22

1506 Kata
Adnan membuka matanya yang terpejam dan memandang wajah Amanda yang terlihat penuh gairah dan hasrat. Adnan tahu kalau Amanda sengaja pulang cepat hanya untuk menemui dirinya tapi karena ada urusan mendadak Adnan mengurungkan niatnya untuk menerjang Amanda. "Ya, setelah memuaskan dirinya sendiri dia langsung tidur dengan nyenyak." Adnan menjawab jujur, Adnan menundukkan kepalanya dan menghisap bibir ranum milik Amanda. 'Anak pungut Ananta ini benar-benar selalu bisa membuatku puas.' Adnan berbicara di dalam hati, dia terkenang akan kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang membuatnya bisa meniduri Amanda sampai saat ini. Malam itu, Adnan dan Ananta baru pulang dari sebuah pesta dan mereka meminum terlalu banyak anggur. Adnan yang sampai di rumah langsung menerjang Ananta di ruang tamu lantai bawah tanpa berpikir sama sekali. "Kenapa kau berpakaian seksi hari ini, ha?" tanya Adnan kurang suka dengan baju seksi yang Ananta kenakan. "Kau lihat mata pria di pesta itu, mereka menatap lapar dirimu. Apa kau suka menjadi bahan perbincangan, ha?" Adnan mendorong Ananta ke kursi tamu dan langsung merobek pakaian yang Ananta kenakan. Ananta yang juga berada di bawah pengaruh obat dan juga karena merasa hari sudah terlalu malam dan anak-anak mereka sudah pasti tertidur membiarkan tingkah Adnan. Ananta terkesan menikmati belaian kasar yang Adnan lakukan pada tubuhnya. Ananta melenguh senang saat Adnan memasuki dirinya secara keras dari belakang. "Aku hanya ingin kau merasa bangga saja karena mendapatkan istri yang masih begitu cantik meski telah melahirkan anak dua anak untukmu." Ananta berkilah, bibir Ananta menampilkan senyum senang saat Adnan menyentak dirinya dengan sodokan keras. "Lain kali kau harus memakai pakaian yang lebih tertutup, mengerti?" perintah Adnan dengan keras di telinga Ananta. Adnan bahkan menggigit telinga Ananta dengan sengaja untuk merangsang Ananta. Saat mereka tengah menikmati kegiatan malam itu, tiba-tiba Adnan melihat ke arah pintu dapur di mana Amanda tengah berdiri dengan mata terbuka lebar. Adnan bisa yakin itu Amanda karena di malam hari semua pelayan tinggal di paviliun di sebelah rumah besar mereka. Adnan terkejut bukan main, meski penerangan di ruang utama dimatikan dan hanya lampu kecil yang hidup Adnan masih bisa melihat dengan jelas kalau Amanda memperhatikan apa yang mereka lakukan. "Oh Sayang! Kenapa gerakanmu menjadi lambat?" Ananta bertanya dengan membuka matanya yang terpejam sedari tadi. Adnan gelagapan dan kembali menghujam milik Ananta dengan keras dan cepat. Akibat kesenangan Adnan bahkan melupakan kalau Amanda masih berdiri di depan pintu dapur dan memperhatikan kegiatannya dengan Ananta. "Pilih pakaianmu dan kita pindah ke kamar saja, terlalu dingin di sini." Adnan mengajak Ananta pindah saat ia mencapai pelepasan pertama. Ananta bertindak patuh, segera keduanya memilih pakaian mereka yang bertebaran dan naik ke lantai atas. Selepas kepergian Ananta dan Adnan, Amanda ke luar dari dapur dan langsung berlari dengan cepat ke kamarnya di paling ujung. Tiga hari setelah kejadian itu Adnan berinisiatif mendatangi Amanda di taman belakang rumah mereka. Amanda tengah sibuk menanam bunga bahkan tidak menyadari kalau Adnan ada di sana. Adnan diam-diam memperhatikan apa yang tengah Amanda kerjakan atau lebih tepatnya Adnan memperhatikan lekuk tubuh Amanda dibalik pakaian minim dan ketat yang Amanda kenakan. "Apa kau melihat semua yang ayah dan ibu lakukan?" Adnan bertanya secara langsung membuat Amanda yang membelakangi Adnan terkejut bukan main. Amanda yang telah selesai menetralkan detak jantungnya berbalik dan melihat Adnan sembari memegang dadanya yang masih berdentum dengan cepat. Melihat Adnan yang ternyata mengejutkan dirinya Amanda langsung menunduk takut. "A-a-aku benar-benar tidak sengaja, Ayah! Aku haus tadi malam dan turun ke dapur karena air yang aku sediakan di atas meja habis. Aku tidak menyangka kalau kalian akan pulang jam segitu," keluh Amanda dengan kepala menunduk. "Kau masih perawan?" Adnan bertanya dengan langkah kaki mendekat ke arah Amanda berdiri. Interaksi mereka tidak terlalu diperhatikan karena terhalang pohon tinggi dan besar yang sengaja di tanam di belakang untuk tujuan meneduhkan. Amanda mengangkat kepalanya terkejut saat mendengar pertanyaan Adnan. Saat ini usia Amanda sudah menginjak usia enam belas tahun dan dia juga sudah mengerti dengan apa yang Adnan tanyakan. Amanda juga tahu posisinya di rumah ini tidak seaman posisi Ananda, Anandita dan Atlanta anak kandung Adnan dengan Ananta. Amanda menggelengkan kepalanya dengan penuh keraguan. Dia takut kalau berbohong Adnan akan menyuruhnya untuk memeriksa nanti. Adnan yang mendapat jawaban dari Amanda terlihat senang namun, Adnan tidak memperlihatkan semua itu pada Amanda. "Berapa kali kau melakukannya? Apakah dengan pacarmu atau dengan ...." Adnan tidak melanjutkan ucapannya tapi Adnan tahu Amanda pasti mengerti tentang apa yang ingin dia katakan. "Pertama kali dengan pacarku, Ayah! Saat itu aku juga sudah memberitahu ibu semuanya." Amanda menundukkan kepalanya semakin dalam. Amanda takut kalau Adnan akan marah dan mengusir dirinya dari rumah. Adnan sekarang berada tepat di depan Amanda, kaki Adnan pun bahkan bisa terlihat oleh Amanda dengan jelas. "Kau mau uang jajan lebih?" tanya Adnan dengan ambigu yang membuat Amanda mengangkat kepalanya memperhatikan sosok Adnan dengan wajah bingung. Melihat Amanda yang penasaran Adnan pun memalingkan wajah kiri dan kanan ke sekeliling tempat mereka berdiri guna melihat kehadiran orang lain di sana. "Maksud Ayah?" tanya Amanda bertambah bingung saat melihat tingkah Adnan. Apalagi Adnan terlihat sedang memastikan percakapan mereka tidak terdengar oleh orang lain. "Ya, apakah kau mau belanja tambahan. Ayah lihat, ibumu memberikanmu uang lebih sedikit dibandingkan tiga adikmu, kan?" tanya Adnan lagi dengan nada terkesan terburu-buru. "Iya Ayah! Uang jajanku memang lebih sedikit dari Ananda, Anandita dan Atlanta. Aku kan hanya anak kakak ibu yang diadopsi ibu karena kakaknya meninggal." Amanda terlihat sedih saat mengenang kisah pilunya. "Kalau kau mau uang jajan lebih mari ikut Ayah sebentar," ajak Adnan sembari melangkah ke tempat pohon yang lebih lebat di taman belakang itu, batangnya ditumbuhi tanaman merambat hingga tidak terlihat dari sisi depan maupun samping. Adnan masuk ke dalam tempat itu dari belakang pohon lain dan diikuti oleh Amanda dari belakang. Bagian di dalam pohon terlihat gelap karena terlindungi oleh sinar matahari dan mata manusia. Di dalam sana sudah ada karpet berbahan dasar plastik yang terbentang. "Mengapa kita ke sini, Ayah?" tanya Amanda heran. Namun, Amanda tetap berdiri diam tanpa rasa takut sama sekali. "Duduklah," perintah Adnan pada Amanda saat dia selesai memastikan kalau tidak akan ada orang ke sana. Dengan patuh Amanda langsung duduk di karpet yang