CHAPTER DUA PULUH SEMBILAN

2100 Kata
Lula keluar kamar sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai blouse off shoulder warna teracotta yang mengekspos bahunya, dengan celana jeans berwarna hitam. Rambut panjangnya ia ikat tinggi- tinggi sehingga leher jenjangnya terlihat. Ia langsung pergi ke dapur saat merasakan ada aktifitas di sana. Di depan kompor, ia melihat adiknya sedang sibuk dengan sutil dan penggorengan di atas alat masak yang menghasilkan panas tinggi itu. Ia berdiri di ambang pintu dapur dan melihat laki- laki itu menoleh dan tersenyum padanya lalu mengucapkan selamat pagi dengan ceria. Saat itu ia langsung tahu bahwa laki- laki itu sedang bahagia. Ia tahu bahwa permasalahan laki- laki itu dengan Risa sudah terselesaikan. Lula mendekat lalu duduk di meja makan. Tak lama laki- laki itu menyajikan nasi goreng dengan topping ayam dan udang di depannya. Wangi harum tiba- tiba menyeruak menyusupi hidungnya. Hanya dari wanginya, ia akan tahu bahwa rasanya akan enak. Vano duduk di depannya, dipisahkan oleh meja makan itu. Laki- laki itu menuangkan air dalam teko ke dua buah gelas kosong dan mendekatkan yang satunya pada Lula yang langsung mengucapkan terima kasih. “Udah baikan?” tanya Lula saat ia mulai mengambil sendok yang ada di piring. Ia melihat adik laki- lakinya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. Laki- laki itu sudah memulai suapan pertama. Lula mengikuti. “Kak, baju lo nanti di tutup jaket lagi, kan?” tanya Vano sambil memerhatikan bahu terbuka kakaknya. “Nggak lah, ngapain? Kan memang modelnya gini.” Jawab Lula. Ia masih mengunyah nasi gorengnya. “Ish. Lo nggak takut orang mikir lo nggak pakai BH?” tanya Vano. “Dih, kenapa gue harus mikirin kyak gitu. Itu mah urusan orang lain sama pikirannya sendiri. Repot banget gue harus mikirin pikiran orang.” Jawab Lula. “lagian kebangetan banget orang yang mikir kayak gitu. Mereka nggak tahu apa kalau jaman sekarang bahkan ada n****e cover yang bisa nutupin p****g doang.” “Astagfirullah.” Kata Vano. Tak percaya dengan arah pembicaraan mereka yang semakin melebar ke mana- mana. “Mau sampai kapan perempuan diatur- atur pakainnya, sedangkan kasus pelecehan aja bisa menimpa orang yang pakaianya serba tertutup.” Kata Lula. “laki- laki dikasih akal ya harusnya bisa mikir dan nahan nafsu.” Jelas Lula lagi. Ia melihat Vano mengangguk. “Gue cuma khawatir aja sama lo.” Kata Vano. “laki- laki nggak semuanya kayak gue.” Lula berdecak. “tenang aja. Lo kan tahu gue pernah sampai sabuk hitam karate.” “Ya itu udah berbelas- belas tahun yang lalu, kali.” Kata Vano. Lula hanya tertawa. Keduanya melanjutkan sarapan hingga piring keduanya habis tak bersisa. Lula membawa piring dan gelas bekas makan ke bak sink dan mencucinya sementara Vano pergi ke ruang tamu untuk bersiap- siap. Setelah Lula selesai dengan cucian piringnya. Ia menyusul Vano ke ruang tamu. Laki- laki itu baru saja keluar dari kamar dengan kemeja warna pastel yang sudah melapisi kaos putih polosnya. Laki- laki itu mendekat ke salah satu lemari dan mengambil ranselnya dari sana. “Lo mau ke Daily?” tanya laki- laki itu saat Lula menghampiri sofa ruang tamu dan mengambil tasnya yang tergeletak di sana. “Gak tahu. Gue bingung mau ke mana?” kata wanita itu. keduanya sudah berjalan menuju pintu. “Lah gimana, sih?” Vano menatap Lula bingung. “Gue nggak punya tujuan lain selain Daily. Tapi gue nggak mau ke sana lagi.” Kata wanita itu. “Takut ketemu Malik?” tanya Vano tiba- tiba. Lula yang sedang mengunci pintu tiba- tiba menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. “Tahu dari mana lo?” tanya wanita itu. “Nebak aja.” Kata Vano saat sampai di pintu supir. Ia membuka pintu dan melesak di samping kemudi sementara Lula memutar sedikit lalu melesak di sebelahnya. “coba dulu aja, sih. Kalau sama- sama single kan nggak apa- apa.” “Heh, jangan ngatur- ngatur, ya.” kata Lula sambil mencebik kesal. Vano terkekeh pelan sambil menekan pedas gas setelah sebelumnya menyalakan mesin mobil hingga roda mobil berputar. “Jadi ke mana, nih?” desak Vano saat mobil itu sudah keluar dari komplek perumahan mereka. “Udah ke Daily aja. Mana ada cafe yang buka jam segini.” Kata Vano lagi. Ia melirik kakaknya yang tampak berpikir di sebelahnya. Lula menghela napas kasar. “Yudah ke Daily aja deh.” Katanya akhirnya. Ia hanya berharap bahwa hari ini Malik tak ada di sana. Ia mengangguk yakin. Laki- laki itu tak mungkin setiap hari ada di sana. Vano mengulum senyum. Ia mengarahkan mobilnya menuju Daily dan berhenti tepat di depannya. “Hati- hati.” Kata Lula sambil menyantelkan tali ransel ke sebelah punggungnya. Vano mengangguk. Lula membuka pintu dan keluar dari mobil. Vano melambai pada wanita itu sebelum menghilang dari pandangannya. Lula menatap pintu transparan Daily dan menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah dengan mantap. Seorang pegawai di belakang meja kasir menyapanya saat ia melewati pintu itu. Lula mengulas senyum tipis dan langsung pergi menuju lift. Meja- meja di lantai satu terisi beberapa. Biasanya mereka datang untuk menikmati sarapan. Satu satu keunggulan Daily selain rasa makanannya yang enak, juga karena tempat itu buka selama dua puluh empat jam selama tujuh hari penuh. Tempat itu selalu menjadi pilihan jika tempat serupa belum buka atau sudah ingin tutup. Lula masuk ke dalam lift saat pintu besi di depannya terbuka dan menunggu sebentar hingga kotak besi itu membawanya ke lantai dua. Ia keluar saat pintu besi itu terbuka kembali. Ruangan di lantai dua masih kosong. Ia menjadi penghuni pertama di ruangan besar itu. Seorang karyawan laki- laki yang terlihat sedang mengelap meja tersenyum ramah padanya. Lula membalas senyum laki- laki itu lalu bergegas mencari meja yang ingin ia tempati. Lula memilih meja dengan partisi yang berdiri tegak hingga menutupi kepalanya. Ia perlu berjaga- jaga dan menyembunyikan wajahnya dari sosok Malik. Ia mengeluarkan peralatanya seperti biasa. Kali ini ia mulai kembali melanjutkan pekerjaannya. Sejak dua hari yang lalu, sudah ada beberapa pekerjaan yang masuk untuknya. Ia sudah mencatatnya di buku catatannya dan akan memulainya hari ini. Setelah menyalakan laptopnya, ia membaca buku catatannya. Membaca pekerjaan yang akan ia kerjakan terlebih dahulu. Sebuah logo untuk sebuah brand kosmetik baru. Ia membaca materi desain yang diinginkan kliennya. Lula lalu menatap layar komputernya dan berselancar untuk mencari referensi. Setelah itu ia melanjutkan dengan proses selanjutnya seperti biasa, membuat skesta sesuai dengan inspirasi dan keinginan klien lalu mengirimkannya untuk di review. Setelah klien setuju dengan sketsa yang ia buat, ia akan melanjutkan dengan menyelesaikan dan menyempurnakannya. Hal yang terlihat sederhana namun bisa memakan waktu berjam- jam bahkan berhari- hari jika butuh revisi. Lula ingat saat pertama kali membutuhkan waktu hingga berhari- hari untuk membuat satu desain logo. Semuanya bergantung konsep, inspirasi dan mood. Semakin hari ia jelas semakin terampil. Selama mendapatkan klien yang tak cerewet dan banyak mau, ia tak perlu melakukan revisi ini dan itu. Semua desain- desainnya selama ini memuaskan kliennya. Semakin siang, ruangan itu semakin ramai. Orang datang seorang diri dan bergerombol masuk ke ruangan besar itu dan menempati meja yang kosong. Lula masih fokus pada pekerjaannya. Tak peduli dengan suara derap langkah yang semakin lama mengisi ruangan itu. Seger0mbolan pria dan wanita berpakaian rapi juga terlihat memasuki salah satu ruangan meeting yang ada di sana. Lula baru mengangkat kepalanya setelah selesai mengirimkan sketsa kepada klien. Ia melirik sekeliling dan melihat meja dan kursi yang ada di sana hampir terisi penuh. Sekali lagi, ia memindai sekeliling dengan. Memastikan bahwa sosok Malik tak ada di sana. Setelah ia yakin laki- laki itu tak ada di ruangan besar itu, ia berdiri dari duduknya dan pergi ke pojok ruangan di mana sebuah dispenser, gula dan berbagai kopi sachet disediakan. Ia mengambil satu cup gelas kertas lalu mengisinya dengan satu sachet kopi s**u dan menuangkan air dalam dispenser ke dalamnya. Setelah air panas hampir memenuhi gelas, ia berhenti menekan tombol lalu mengaduknya dengan sendok plastik yang juga disediakan di sana. Ia mendekati jedela yang berada tepat di samping dispenser. Menatap jalanan yang tampak padat dari lantai dua itu. Ia meniup kopi dalam cupnya dan melihat orang yang berlalu- lalang di trotoar. Anak- anak sekolah dengan seragam terlihat memadati halte. Sebagian dari mereka akan menghilang saat bus berhenti di depan halte. Ia menyesap kopinya pelan. Mengamati hiruk pikuk yang terjadi di luar. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir memasuki jam makan siang. Ia melangkah kembali ke mejanya lalu duduk di kursinya. Ia mengambil ponselnya yang ia geletakan di atas meja dan berselancar di dunia maya sebentar sambil menyesap kopinya. Juga memasukkan beberapa desain- desain yang ia buat, yang belum sempat ia unggah di akun intagram dan blog miliknya. “Siang…” suara itu terdengar. Lula menghela napas karena mulai hapal dengan suara itu. Ia mengangkat kepalanya lalu menoleh dan melihat senyum Malik menyapanya. Laki- laki itu baru saja duduk di kursi kosong di sebelahnya dan kini sedang menaruh ranselnya di atas meja. “Udah makan siang belum?” tanya laki- laki itu, “makan siang, yuk. Mumpung di bawah belum ramai.” Ajaknya. “Belum lapar.” Lula menjawab singkat. Ia kembali mengembalikan fokusnya ke gawai di tangannya. Malik tersenyum. Ia menatap Lula yang sedang fokus. Seperti biasanya, wanita itu tak mudah terdistraksi oleh sekitarnya. Wanita itu tetap bisa menjalankan semua kegiatannya meski Malik menatap wanita itu lekat- lekat. Saat wanita itu selesai dengan kegiatannya, keduanya beradu pandang. “ngapain lihat- lihat?” tanya Lula dengan suara pelan dan sinis yang justru membuat Malik menatapnya dengan gemas. Malik tak tahu bahwa wajah marah wanita itu semenarik raut wajah fokusnya. “Nggak apa- apa.” Kata Malik. Ia membuka resleting ranselnya dan mengeluarkan laptopnya dari sana. Lula sudah kembali fokus pada pekerjaanya. Setelah membaca email klien yang masuk dan menyetujui desain sketsanya, Lula mulai menyempurnakan desainnya. Malik masih ada di sebelahnya, juga fokus pada pekerjaannya. *** “Gimana?” tanya Jelita pada Vano yang masih tampak berpikir. “kalau jadi Mbak Ema mau booking restonya, nih.” Kata gadis itu lagi. Ia menatap Vano yang masih diliputi kebingungan. “Kayaknya gue nggak bisa ikut, deh.” Kata Vano dengan tatapan tak enak. “Ish… nggak asik banget, sih, lo.” Kata gadis berseragam dengan rambut di gulung rapi itu. “Kalian pergi aja. Gue janji next time gue ikut.” Kata laki- laki itu. Ia melihat Jelita berdecak lalu berdiri dari kursi yang ada di depannya dan kembali ke mejanya. Vano mengusap wajahnya kasar. Rekan- rekan kerjanya sedang membuat rencana untuk makan malam bersama. Hal yang sudah biasa terjadi di cabang. Vano yang tak mendapatkan izin dari Risa terpaksa menolak. Ia tak berani membantah gadis itu karena tak ingin menyulut api lagi dalam hubungannya. Ia baru saja berbaikan dan tak ingin kembali merusaknya. Ia hanya berpikir bahwa ia akan ikut serta lain kali. Suara deting pesan terdengar. Ia mengambil ponselnya dalam satu sentakan. Risa : Kamu nggak jadi ikut kan? Ia membalas pesan itu. Vano : Nggak. Nanti aku jemput jam sekitar jam setengah delapan, ya. Vano kembali menaruh ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali mengecek tiket- tiket dan membubuhkan parafnya agar transaksi itu bisa dilanjutkan ke proses selanjutnya. “Van. Lo nggak ikut beneran?” Managernya, seorang wanita bernama Nuning mendekatinya dan duduk di kursi kosong di depannya. “Nggak, Mbak. Next time gue ikut, deh.” Kata laki- laki itu. “Awas, lho, kalau besok- besok absen lagi.” Kata wanita itu dengan nada mengancam. Vano tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia melihat wanita itu berdiri dan melangkah menjauhinya. Ini sudah kedua kalinya Vano absen dari kegiatan makan malam bersama yang memang rutin cabang itu adakan. Vano sebenarnya merasa tak enak. Namun sekali lagi ia tidak bisa membantah Risa. Sejak awal, Risa secara tegas memintanya untuk tak terlalu dekat dengan rekan kerjanya, gadis itu juga selalu minta dijemput dan tak mengijinkan Vano mengikuti acar- acara kantornya. Gadis itu selalu ingin menghabiskan waktu saat pulang kantor bersamanya sehingga Vano mau tak mau selalu menolak jika salah satu rekan kerjanya mengadakan acara sepulang kerja. Vano berpikir awalnya normal karena mungkin gadis itu ingin menghabiskan banyak waktu saat ia baru saja di mutasi ke kota ini. Ia pikir gadis itu mungkin ingin melepas rindu karena sebelumnya menjalani LDR. Namun ternyata, gadis itu tak berubah hingga kini. Gadis itu selalu meminta Vano langsung menjemputnya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Padahal Vano sudah bilang bahwa mereka bisa menghabsikan banyak waktu juga saat akhir pekan. Namun gadis itu sepertinya tak mau kehilangan sosoknya satu hari pun. Vano mulai kebingungan dengan sikap posesif Risa. Namun ia tahu bahwa ia tak pernah ingin kehilangan gadis itu. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan gadis itu. Ia lelah bertengkar dengan gadis itu. Ia ingin hubungannya dengan gadis itu berjalan sebagaimana mestinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN