Lovita memeluk Aldian dan dia pun merasakan jemari pria itu yang membelai pipinya. Selimut tebal membungkus tubuh mereka yang tanpa helaian benang. Pria itu seakan tidak bosan menatap Lovita. Seakan mengisyaratkan seluruh cinta yang ia miliki. Seakan seluruh waktu yang ia miliki tidak akan cukup untuk dia mencintai Lovita. Setiap berada disisinya yang Aldian ingin adalah mencintainya, memanjakkannya dan menebus seluruh dosanya. Tangan Lovita membelai pipi Aldian yang menatapnya tanpa berkedip. Dia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan, tapi dia sangat suka dengan tatapannya. Dia sangat suka dengan mata tajam Aldian. Dan sedikit cambang yang tumbuh di sekitar pipi Aldian. “Kamu gak pernah cukur?” tanya Lovita. Aldian menggenggam tangan Lovita dan membacanya kebibirnya, la
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


