K a r m a n e l o | EMPAT

1215 Kata
K a r m a n e l o | EMPAT ARJUNA sengaja berlama-lama berdiri di depan pintu waktu melihat Bintang berjalan menuju kelas. Cewek itu sedang sendiri, lagi main hape sambil senyum-senyum. Dan Arjuna tahu kalau Bintang pasti nggak memperhatikan jalannya. Jadi, ketika Bintang menabraknya, ia bukannya bergeser, tetapi malah tersenyum. Bintang mengerjap waktu mendapati Arjuna berdiri di hadapannya sambil senyum-senyum nggak jelas. "Minggir, dong! Gue mau lewat," kata Bintang. Arjuna mendesis, harusnya Bintang terpesona. Minimal, bengong bentar gitu kek. Di mana-mana, kalau ada cewek yang Arjuna senyumin pasti juga malu-malu g****k. Ini kok nggak, sih? Atau belum? Arjuna menabrak bahu Bintang dengan sengaja dan berlalu begitu saja. Bintang menoleh ke belakang, Arjuna juga menoleh ke arahnya sambil mengedip-ngedipkan mata kayak orang kelilipan. Bintang mengerutkan kening, bingung dengan sikap Arjuna yang tiba-tiba... entahlah. Sikapnya di rumah berbeda dengan di sekolah. Bintang tahu siapa Arjuna. Di sekolah ini, mungkin cuma dia yang tahu hubungan antara Arjuna dan Jevilo. Bintang juga sering kok, ketemu sama Arjuna di rumah Jevilo. Tapi, kalaupun mereka nggak sengaja berpapasan, Arjuna seolah nggak mengganggapnya ada. Menurut Bintang, Arjuna itu cuma cowok g****k yang kurang kerjaan ngintipin kolor cewek-cewek. Beda banget sama Jevilo. "Ih, kok nggak dibales, sih? Ngapain nih anak?" Bintang cemberut waktu tahu pesannya di LINE nggak dibalas Jevilo. Akhirnya, ia memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya yang lagi ngerumpi di pojokan. *** "Haaaaai? Pada ngapain niiiih?!" teriak Jevilo sewaktu memasuki toilet cewek. Terang saja kemunculan Jevilo yang tiba-tiba membuat cewek-cewek itu menjerit kaget. Mereka berteriak, memaki Jevilo yang dengan cengiran setannya malah berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang. "Gue bilangin Bintang ya lo masuk-masuk ke toilet cewek lagi!" teriak salah satu dari tujuh cewek itu. Jevilo cuma senyum-senyum lalu maju selangkah. "Kalo gue numpang pipis di sini, menurut kalian, gue jongkok atau tetap berdiri?" "Najis lo!" teriak mereka bersamaan dan mendorong Jevilo untuk keluar dari toilet. Jevilo cuma ngakak sambil berteriak ampun-ampun karena rambutnya dijambakin. "Mau banget sih si Bintang sama cowok g****k kayak lo!" "Dasar m***m!" Seperti biasa, Jevilo cuma senyum-senyum menanggapi ocehan itu. Justru, ngeliat muka-muka kaget cewek-cewek itulah ia jadi ketagihan masuk ke toilet cewek. Bahkan, dari tragedi masuk toilet ceweklah yang membuatnya jadi kenal Bintang, bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama. Eaaak. Jadi, waktu itu... tahun pertamanya di sekolah. Dari SMP, Jevilo emang udah suka banget gangguin cewek-cewek di toilet. Jadi, waktu jam istirahat, ia diam-diam masuk ke toilet dan teriak 'Pada ngapain, sih?'. Tiba-tiba aja, Bintang datang dan langsung menyiramnya dengan seember air. Bintang juga meneriakinya 'b*****g'. Bukannya tersinggung, Jevilo malah salut dan suka dengan suara Bintang yang manja-manja gimanaa gitu. Bintang juta ternyata manis banget. Dan setelah itu, ia mulai deh ngejar-ngejar Bintang. Akhirnya, mereka jadian dan tahun ini sudah masuk tahun kedua mereka menyandang status berpacaran. Satu sekolah bahkan guru-guru tahu kalau mereka pacaran. Habisnya, ke mana-mana bareng. Nggak di kantin, di perpus, selalu bareng. Bintang juga merasa beruntung jadi pacar Jevilo, pasalnya... di kelas semua cowok jadi menghormatinya. Kalau cewek-cewek lain selalu mereka godain dan colek-colek, jangan harap Bintang bisa mereka sentuh sedikit pun. Jevilo bisa bikin mereka nggak masuk sekolah selama seminggu karena babak belur. Dan semuanya tahu kalau Jevilo itu pasti sayang banget sama Bintang. Termasuk Arjuna. Arjuna kembali ke kelas dan mendapati Bintang tengah duduk sendiri di kursi paling pojok. Ia menghampiri Bintang lalu mengenyakkan tubuh di kursi sebelah Bintang. Awalnya Bintang hanya melihat sekilas, tapi sadar kalau cowok yang duduk di sebelahnya Arjuna, Bintang kembali menoleh. "Hai?" Arjuna menyapanya. Mata Bintang langsung tertuju pada lesung pipi Arjuna. "Hai," balas Bintang ikut tersenyum waktu melihat senyum Arjuna. "Eh, pipinya kok bolong?" kata Arjuna sambil menunjuk pipi Bintang, bahkan ia sengaja menyentuh lesung pipinya. Bintang