16. Sakit

1224 Kata
‘Dimana Ge? Bisa ke kost ? Nana sendirian nih, gue dipanggil dadakan ke rumah sakit nih.’ ujar Wita dengan ponsel menempel pada telinga kirinya. ‘Gue barusan pulang, nih masih di jalan, kenapa Nana?’ ‘Panas banget badannya, gue gak tega ninggal sendirian, buruan lo.’ ‘Iya maha ratu, gue ngebut nih.’ sahut Gege sebelum memutus panggilannya. Tak sampai lima belas menit kemudian Gege sudah tiba di rumah hijau, berlari cepat ke lantai dua, menuju kamar Nana, yang sudah ditunggu oleh Wita. Dokter muda itu sudah memakai snelinya dan siap berangkat ke rumah sakit. “Lama banget anjaay, gue udah ditelpon rumah sakit bolak balik nih, alesan kalo adek gue sakit.” gerutu Wita saat keluar dari kamar Aruna. “Kenapa Nana?” “Gak tau, udah dari kemaren pucet banget, tapi tadi pagi masih berangkat kerja. Gak lo apa-apain kan selama di Bukittinggi?” Wita mengambil sepatu flatnya dan melirik penasaran ke Gege. “Nggak lah, pikiran lo aja kejauhan, gak gue sentuh juga pas di sana, cuman..hmm” Gege melirik cemas. “Cuman cuman ape lo?” desak Wita. “Bibir gue nyosor dikit.” Gege menunduk menahan senyum. “Dasar, omes loh, kaget kali tuh bocah. Udah lah, gue udah telat. Nana masih tidur sekarang, udah gue suntik antibiotik tadi, nanti kalo dia udah bangun, lo suruh makan lagi dan kasih s**u anget. Udah gue masakin di bawah. Lo kalo bosen bisa ke kamar gue, gue punya bokep terbaru di laptop.” oceh Wita panjang lebar, saat menuruni anak tangga dan meninggalkan Gege sendirian di lantai dua. “Dokter sarap lo, malah nawarin bokep.” omel Gege yang tak dihiraukan Wita. Beberapa hari ini rumah hijau sangat sepi karena ditinggal tiga penghuninya. Okta yang sejak menikah kini tinggal di rumah suaminya, Elma masih di Bukittinggi sejak ayahnya dirawat empat hari lalu. Sedangkan Iyut sudah satu minggu ini dipindahtugaskan ke Solok. Sebenarnya akan ada penghuni baru yang nantinya jadi roommate Aruna, mengingat kamar Aruna adalah kamar paling besar di rumah ini, namun sampai sekarang penghuni baru itu belum datang. Sepeninggal Wita yang berlari kecil ke garasi dan menyambar motor maticnya, Gege naik lagi kelantai dua. Ia buka pintu kamar Aruna dan duduk beralaskan karpet tebal di sebelah ranjang Aruna. Ia menyandarkan kepalanya tepat disebelah lengan Aruna, gadis yang masih sangat pucat itu begitu pulas dalam tidurnya hingga tak menyadari keberadaan Gege. Beberapa kali Gege merapikan rambut kecil yang menutupi kening gadisnya, dan mengganti handuk kecil yang digunakan untuk mengompres Aruna, karena suhu tubuhnya yang belum turun. “Udah bangun?” sapa Gege pelan saat melihat Aruna mengerjapkan mata perlahan. Tak langsung memberi jawaban, dengan nafas yang masih putus-putus, gadis yang wajahnya masih sangat pucat itu mengulet pelan dan mencari jam kecil yang biasa ia letakkan di atas nakas. “Jam berapa ini?” Aruna bersuara serak “Hampir jam 8 malem, makan dulu yukk, kata Wita tadi kamu makan dikit banget, dimuntahin pula.” “Abang kok disini?” Aruna memiringkan badannya menghadap Gege yang membelai lembut rambutnya. “Wita tadi telpon abang, minta buat nemenin kamu. Di rumah sakit lagi hectic banget, ada kecelakaan beruntun tadi, makanya Wita buru-buru ke RS. Butuh banyak nakes di sana.” “Ooh...” jawab Aruna pelan setelah menarik selimutnya sebatas leher. “Makan ya, abang ambilin.” “Hmm ... dikit aja tapi ya.” Tak butuh waktu lama Gege sudah kembali ke kamar Aruna dengan membawa mangkok berisi bubur beras dan s**u hangat yang sudah disiapkan Wita. Ia duduk dengan mengangkat salah satu kakinya tertekuk di atas tepian ranjang, berhadapan dengan Aruna yang duduk bersandar pada punggung tempat tidur. “Abang aja yang suapin, kamu masih gak ada tenaga gitu.” tukas Gege cepat saat Aruna menjulurkan tangan hendak mengambil mangkok buburnya. Aruna tak mampu menjawab hanya mengangguk pelan menuruti permintaan pria di depannya. Gege menyuapinya dengan telaten, padahal Aruna sudah beberapa kali menggeleng tanda tak mampu lagi menghabiskan bubur itu. Tapi pria itu bersikukuh hingga akhirnya Aruna benar-benar menyerah setelah memakan tiga perempat bubur yang diambilkan Gege. “Obat dulu atau s**u dulu?” tanya Gege. “Obat dulu laaah, susunya nanti aja, masih kenyang banget ini.” jawab Aruna lemah. Selesai menyuapkan dua butir obat yang sudah disiapkan Wita di meja kecil sebelah, Gege mengambil tangan kanan Aruna dan membawa dalam genggamannya. Aruna tak mengelak perlakuan manis Gege padanya, tenaganya terkuras habis karena kondisinya yang mendadak menurun. “Sejak kapan ngerasa gak enak badan?“ tanya Gege. “Nggak tau.” suara Aruna nyaris tak terdengar saking pelannya, bahkan kali ini gadis itu menutup kedua matanya dengan lengan sebelah kirinya. “Lain kali kalo udah ngerasa gak fit gak usah berangkat kerja ya.” kali ini Aruna hanya mengangguk pelan. Gege tak melontarkan pertanyaan lagi, tak tega melihat kondisi gadis kesayangannya yang semakin lemah seperti sekarang. Tak berselang lama, Aruna menggeliat pelan masih dengan posisi salah satu lengannya menutupi mata, bahunya sedikit bergetar naik turun, kemudian terdengar suara isakan lirih. “Ehh.. kok nangis? Mana yang sakit? ” Gege makin mendekat, mengangkat lengan Aruna dan menghapus lelehan air mata yang mulai membanjiri pipinya. Aruna menggelengkan kepalanya. “Inget ibuk.” katanya disela-sela tangis. Ya, gadis itu menangis mengingat ibunya diseberang pulau sana, biasanya ibunya lah yang paling perhatian saat ia jatuh sakit seperti ini. Dengan sabar menyuapi, membelai, bahkan memeluknya hingga pagi. “Mau abang telponin, video call gimana?” tawar Gege, namun Aruna lagi-lagi menggeleng. “Nanti ibuk makin cemas lah kalo tau aku sakit gini.” lirih Aruna makin menunduk dan bergelung dalam selimutnya. “Terus?” “Mau tidur aja, masih sakit semua.” jawab Aruna lemas. “Ya udah tidur gih, biar cepet turun demamnya. Abang di sini terus kok.” Gege merapikan rambut gadisnya yang menutupi kening. Berjam-jam berlalu Aruna masih memejamkan mata, namun tetap gelisah dalam tidurnya hingga beberapa kali terbangun karena mimpi buruk atau mengigau. Kepalanya makin berdenyut menyakitkan, buliran keringat besar-besar menghiasi keningnya. Dengan susah payah Aruna mencoba bangkit hendak ke kamar mandi, diliriknya sekilas jam masih menunjukkan pukul 03.20 pagi. Dilihatnya Gege tertidur sangat lelap di karpet sebelahnya dengan kepala bersandar pada kasur bagian bawah. Menyadari baju Gege masih sama dengan baju kantor pada umumnya, hanya celananya saja yang sudah berganti celana pendek kain, Aruna yakin pria itu langsung menghampirinya tanpa sempat pulang ke kost-nya. Beberapa menit Aruna di kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya hingga tak bersisa, tubuhnya makin bergetar menggigil hingga sebelah tangannya harus ia paksa menopang ke dinding. Tepat setelah Aruna keluar dari pintu kamar mandi, kegelapan menghantam tubuhnya. Kakinya tak kuat lagi menyangga tubuhnya, sampai tubuh kecilnya terhempas ke lantai dan menimbulkan bunyi benturan kuat yang membangunkan Gege. Senyap langsung menyergap d**a Gege, ia panik saat melihat Aruna tergeletak tak berdaya didepan kamar mandi, ia merutuki dirinya sendiri karena tidur terlalu nyenyak hingga tak menyadari saat Aruna bangun. Bergegas pria itu langsung menyelipkan tangan kanan ke lutut bagian bawah dan tangan kirinya menyangga punggung Aruna. Dengan sekali hentakan ia mengangkat gadis mungil itu dan menyandarkan dadanya yang bidang. “Nana ... bangun, Na.” Gege berusaha memanggilnya, sambil sempoyongan menuruni anak tangga. Gadis itu tak bergeming, masih setia menutup matanya dengan wajah yang kian memutih pucat. Rumah sakit, hanya itu yang kini terpikirkan di kepalanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN