Setelah makanan selesai, Alvin meletakkan semua hidangan itu di atas meja, ia menunggu Angela makan sambil menyuapi Erfan makanan sehat yang dibuatnya khusus.
"Kukira kau kemana? Ternyata kau di dapur dan tengah memasak untuk istrimu, apakah aku boleh ikut makan bersama kalian?" Suara keras Marco terdengar.
"Tidak bo-" Belum sempat Angela menyudahi ucapannya suara kursi yang ditarik memasuki telinga.
Tanpa menunggu persetujuan dari Angela ataupun Alvin, Marco langsung duduk, ia mulai ikut mengambil makanan. Satu-persatu hidangan demi hidangan mulai masuk ke dalam piring saji Marco membuat Alvin merasa kesal dan marah.
Alvin benar-benar ingin membedah otak Marco dan melihat apa isi di dalamnya. Bagaimana mungkin orang seperti Marco bisa menjadi dokter yang sukses dan kaya.
"Kau!" Angela tidak mampu melanjutkan ucapannya saat melihat sifat masa bodoh yang ditunjukkan Marco padanya dan Alvin.
Akhirnya Angela memilih diam dan melanjutkan makannya daripada memilih ribut yang berujung menguntungkan Marco.
Sedangkan di ruang tamu, Alena telah selesai makan, Alena sedang menikmati pijatan lembut Alfred di keningnya.
Sesekali suara rengekan kesakitan Alena akan terdengar. Di sebelahnya Adera dengan sabar memegang tangan Alena yang akan mencegah gerakan Alfred.
"Tenanglah dan rileks, Ale! Kalau tidak kau akan tetap pusing, mual dan ingin muntah." Alfred menasehati dengan senyuman lembut.
Sisi Alfred yang seperti inilah membuat Adera membiarkan Alena berteman dengan Alfred. Adera merasa yakin kalau melepaskan Alena bersama Alfred karena Alfred selalu menyayangi Alena apa adanya.
"Makanya, kalau punya telinga itu gunakan dengan baik. Tante sudah sering mengatakan bukan? Kau harus makan tepat waktu agar tidak sakit." Adera ikut menimpali membuat Alena mencebik kesal penuh kemarahan.
"Iya, maaf Tante! Alena janji mulai besok akan makan teratur." Alena menjawab dengan wajah sedih yang jelas dibuat-buat.
Adera yang melihat semua itu tak kuasa menahan tawa dan kekesalannya sekaligus.
"Sudahlah, kau itu tidak akan pernah berubah menjadi dewasa. Kau itu memang harus memiliki seseorang yang akan selalu mengawasi dan menjagamu setiap waktu." Adera sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Robert.
Namun saat Adera melihat ke arah lantai atas Robert sudah tidak berada di sana lagi.
Adera tersenyum pada Alena, Adera tahu Alena sangat ingin diperhatikan oleh Robert sebagaimana Robert memperhatikan Aleta. Tapi perasaan dan Robert tidak bisa dipaksa. Adera sendiri juga tidak mengerti bagaimana Robert bisa bertingkah tidak adil seperti itu.
Alena yang melihat arah pandangan Adera hanya ikut tersenyum kecut seraya menggelengkan kepala.
Alena merasa mungkin perjuangan yang selama ini ia lakukan belum cukup keras dan meyakinkan hingga Robert masih belum bisa menaruh kepercayaan kepadanya.
Alena menggelengkan kepalanya saat rasa sakit juga rasa sedih yang dalam menusuk hatinya.
"Apakah masih sakit hingga wajahmu kembali sedih? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Alfred bertanya dengan raut wajah prihatin.
"Tidak, aku hanya perlu beristirahat sejenak." Alena menolak dengan cepat dan bersiap untuk pergi ke arah kamarnya yang ada di rumah Angela.
"Aku akan beristirahat, terima kasih atas kebaikanmu hari ini Al! Aku tidur dulu," pamit Alena dengan wajah bersalah.
"Ya, istirahatlah yang nyenyak. Kalau sakitnya tidak berkurang kau harus menghubungi diriku." Alfred menganggukkan kepalanya pada Alena.
"Terima kasih sudah mengerti diriku, Al!" Alena tersenyum manis sebelum melangkah menjauh ke arah kamarnya tanpa mempedulikan kehadiran Alfred lagi.
Bagi Alfred hal ini adalah biasa, dia sudah tahu dengan sifat Alena dan dia sudah sangat memahami semua itu.
"Kau harus sabar menghadapinya, Al!" Adera menasehati sembari menampilkan raut wajah prihatin.
"Aku tahu, Tan! Aku hanya tidak ingin dia terlalu mengharapkan apa yang tidak bisa ia dapatkan. Aku hanya kasihan padanya, kenapa pada saat itu bukan aku saja yang menolongnya?" Alfred bertanya dengan nada sedih.
Alfred tahu selama ini Alena hanya menganggap dirinya sebagai sahabat sekaligus saudara, sedikitpun Alena tidak pernah menganggap dirinya lebih dari itu.
"Bukan dia tidak punya perasaan hingga tidak mengerti perasaanku. Tapi perasaannya sudah dicuri oleh orang lain hingga matanya tidak bisa lagi melihat ke arah lain."Adera memberikan jawaban, Alfred berdiri dari duduknya setelah matanya tidak lagi melihat Alena.
"Aku pamit pulang, Tante!" ujar Alfred dengan kepala menunduk dan melangkah pergi ke luar dari rumah Alvin.
'Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, ketika rasa cintanya habis untuk pria itu maka dia akan belajar mencintai orang lain. Aku tidak akan pergi dari sisinya sedikitpun karena jika aku pergi maka akan ada orang lain yang mengambil posisi milikku." Alfred menggepalkan tangannya penuh tekad yang kuat.
Alena berbaring di tempat tidur, dia menatap langit-langit kamar sembari mengenang bagaimana cuek dan dinginnya sikap Robert.
'Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar dia melirik diriku? Apa yang harus aku lakukan agar dia tersenyum padaku?' Pertanyaan demi satu pertanyaan terlontar di benak Alena.
Alena bingung, mencari di mana letak kesalahannya hingga Robert bersikap seperti itu padanya.
Alena benar-benar tidak mengerti dan juga tidak paham dengan kemarahan dan kebencian yang diperlihatkan oleh Robert.
Air mata Alena jatuh tak kala dirinya tidak mampu menemukan jawaban atas kemarahan Robert padanya.
'Apa salahku hingga Paman lebih menyayangi Aleta dibandingkan diriku? Apa yang aku lakukan hingga Paman bersikap dingin padaku?' Alena terus bertanya pada dirinya sendiri.
Alena akhirnya tertidur dalam pertanyaan-pertanyaan itu tanpa sadar.
***
Robert menatap ponselnya dengan senyuman saat sebuah panggilan masuk dengan nomor yang sangat di kenalnya masuk.
"Halo, Sayang!" sapa Robert dengan lembut saat panggilan di antara mereka telah terhubung satu sama lain.
"Halo, Paman Robert yang sangat aku sayangi." Suara lembut dari seberang yang terdengar semakin membuat Robert bahagia.
"Aleta apa kabar sayang? Paman sangat merindukan dirimu!" Robert bertanya dengan kelembutan yang belum pernah ditunjukkannya pada siapapun.
"Baik, Aleta juga merindukan Paman! Tapi Paman terlihat sibuk sekarang hingga tidak punya waktu bersama Aleta. Kakak juga tidak pulang beberapa hari ini," keluh Aleta dengan suara pelan.
"Tidak perlu mengkhawatirkan kakakmu, dia sedang bersama tantenya sekarang." Robert menjawab dengan cepat.
"Baguslah kalau memang kakak bersama tante, aku takut dia mengalami hal buruk lagi. Kakak sangat takut sendirian dan gelap," ujar Aleta sembari mengingat apa yang ditakuti oleh Alena.
"Kau tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja bersama tantemu. Kau sudah makan?" Robert bertanya dengan raut wajah serius.
"Sudah Paman! Aleta mau bekerja lagi, Aleta mohon Paman jaga kakak dengan baik ya. Kakak itu berbeda dari yang lain, dia terlihat tapi sangat rapuh sebenarnya." Aleta pamit sembari memutuskan sambungan komunikasi mereka.
o0o
Wanita itu hanya bisa mengeluarkan suara rintihan saat dirinya terus melayani pria tampan itu dengan luka-luka kecil yang memenuhi tubuh bagian atasnya.
Si pria nampak senang saat wanita yang tengah digarapnya mulai bernafas pendek. Dadanya naik turun dengan lambat serta kulit yang mulai terlihat memucat.
"Sudah lemah saja," ujar pria tampan itu terlihat bosan. Dia bangkit dari tubuh si wanita dan mulai menambah luka-luka baru di tubuhnya dengan perasaan senang yang begitu menggebu-gebu.
Satu-persatu luka baru mulai terukir di tubuh si wanita hingga menyebabkan wanita yang tadinya cantik itu tidak lagi memiliki bentuk tubuh indah dan wajah cantik lagi.
Tubuh indah itu juga sudah mulai kaku dan tidak bergerak lagi.
Mata indahnya melotot ke depan melihat ke atas, jelas dia masih tidak percaya dengan keadaan yang diterimanya menjelang kematian.
"Siapa yang menyuruhmu memiliki mata indah seperti wanitaku? Siapa yang menyuruhmu memiliki warna rambut yang sama dengannya? Dasar jalang!" umpat pria itu sebelum berdiri dan membersihkan pisau lipat miliknya.
"Bau darah, bau kematian dan wajah ketakutan menjelang kematian aku sangat menyukai semua itu." Pria itu memakai pakaiannya dan menekan sebuah tombol di atas kepala ranjang yang ditidurinya tadi.
Segera pintu terbuka dan beberapa orang dengan pakaian pelayan masuk, tidak ada raut terkejut, tidak ada wajah ketakutan ataupun tanda tanya. Mereka yang masuk langsung menuju tempat tidur dan membersihkan tempat tidur itu dengan hati-hati seolah-olah hal itu sudah biasa bagi mereka.
"Tuan, apakah ada hal lain yang bisa kami lakukan?" tanya salah satu dari pria yang ikut masuk. Dia menunduk dengan hormat menanti sebuah jawaban dari mulut pria yang disapanya.
"Tidak ada, kalian semua keluarlah setelah membersihkan tempat ini!" perintahnya tanpa memalingkan wajah.
Pria tampan itu melihat ke luar jendela sebelum menekan tombol di samping pintu kamar mandinya.
Segera sebuah pintu dari dinding terbuka dan dia masuk ke dalam ruangan itu.
Di setiap dinding, ada ratusan foto Angela dengan wajah penuh senyuman atau hanya sekedar melakukan sesuatu.
"Sayang, bersabarlah! Sebentar lagi aku akan menjemputmu kembali. Aku akan membawamu pulang ke rumah kita dan aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan membiarkan orang lain meniru dirimu dan aku tidak akan membiarkan seseorang menggantikan tempatmu!" janji pria itu dengan penuh keyakinan.
Matanya memancarkan cinta yang luar biasa. Dia menekan saklar lampu agar semakin terang ruangan itu.
Segera wajah tampan terlihat dengan jelas.
"Tuan Farrel!" panggilan lembut dari belakang punggungnya membuat Farrel mencebik tidak suka.
Di belakang Farrel muncul seorang wanita dengan pakaian pelayan seksi melangkah mendekat ke arahnya.
"Kau mau apa? Siapa yang memberimu izin memasuki ruangan ini?" tanya Farrel dengan tidak suka.
"Aku hanya ingin bertanya apakah Tuan membutuhkan pelayanan lain? Kalau Tuan butuh saya sanggup melakukannya!" Wanita itu menyentuh punggung Farrel dengan wajah genit dan menggoda miliknya.
Pakaian atasnya yang minim hingga menampakkan belahan bukit kembarnya menyebabkan para pria akan menelan ludah.
Body seksi dengan kulit putih, wajah cantik dan menarik. Sayang, semua tidak dia gunakan di tempat yang seharusnya.
"Siapa yang memberimu izin untuk masuk ke kamarku?" Farrel tersenyum kecil. Kilatan haus darah melewati matanya sebelum menghilang dengan cepat.
"Kau pikir apakah kau layak?" tanya Farrel dengan senyuman penuh tuduhan.
"Semua wanita memang terlihat murahan ya? Jauh berbeda dengan wanitaku, dia tidak pernah menggoda ataupun bersikap manja pada laki-laki sembarangan." Farrel membalik tubuhnya secara perlahan.
Tangannya menyentuh dagu wanita itu sebelum mendorongnya dengan kuat menuju ke luar ruangan itu.
Wanita pelayan itu mencoba melihat ke belakang ke arah foto-foto Angela terpajang.
Belum sempat dia menyimpan wajah Angela di memori kepalanya. Dia sudah memekik dengan keras karena Farrel mendorongnya ke luar dengan kuat.