telah ada. Adnan juga ikut duduk di samping Amanda sembari mengoleskan krim anti nyamuk di tubuhnya yang terbuka. Setelah selesai ia membalikan krim itu juga pada Amanda agar mereka tidak digigit oleh nyamuk lapar. Amanda bertindak patuh dan mulai memahami tujuan dari pertanyaan Adnan. Amanda yang telah selesai memberikan krim itu di tubuhnya melihat ke arah pandangan mata Adnan yang tidak beralih sedikit pun dari bukit kembarnya. Amanda sendiri berinisiatif menurunkan baju yang dikenakannya agar Adnan lebih leluasa melihat bukit kembarnya yang masih ditutupi pelindung itu. Jakun-jakun Adnan bergerak naik turun melihat tingkah Amanda. Adnan merasa kerongkongannya semakin kering dan benjolan di bagian bawahnya semakin membesar. Mengerti dengan apa yang disampaikan Amanda, Adnan mengangkat baju pendek yang Amanda kenakan ke atas hingga terbuka. Setelah itu, Adnan membuka pelindung bukit kembar itu hingga keduanya terlihat menggantung dan butuh pegangan agar tidak terjatuh. Di usia Amanda yang terbilang masih remaja itu ukuran bukit itu sudah seukuran anak kuliah dan bahkan lebih besar. Adnan langsung mendekatkan wajahnya dan memasukkan tunas itu ke dalam mulut. Adnan dengan penuh semangat menghisap dan menggigit kecil tunas itu hingga membuat tubuh Amanda melengkung ke belakang. Amanda mendongak menikmati sensasi lain dari kegiatan yang pernah ia lakukan. Jelas, ke-duanya memberikan efek berbeda bagi Amanda yang baru mengenal kegiatan itu dalam beberapa minggu ini. Amanda dengan sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak ke luar dan terlalu keras. "Kau suka?" tanya Adnan penuh kemenangan saat melihat reaksi yang diberikan Amanda padanya. Amanda terlihat malu dan hanya mengangguk sebagai jawaban. "Berapa kali kau melakukan kegiatan ini?" tanya Adnan penasaran. Adnan meninggalkan tanda merah di perut dan di bawah bukit kembar Amanda dengan jumlah yang bertambah satu demi satu. Tempat kegiatan mereka saat ini terbilang cukup luas meski tidak seukuran kamar namun juga tidak sempit karena mereka masih bisa bergerak sedikit lebih bebas. "Baru tiga kali, Ayah!" jawab Amanda malu-malu, apalagi kali ini Adnan menurunkan roknya dengan kesan buru-buru dan terlihat lapar. Adnan mengangguk mendengar ucapan Amanda. Pantas saja Adnan merasa tubuh Amanda begitu sensitif dan seperti butuh belaian. Adnan membuka penutup terakhir di tubuh Amanda dan membuat Amanda benar-benar tidak memiliki pelindung apapun lagi. Adnan juga mengambil krim anti nyamuk dan mengusap krim itu di bagian tubuh Amanda yang belum diberikan Amanda tadi. Adnan membuka kaki Amanda lebar dan mengusap bagian inti Amanda menggunakan tissue. Adnan juga mengambil air yang sudah ia siapkan di bagian sisi kanan tempat itu dan membersihkan area milik Amanda dengan air itu. Amanda yang tidak biasa seperti itu mendengus geli dan berusaha semakin kuat menahan suaranya agar tidak ke luar. Setelah Adnan merasa tempat itu bersih dan wangi langsung menelusupkan kepalanya ke bagian itu. Lidah Adnan bahkan menari-nari dengan indah di bagian luar milik Amanda membuat Amanda bergerak tidak tentu arah. Amanda bahkan memegang rambut Adnan dan bahkan terkesan menekan kepala Adnan agar berbuat lebih dalam lagi. Adnan mengangkat kepalanya dan kembali bermain dengan bukit kembar milik Amanda sedangkan tangan kirinya atau lebih tepatnya dua jari Adnan masuk ke dalam sangkar milik Amanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN