Merasa Berdosa Meninggalkan Perintahnya

1102 Kata
Setelah memesan makanan dan akhirnya pulang. Sepanjang perjalanan Rahmad banyak diam nya. Dia terlalu larut dengan segala pemikiran tentang agama yang selama ini sudah dia lupakan tugasnya sebagai seorang pria muslim. Dokter Diana yang merasa aneh dengan semua perilaku pria itu hanya bisa diam, dan menatap ke luar. Melihat pemandangan malam di luar mobil sepanjang jalan menuju arah pulang kembali ke rumah nya. “Apa kita bisa keluar bersama lagi?" Tanya Rahmad saat mereka suda tiba di hadapan rumah dinas Dokter Diana. “Insyaallah. Bisa." Rahmad seketika tersenyum senang mendengar ucapan Dokter Diana. “Oia, Dok.. Menurut Dokter nih, seorang pria muslim itu harusnya seperti apa?" Dokter Diana mengerutkan kedua keningnya saat mendengar pertanyaan Rahmad. Apa hal ini yang sedari tadi pria ini fikirkan? “Hm.. Setiap orang itu kan berbeda-beda cara pandang nya dalam melihat suatu hal. Begitu juga saya. Kalau menurut saya, seorang pria muslim itu harusnya tau baik dan buruknya dalam melakukan sesuatu perbuatan. Karena tangung jawab dia akan di pertanyakan suatu hari nanti saat sudah berumahtangga. Membentuk sebuah keluarga itu tidaklah gampang. Jika misalkan, dia merusak seorang wanita. Bagaimana jika nanti anak gadis yang di sayangi di perlakukan seperti itu. Apakah dia mau? Pasti tidak kan? Hukum karma itu ada berlaku, loh." Jawaban Dokter Diana seketika membungkam Rahmad. Pria itu sekedar menelan air liur saja sangat susah untuk dia lakukan. Di fikiran dan di dalam hatinya yang ada hanyalah.. ‘Ya Allah, begitu banyak dosa yang sudah aku lakukan terhadap wanita-wanita itu. Termasuk melakukan perbuatan maksiat itu. Berapa banyak dosa yang sudah aku tumpuk dan tidak pernah ditebus untuk memohon ampunan mu, Ya Allah’ Seolah bisa membaca kegelisahan Rahmad. Dokter Diana lalu berkata.. “Tenang.. Masih banyak waktu. Allah senantiasa mendengar semua permohonan maaf dari umat-umat nya kok. Yang penting itu kamu sadar dan mau memperbaiki semua kesalahan yang di lakukan selama ini. Bagaimana jika kita sama-sama belajar? Saya juga punya banyak dosa, loh. Yah, walaupun tidak sebanyak kamu ha..ha." Canda tawa Dokter Diana seketika membuat pria itu ikut tersenyum juga. “Janji, mau menghabiskan waktu berjalan bersama saya lagi?" Dokter Diana mengangapi dengan menganggukkan kepalanya pelan. “Terima kasih, Bu Dokter.” Mereka lalu tersenyum bersama. “Kalau begitu saya pamit dulu." “Waalaikumsalam. Hati-hati menyetirnya." Mendengar ucapan wanita itu seketika membuat kedua kening Rahmad berkerut. Dan perlahan dia tertawa lalu. “Maaf, Dok. Saya melupakannya. Assalamualaikum." Pria itu lanjut tertawa sambil membuka pintu mobil. Dan sekali lagi Dokter Diana menjawab nya. “Waalaikumsalam.. Hati-hati menyetirnya.” Rahmad menyetir sambil terus tersenyum. Kalau ada yang melihat diri nya saat ini pastilah akan mengira jika dia orang gila. Apalagi sendirian di dalam mobil tanpa ada sesiapapun bersama nya. Sesampainya di rumah, hal pertama di lakukan pria itu adalah mandi dan membersihkan seluruh tubuh nya yang terasa sangat kotor. Berpakaian lalu keluar mencari Ibu nya. Ternyata Ibu Rita lagi menonton Tv di ruang tamu. “Lagi nonton apa, Bu? Serius bener.” Rahmad lalu perlahan duduk di sebelah Ibu Rita. “Lagi nonton berita. Kamu dari mana? Lembur?" “Nggak, dari jalan sama teman." Bu Rita segera memperbaiki duduknya lalu menatap anak bungsu nya itu. “Cewek?" Rahmad perlahan tersenyum dan mengangguk. “Sudah-sudahlah, Mad. Ibu nih sudah tua. Jangan sampai ada anak gadis orang datang ke rumah menangis minta pertangungjawaban kamu! Bisa -bisa jantungan mendadak Ibu. Kamu ingin seperti itu?" Rahmad seketika tertawa lalu pria itu memeluk Ibu nya. “Ishhh, Ibu nih, sembarangan saja kalau bicara. Yah ga sampai seperti itulah." “Oh yah? Kamu yakin? Karena selama ini sudah banyak wanita, yang bermacam model nggak bener kamu kenalkan kepada Ibu. Karena hal itulah membuat wanita tua ini merasa malu, saat melihat cara berpakaian mereka setiap kali datang berkunjung. Pakai baju kok setengah b***l!” Rahmad tak berhenti tertawa mendengar omelan Ibu nya. “Itu mode, Bu. Selagi mereka merasa nyaman memakainya, yah akan terus seperti itu. Walaupun terkadang banyak mata yang melihatnya merasa risih, atau membuat lelaki berfikiran kotor. Tapi susah, karena kebanyakan gadis-gadis itu tidak pernah memikirkan tantang semua itu. Mereka malah bangga memperlihatkan, mempamerkan tubuh yang mulus, kaki jenjang dan putih. Jadi jangan salahkan kaum pria dong. Karena laki-laki hanya menikmati pemandangan yang di pertontonkan secara gratis.” “Wong Edan! Awas kamu ya, kalau sampai ada yang ke rumah ngadu karena kelakuan mu. Bakalan Ibu potong tuh burung mu! Bikin malu tau nggak. Ingat Mad, Ibu sudah berulaang kali mengatakan kepada kamu. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab! Seorang pria harus punya fikiran seperti itu! Kecuali dia adalah laki-laki jejadian!” “Baik, gusti kanjeng Ratu." Pria itu terus tertawa di samping Ibu nya. “Bu, kapan yah terakhir kali kita shalat bareng?” Bu Rita lalu berbalik menatap Rahmad. “Kamu sakit, Mad?” Lalu memeriksa dahi anaknya. "Nggak panas. Kamu, kenapa sih? Sedari tadi aneh banget deh!" “Ish.. Ibu nih, anaknya tanya nggak di jawab. Malah di katain sakit. Rahmad tanya Bu, kapan terakhir kali kita shalat berjamaah?" “Ibu sering shalat. Yang nggak pernah beribadah kan itu kamu. Ibu sampai capek berkali-kali mengingatkan supaya kamu rajin pergi ke masjid. Jadi orang kok susah banget sih di kasih tahu." “Iyah yah, Bu. Aku selama ini sudah melupakan tugas sebagai seorang lelaki muslim. Begitu banyak dosa yang sudah diri ini lakukan. Jika sekarang, Rahmad bertobat. Apakah akan di terima, Bu?” Ada apa dengan anaknya ini? Tiba-tiba pulang dari jalan, kelakuan nya aneh seperti ini? “Mad, selagi kita masih bergerak. Selagi itu kita masih bisa bertobat. Lakukanlah yang seharusnya di lakukan dalam agama muslim. Menghindari segala larangan nya dan menjalankan segala perintah nya. Soal di terima ataupun tidak serahkan semua sama Allah SWT.nJangan berfikir apa dosa ku di ampuni atau nggak? Memohon ampunan lah, Nak. Karena tidak ada siapapun yang berhak mengadili seseorang selain Allah Yang Maha Esa. Dialah, Tuhan Pencipta seluruh makhluk yang ada di Bumi ini.” Ucap Bu Rita kepada Rahmad. Dengan sabarnya wanita itu menerangkan kepada anak nya. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal itu? Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?" Rahmad hanya menggeleng pelan. “Mad, kita tinggal berdua. Jika ada apa-apa, bicaralah, ceritalah kepada Ibu mu ini. Jangan hanya diam saja sehingga Ibu tidak tau apa yang kamu fikirkan. Bukan mau terlalu mencampuri urusan pribadi kamu, tapi aku ini Ibumu. Jika bisa memberikan pendapat, alhamdulillah kalau bisa membantu. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, memohon ampunanlah Kepada yang Maha Kuasa.” Rahmad lalu berbaring di paha Ibu nya. Pria itu terus berfikir, kembali mengingat segala dosa yang telah dia lakukan selama ini. Begitu banyak larangan yang telah dirinya perbuat. Masih bisa kah dia diberi keampunan oleh Yang Maha Kuasa Allah SWT?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN