Di sebuah rumah berlantai dua, tampak seorang perempuan setengah baya yang duduk dengan tatapan yang terlihat menerawang ke depan. Meskipun televisi yang sedang dia tonton tampak sedang menayangkan tayangan kesukaannya, tetap saja tidak membuat dirinya kembali fokus. Setelah mendapatkan telepon dari asisten Bara, tampak Irma langsung terkejut. Bahkan, terlihat dengan jelas jika perempuan yang selalu berpenampilan glamor itu saat ini sedang tercengang. Di dalam pemikirannya seakan masih mencerna perkataan dari lelaki yang bernama Dino. “Bu … bengkel yang ada di jalan Martadinata sudah tidak bisa beroperasi, karena biaya operasionalnya sudah tidak bisa ter-cover lagi. Maaf jika saya lancang harus mengambil keputusan ini, karena sampai detik ini saya masih belum bisa menghubungi Pak Bara,