terkekeh, sambil melihat hapenya ia berkata, "Lesung pipi. Kamu kan, juga punya." Arjuna memberengut karena perhatian Bintang sekarang kembali ke hapenya. "Kok sekarang lo jarang main ke rumah lagi?" Arjuna bersorak dalam hati karena Bintang kembali melihatnya. Arjuna langsung saja senyum-senyum, biar Bintang tahu kalau dia itu manis dan penuh pesona. "Iya, sibuk belajar dan bantuin mama bikin kue. Kan, mama punya usaha catering. Jadi, ya gitu... nggak ada waktu buat main-main, hehehe." Duh, suaranya kok imut banget, sih? Untuk sesaat Arjuna termangu sambil memandangi Bintang. Diperhatikannya gerakan Bintang saat cewek itu menyisipkan sejumput rambut ke balik telinga, saat Bintang senyum-senyum karena membaca pesan yang masuk ke hape-nya, dan saat Bintang cemberut entah karena apa. Tetap aja sih, nggak ada yang spesial dari seorang Bintang. Terlalu biasa. Apa coba yang bikin Jevilo tergila-gila? "Arjuna! Gue duduknya di sini!" teriak Vinka, menyentak lamunannya. Arjuna langsung mencibir ke arah Vinka yang melotot ke arahnya. "Bintang, lo ngapain sih, biarin Juna duduk di bangku gueee?!" Drama-nya Vinka emang nggak ada yang bisa ngalahin. Apalagi suaranya yang melengking bikin sakit kuping. Jadi, sebelum Vinka makin lebay, Arjuna beranjak. "Bintang, lo harus hati-hati sama Arjuna!" bisik Vinka, membuat Bintang merinding. "Vinka, jauh-jauh ngomongnya," kata Bintang sambil mengusap kupingnya karena geli. "Bintang," Vinka menyentuh pundak Bintang. "Gue tadi merhatiin si Arjuna. Dia ngeliatin lo terus." "Emang kenapa kalau dia ngeliatin gue?" Vinka memejamkan matanya sepersekian detik. "Gue nggak mau lo masuk ke lingkaran setan." Bintang tergelak mendengarnya. Ia kemudian melirik Arjuna yang duduk sendiri di pojokan sambil mendengarkan musik dari earphone yang menggantung di telinganya. Arjuna menatap lurus ke luar jendela yang tepat di sebelahnya. Cowok itu sepertinya sedang ada masalah. Bintang juga bertanya-tanya dalam hati, kenapa sikap Arjuna hari ini berbeda dengan sikap Arjuna yang dulu-dulu? Ah, ini masih sehari, besok juga tuh cowok berubah lagi. Lagian, ngapain juga peduliin Arjuna. Baru saja Bintang mau mengalihkan pandangan, tiba-tiba Arjuna melihatnya dan mau tak mau untuk beberapa saat Bintang membiarkan mata mereka bertemu. Arjuna mengerjap, seolah menyampaikan sesuatu dari pandangannya. Karena Bintang nggak merespon, ia cemberut. "Bebek, kwek kwek kwek!" Jevilo nongol dari pintu kelas sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya. "Vinka! Awas! Papi mau duduk di sebelah Mami!" katanya pada Vinka. Vinka mencebikkan bibir tapi tetap beranjak, malah cewek cebol itu pergi ke luar kelas. Setelah Vinka pergi, Jevilo menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Tak berapa lama kemudian, mereka tertawa besar-besar, nggak peduli dengan tatapan iri orang-orang yang ingin bahagia seperti mereka. Arjuna memperhatikan itu dengan mata nanar. Ia benci melihat Jevilo tertawa seperti itu. Dari dulu, Jevilo selalu mendapatkan apa yang dia mau. Jevilo punya orang-orang yang membuatnya bahagia. Sementara dia? Jevilo pernah merebut orang yang paling ia sayang. Seena. Jevilo setengah tertawa saat mengacak-acak rambut Bintang. Ia nggak sengaja melihat ke kanan, tempat Arjuna duduk menatapnya lurus-lurus. Seketika, tawa Jevilo hilang. "Ngapain dia di sini?" tanya Jevilo pada Bintang. "Aku sama Arjuna sekelas," jawab Bintang seraya tersenyum manis. Jevilo mendesis dan rahangnya mengeras. "Sekelas? Kok bisa, sih?" Bintang tahu kalau Jevilo nggak pernah suka dengan Arjuna. Pacarnya itu juga sering menceritakan bagaimana sikap Arjuna di rumah pada Nagita dan bundanya. Jadi, saat ia melihat kedua orang itu saling melempar pandang kebencian, digenggamnya tangan Jevilo sambil berkata, "Emangnya kenapa kalau aku sekelas sama dia?" Jevilo kemudian memandang Bintang dengan sorot keraguan. "Pokoknya, jangan dekat-dekat sama dia." "Beres, Bos!" Bintang memberi hormat sambil tertawa. Melihatnya, Jevilo tersenyum. Ya, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia merasa hari-harinya ke depan nggak akan sama lagi. Terlebih lagi kalau mengingat Bintang pernah.... Ah, itu udah dua tahun lalu. Bintang nggak mungkin berpaling darinya. Ia yakin, di hati Bintang hanya ada namanya. Selalu dan selamanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN