Alea segera melepaskan tangannya. Ia tak ingin ada rasa lebih dari hatinya untuk Gavin. Apalagi mengingat perjalanannya meraih cita-cita yang masih sangat panjang.
Sore itu, semburat kekuningan terlihat di langit. Bagai lukisan alam yang begitu indah dan menyajikan keindahan.
Alea dan Gavin masih duduk di sofa santai yang ada di depan televisi. Tapi, mata mereka fokus pada gawai yang dipegangnya. Alea dengan ponselnya dan Gavin dengan laptopnya.
Banyak pekerjaan yang harus ditangani Gavin. Ia bahkan sudah terbiasa telat ataupun lupa makan.
Sampai malam, posisi masih seperti itu.
Kriuk ...
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan dari perut Alea. Ia biasanya makan sore hari dan tak akan makan malam.
"Kamu lapar?" tanya Gavin tanpa basa-basi. Matanya melihat Alea dengan tatapan dingin. Tak ada sedikitpun kehangatan cinta di sana.
"Eng—"
Pintu diketuk ketika Alea masih kebingungan akan menjawab apa. Ia malu kalau memang harus berkata jika dirinya kelaparan. Padahal rumah itu begitu besar dan tentulah banyak stok makanan di sana. Tapi, Alea masih kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya di rumah tersebut.
Gavin bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke pintu untuk membukanya. Ternyata ada Bi Ijah yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ada apa?" tanya Gavin kepada asisten rumah tangganya tersebut.
"Den Gavin sama Non Alea belum makan malam. Bibi sudah siapkan di ruang makan, sebaiknya dimakan sekarang, Den. Takut sakit juga Non Alea setelah perjalanan jauh," jawab Bi Ijah yang menawarkan makan malam kepada Gavin dan Alea.
"Baik, nanti kami akan turun ke bawah," ucap Gavin dengan suara datar.
Ia sepertinya memang tidak memiliki ekspresi dan perasaan. Benar-benar seperti lelaki es. Mungkin ibunya memang ngidam es ketika hamil.
Memang pada kenyataannya Gavin merasa semua rasa di hatinya telah sirna. Ketika ibunya dulu meninggal, dia seperti seorang anak ayam yang kehilangan induknya saat itu.
Bahkan hingga sekarang luka itu masih menganga. Malah ditambah dengan masalah ibu tirinya yang ingin menguasai harta warisan. Padahal semua harta tersebut adalah milik ibunya. Sedangkan ayahnya hanya membawa selembar baju ketika menikah.
"Ayo, kita makan. Bukankah tadi perutmu keroncongan," ajak Gavin dengan bahasa yang tidak mengenakkan.
Membuat Alea sebagai seorang wanita malu setengah mati. Apalagi mereka memang baru saja kemarin menikah.
Tanpa menjawab, Alea langsung bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Gavin. Ia berjalan di belakang suaminya itu. Menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan.
Ruang makan tersebut begitu luas dan mewah. Bahkan lebih besar dari ruang tengah Alea di kampung. mlMejanya juga begitu besar dengan sepuluh kursi di sekelilingnya.
Gavin langsung duduk dikursi tunggal yang ada di sisi atas meja makan. Sementara Alea duduk di sisi kanannya, di kursi yang berjajar empat.
Tersedia banyak hidangan makan malam di sana. Semuanya terlihat menggugah selera padahal biasanya Alea hanya makan dengan satu macam lauk, atau jika di rumah paling banyak dua macam. Tapi, di meja makan tersebut disediakan sampai beberapa macam.
"Ya ampun, makanannya banyak banget. Emang ini buat siapa aja?" tanya Alea heran dengan wajah polos. Membuat Gavin menahan tawa melihatnya.
"Buat kamu semua," jawab Gavin dengan tersenyum. Manis sekali kelihatannya.
Baru kali itu, Alea menyadari ketampanan Gavin yang memang paripurna.
Mereka lalu makan malam dalam diam. Alea makan dengan begitu lahap. Sementara Gavin makan hanya sekedarnya saja. Ia malah lebih suka memperhatikan Alea yang terlihat nikmat makan.
Dilihat seperti itu oleh Gavin, Alea merasa risih, ia melihat ke arah suaminya itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Alea heran.
Ia sudah tak begitu ketus dengan Gavin. Setidaknya ia sudah bisa menerima pernikahan tersebut. Walaupun dengan perjanjian kalau tak akan berhubungan badan selama masa pernikahan.
"Kamu enggak malu makan banyak di depan lelaki?" tanya Gavin heran. Ia mulai menemukan sisi lain Alea yang menurutnya menarik.
"Kenapa mesti malu, manusia hidup kan, emang butuh makan. Apalagi kemaren selama di rumah rasanya enggak nafsu makan gara-gara ini," cerocos Alea.
Ia lalu kembali melanjutkan makannya tanpa menunggu sahutan Gavin.
"Ternyata lama ya, menunggu wanita makan," ucap Gavin yang sudah sejak tadi habis makanannya.
"Sebentar lagi, lah," jawab Alea sambil memasukan suapan terakhir ke mulutnya.
Setelah selesai makan, Alea meminum air putih yang ada di samping piringnya.
"Kita ke kamar," ucap Gavin yang terdengar seperti perintah di telinga Alea.
"Bosen, ngamar terus. Ke ruangan lain ajalah, rumah ini kan, luas," bantah Alea yang ingin melihat setiap sudut ruangan tersebut.
"Iya, Den, ajak Non Alea di ruang tengah misalnya. Jangan di kamar terus, kecuali kalau emang lagi kejar target ingin punya anak," sahut Bi Ijah yang tiba-tiba muncul di ruang makan tersebut. Ia sedikit terkekeh ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Ya sudah kita ke ruang tengah saja. Mumpung tak ada siapapun di rumah ini," ucap Gavin sambil berjalan keluar dari dapur tersebut.
Alea tersenyum pada Bi Ijah, lalu mengikuti langkah suaminya menuju ke ruang tengah. Ruangan itu begitu elegan dengan d******i warna hitam dan putih.
"Wah, ruangan ini cantik sekali," puji Alea ketika memasuki ruangan tersebut.
Itu adalah warna yang paling ia sukai. Ia bahkan bercita-cita memiliki kamar bernuansa hitam putih seperti itu.
Gavin tak menyahuti perkataan istrinya. Ia langsung duduk di sofa besar berwarna hitam di sana. Ia lalu menyalakan televisi dan mencari siaran komedi yang lucu dan menghibur.
Alea ikut duduk di sofa tersebut. Ia heran melihat Gavin yang suka stand up komedi tapi, sangat kaku. Gavin bahkan tak tertawa sedikitpun melihat adegan-adegan di televisi tersebut.
"Kamu menikmati acara ini?" tanya Alea sebelum mengungkapkan keinginannya.
"Biasa saja. Memangnya kenapa?" tanya Gavin lagi.
"Kalau memang enggak ditonton dan disukai. Lebih baik aku pinjam remotnya," ucap Alea yang sebenarnya ingin melihat acara lain.
Gavin menyerahkan remote kontrol televisi tersebut pada Alea.
"Makasih," ucap Alea sambil menerima sodoran remote dari Gavin.
Gavin hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Alea.
Siaran pun berubah, yang asalnya stand up komedi, jadi drama.
Sampai satu jam lamanya siaran tak juga berubah. Bahkan ketika iklan sekalipun. Penasaran dengan sebabnya, Gavin menoleh ke sisi kirinya. Ternyata Alea telah tertidur dengan bersandar ke samping kursi.
Gavin sampai bengong dibuatnya. Ia heran ada wanita yang bisa tidur di mana saja seperti Alea.
'Apa dia tidak takut kalau ada orang jahat yang akan melakukan sesuatu padanya,' gumam Gavin dalam hati.
Sungguh bertolak belakang dengan Gavin yang semuanya mesti tertata dan pada tempatnya. Termasuk soal tidur, ia tak bisa tidur di mana saja.
"Hei," ucap Gavin sambil menepuk-nepuk pipi Alea pelan. Anehnya, wanita di hadapannya itu tak juga terbangun.
'Duh, jadi harus bagaimana ini?' tanya Gavin dalam hati. Ia bingung harus bagaimana.
Akhirnya, Gavin membopong Alea di tangannya. Tubuh Alea cukup berisi, tidak kecil dan juga tidak terlalu besar. Sebenarnya bobotnya tak terlalu berat untuk Gavin.
Ia lalu membawa Alea untuk menuju ke kamar. Tak tega meninggalkannya sendiri di sana. Meskipun sebenarnya ia tak suka dengan Alea yang keras kepala. Tapi, dipikir-pikir ia terkadang lucu juga.
'Apa aku suka sama dia?' gumam Gavin dalam hati.
'Ah, mana mungkin,' elak bagian hati Gavin yang lainnya.
Gavin terus menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Tapi, tiba-tiba di tengah perjalanan Alea terbangun.
"Apa yang kamu lakukan padaku?!" tanya Alea sangat kaget. Matanya membulat sempurna sambil meronta untuk dilepaskan Gavin.