Pertama Kali Ditolak Wanita

1104 Kata
“Lelaki itu lagi. Mau apa lagi dia kemari.” Desis Suster Liliana. “Siapa Sus?” Tanya Dokter Diana sabar. “Itu tuh, pria yang dua hari lalu datang ke sini, Dok” Tentu saja Suster Liliana heran. Lelaki itu benaran sakit atau hanya modus mau mendekati Dokter Diana? “Memangnya dia sakit apa sih, Dok? Kok dia sering datang ke tempat praktek ini?” Dokter Diana hanya bisa tersenyum. Di dalam hatinya berkata. ’Benar-benar pria yang pantang menyerah, mundur karena perasaan nya di tolak.' “Biarkan saja Sus. Selagi dia datang sebagai pasien, sudah tugas kita untuk melayani dan mengobatinya." “Dia pasti punya maksud tertentu pada Dokter! Pria model seperti itu, pasti di luar sana sudah banyak menjalin hubungan dengan wanita yang bentuk tubuhnya seperti model. Sehingga saat Dokter tidak menggubris pendekatannya dia merasa tertantang.” “Suster Liliana. Cobalah untuk tidak berburuk sangka kepada seseorang. Berfikir positif saja. Sekarang panggilkan pasien berikutnya." Dan saat nama Rahmad di sebut dan di panggil masuk ke ruang praktek untuk konsultasi. Lagi-lagi pria itu kembali memberikan segala keluhan, tentang sakit yang tidak pernah ada dia rasakan di tubuh nya. “Pak Rahmad, tolong jangan datang kemari lagi! Tubuh anda baik-baik saja. Tidak ada yang salah dan semua sehat saja.” Dokter Diana berpura-pura tidak melihat Rahmad, dia berpura-pura sibuk dengan catatan pasiennya. “Saya benaran sakit, Dok! Dan saya belum menikah, jadi belum pantes di panggil PAK." Dokter Diana kembali menggelengkan kepala nya pelan. “Kenapa?" “Apanya yang kenapa?" Suster Liliana keluar saat ada pasien di luar memanggilnya. “Kenapa anda menolak perasaan saya?" “Sebelumnya saya minta maaf jika sudah membuat anda tersinggung apalagi sakit hati. Tapi untuk saat ini, Saya belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun. JIka tidak ada lagi yang ingin di tanyakan. Silakan keluar, Pak Rahmad! Karena masih banyak orang yang ingin berobat dan sudah antri di luar sana.” Padat,tegas dan jawaban itu seketika membuat Rahmad terdiam. Tapi sebelum keluar dari kamar praktek, pria itu masih sempat berkata. “Siapa pria itu?" Seketika Dokter Diana mengangkat wajah nya menatap Rahmad. “Apa maksud anda?" “Iyah pria yang sudah membuat Dokter menjadi wanita sedingin salju dan sangat sulit untuk menerima perasaan saya." “Tolong, Pak Rahmad. Saya lagi bekerja. Jika anda ingin menanyakan perihal pribadi. Saya berhak menolak untuk menjawab nya. Tolong keluar sekarang." “Baik saya akan pergi, tapi ingatlah, Dok. Saya tidak akan pernah mengalah akan perasaan saya terhadap anda. Dan tolong jangan panggil saya, PAK! Sebutlah nama saya dengan benar, Rahmad!" Setelah mengatakan itu. Pria itu keluar dari ruang praktek Dokter Diana dengan wajah dan tatapan yang dingin. Sial! Baru kali ini diri nya di tolak seorang wanita. * Dokter Diana merasa mungkin belum saatnya dia menerima perasaan seseorang. Luka lama serasa belum sembuh di dalam hati nya. Jika dia memaksa menjalin hubungan, takutnya nanti hanya sebagai pelarian saja. Tapi semua berubah saat suatu hari Rahmad datang ke rumah sakit tempat dia bekerja sambil menggendong seorang gadis yang pingsan akibat tertabrak mobilnya. Saat itu Dokter Diana di mintai tolong untuk bertugas di UGD buat sementara karena dokter jaga ada keperluan mendadak. Jadi mau tidak mau terpaksa wanita itu yang menangani pasien-pasien yang datang berobat. Lapor Rahmad saat salah seorang Suster bertanya kepadanya. “Di tabrak mobil, Dok. Pingsan!” “Apa Bapak yang menabrak wanita itu?" Tanya salah seorang perawat laki-laki kepada Rahmad. “Dia yang berlari ke depan mobil, saya.” Tiba-tiba pintu di terjang dari luar. Beberapa orang laki-laki masuk dan langsung menyuruh Rahmad untuk bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi. “Jangan lari dari tanggung jawab!" Ancam salah seorang laki-laki itu. “Bagaimana pun kamu yang harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi atas diri gadis itu!" “Siapa bilang saya lari dari tanggung jawab? Kalau lari, buat apa saya kemari?" Ucap Rahmad melawan kata dan ucapan yang di tuduhkan kepadanya. “Sudah..Sudah.. Jangan ribut di sini!" Ucap perawat laki-laki yang bertugas DI UGD. “Lekas taruh pasiennya di sana. Biar di tolong Dokter. Dan anda, Pak, tolong daftar di bagian administrasi sebagai orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa pasien wanita ini.” Ya Allah mimpi apa aku semalam?? Kok bisa pagi-pagi sudah kena s**l begini! Mana yang bertugas di UGD Dokter wanita itu lagi. Rahmad terus saja meruntuki kejadian yang menimpa diri nya. Dan dengan terpaksa dia berpura-pura tidak mengenal Dokter wanita itu. Hanya bisa tersenyum saat mata mereka saling bertatapan. Tak lama pria itu membuang pandangannya ke arah lain. Dokter Diana tersenyum pahit. Sambil menjinjing stetoskopnys dia mendekati pembaringan yang paling ujung. Di mana pasien wanita yang pingsan tadi mereka letakkan. “Saudara-saudara tunggu di luar saja." Kata Suster yang berjaga saat melihat Dokter Diana datang. “ Biar pasiennya di periksa Dokter dulu.” Seperti kerumunan burung-burung yang langsung terbang menyibak begitu di lempari batu, mereka lalu menyingkir begitu Dokter Diana muncul. “Bagaimana pasiennya, Sus?” Tanya Dokter Diana mendekati pembaringan pasien wanita yang tertabrak itu. “Apa dia masih pingsan?” “Sudah sadar, Dok.” “Apa ada muntah tadi?" “Katanya ada. Dok. Itu baju nya juga kotor kena muntahan.” Dokter Diana menatap gadis remaja yang berbaring pucat di atas dipan periksa itu. Masih muda sekali. Sekitar lima belas atau enam belas tahun. Kecil mungil, bibirnya tipis dan rambutnya pendek. “Siapa namamu, Dik?” Tanya Dokter Diana ramah. Seketika gadis itu mengawasi Dokter Diana. Matanya yang redup masih berair mata.. “Masih ingat namamu kan?” Ucap Dokter Diana memamerkan sepotong senyum yang menyejukkan di bibirnya. Mencoba membuat gadis itu berbicara. Namun saat bibir yang pucat itu bergerak-gerak. Tetapi tidak ada suara yang keluar. “Siapa?” Dokter Diana mendekatkan telinga nya. “Coba bersuara lebih keras.” “Aliza, Dok." “Oh, Namamu Aliza." Dokter Diana melebarkan senyumnya. “Nah, Aliza, ada yang terasa sakit?" Aliza memegang belakang kepala nya. “Coba saya lihat." Dokter Diana meraba belakang kepala gadis itu ketika Aliza memiringkan kepala nya ke samping. “Ahh.. Ada yang benjol di sini. Tapi tidak ada luka terbuka. Barangkali terbentur sesuatu. Aliza ingat nggak terantuk apa tadi?" Aliza, gadis itu menggeleng pelan. “Aliza bisa cerita bagaimana mula nya sampai bisa ketabrak mobil tadi?" Sekali lagi Aliza menggeleng. Tapi kali ini air matanya jatuh di pipi membentuk dua sungai kecil yang mengalir deras. “Jadi, Aliza tidak ingat apa-apa? Baiklah tidak masalah. Sekarang di periksa dulu yah." Dokter Diana lalu memeriksa, tapi nalurinya mengatakan jika gadis ini mempunyai masalah yang sangat serius . Melihat raut wajah dan air mata yang jatuh mengalir tadi itu sudah menjadi bukti atas semua praduga nya. Apa beban hidup gadis ini yang membuatnya seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN