Bu RT Nyinyir

1077 Kata
Besok Gavin harus segera mengantarkan berkas itu. "Pernikahan macam apa yang akan kujalani. Andai calonku itu adalah Alina," ucap Gavin pelan. Diam-diam ternyata dia kagum dan menyukai sifat baik Alina. Ia juga merasa iba ketika melihat Alina yang sepertinya tertekan dengan kehidupan keluarganya. Terlebih dengan kakak perempuannya. 'Ah, bicara apa aku tadi. Lagipula pernikahan ini hanya sebatas pura-pura untuk mendapatkan harta,' gerutu Gavin dalam hati. Ia menyangkal sisi lain hatinya yang menyukai Alina. Jam kerja sebentar lagi berakhir, semua berkas yang harus ditandatangani telah selesai. Tinggal menunggu waktu, untuk memberi contoh pada bawahannya. Sementara itu di Rumah Pak Asep yang berada di desa. "Lin ... Lina ...," panggil Pak Asep sembari mengitari seisi rumah. Ia mencari anak bungsunya Alina. "Iya, Pak. Ini Lina lagi angkat jemuran di luar. Bentar lagi masuk," jawab Alina setengah berteriak dari luar. Tak akan ada yang mengangkat jemuran itu selain dirinya atau ibunya. Bu Ani masih di kebun, tinggal dirinya yang bisa diandalkan untuk pekerjaan rumah. Alina masuk ke dalam rumah dengan membawa jemuran yang begitu banyak. Ia meletakkannya di sofa ruang tengah untuk kemudian dilipat. "Bapak, ada apa cari Alina?" tanya Alina sambil mulai melipat baju. "Besok Gavin akan ke sini lagi. Ia akan mengantarkan berkas. Sebaiknya kamu dan Arka segera ke RT RW dan yang lainnya untuk mengurus berkas pernikahan Alea," tutur Pak Asep memberi perintah pada putrinya itu. "Oh, begitu. Baiklah, Pak. Aku beresin dulu lipat baju ya," ucap Alina yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Sekarang saja keburu sore. Alea ke mana? Dia juga kan, perempuan," tanya Pak Asep seolah lupa dengan sifat putri ke-duanya. "Ada di kamar, Pak," jawab Alina singkat, ia tak ingin ke kamar kakaknya. Pak Asep beranjak dari sofa lusuh itu. Ia membuka pintu kamar Alea dan masuk ke dalamnya. "Lea, kamu mau urus surat pernikahanmu?" tanya Pak Asep sedikit keras. Alea yang masih asik tertidur langsung tersentak kaget. Ia bangun dan terduduk. Pak Asep mengulang pertanyaannya. "Enggak mau," jawab Alea dengan ketus. "Kalau begitu, lipat baju sana. Biar Alina yang mengurusnya," titah Pak Asep sedikit keras. "Enggak mau juga, ah, Pak. Hatiku sedang hancur dan enggak mood," jawab Alea sambil kembali membaringkan diri. "Kamu juga kan, perempuan! Apa salahnya kalau melipat pakaian dan membereskan rumah! Manja terus," hardik Pak Asep yang kesal pada anak keduanya itu. "Kenapa aku harus jadi wanita sempurna?! Bapak sendiri jadi bapak enggak bisa biayain anaknya. Malah mau jual aku!" teriak Alea dengan penuh emosi dan mata yang mengalirkan air mata. Padahal dirinya telah mengalah pada keadaan. Tapi, ayahnya masih saja melihat kekurangannya. "Bapak bukan mau jual kamu! Gavin itu baik dan kaya. Setidaknya dia bisa kasih kamu harta, tidak seperti Bapak," ucap Pak Asep sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Alina hanya menangis dalam diam mendengar pertengkaran ayah dan kakaknya. Ia lalu melihat Pak Asep yang sudah menahan sakit di dadanya. Sepertinya asmanya kambuh lagi. Alina segera keluar memanggil Bang Arka untuk memisahkan pertengkaran Pak Asep dan Alea. "Bang! Bapak, Bang!" teriak Alina dengan napas terengah-engah. "Kenapa Bapak?!" tanya Bang Arka yang juga ikut panik. "Bapak bertengkar dengan Kak Alea. Bapak kambuh," jawab Alina dengan cepat. Mereka lalu masuk ke rumah. Pak Asep tengah bersandar di pintu sambil memegangi dadanya. Semetara Alea menutup dirinya dengan selimut