Bab 20

1862 Kata

Namira meneliti wajahnya di kaca spion yang ada di dalam mobil sebelum keluar dari sana. Ia lalu menghela napas panjang saat melihat matanya yang tampak sembab karena terlalu lama menangis, tepatnya sejak Kevan meninggalkannya beberapa jam yang lalu. Ia menghempaskan tubuhnya pada kursi dan memilih untuk menunggu sebentar sebelum keluar untuk menemui Nando yang sudah berada di dalam kafe yang dikunjunginya malam ini. Hatinya benar-benar terasa nyeri setiap kali mengingat ucapan Kevan beberapa jam yang lalu, ucapan perpisahan yang membuat dirinya nyaris terkena serangan jantung. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Kevan segampang itu menyudahi hubungan mereka. Ia pikir kehadirannya di sisi pria itu bisa membuatnya menjadi lebih kuat, tetapi ternyata tidak. Kevan malah semakin lemah. Ia tak m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN