Setelah Alena menekan enam digit angka, dia memutar handel pintu dan masuk ke dalam. Alena menemukan Alfred sedang menunggunya dengan beberapa makanan ringan di atas meja serta game yang terlihat masih berputar-putar di layar.
"Ayo langsung pergi!" ajak Alena dengan wajah masam. Padahal dia terburu-buru ke sini dan Alfred dengan seenak hati bermain game dan memakan makanan ringan di sana.
"Hehehe, oke-oke." Alfred mengangguk dan berjalan menuju ke depan mematikan televisi. Setelah itu Alfred mengambil jas di atas sandaran sofa dan melangkah ke tempat Alena berdiri.
Alfred bertindak seolah-olah tidak bersalah dan langsung merangkul bahu Alena yang terbuka. Senyum manis ditampilkan oleh Alfred saat melihat Alena cemberut dengan wajah masam padanya.
Alena mendengus kesal selepas itu, Alena berbalik dan melangkah ke luar dari kamar apartemen milik Alfred. Meski Alena berwajah masam padanya, Alfred bertindak tidak peduli. Alfred bahkan dengan tanpa rasa bersalah merangkul pinggang ramping Alena dan berjalan menuju lift.
"Pantas saja Tuan Alfred enggan mencari pasangan ternyata dia sudah memiliki wanita cantik di sisinya." Suara godaan terdengar dari belakang Alfred saat ke-duanya hampir mencapai lift.
Alfred yang mendengar suara itu akhirnya berbalik dengan malas dan menemukan kalau orang yang menyapanya adalah seorang wanita tua yang tinggal di sebelah tempat Alfred tinggal.
"Iya dong, Bu! Pasanganku adalah wanita paling cantik dan paling manis sedunia." Alfred mengangguk cepat. Sukses, hal yang dilontarkan Alfred membuat Alena cemberut dan mencubit pinggang Alfred.
Setelah mengatakan itu, Alfred kembali berbalik karena pintu lift sudah terbuka. Keduanya menyempatkan diri membungkuk sebelum pintu lift tertutup rapat.
"Apanya yang cantik? Kalau memang cantik harusnya orang yang aku sukai juga suka padaku. Aku yakin, dia berbuat baik padaku karena masa laluku yang terbongkar." Alena mendelik dan memutar matanya malas.
Sontak, ucapan Alena membuat Alfred terkekeh geli. Alfred sangat paham apa arti ucapan Alena. Ya, Alena memang sudah menceritakan apa yang dia rasakan pada Robert ke Alfred.
"Tapi aku suka bagaimana dong?" tanya Alfred yang dianggap Alena hanya iseng saja.
Keduanya sampai di lantai bawah dan berjalan menuju ke mobil Alfred. Keduanya meninggalkan lokasi apartemen Alfred menuju ke tempat perjanjian sedikit lebih cepat karena jalan yang akan ditempuh cukup jauh oleh Alfred dan Alena.
Sepanjang jalan, Alena mendengarkan musik dengan irama menggebrak jiwa dengan suara memekakkan telinga. Alfred sendiri dibuat geleng-geleng kepala karena biasanya Alena tidak terlalu suka mendengar musik yang keras.
Perjalanan jauh mereka membuat Alena bisa menikmati pemandangan indah di kiri dan kanan jalan. Sesekali matanya akan disuguhkan oleh tepian pantai yang mereka lalui dengan berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh para nelayan dan orang-orang yang bermain.
Alena bersyukur dengan kejahatan Agata yang terbongkar. Setidaknya, Alena tidak lagi hidup dalam rasa takut berkepanjangan setiap hari. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka, Alena dengan cepat meregangkan tubuhnya guna melemaskan otot badannya yang kaku akibat perjalanan jauh mereka.
Bahkan Alena sempat tertidur di dalam mobil karena bosan. Alena segera turun setelah merapikan pakaiannya dan juga setelah ia berhasil sepenuhnya sadar. Makan malam hari itu berakhir sukses dan keduanya memilih menginap di kota sebelum kembali esok harinya ke kota mereka.
Siangnya Alena sudah kembali ke rumahnya dengan wajah lelah akibat perjalanan. Alena langsung menuju ke kamarnya dan langsung berbaring menjelajahi alam mimpi.
Di tempat lain, Robert tengah melampiaskan kekesalannya pada Agata yang sudah kurus kerempeng. Tubuh Agata sudah dipenuhi luka dan juga rambut Agata dibuat botak oleh Robert dengan kepala juga mengalami luka akibat dicukur asal-asalan.
"Kau kesal ... hahahaha," tawa Agata bergema di dalam sel itu saat melihat Robert tengah melampiaskan amarahnya pada dirinya.
Agata tidak ambil pusing lagi atas tendangan yang Robert berikan baginya. Harapan Agata untuk hidup sudah hilang semenjak Robert mengatakan kalau Andre, suami Agata sudah dijodohkan lagi dengan orang lain.
Agata merasa hancur saat Robert memperlihatkan bahwa setelah kepergiannya, kehidupan keluarga kecil Agata maupun keluarga Robert tidak memiliki masalah sama sekali. Padahal benih cinta telah tumbuh di hati Agata dan telah bersemi seiring berkembangnya waktu.
"Ya, aku sedang kesal." Robert menjawab seadanya, karena memang perasaan marah di hatinya juga butuh tempat untuk dilepaskan.
"Aku beritahu kau satu hal, wanita itu butuh kasih sayang, butuh perhatian dan yang lebih penting dia butuh status yang jelas." Meski marah, Agata tampaknya telah melupakan sedikit dendam di hatinya. Sejujurnya, Agata tidak ingin ada kejahatan lain, tapi Agata entah kenapa memberitahu semua itu pada Robert.
"Setiap wanita pasti ingin diikat dengan status kepemilikan, tapi dia juga tidak ingin sekedar status. Dia juga ingin hati dan cinta, untuk apa sebuah status jika dia tidak mendapatkan cinta? Maka dari itu dia akan pergi ke tempat dimana dia akan mendapatkan keduanya sekaligus. Segila apapun seorang wanita dia pasti lebih akan memilih pria yang akan memberinya status yang jelas." Agata kembali melanjutkan.
"Dan Alena, gadis itu mendapat ke-duanya dari sahabatnya itu. Aku yakin dia akan memilih pria itu dari pada dirimu, hahahaha." Agata tertawa senang.
Robert yang semakin marah mendengar pernyataan terakhir Agata menjadi semakin marah dan kesal. Agata memuntahkan seteguk darah saat Robert dengan kasar menendang dadanya keras.
Setelah itu, Robert memilih untuk pergi dan meninggalkan Agata yang kesakitan.
"Apa Alena sudah pulang?" Pertanyaan itu Robert lontarkan pada Adera saat dirinya telah ke luar dari ruang bawah tanah. Robert memperlihatkan wajah masamnya pada Adera yang sibuk bermain dengan Erfan.
"Baguslah jika dia tidak tinggal di sini lagi. Aku tentu sangat mendukung dirinya," jawab Adera asal. Adera bahkan tidak melirik Robert sama sekali. Mendengar jawaban Adera kekesalan Robert semakin besar dan akhirnya Robert memilih untuk berlalu pergi menuju ke luar rumah Alvin.
Robert menaiki mobilnya untuk menuju ke rumah keluarga besarnya tinggal. Feeling Robert mengatakan kalau Alena yang ada di rumahnya saat ini dan sengaja menghindari dirinya. Robert mengemudi dengan kecepatan sedang akibatnya ia sampai di rumah besar itu membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Sesampai di rumah besar, Robert tidak mencari orangtuanya melainkan berlalu pergi menuju kediaman orangtua Alena. Robert ingin memastikan apakah Alena sudah pulang atau memang masih dalam perjalanan kerjanya.
"Eh, Tuan Robert!" sapa pelayan di rumah Alena saat melihat siapa yang mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
"Alena ada?" tanya Robert dengan kepala menjulur ke arah dalam rumah.
Pelayan itu memberi jalan dengan cara menggeser posisi berdirinya ke samping. Melihat itu, Robert langsung melangkah maju dan berjalan menuju ke kamar Alena sendiri.
Alena di lain sisi tengah menikmati mimpi indah di mana dia sedang berada di sebuah taman yang begitu luas. Di taman itu tumbuh bunga berwarna kuning setinggi lutut orang dewasa.
"Alena!" panggilan lembut itu membuat Alena memutar tubuhnya. Alena tersenyum manis saat melihat orang yang datang ternyata adalah Robert.
"Paman!" sahut Alena cepat sembari berlari kencang ke arah Robert. Robert di dalam mimpi Alena memakai pakaian berwarna putih dari atas ke bawah. Robert terlihat seperti malaikat dengan wajah tampan namun terlihat dingin dan cuek.
"Kau suka di sini?" tanya Robert sembari memeluk tubuh Alena. Robert membawa Alena ke bawah sebuah pohon besar dengan karpet yang sudah membentang di bawahnya.
Alena balas memeluk Robert lebih erat, wajah cantik Alena menyunggingkan senyuman dengan wajah penuh kebahagiaan. Alena tersenyum manis berada di dekapan Robert karena dia mendapat kenyamanan lebih daripada Alfred.
"Hmm, di sini aku bisa memeluk paman sesuka hati. Aku bahkan ingin b******u dengan Paman," goda Alena dengan wajah nakal. Alena di dudukkan oleh Robert di karpet itu dengan tubuhnya menjadi sandaran untuk Alena.
"Kau ingin b******u? Dasar gadis nakal!" Bukannya marah, Robert malah mencubit hidung Alena dengan lembut. Robert memeluk Alena dari belakang dengan arah pandangan mereka melihat bunga-bunga yang bergoyang diterpa angin yang sedikit kencang.
"Memangnya Paman mau b******u denganku?" tuntut Alena belum merasa puas, apalagi Alena tidak melihat sedikitpun kemarahan pada wajah Robert.
Robert tidak menjawab kali ini sebagai gantinya ia menciumi wajah Alice sebelum akhirnya berhenti di bibir Alena yang menggoda. Ketika ciuman itu terjadi tangan Robert pun tidak tinggal diam, Robert memasukkan tangannya ke dalam gaun selutut yang dikenakan Alena hingga gaun itu tersingkap ke atas.
Merasa susah, Robert berganti posisi hingga dirinya menindih tubuh Alice di bawah dekapan tubuhnya. Robert membuka kait bra yang dikenakan Alena hingga dia bisa bermain sesuka hati dengan kedua bukit kembar Alena.
"Paman!" desah Alena manja saat Robert mencubit puncak kembar itu dengan sedikit kekuatan. Alena melengkungkan tubuhnya saat tangan Robert yang satu lagi bermain dengan sangkar emas miliknya.
Robert meninggalkan jejak ungu dan merah di leher Alena sebelum bibirnya berpindah pada kedua puncak kembar Alena. Alena melenguh senang saat Robert mengigit tunas merah muda miliknya. Sesekali lidah Robert akan menyapu sekeliling area gunung kembar Alena dan meninggalkan jejak basah di sekitar area yang ia lalui.
Alena menikmati semuanya dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. Namun, saat Alena baru saja merasakan kesenangan. Sapuan serta belaian tangan Robert di tubuhnya berhenti dan seakan menghilang.
Hal itu sukses membuat Alena membuka mata dan melihat apa yang terjadi, Alena terkejut bukan kepalang saat ternyata Robert telah berdiri dan kembali merapikan pakaiannya. Alena kembali duduk dan merapikan pakaiannya sembari mencuri pandang ke arah Robert yang tengah bersiap-siap untuk pergi.
"Paman!" panggil Alena dengan penuh kekecewaan. Alena merasa sangat kecewa dengan apa yang Robert lakukan padanya.
"Aku harus pergi, ada seseorang yang sedang menungguku di suatu tempat." Robert berbalik, tanpa perasaan Robert melangkah pergi meninggalkan Alena yang sedang termenung sendirian.