sambil menangis. "Lea! Kamu Spain Bapak!" pekik Bang Arka yang marah pada adik pertamanya itu. "Emang aku apain, Bapak!" teriak Alea sambil membuka selimutnya. Bang Arka menggeleng dan membawa ayahnya menuju ke kamar. "Pak istirahat dulu ya," ucap Bang Aneka pelan sambil memberikan obat asma bila kambuh. Setelah melihat bapaknya cukup tenang. Ia keluar dari kamar. "Ada apa tadi Lina, Lea?" tanya Bang Arka bak hakim yang siap menjatuhkan hukuman pada tersangka. Ia berdiri di ambang pintu kamar kedua adiknya. Alea masih meringkuk di tempat tidur. Sementara Alina sedang membereskan pakaian. "Tadi Bapak minta aku dan Bang Arka ngurusin berkas pernikahan Kak Lea. Tapi, aku lagi lipat baju. Jadi, Bapak ke kamar minta Kak Lea buat berkas atau lipat baju. Tapi, Kak Lea enggak mau mengerjakan keduanya," tutur Alina menjelaskan kejadian yang tadi. "Lea, kamu kenapa, sih? Ngurusin pernikahan enggak mau, beresin rumah enggak mau. Maunya apa?" tanya Bang Arka dengan nada kesal. "Aku mau kuliah dengan tenang. Tanpa harus nikah gara-gara butuh duit!" jawab Alea dengan membentak. Bang Arka mendengkus kasar. Entah bagaimana menyikapi adik perempuannya yang satu itu. "Kamu harusnya bisa melihat sisi baiknya, Lea. Nikah sama orang kaya. Tanpa liat kita siapa," ucap Bang Arka yang berusaha menunjukkan sisi baik dari pernikahan adiknya itu. Alea hanya terdiam. Bagaimanapun ceritanya itu bukan hal yang ia inginkan. "Iya, aku udah pasrah dan mau nikah. Tapi, tolong jangan ganggu aku dengan urusan sepele seperti itu. Enggak cukup kalian liat hatiku hancur!" bentak Alea yang kesal dengan semua keluarganya sendiri. "Sudah, Bang, sudah. Lebih baik kita urusin berkas pernikahan Kak Lea. Kasihan Bapak sama Ibu pasti repot dan banyak pikiran menghadapi pernikahan dadakan ini," tutur Alina dengan penuh pengertian. Bang Arka mengangguk. Mereka lalu pergi meninggalkan kamar itu. Keluar dari rumah dan pergi ke rumah Pak RT dengan menggunakan motor butut yang sudah sering mogok. Meski punya bengkel, sayang jika untuk membenarkan motor sendiri. Lebih baik dipakai untuk membenahi motor orang lain, ketahuan dapat bayaran. Sesampainya di rumah Pak RT, Alina dan Bang Arka masuk ke dalam setelah dibukakan pintu oleh Bu RT. "Ada apa Lina, Arka?" tanya Pak RT yang baru saja duduk di sofa ruang tamu itu. Rumahnya berbeda jauh dengan mereka. Rumah permanen dengan cat yang masih terlihat bagus. Berbeda dengan rumah Pak Asep yang panggung dan sudah reot pula. "Kami mau minta berkas pengantar pernikahan, Pak," ucap Alina menyampaikan maksud kedatangannya. "Loh, memangnya siapa yang mau nikah? Kamu Arka? Atau Lina?" tanya Pak RT heran. "Bukan, Pak, yang mau menikah Alea," jawab Alina pelan sambil menatap wajah Pak RT di depannya. Tubuhnya sedikit gempal dan berwibawa. Pakaiannya bagus ditambah kopiah hitam yang juga masih sangat hitam pekat. "Bukannya si Alea itu kuliah di Bandung. Belum lulus, kan? Kok, malah mau nikah?" tanya Pak RT heran. "Wajarlah, Pak. Namanya orang miskin di kampung pasti kekurangan biaya. Dari dulu warga sudah bilang ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga. Terbukti," tutur Bu RT yang baru saja menyediakan air mineral gelas ke hadapan mereka. "Padahal lebih baik lulus dulu kuliah. Kerja dulu, kok, buru-buru nikah," usul Pak RT yang pikirannya lebih terbuka dari istrinya dan warga kampung. "Biarin saja, Pak. Maunya cepet-cepet nikah, kasih aja suratnya," timpal Bu RT dengan wajah ketus. "Kenapa Leanya enggak ke sini sendiri?" tanya Pak RT lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN