah lo bilang, gue emang menyedihkan. Gue nggak pantes jadi bagian keluarga ini." Setelahnya, Arjuna menutup pintu. Jevilo menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Bukannya lega, ia malah merasa bersalah. Kembali ia mengingat kata-kata menyakitkan yang sering diucapkannya pada Arjuna dulu. Bukan hanya masalah Seena yang membuat hubungannya dan Arjuna buruk, tapi juga sikap dan semua kata-kata kasarnya. Menyesal? Ya, memang itulah yang dirasakannya saat ini. *** "Bintang, kenapa tuh muka lu? Kusut amat?" tegur Vinka setibanya Bintang di kelas. "Hehe," Bintang tertawa tanpa humor. Ia melanjutkan langkah ke bangkunya. Di sana sudah ada Arimbi yang tersenyum ramah padanya. Bintang memaksakan seulas senyum. "Bete gue sama si Juna, masa seenaknya aja nyuruh gue pindah ke sini! Kenapa sih dia?" tanya Arimbi sambil menunjuk Arjuna dengan dagunya. Bintang menoleh ke arah yang ditunjuk Arimbi. Arjuna sekarang duduk bareng Edgar, si ketua kelas. Dia lagi ketawa-ketawa di sana. Belum sempat Bintang memalingkan wajah, Arjuna menoleh ke arahnya. Cepat-cepat Bintang membuang muka dan pura-pura menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku-buku dari tas-nya. Arjuna tersenyum tipis, mengerti. "Nggak tau," jawab Bintang nggak begitu minat. "Tapi, nggak apa-apa sih, di pojokan juga enak kan bisa..." Bintang nggak lagi mendengarkan celotehan panjang Arimbi. Ia memilih diam sambil mencoret-coret buku catatannya. *** Bunyi bel tanda istirahat membuat seisi kelas mengembuskan napas lega. Maklumlah, pelajaran Fisika emang bikin kepala sakit. Mana gurunya galak lagi. Belum lagi aroma gorengan dari kantin tercium sampai ke kelas, bikin mereka semua makin nggak peduli sama pelajaran. Bintang hendak beranjak dari tempatnya ketika mendengar Jevilo memanggilnya. Pacarnya itu nongol dari pintu kelas sambil merentangkan tangan. "Bebek, miss you!" teriak Jevilo. Arjuna yang baru saja mau keluar kelas terpaksa kembali duduk dan pura-pura asyik dengan ponselnya. s**l! Di kelas tinggal dia, Yoga—sekarang sedang tiduran di lantai—juga Ferdian—lagi baca komik di baris ketiga dari tempat duduknya—dan Bintang yang sekarang lagi duduk berdua dengan Jevilo. Suasana ini canggung. Sumpah Arjuna pengin keluar tapi tubuhnya seperti membeku di tempat. Ia bahkan tak bisa bernapas dengan normal. Akhirnya, mau tak mau, rela tak rela, ia memilih tetap diam di tempatnya. Pura-pura asyik, pura-pura tidak peduli, dan pura-pura nggak tau ada yang lagi mesra-mesraan di pojokan. *** "Laper nggak?" tanya Jevilo sambil mengelus-elus rambut Bintang. "Nggak. Kamu nggak makan?" Bintang balik bertanya. Tanpa sadar fokus pandangannya terus tertuju pada Arjuna yang tampak cuek bebek. Jevilo menyadari itu, tapi ia tetap berusaha bersikap manis. "Nggak," jawab Jevilo pendek. Ia menggenggam jari-jari Bintang dengan erat. "Bebek?" "Huh?" "Entar pulang sekolah main ke rumah, ya. Nagita nanyain kamu dari kemaren," katanya. "Oh, iya," ucap Bintang sambil tersenyum kecil. *** Nagita sedang duduk di bangku teras ketika Jevilo dan