Malik turun dari mobilnya setelah berhasil memarkirkan mobilnya di Daily resto and coworking spaces. Ia mengambil tasnya dan menyantelkan satu talinya ke sebelah bahunya. Langkah kaki membawanya masuk ke sana. Setelah menyapa orang- orang yang ada di lantai satu, ia pergi ke lantai empat melalui lift. Ia menempelkan ID cardnya pada sensor lalu menekan tombol untuk ke lantai empat. Setelah pintu besi itu terbuka, ia berbelok ke kanan dan masuk ke ruangannya.
Ruangan itu tak besar namun cukup nyaman. Ada meja besar dan kursi empuk dengan sandaran tinggi di belakangnya. Di sudut ruangan ada lemari berisi penuh buku- buku yang tersusun rapi. Di sudut lainnya, ada lemari besar tempat penyimpanan dokumen- dokumen. Ruangan itu punya jendela besar yang membuatnya dapat melihat apa yang ada di luar.
Ia mengeluarkan laptop dari tasnya dan memulai pekerjaannya. Ia membaca laporan- laporan yang sudah ada di atas mejanya. Suara ketukan di pintunya membuatnya menoleh. Setelah mepersilakan orang di luar untuk masuk, seorang wanita berpakaian rapi masuk dengan dokumen di tangannya.
“Ini laporan untuk gaji karyawan bulan ini sama pengeluaran rutin, Pak.” Kata wanita itu sambil menaruh dokumen itu di atas meja Malik yang langsung berterima kasih. “Oia, Pak, untuk supplier sayuran organik, apa mau kita perpanjang kontraknya?” tanya wanita itu lagi.
“Nanti saya tanya kepala kitchen dulu, ya. Kalau nggak ada masalah kita bisa perpanjang kontraknya.” Jawab Malik. Wanita yang berdiri di depannya mengangguk lalu pamit dan keluar dari ruangan.
Malik mengambil dokumen yang baru saja diletakkan di mejanya. Ia mengecek pengeluaran untuk gaji karyawannya juga pengeluaran rutin lainnya sebelum membubuhkan tanda tangan di tempat seharusnya.
Malik biasanya ada di ruangan itu hanya saat pagi. Saat menjelang siang, ia lebih suka mengerjakan semua pekerjaannya di coworking spaces di lantai dua. Ia bekerja di sana hingga sore. Terkadang kalau tak ada hal yang penting, ia tak kembali lagi ke ruangannya.
Sebenarnya kebiasaan itu di mulai saat ia bertemu dengan sosok Lula. ia mulai rajin pergi ke lantai bawha hanya untuk melihat wanita itu. Ia selalu menantikan jam- jam makan siang agar ia bisa ke bawah dan menatap wanita itu dari dekat.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang saat ia keluar dari ruangannya. Ia menggendong tas ranselnya lalu meneteng dokumen di salah satu tangannya. Ia berjalan melewati lift dan pergi ke salah satu ruangan yang ada di lorong itu.
Saat ia membuka pintu, semua mata karyawan yang ada di sana langsung menghujam ke arahnya. Mereka menunduk sedikit sambil tersenyum.
Ia berjalan mendekati salah satu meja dan menyerahkan dokumen yang ia bawa pada wanita di balik meja. “Ini dokumen yang tadi udah saya tanda tangani, ya.” Kata Malik. Ia lalu kembali berjalan dan keluar dari ruangan besar itu. Ia mendekati lift dan berdiri di depannya, menunggu hingga pintu besi itu terbuka.
Ia melangkah masuk setelah pintu lift terbuka. Sebelah tangannya menekan tombol angka dua dan membiarkan kotak besi itu membawanya ke lantai tujuannya. Ia sampai di lantai dua dan melihat bahwa ruangan besar itu sudah ramai. Orang- orang berpakaian rapi dan santai menempati meja dan tampak sibuk dengan pekerjaan masing- masing.
Malik berjalan pelan. Matanya memindai sekeliling, mencoba mencari keberadaan Lula. Ia tahu bahwa wanita itu hampir setiap dari datang ke sana namun di waktu yang tak bisa diprediksi. Kadang wanita itu datang pagi- pagi sekali, kadang setelah jam makan siang atau di lain hari saat menjelang makan malam hingga hampir tengah malam.
Namun siang ini wanita itu tak ada di ruangan itu. Sosoknya tak menempati meja manapun di sana. Ia menghela napas lalu memilih kursi kosong bersama dengan beberapa orang yang sudah menghuni meja panjang itu terlebih dahulu.
Ia kembali mengeluarkan laptopnya dan siap melanjutkan pekerjaannya. Salah satu alasan ia akhirnya sering menghabiskan waktu di ruang bersama itu adalah ia bisa tahu jelas apa yang kurang dari tempat itu. Terkadang ia mendengar beberapa orang berbicara bahwa toiletnya kotor, atau beberapa meja berdebu, juga air galon dalam dispenser hampir habis dan tak ada yang mengisi, tempat sampah penuh dan hal- hal lain yang bisa membuatnya langsung memperbaikinya. Ia akan langsung meminta salah satu karyawan untuk menyelesaikan masalah- masalah kecil itu.
Tekadang, ada saat di mana restoran di lantai satu sangat ramai sehingga karyawan terlalu fokus di lantai satu sehingga tak sempat mengecek lantai dua. Beberapa bulan terakhir, ia sudah meminta bagian HRD untuk menambah karyawan. Baginya kepuasan pelanggan adalah yang utama. Apalagi semakin hari bisnisnya makin teras amenjanjikan. Beberapa perusahaan start up lebih memilih coworking spaces dibanding menyewa gedung. Tempat ini juga menjadi piliha menarik bagi freelancer yang konsep kerjanya bisa di mana saja. Ia tahu bahwa bekerja di rumah setiap hari bukan pilihan yang baik. Di tempat ini mereka semua bisa mengenal orang lain dan memperbanyak relasi.
***
Malik turun ke lantai satu saat jam menunjukkan pukul dua siang. Ia berniat makan siang di bawah saat tatapannya terpaku pada Lula yang baru saja masuk ke dalam Daily. Wanita itu memakai crop top longgar berwarna peach dengan rok selutut dengan warna senada. Sebuah sneakers membalut kedua kakinya. Atasan yang wanita itu pakai membuatnya bisa melihat kulit pinggangnya yang terekspos. Setelan itu membuat wanita itu tampak cantik. Rambut panjang wanita itu di gulung secara asal sehingga anak- anak rambut jatuh di sekelilingnya. Wanita itu tak memakai riasan apapun. Wajahnya dibiarkan polos dengan bibir hanya tersentuh lipgloss.
Malik masih berdiri tak jauh dari lift. Tampak terpesona oleh Lula yang sedang berjalan ke arahnya. Langkah kaki wanita itu tampak mantap. Saat jarak mereka semakin dekat, wanita itu mengulas senyum tipis padanya. Malik tersadar. Ia membalik badan dan menyadari bahwa lift baru saja menelan wanita itu. Ia menarik napas panjang. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba- tiba terasa seperti deburan ombak.
Malik mati- matian menahan dorongan untuk kembali ke lantai dua. Ia harus makan siang dan mendiskusikan beberapa hal dengan karyawannya. Ia akhirnya berjalan dan memasuki pintu yang ada di belakang kasir. Pintu dengan tulisan “staff only” di depannya.
***
“Lula…” suara itu terdengar saat Lula baru saja memasuki ruangan besar itu. Mata Lula mencari arah suara dan melihat seorang laki- laki melambaikan tangan kepadanya. Ia tersenyum lalu mendekati laki- laki dan duduk di depannya.
“Lo ke mana aja? Baru kelihatan?” tanya Lula pada Brian, seorang freelancer editor yang ia kenal. Mereka bertemu di Daily. Hampir bertemu setiap hari membuat keduanya akhirnya berkenalan dan menjadi teman.
“Cari suasana baru.” Jawab laki- laki itu sambil tertawa. Ia melihat wanita di depannya mulai mengeluarkan laptop dan peralatan menggambarnya. “lo nggak mau cari suasana baru? Nggak bosan di sini mulu?” tanya laki- laki itu.
Lula menggeleng, “gue suka semua yang ada di sini.” Kata wanita itu. Brian mengangguk. Ia juga menganggap Daily merupakan tempat yang sempurna. Pengelola tempat itu memperbaiki semua komplainan customer dengan sangat baik. Tak heran jika tempat itu semakin ramai setiap harinya. Dan yang terpenting, tempat itu buka selama dua puluh empat jam dalam tujuh hari penuh.
Keduanya memutus kontak dan kembali fokus pada pekerjaannya meski sesekali tetap mengobrol tanpa melepas pandangan dari layar di depan mereka.
“Aileen gimana kabarnya?” tanya Brian. Sebagaimana ia mengenal Lula, ia juga mengenal Aileen dengan baik.
“Baik. Makin kaya dia.” Jawab Lula sambil tertawa kecil. Brian ikut tertawa.
***
Malik baru saja masuk ke dalam lift dan menekan tombol close saat mendengar sedikit teriakan.
“Wait…” suara itu membuat Malik kembali menekan tombol open. Ia menengadah dan melihat Aileen berlari kecil ke arahnya. “Hai… Malik… Thanks, ya.” Kata Aileen saat berhasil masuk ke dalam lift dan berdiri di samping laki- laki itu.
Malik mengulas senyum tipis lalu melirik Aileen melalui pantulan wanita itu di dinding lift. Hari ini wanita memakai atasan off shoulder berwarna putih dengan rok plisket berwarna peach. Rambut pendek wanita itu semakin membuat bahu putihnya terekspos sempurna. Ia memakai sling back shoes berwana hitam pada keduanya kakinya.
Malik tersenyum kecil. Selera fashion kedua wanita itu memang patut diacungi jempol. Keduanya bisa terlihat seksi dan elegan di waktu yang bersamaan. Keduanya pandai memadu padankan pakaian terbuka mereka namun tak terkesan vulgar.
Malik dan Aileen turun di lantai yang sama dan berjalan menuju ruangan yang sama. Keduanya mencoba mencari sosok yang sama.
“Tuh…” kata Aileen sambil menunjuk Lula yang duduk di salah satu kursi di pojok ruangan. Malik menatap Aileen dengan tatapan bingung. Tak mengerti maksud kata singkat wanita itu. Wanita itu tidak mungkin tahu bahwa ia juga sedang berusaha mencari keberadaan Lula.
Malik memilih jalan lebih dulu dan berhenti di depan sebuah meja kosong agak jauh dari meja Lula. Namun kakinya kembali melangkah saat ia merasakan lengannya di tarik oleh Aileen. Wanita itu menoleh padanya dan mengedipkan sebelah matanya.
Malik menelan ludah dan masih tampak bingung saat Aileen membawanya terus mendekat ke meja Lula. Ia seharusnya risih atau marah mendapatkan perlakukan Aileen yang seenaknya. Bagaimanapun wanita itu menyentuhnya tanpa izinnya. Namun tak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya. Otaknya seperti tiba- tiba membeku dan lidahnya kelu.
“Hai, Brian.” Aileen menyapa Brian lebih dulu. Ia menarik kursi di sebelah Lula dan mengisyaratkan Malik untuk duduk di sana sementara dirinya sendiri memutar dan duduk di samping Brian.
Lula menoleh dan mengadahkan kepalanya. Ia menatap Malik yang masih berdiri di sebelahnya. “Hai…” kata Malik. Ia menghembuskan napas kasar lalu duduk di kursi tepat di samping wanita itu.
Aileen mengulum senyum melihat tingkah Malik yang tampak canggung. Sementara Lula kini menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Aileen hanya mengangkat bahu sambil mengulum senyum.
Aileen kini melihat Malik tengah mengeluarkan laptopnya dan mencoba fokus pada layar di depannya. Lula sudah kembali ke pekerjaannya sementara ia mengobrol ringan bersama Brian.
“Lo nggak kerja?” tanya Lula saat menyadari bahwa Aileen tak membawa latopnya. Sejak tadi wanita itu hanya sibuk dengan benda pipih di tangannya.
“Nggak… memang yang mau ke sini harus kerja? Nggak, kan?” jawaban Aileen membuat Malik yang ada di depannya ikut menengadah dan menatapnya. Sementara Brian hanya tersenyum kecil. Sudah tak heran dengan keduanya.
“Lo kerja di mana, Malik?” kali ini tatapan Aileen jatuh pada Malik yang langsung kebingungan. Lula juga menatap laki- laki di sebelahnya yang tampak perlu berpikir keras padahal itu adalah pertanyaan mudah.
“Start- up.” Jawab pria itu akhirnya.
“Pakaian lo rapi banget. Udah kayak karyawan kantoran.” Kata Aileen saat menyadari bahwa pakaian laki- laki itu lebih rapi dibanding orang- orang lain yang berkerja di start up.
Malik tak menjawab, hanya mengulas senyum tipis lalu kembali fokus ke layar komputer jinjingnya.
“Gue duluan, ya.” Kata Brian sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas ranselnya.
“Mau ke mana lo?” tanya Aileen.
“Ada perlu.” Jawab Brian sambil berdiri. Ia melambai pada ketiganya lalu menjauh dari meja.
“Lo mau ke mana?” kali ini Lula bertanya pada Aileen yang baru saja berdiri dari duduknya. Wanita menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya. Mengisyaratkan bahwa ia akan merok0k di luar.
Lula menatap layar laptopnya dan akhirnya memilih kembali melanjutkan pekerjaannya daripada mengikuti wanita itu ke smoking area.
Malik melirik Lula yang sudah mengembalikan fokusnya ke drawing pad dan layar latopnya. Ia harus membuka pembicaraan, pikir Malik. Namun ia tak tahu harus mamulai dari mana. Ia tak tahu apa yang harus ia bicarakan pada wanita itu agar wanita itu tak merasa risih.
Malik sadar ia tak pandai berbicara. Ia tak pandai mencari bahan obrolan dengan orang- orang baru selain untuk urusan pekerjaan. Ia tak mudah bersosialisasi.
Lula menutup layar komputernya, suara itu menyadarkan Malik dari lamunannya. Ia melirik wanita di sebelahnya yang kini mengeluarkan buku sketsa dan alat tulisnya dari dalam tas ranselnya yang berwarna abu- abu.
“Gambar- gambarnya bagus.” Kalimat itu keluar dari mulut Malik begitu saja saat ia melihat wanita itu tengah membolak- balik buku sketsanya sehingga ia bisa melihat gambar- gambar di sana.
Lula menoleh lalu tersenyum. Ia kembali membolak- balik lembar buku sketsanya dengan pelan agar laki- laki itu bisa melihat hasil karyanya lebih jelas.
“Dulu nyokap sebel banget kalau lihat aku gambar, padahal nilai akademik jeblok semua.” Cerita Lula, “sekarang aku malah dapat duit dari gambar.” Lula kembali melakukan kontak mata dengan Malik yang menatapnya dengan hangat.
“Kalau aku pesan lukisan sama kamu, bisa?” tanya Malik.
“Lukisan apa?”
“Boleh pemadangan atau abstrak.” Jawab Malik singkat.
Lula tampak berpikir lalu berkata, “Aku dulu pernah ambil kursus melukis, tapi udah lama banget. Kayaknya nggak bisa.” Kata Lula.
Sejak lulus SMA, ia memang sempat bingung ingin mengambil jurusan seni grafis atau desain grafis. Ia pikir ia menyukai keduanya. Namun setelah berpikir panjang dan menelaah prospek kedepannya, ia akhirnya memilih desain grafis.
Namun keduanya memang tidak bisa dipisahkan, meski menggunakan media, bahan dan teknik yang berbeda. Dalam perjalanannya, Lula sempat mengambil kursus melukis selama beberapa tahun.
Namun Lula akhirnya memiliki untuk fokus pada desain grafis dalam perjalanan karirnya sehingga ia tak pernah lagi berhubungan dengan kanvas dan cat air.
Tapi, menolak uang sama sekali bukan dirinya. Ia tampak berpikir lalu menatap Malik yang masih menatapnya. Laki- laki itu sepertinya tahu bahwa ia punya penawaran untuknya.
“Gimana kalau kamu kasih waktu.” Kata Lula akhirnya. “selain list orderan masih banyak, ngelukis butuh waktu lebih lama dibanding yang biasa.” Katanya lagi.
Malik mengangguk lalu tersenyum, “Aku pesan empat.” Kata Malik.
Mata Lula membulat. “Empat?” ulang Lula. Ia melihat laki- laki di depannya mengangguk. “kamu tahu meski aku udah lama nggak melukis, aku tetap akan kasih harga mahal.” Lanjut Lula. Ia mengisyaratkan bahwa jika laki- laki itu punya cukup uang banyak, seharusnya laki laki itu memilih lukisan dari seorang professional.
“Nggak masalah.” Kata Malik dengan enteng seakan tak masalah berapapun harga yang di patok wanita itu untuk lukisannya.
Keduanya akhirnya membicarakan mengenai lukisan pesanan Malik lebih detail. Seperti apa gambar yang pria itu inginkan, juga ukuran kanvasnya. Sampai akhirnya mereka membicarakan banyak hal.
Malik tahu bahwa terlibat dalam sebuah pekerjaan dengan wanita adalah cara terbaik untuk mengnalnya lebih dekat. Dan kini, ia selangkah lebih maju.
TBC
LalunaKia