Saat Vano sampai di rumah, hujan masih turun dengan intensitas kecil dan tak seberapa. Ia melirik jam tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ia memang pulang telat karena ada acara makan malam kantor. Hal yang dulu tak pernah bisa ia ikuti.
Ia turun dari mobil dan menyampirkan satu tali ranselnya di punggung dan berjalan mendekati pintu. Ia berhenti saat sampai di depan pintu, bukan untuk mengetuk, namun karena melihat sepatu kets berwarna hitam ada di depan pintu. Ia jelas tahu itu bukan milik kakaknya. Juga bukan milik Aileen karena ukurannya terlalu besar untuk dipakai wanita itu. Sepatu kets itu sepatu model laki- laki.
Dahinya berkerut dalam, berpikir sepatu itu milik siapa lalu menatap pintu rumahnya yang tertutup rapat. Sebelah tangannya terangkat untuk membuka pintu yang tak kunci itu. Ia membukanya dan gelap langsung menyergapnya.
Satu satunya cahaya yang ada di ruang tamu berasal dari layar televisi yang menyala. Ia mendekat dan melihat Lula merebahkan diri di sofa dengan kedua mata terpejam dan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Wanita itu tampak begitu pulas.
Vano mendekati stop kontak dan menekannya untuk menerangi ruangan itu. Matanya memindai sekeliling. Ruang tamu bersih, tak ada tanda- tanda kedatangan tamu.
“Kak…” Vano menggoyang- goyangkan lengan Lula pelan.
Lula yang memang baru saja pulas langsung membuka kedua matanya dan melihat adiknya berdiri menjulang di depannya. Wanita itu menguap lebar- lebar dan bangun dari posisi tidurnya.
“Di luar sepatu siapa?” tanya Vano tanpa basa- basi.
“Malik…” jawab Lula. Kedua tangan wanita itu terangkat untuk mengusap matanya. Ia lalu melihat Vano melirik sekeliling. Matanya tampak jeli menatap tiap sudut di ruang tamu itu.
“Orangnya nggak di sini, kali.” kata Lula akhirnya saat ia tahu bahwa Vano mencoba mencari keberadaan Malik di rumah itu.
“Oh… kirain.” Kata Vano sambil duduk di sebelah kakaknya.
“Kirain… kirain… otak lo tuh pasti udah mikir macam- macam, kan.”
“Gue justru mau ngomel kalau tuh orang ada di sini semalam gini, cuma berdua sama lo. Lampu di matiin lagi, mana lo tiduran di sofa.”
“Gue nggak segila itu.” kata Lula.
“Iya gua tahu. Makanya gue nanya dulu.” Kata Vano. “lo udah makan?” tanyanya.
“Belum… bikinin mie instan dong.” Kata Lula dengan nada memohon. Ia menatap ke arah adiknya dan mengerjap dua kali.
“Males, ih. Bikin sendiri.” kata Vano.
“Tangan gue kebas banget dari tadi.” Lula mengangkat tangan kanannya dan mengulurkannya pada Vano yang langsung berdecak.
Vano menatap jari kurus wanita itu. Jari- jari wanita itu memang kerap kram kalau wanita itu telalu lama bekerja. Dua tahun lalu, wanita itu pernah di vonis menderita carpal tunel syndrome karena rasa kram yang tak kunjung membaik. Karena belum terlalu parah, dokter hanya meminta gadis itu mengonsumsi sejumlah obat.
Vano mengambil tangan wanita itu dan memijatnya pelan. “mau ke dokter lagi? mungkin lo kena CTS lagi.” kata Vano. Ia melihat gadis itu menggeleng pelan.
“Gue cuma mau mie instan saat ini.”
***
Gadis itu keluar dari rumah sempitnya dan menyusuri jalanan untuk sampai ke halte di depan jalan. Ia memakai seragamnya. Seragam yang sudah terlihat lusuh karena sudah ia pakai selama dua tahun. Ia beruntung tubuhnya tak membesar karena seragam itu masih muat di tubuhnya. Juga rok yang umurnya sama dengan seragam yang ia pakai.
Rumah tempat tinggalnya terletak di sebuah perkampungan kumuh yang padat. Rumah- rumah di kanan kirinya berdempetan dan terlihat berantakan. Dengan kualitas air yang jelek, lalu sampah yang berserakan di mana- mana, juga bau sungai penuh sampah yang tercium di saat- saat tertentu. Melihat kecoa, tikus dan hewan kotor lainnya bukan sesuatu yang lagi membuatnya jijik. Ia sudah berteman dengan mereka sejak lama. Tak ada yang bisa menghalangi hewan- hwan itu masuk ke rumahnya. Dengan ventilasi yang buruk, celah di sana- sini, juga hawa lembab yang memenuhi rumahnya, semua itu jelas begitu menarik bagi hewan- hewan itu.
Rumahnya juga langganan banjir. Jika hujan dengan intensitas lebat turun berjam- jam, ia sudah pasti mendapatkan tamu berupa air yang memasuki ruang tamu sempitnya dan mengalir hingga ke seluruh rumahnya. Mereka tinggal di sana karena itu adalah kontrakan termurah yang bisa bibinya dapatkan. Tak peduli seburuk apapun tempat itu, Hana tetap nyaman karena ada atap yang terlihat saat ia membaringkan tubuhnya di atas kasur kerasnya.
Ia tinggal di rumah itu bersama bibinya yang seorang janda dengan satu anak laki- laki yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ibunya sudah meninggal satu tahun lalu dan ayahnya tinggal di kampung karena sakit keras. Saat sadar tak ada yang bisa merawat ayahnya, ayahnya terpaksa pulang ke kampung dan membiarkan saudara merawatanya. Satu- satunya keberuntungan dalam dirinya adalah bibinya yang baik dan sangat menyayanginya.
Sama seperti kedua orangtuanya yang miskin, perekonomian bibinya pun tak kalah mengenaskan. Bibinya bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah dengan upah bulanan yang selalu habis untuk bayar kontrakan, makan dan membayar biaya sekolahnya. Itu adalah alasan kenapa semua yang melekat pada tubuhnya adalah barang- barang lusuh. Seragam, tas, juga sepatu. Ia menatap sepatunya dan tersenyum, kali ini sepatunya tidak lusuh. Sepatu mahal itu tampak mencolok di dirinya.
Ia melangkah dengan mantap. Sepatu mahal itu terasa empuk. Ia bahkan kini bisa berlari tampak takut sepatunya jebol ataupun rusak. Benda itu adalah hal yang termahal yang ia punya meski bekas. Senyum Lula tiba- tiba terlintas dalam benaknya. Senyum manis dengan lesung pipi kecil di dekat ujung bibirnya.
Ia sudah merasa berada di tempat yang salah sesaat setelah ia masuk ke Daily kemarin. Ia memesan minuman paling murah karena tak punya cukup uang. Lalu duduk celingukan seorang diri seperti orang bodoh. Ia telah menyadari bahwa beberapa pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan tatapan aneh. Namun wanita itu mendekatinya tanpa ragu. Meminta izin untuk duduk di depannya bahkan mentraktirnya makan. Wanita itu tak memandangnya dengan tatapan aneh. Wanita itu mengajaknya bicara seakan wanita itu mengenalnya.
***
“Lula…” Aileen setengah berteriak sambil mengetuk- ngetuk pintu di depannya. “La…” Ia memanggil lagi. tangannya tak berhenti mengetuk. Berharap si empunya rumah cepat bangun dan pintu di depannya terbuka.
Matanya manatap ke garasi, ia masih melihat mobil yang biasa di pakai Vano terrparkir di sana, menyakinkannya bahwa laki- laki itu masih ada di rumahnya.
“Vano…” tepat setelah ia meneriakkan nama itu, ia mendengar suara kunci yang diputar. Tak lama pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Vano yang masih memakai kaos dan celana pendeknya.
“Baru bangun lo?” tanya Aileen.
“Iya, Kak.” Vano menyingkir dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam rumah.
“Tumben.” Katanya sambil duduk di sofa. Ia menaruh bungkusan yang ia bawa di atas meja. “Lula juga belum bangun pasti.” Ia melihat laki-laki itu mengangguk dan mendekatinya.
“Vano mandi dulu, ya, Kak.” kata laki- laki itu sambil melewati Aileen yang duduk di ruang tamu. Vano melihat wanita itu mengangguk. Ia masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Aileen menatap pintu kamar Lula yang tertutup rapat, lalu memutuskan untuk pergi ke dapur dengan bungkusan yang ia bawa. Ia membawa tiga porsi lontong sayur yang ia beli dalam perjalanan.
Setelah menaruh lontong sayur itu di atas meja makan, ia pergi ke taman kecil di samping dapur dengan sebungkus rokok dan korek api di tangannya. Udara pagi itu dingin bekas hujan yang turun sepanjang malam. Ia menyalakan lintingan nikotinnya dan menyesapnya pelan lalu mengembuskan asapnya melalui mulut. Ia menikmati lintingan nikotin itu hingga mendengar suara derap langkah mendekati dapur.
Tak lama ia melihat Lula masuk ke dapur, masih dengan setelan tidurnya dan rambut yang kusut masai.
“Tumben lo. Ada gempa apa di kamar lo?” kata Aileen pada Lula yang terlihat menggaruk garuk kepalanya.
“Lapar gue.” kata wanita itu.
“Jorok, ih… mandi dulu.” Kata Aileen saat melihat Lula sudah mendekati meja makan.
Lula membalik badan dan menatap Aileen dengan bibir yang mengerucut. “gue lapar. Nanti kalau gue pingsan di kamar mandi gimana?” kata wanita itu dengan nada lirih.
“Jangan lebay.” Kata Aileen. Ia menekan ujung putung rokoknya ke asbak lalu menghampiri Lula. “mandi dulu pokoknya. Ish jorok, itu iler ke mana- mana.” Kata Aileen lagi.
Lula mengusap bibirnya, “masa, sih.”
Aileen berdecak, ia mendorong paksa tubuh Lula untuk kembali ke kamarnya.
“Gue lapar banget, sumpah.” Keluh Lula saat mereka berhenti di depan kamarnya. Ia mengerjapkan kedua matanya. Mencoba merayu sahabatnya yang langsung menggeleng keras.
“Mandi dulu.” Aileen mendorong paksa tubuh Lula ke pintu yang setengah terbuka hingga wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Ia menarik handle pintu hingga pintu itu tertutup rapat.
“Kenapa, Kak?” tanya Vano saat ia melihat Aileen berdiri di depan pintu kamar Lula, dengan sebelah tangan tampak menarik handle pintu.
“Kakak lo, tuh, jorok banget.” Keluh Aileen. Ia sudah melepaskan tangannya dari handle pintu dan kini kembali menuju dapur. “baru bangun udah mau langsung makan. Cuci muka aja belum. Iler masih nempel di mana- mana.”
Vano tertawa mendengar kata- kata Aileen. Dalam hati sudah tak heran melihat tingkah kakaknya yang seperti itu.
Aileen duduk di depan meja makan sementara Vano menuju meja dapur.
“Mau kopi atau teh, Kak?” tanya laki- laki itu sambil mengambil tiga buah cangkir dari salah satu lemari yang ada di sana.
“Teh aja.” Jawab Aileen.
Vano membuatkan sesuai permintaan wanita itu. Ia membawa tiga buah cangkir yang dua gelasnya berisi gula dan teh dan satunya gula dan kopi ke dispenser dan mengisinya dengan air panas satu persatu. Setelah cangkir- cangkir itu terisi dengan air, ia membawanya ke meja makan dan menyodorkan satu cangkir ke depan Aileen yang langsung mengucapkan terima kasih.
Vano tak duduk, ia kembali membalik badan untuk mengambil tiga buah mangkok dari lemari juga tiga buah sendok.
“Beli di mana, Kak?” tanya laki- laki itu saat ia duduk di depan Aileen yang sedang fokus pada gawainya.
Wanita itu menengadah dan melihat Vano sedang mengelurkan bungkusan dalam plastik lalu membukanya dan menuangkannya ke dalam mangkok.
“Di jalan. Gue beberapa kali lewat ramai terus, makanya coba beli.” Kata wanita itu.
“GUE UDAH MANDI…” Suara itu terdengar bersama dengan derap langkah yang mendekati dapur.
Lula masuk sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai kaos polos berwarna hitam dengan baggy pants warna serupa. Ia sudah menyisir rapi rambutnya dan mengikatnya, menyisakan anak- anak rambut di berbagai sisi rambutnya.
Ia berdiri di depan Aileen dan Vano lalu memutar tubuhnya. Seakan ingin memberitahu kedua orang itu bahwa Lula yang buruk rupa sudah berubah menjadi angsa yang cantik.
“Mandi apaan cepet banget.” Kata Aileen heran.
“Kak Lula kan kayak kucing. Takut air.” Kata Vano yang langsung membuat Aileen tertawa.
“Gue cuma nggak mau buang- buang air. Gue kan hemat.”
“Jorok berkedok hemat.” Kata Aileen saat Lula duduk di sebelahnya. Lula hanya tersenyum lalu mengambil salah satu mangkok berisi lontong sayur di depannya.
“Beruntung banget yang jadi pacar lo, Ai. Jadi sahabat aja perhatian, apalagi jadi pacar.’ Kata Lula saat ia memulai suapan pertama. Begitu juga dengan Aileen dan Vano.
“Kalau gue cowok, gue pasti udah naksir sama lo.” Kata Lula lagi.
“Masalahnya gue yang nggak mau sama lo.” Kata Aileen yang langsung membuang Lula dan Vano terkekeh pelan.
“Malik tuh ternyata masih muda, ya.” kata Vano di sela- sela makannya.
“Masih muda?” Aileen mengulang kata dalam kalimat Vano. Kini keduanya menatap laki- laki di depannya dengan tatapan penasaran.
“Iya. Dia seumuran gue. Tua-an gue tiga bulan malah.”
Lula yang baru saja memasukkan lontong ke mulutnya langsung tersedak memdengar kata- kata adiknya, sementara Aileen menatap Vano tak percaya.
Vano menyodorkan gelas berisi air pada Lula yang langsung menyesapnya.
“Lo tahu dari mana?” tanya Aileen.
“Kemarin gue minta KTPnya dia buat daftar lari santai.” Jawab Vano. “memang kalian nggak tahu?” Vano melihat kedua wanita di depannya menggeleng.
“Berondong, La.” Aileen menatap Lula sambil tertawa.
“Gue udah duga ada yang nggak beres dari tuh orang.” Kata Lula. Tiba- tiba saja bulu kuduk berdiri saat ia mengingat hari di mana laki- laki itu mengajaknya menikah. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang laki- laki seumuran adiknya bisa- bisa menawarkan sebuah pernikahan padanya.
“La… diajak nikah sama berondong.” Aileen tak bisa menyembunyikan geli dalam nada suaranya.
“Nikah?” kali ini sebelah alis Vano terangkat.
“Iya. Malik pernah ngajak Lula nikah.”
TBC
LalunaKia