Bintang tiba di rumah. Bibirnya yang pucat tersenyum menyambut kedatangan mereka. Sebelum mereka tiba di pintu, Nagita berdiri dan berteriak senang, "Kak Bintang!" "Hey, Nagita. Lagi apa kamu?" tanya Bintang setelah berdiri di hadapan Nagita. Dicubitnya pipi Nagita pelan. "Nunggu Kak Jevilo sama Kak Juna pulang, dong! Kak, Kak!" Nagita menggoyangkan lengan Bintang dengan semangat. "Kita main lagi, yuk! Sama Kak Juna juga!" Jevilo nggak jadi masuk ke rumah waktu mendengar ucapan Nagita. Ia mundur selangkah lalu bertolak pinggang. "Nagita, kamu nggak boleh main jauh-jauh. Entar kamu kayak kemaren lagi, mau?" kata Jevilo, terang-terangan menunjukkan kemarahannya. Nagita terdiam. Ia merapatkan tubuhnya ke Bintang yang juga nggak berani berkomentar. "Kalo kamu kenapa-kenapa lagi, gimana? Udahlah, main di rumah aja. Ngapain sih main jauh-jauh?!" kata Jevilo lagi. "Jevi, udahlah. Kok marah-marah, sih?" tegur Bintang akhirnya. Kasian melihat Nagita yang sepertinya ketakutan. "Kenapa? Nggak suka? Oh, kamu mau main bareng Juna juga, gitu?" kata Jevilo mendadak sensitif. Bintang meringis, perasaan kesal tiba-tiba muncul tanpa bisa ia tahan. "Jangan bawa-bawa Juna, dong. Emang kenapa sih kalo Nagita mau main bareng Juna? Kan dia juga kakaknya," kata Bintang. Tepat saat ia menyelesaikan ucapannya, Jevilo menarik paksa Bintang masuk ke rumah dan baru melepaskannya setelah tiba di kamar. Jevilo melempar tas-nya ke lantai lalu berdiri berhadapan dengan Bintang. "Aku udah bilang sama kamu, kan? Kalo ada orang lain yang bikin kamu nyaman selain aku, kamu bilang, Bintang," kata Jevilo. Dari nadanya, Bintang merasa kalau Jevilo sedang tersulut emosi. Rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam. "Aku—" Jevilo menarik Bintang dengan paksa lalu menekan bibir Bintang dengan ibu jarinya. Diciumnya bibir merah itu dengan kasar lalu melepasnya setelah Bintang mendorongnya. "Kamu kenapa, sih?" tanya Bintang heran. Nggak biasanya Jevilo menciumnya seperti itu. "Enakan mana, ciuman aku apa Juna?" Jantung Bintang seakan berhenti satu detik mendengar ucapan itu dilontarkan Jevilo dengan nada sinis. Takut-takut dia menatap mata Jevilo, "Kamu apaan, sih?" lirihnya. "Udahlah jawab aja. Ciuman siapa yang paling berkesan?" tanya Jevilo setengah tertawa. Demi apa pun, sikapnya sekarang bukan seperti Jevilo yang Bintang kenal. Cowok itu kembali menarik Bintang dan hendak menciumnya. Belum sempat itu terjadi, Bintang menunduk dan menangis. Jevilo tersenyum tipis lalu perlahan menaruh tangannya di atas kepala Bintang. Ia mengembuskan napas frutasi. "Aku cemburu. Nggak pernah aku ngerasa sesakit ini," kata Jevilo sambil mengusap kepala Bintang dengan lembut. "Aku muak setiap kali ingat kalo kamu sama dia," Jevilo nggak melanjutkan kata-katanya lagi. "Aku pulang," Bintang keluar kamar sambil menyeka air matanya. Setibanya di depan pintu, ia berhenti karena ada Arjuna di sana. "Kenapa?" tanya Arjuna, memberanikan diri untuk mengajak Bintang bicara. "Eng?" Bintang mati-matian berusaha menahan isak tangisnya. Tapi, ketika satu tangan Arjuna menyentuh pipinya, Bintang tahu air matanya sudah bertumpahan. "Cengeng. Habis diapain sih, kok nangis?" tanya Arjuna dengan nada menghibur. Bintang nggak menjawab, ia membuang muka saat Arjuna memiringkan wajahnya sedikit untuk menengoknya. "Sombong banget." Arjuna pura-pura tersinggung. "Gue...," Bintang menoleh menatap Arjuna. Matanya merah dan berkaca-kaca. Belum sempat Bintang melanjutkan ucapannya, Arjuna sudah menarik tubuhnya. Memeluk Bintang singkat. Pelukan yang dimaksud untuk menenangkan cewek itu. Sepuluh detik kemudian, Bintang menarik tubuhnya lalu pergi. Tak lama setelah kepulangan Bintang, Jevilo menghalangi jalan Arjuna yang hendak menuju kamar. Arjuna mendongak melihat Jevilo yang menatapnya dengan sinis. Bugh. Satu bogem mentah mendarat di wajah Arjuna hingga ia nyaris tersungkur. "Itu karena lo udah berani-beraninya nyium cewek gue," kata Jevilo datar. Bugh. Satu bogem lagi dan kali ini sanggup membuat Arjuna jatuh ke lantai. "Itu karena lo nggak datang waktu Seena sekarat," tambah Jevilo lagi. Arjuna bergeming, ia meringis saat merasakan perih di hidungnya yang perlahan mengeluarkan darah. "Lo emang udah berhasil ngambil semua perhatian orang yang gue sayang. Bunda, Nagita, juga ... Bintang. Tapi, yang bisa lo kembaliin ke gue itu cuma dua!" Suara Jevilo meninggi. "Kenapa sih lo?" Arjuna akhirnya melawan, ia berdiri sambil mengusap wajahnya yang sakit minta ampun. "Nggak usah bawa-bawa Seena jugalah." "Emang b******k lo, Juna! Gue tau lo benci sama Seena, tapi bukan berarti malam itu lo nggak datang, kan?!" bentak Jevilo. Kilat di matanya menunjukkan betapa ia sangat marah. Tapi, Arjuna terang-terangan menantangnya. "Gue datang. Tapi, terlambat," katanya acuh tak acuh. Jevilo diam sebentar, ditatapnya sepasang mata Arjuna yang berkaca-kaca. "Gue pernah bilang sama lo, jangan dekati Bintang!" "Tadi Seena, sekarang Bintang. Maunya apa sih? Gue udah lepasin mereka berdua buat lo. Lagian, gue nggak benar-benar rebut Bintang dari lo, kan?" ujar Arjuna terpancing emosi. Tanpa mereka tahu, sudah ada Nagita dan Bunda yang menonton tak jauh dari mereka. "Lo udah ngelakuin itu, b******k!" Jevilo meninju d**a Arjuna. Arjuna meringis kesakitan. Membalas Jevilo dengan pukulan bisa-bisa membuat salah satu di antara mereka mati. Jadi, ia berusaha tetap tenang. Kalau sudah marah, Jevilo seperti orang kesetanan. "Lo sama nyokap lo sama aja. Nggak bisa ngeliat orang senang!" Tapi untuk yang satu ini, Arjuna tidak bisa tinggal diam. Diayunkannya tangannya yang mengepal ke wajah Jevilo hingga terdengar bunyi pukulan yang keras. "Nyokap gue jangan dibawa-bawa," kata Arjuna dengan suara bergetar. "Kenapa? Lo mikir ya pake otak! Nyokap lo itu cewek murahan yang kerjanya cuma gangguin suami orang!" "Anjing," lirih Juna. Baru saja ia hendak melayangkan satu tinju lagi, suara bentakan terdengar. "JUNA, JEVILO! NGAPAIN KALIAN?" Keduanya menoleh bersamaan ke sumber suara. Ayah mereka tengah berdiri dengan mata melotot di belakang Bunda dan Nagita. Juna menurunkan tangannya yang tiba-tiba gemetar. "Ngapain kalian? Mau sok jagoan? Kalian pikir ini di mana, hah?!" bentak Ayah dengan wajah merah. "Sekarang gini deh," Arjuna memberanikan diri menatap ayahnya lekat-lekat. Dibuangnya rasa takutnya jauh-jauh. "Yang b******k itu, Ayah, atau emang Mama yang nggak tau diri?" tanyanya. "Apa maksud kamu?!" bentak Ayah. Arjuna tersenyum tipis. "Kalau memang dulu Ayah nggak pernah cinta sama Mama, jangan pernah bawa Mama ke rumah ini. Ayah nggak tau kan, gimana sakitnya jadi Mama," kata Arjuna. "...." "Mama hampir setiap hari nangis ngeliat Ayah sama Bunda yang saling sayang," ucap Arjuna, ia kemudian memandang Bunda. "Juna—" Ayah berusaha menyela tapi lagi-lagi Arjuna berbicara. "Juna ada salah apa sama Ayah? Kenapa sih, selama ini Ayah nggak pernah peduli sama Juna?" Jevilo memberanikan diri menatap sang ayah yang kini tampak tegang. Sorot matanya penuh emosi yang tak terdefenisi. Pertanyaan itu jugalah yang selama ini ingin ia tanyakan. "Bunda juga kenapa sih selama ini nggak pernah baik sama Mama? Bunda selalu cuek sama Mama." "Juna, cukup! Jangan bawa-bawa Bunda gue!" kata Jevilo sambil menepuk bahunya. Tapi, Arjuna tidak mengacuhkannya. Ia melangkah lebih dekat ke Bunda. "Bunda nggak tau kan rasanya jadi orang kedua? Bunda pasti nggak tau rasa sakitnya jadi Mama," kata Arjuna lagi. "Arjuna!" Ayah membentaknya. "Bunda kenapa sih, nggak pernah ngasih kesempatan buat Mama sama Ayah?" Mendengar pertanyaan itu ditujukan padanya. Bunda mendongak menatap Arjuna yang tampak kacau. "Kamu dan Ibumu sama saja," kata Bunda, "bisanya merebut kebahagian orang. Apa ya istilah yang pantas? Tidak tahu diri?" Arjuna mengatup bibirnya rapat-rapat. Dirasakannya tatapan Bunda semakin menajam. Tatapan itu penuh benci. "Saat aku sedang berbahagia dengan suami dan anak pertamaku, ibumu datang dan merusaknya," ucapan Bunda menohok Arjuna. "Katamu aku tidak memberi kesempatan? Lalu, kamu pikir siapa yang menyuruh ibumu tinggal di rumah ini kalau bukan aku? Membiarkan orang yang merebut suamiku hidup satu atap denganku?" Suara Bunda bergetar hebat. Ia mengcengkram roknya kuat-kuat sambil terus memandang Arjuna. "Aku membiarkan p*****r itu masuk ke rumahku!" Arjuna tidak bisa menahan air mata yang jatuh ke pipinya. Bertumpahan dan tak bisa dihentikan saat Nagita berlari memeluknya. p*****r? p*****r? Kata-kata itu menggema di kepalanya, berulang-ulang dan menyiksa. "Apa kamu tidak pernah bertanya apa pekerjaan ibumu sebelumnya, hah? Aku membawanya ke sini agar kamu lahir dan mempunyai ayah! Aku memberi tempat untuk kalian di rumah ini!" Bunda berteriak hingga suaranya terdengar serak. "Bunda," Jevilo baru saja melangkah tapi Bunda berkata lagi. "Kalau bukan karena ibumu, aku tidak mungkin duduk di kursi roda ini sekarang. Kalau tau begini, aku tidak akan pernah memberikan satu ginjalku padanya!" Bunda menjerit dan memutar kursi rodanya tapi Arjuna dengan cepat menahannya hingga mereka tetap berhadapan.  "Apa maksud, Bunda?" Jevilo menarik bahu Arjuna hingga mereka berhadapan. "Yang donorin ginjal buat nyokap lo itu Bunda gue. Asal lo tau!" kata Jevilo dengan nada membentak. Arjuna memejamkan matanya beberapa detik. Ia kemudian menoleh pada ayahnya yang masih bergeming. "Benar begitu?" tanyanya lirih. Ayah mendengus sebelum akhirnya mengangguk. *** "Bunda mengalami kelainan pada ginjalnya sejak operasi itu. Juna, kamu harusnya nggak asal ngomong sama Bunda. Kamu sendiri tau betapa baiknya dia." "Dan kebaikan itu yang bikin Ayah nggak tega menyakitinya?" Ayah mendesah panjang. "Mamamu juga perempuan yang baik. Tapi, entah kenapa Ayah tidak pernah bisa jatuh hati padanya," kata Ayah jujur. "Apa karena Mama pe—" "Bukan. Mamamu melakukan pekerjaan itu terpaksa." Ayah menerawang langit-langit, seolah ia bisa melihat masa lalunya di sana. "Dia sebatang kara. Tidak punya latar pendidikan yang jelas. Tapi, dia sahabat yang baik." Arjuna menelan ludah kering. Berbagai kemungkinan kini berkelebat dalam benaknya. "Tapi, Ayah memang ayah kandung Juna, kan?" tanyanya. Bagaimana kalau ternyata bukan? Lalu, anak siapakah dia? Berapa orang yang sudah? Arjuna merasa kepalanya berdenyut-denyut, seakan mau meledak. Gagasan itu sungguh menakutkan. Ayah mengelus punggungnya, terasa hangat dan menenangkan. "Ya, kamu memang anak Ayah." Hembusan napas lega membuat kepalanya ringan seketika. Kemudian, dirasakannya tangan besar sang ayah merangkul pundaknya. "Ayah selama ini bersikap keras, karena merasa bersalah dengan kalian semua. Ayah sudah membuat ibu kalian menangis. Ayah merasa, bukan ayah yang baik. Ayah bahkan belum bisa memaafkan diri ayah sendiri. Ayah tidak yakin, kalau kalian masih menganggap ayah ini, orangtua kalian." Arjuna bisa mendengar nada sedih di suara serak ayahnya. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepala, mengerti. Di pintu kamar yang setengah terbuka, Jevilo mengamati kedua orang itu dengan perasaan campur aduk. Ia mendesah panjang berkali-kali, seolah begitu banyak oksigen yang berkumpul di dadanya. Perlahan, ia mundur dan kembali ke kamarnya. "Kenapa nggak ada yang cerita kalo Bunda yang donorin ginjalnya ke Mama?" tanya Arjuna lagi. "Bunda nggak mau kamu tau. Entahlah, Ayah sendiri juga nggak tau kenapa. Lebih baik, sekarang kamu minta maaf sama Bunda. Dia sayang banget sama kamu, Juna. Saat tahu mamamu meninggal, Bunda benar-benar ngerasa bersalah atas sikapnya selama ini. Ayah tau, Bunda begitu karena cemburu. Diam-diam sebenarnya dia peduli dengan kalian." *** Arjuna mendorong pintu kamar Bunda yang memang sudah terbuka sedikit. Ia melangkah pelan, nyaris tanpa suara. Yang ia dengar hanyalah suara degup jantungnya. "Bunda," lirihnya pada Bunda yang sedang duduk termenung menghadap jendela kamarnya yang terbuka lebar. "Bunda, tadi Juna—" "Pergi." Langkah kaki Arjuna berhenti. Dan Arjuna mendapati ia susah bernapas saat Bunda memutar kursi rodanya menghadapnya. Tatapannya tidak berubah, masih setajam tadi. "Bunda, Juna minta maaf," kata Arjuna, ia mendekat, meraih jari-jari Bunda yang dingin dan gemetar. "Pergilah, nggak ada lagi tempat untuk kamu di rumah ini." Jantung Arjuna rasanya mencelos saat kata-kata itu dilontarkan. "Bunda, Juna minta maaf," katanya sembari menekuk lutut. "Bunda, Juna nggak pernah tau yang sebenarnya. Bunda jangan marah sama Juna. Juna nggak punya siapa-siapa lagi kalo Juna pergi dari sini." Bunda membuang muka, ia menarik tangannya yang digenggam Arjuna erat-erat. Saat itu Arjuna tahu, kalau memang tidak  ada lagi tempat untuknya di rumah ini. "Kak Juna?" Nagita menahan tangannya. Sedari tadi gadis itu berdiri di ambang pintu, mencuri dengar. "Jangan pergi," katanya dengan bibir mencebik. Arjuna menaruh tangannya di puncak kepala Nagita sembari tersenyum. "Kamu ngapain di sini?" Nagita tiba-tiba memeluk pinggangnya erat-erat. "Kak Juna nggak boleh pergi. Bunda, jangan suruh Kak Juna pergi!" teriak Nagita. Suaranya melengking sampai-sampai Jevilo yang ada di kamarnya keluar. Bunda mendengar teriakan itu, tapi ia tak melakukan apa-apa. "Kak Juna nggak boleh pergi. Nanti Nagita main piano sama siapa lagi? Huhuhue," Nagita menangis terisak di pelukannya. Arjuna merasakan sudut matanya perih ketika mendengar suara memohon Nagita, juga pelukannya yang rapuh. "Kan masih ada Kak Jevi," kata Arjuna, ia bahkan tidak yakin kalau suaranya terdengar baik. "Tapi, Nagita maunya sama Kak Juna. Bunda jahat!" Nagita mencak-mencak. Ia menarik tangannya lalu berlari ke dekat Jevilo. "Bunda jahat! Kak Juna disuruh pergi. Kak Juna nggak boleh pergi, huhuhu!" ucap Nagita sambil menggoyang-goyangkan lengan Jevilo. Jevilo menunduk, menatap wajah Nagita yang basah karena air mata. Lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata. Sejenak ia hanya diam mendengarkan Nagita memohon padanya agar melarang Arjuna pergi. Tapi akhirnya, ia berkata lirih, "Biarin Kak Juna pergi." Tangis Nagita pecah. Ia kemudian menatap ayahnya yang berdiri di ujung tangga, meminta pembelaan. Tapi, beliau tetap di sana, memandang iba Arjuna. Dengan langkah gontai, Arjuna beranjak menuju kamarnya. Lima belas menit kemudian, ia keluar sambil membawa koper besar. Ia melewati Jevilo dan Nagita yang kembali menangis melihatnya. "Kak Juna," lirih gadis itu putus asa. Arjuna berusaha menunjukkan senyum terbaiknya pada Nagita. Dan pada Jevilo, ia berkata dengan sungguh-sungguh, "Gue minta maaf. Gue yakin, lo sama Bintang bakal baik-baik aja." Setelahnya, Arjuna berlalu. Tangis Nagita pun kembali pecah, juga tangisan Bunda yang menatap kepergiannya dari jendela kamar. *** NEXT BAB TIGA BELAS : "Gue pikir, harusnya ... kita jadi kakak yang baik buat Nagita," kata Jevilo sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Entah kapan ia terakhir kali berbicara sedekat ini dengan Arjuna. "Sebenarnya, gue yang nyuruh anak-anak buat ngerjain lo. Tapi, maksud gue bukan bikin lo babak belur kayak gini. Ya, apa ya, maksud gue, ehm," Jevilo semakin salah tingkah waktu mata Arjuna  menyipit menatapnya. "Lo mau ngomong sampe kapan? Gendong gue sekarang ke UKS!" kata Arjuna sambil mengulurkan tanganya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN