Geundis berulangkali menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan karena berusaha menenangkan diri untuk ketegangan yang tiba-tiba dia rasakan begitu Davin meninggalkannya sendirian di ruang pemandian jenazah itu. Jika boleh jujur Geundis ingin pergi saja sekarang juga, tapi dia tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya. Davin meminta bantuannya, walau sikap pria itu membuat Geundis kesal bukan main, tapi karena pria itu tadi cukup pengertian sehingga Geundis merasa dia mau tak mau harus membalas kebaikan Davin yang mengizinkannya datang siang setiap hari selama sangsi dari rumah sakit harus dijalaninya. Geundis mencoba membuang muka ke arah lain, menatap ke arah mana saja asalkan tidak ke arah jenazah yang terbujur kaku di atas ranjang. Kaki Geundis terlihat gelisah dalam d

