”Bunda, cepatlah!” Aku mengikat rambutku seadanya. Anak-anak yang sedang gembira memang terkadang suka memaksakan keinginannya tanpa melihat keadaan orangtuanya. Tapi aku tidak menyesal mempunyai anak seperti Dio. Tidak pernah menyesal. ”Astaga, Dio, tunggu sebentar. Bunda kan belum selesai. Nanti kalau tampang Bunda seperti ondel-ondel, bagaimana?” kataku sembari agak menggodanya. ”Tapi, Bunda, nanti acaranya keburu habis!” balas Dio sambil merengut. Aku tersenyum kecil. ”Dio sayang, ini kan baru jam tujuh, bazarnya juga baru mulai. Bunda janji deh, waktu kita ke sana nanti, kamu boleh bermain sepuasnya sampai kamu capek dan memaksa Bunda untuk pulang,” bujukku sambil menyapukan sentuhan bedak terakhir pada wajahku. Rio sepertinya kurang percaya dengan janjik
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


