Tekad Lita

1722 Kata

Tak terasa waktu pun terus bergulir. Hari pun telah berganti. Matahari telah menampakkan sinarnya dengan cerah. Pagi hari yang terasa sejuk dimanfaatkan oleh Lita untuk membuka seluruh jendela yang ada di kamar perawatan putrinya. Ia berharap udara pagi yang bersih bisa menggantikan udara yang ada di dalam kamar. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dengan telatennya mendampingi putrinya dengan penuh kesabaran. Sebagai seorang ibu, mana mungkin dirinya tega meninggalkan putri kesayangannya yang sedang terluka seperti ini. Meskipun putrinya telah berumah tangga, bagi dirinya Bella akan tetap selalu menjadi putri kecilnya. “Badannya mau dibasuh sekarang, Sayang?” tawar sang mama. Sejak kedatangannya kemarin pagi, wanita itu telah mengambil alih tugas Ibra tanpa persetujuan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN