Aku tak ingin membawa apa pun ketika meninggalkan Mas Arga. Yang kubawa hanya sebuah cincin kawin dan kalung hadiah ulang tahun pernikahan kami tahun lalu. Untuk ATM dan perhiasan yang Mas Arga berikan tak kubawa satu pun. Aku memang bodoh, tetapi diri ini tak mungkin mengambil semua barang yang telah suamiku berikan. Kurasa semua itu bukan lagi menjadi hakku sekarang, sama seperti hati Mas Arga yang sudah tak bisa kumiliki sepenuhnya. Mama mertua terlihat heran dengan yang kuucapkan, mungkin merasa tak biasanya memberanikan diri datang ke sana hanya ingin menitipkan sebuah amplop. “Kenapa bukan kamu saja? Bukankah kalian tinggal bersama? Memangnya mau ke mana kamu?” cecarnya. Namun, bibirku kelu, tak mungkin kukatakan kalau putranya itu telah berkhianat dan aku berniat pergi dari kehid

