CHAPTER DUA BELAS

1887 Kata
            Pagi ini Vano sarapan seorang diri. Saat ia bangun dan melongok ke kamar sebelahnya, kedua wanita itu masih tertidur pulas dan ia tak berniat membangunkan keduanya. Ia akhirnya pergi ke dapur dan memasak sarapan seperti biasa. Pagi ini ia memasak sup ayam. Berharap sup ayam bisa menghangatkan kedua perut wanita itu. Ia juga membuat telur balado sebagai lauk.             Setelah menghabiskan isi piringnya, ia pergi keluar rumah untuk menyiram tanaman dan rumput di halaman. Setelah selesai membuat semua tanaman itu basah, ia kembali ke dalam rumah dan berjalan mendekati kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan terpaku. Di depan lemari, ia melihat Aileen baru saja memakai dress floral berwarna kuning. Sekilas ia bisa melihat bagian belakang tubuh wanita itu hanya berbalut dalamaan sebelum akhirnya tertutup sempurna oleh dress yang baru saja dipakainya.             “Maaf, Kak.” Vano sedikit berteriak karena panik lalu menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan bunyi berdebam keras.             Aileen berdecak saat menyadari bahwa si pemilik kamar masih ada di rumah itu. Saat selesai mandi dan keluar dari kamar, ia melongok ke dapur dan tak menemukan Vano di sana, juga di dalam kamarnya. Ia berpikir bahwa laki- laki itu sudah berangkat ke kantor.             Di sofa ruang tamu, Vano berdecak dan merutuki kebodohannya. Ia tahu ia tak sepenuhnya salah. Namun ia tak menyangka akan mengalami kejadian itu. Ia mulai berpikir bahwa Aileen mungkin akan marah padanya atau malah hubungan keduanya akan canggung karena kejadian yang baru saja terjadi.             Sebelah kaki laki- laki itu bergerak gelisah. Matanya berkali- kali melirik pintu kamarnya yang belum juga terbuka.             “Kak… Maaf… Vano nggak tahu…” laki- laki itu tak menyelesaikan kalimatnya saat melihat Aileen terkekeh.             “Nggak… nggak… gue yang salah.” Kata wanita itu. Ia berusaha menahan geli saat melihat respon Vano yang berlebihan. “gue pikir lo udah berangkat ke kantor.” Kata wanita itu sambil berjalan ke arah dapur.             “Vano tadi nyiram tanaman di depan.” Kata laki- laki itu saat melihat Aileen duduk di depan meja makan dan menuangkan air teko ke gelas kosong dan menyesapnya pelan.             Aileen mengangguk mendengar jawaban Vano. Ia menoleh dan melihat laki- laki itu yang masih berdiri di ambang pintu dapur. “Gue boleh nebeng, nggak?” tanya wanita itu.             Vano terdiam lalu teringat bahwa semalam ia membawa pulang wanita itu dengan mobilnya. Mobil wanita itu masih tertinggal di hotel.             “Boleh, Kak. Kakak sarapan aja dulu, Vano mau siap- siap.” Kata laki- laki itu. Aileen mengangguk lalu melihat laki- laki itu menghilang dari pandangannya.   ***               Lula keluar dari kamarnya dengan kaos putih oversize dan celana pendek denim yang mengekspos sebagian pahanya. Ia memasukkan bagian depan kaosnya ke dalam celana. Rambutnya yang baru saja ia keringkan dengan pengering rambut ia kuncir tinggi- tinggi.             Ia langsung pergi ke dapur dan menyantap makanan yang sudah di masak Vano tadi pagi. Ia tak tahu jam berapa Aileen bangun dan pergi. Saat ia bangun hampir pukul sepuluh, wanita itu sudah tak ada di sebelahnya.             Setelah menyelesaikan sarapannya, ia kembali ke ruang tamu dan mengambil ransel di atas sofa dan memanggul di pundaknya tanpa memeriksa isinya. Ia tak membuka kembali ranselnya setelah meyelesaikan pekerjaannya di Daily kemarin sehingga ia yakin tak akan ada yang tertinggal.             Ia pergi keluar rumah dan melihat matahari yang bersinar terik. Ia kembali masuk untuk mengambil topi berwarna hitam dari ruang tamu lalu memesan ojek online untuk membawanya ke Daily. Dalam lima menit, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumahnya yang tak memiliki gerbang. Tak hanya rumahnya, semua rumah di komplek itu di desain tak menggunakan gerbang dan tidak boleh menambahkannya. Komplek itu cukup aman dengan one gate system dan CCTV di beberapa titik. Juga security yang berjaga bergantian selama dua puluh empat jam.             “Mbak, Lula…” suara itu membuat Lula yang sedang fokus pada ponselnya menengadah dan melihat salah satu tetangganya berhenti di depan rumahnya dengan sebuah bungkusan plastik di tangannya. “baru kelihatan, nih.” Katanya lagi.             Lula mengulas senyum tipis, “iya. Dari mana bu?” tanya Lula pada wanita paruh baya dua anak yang memakai kaos dan celana kulot panjang berwarna hitam itu.             “Dari toko, beli gula.” Jawab wanita itu, sebelah tangannya menunjuk ke satu arah menunjuk di mana toko itu berada, padahal Lula pun tahu. “Revano di sini, ya, sekarang?” tanyanya lagi.             “Iya, Bu. Di mutasi ke Jakarta.” Jawab Lula. Kali ini ia berdiri dari duduknya.             “Udah gede, ya. Ganteng.” Puji wanita itu yang langsung membuat Lula tertawa kecil. “kerja di mana dia?”             “Di sudirman, Bu. Di bank.” Jawab Lula.             “Wah. Keren.” Puji wanita itu lagi. “mbak Lula masih di rumah aja?” tanya wanita itu.             Lula tahu akan ke mana arah pertanyaan itu. Ia menyadari bahwa tak semua orang mengenal dengan baik profesinya sebagai desain grafis. Ada orang- orang yang menganggap bahwa bekerja harusnya berangkat pagi dan pulang sore, tak sepertinya yang bisa berhari- hari tak terlihat keluar rumah atau keluar saat siang atau sore hari.             Lula mengulas senyum dan baru hendak membuka mulut saat ojek pesanannya berhenti di belakang wanita itu. Ia berjalan keluar rumah dan mendekati wanita itu.             “Udah nggak jaman, Bu, kerja di kantor.” Kata Lula saat ia mendekat dengan senyum ramah. “duluan, ya, Bu.” Kata Lula sambil naik ke atas motor setelah memastikan plat nomor kendaraan roda dua itu sama dengan plat dalam aplikasi.   ***                Lula tak berhenti berdecak selama perjalanan. Ia tak habis pikir bahwa pertanyaan itu akan kembali keluar dari mulut tetangga ketika mereka bertemu. Pertanyaan yang sudah tak terhitung sudah berapa kali wanita itu pertanyakan padanya. Lula bahkan sudah lelah menjelaskan seperti apa pekerjaannya dan bagaimana cara ia bekerja dan menghasilkan uang. Seperti katanya, tak semua memahami bahwa jaman sekarang bekerja tak hanya identik dengan berangkat pagi dan pulang sore. Ada banyak pekerjaan baru muncul setiap tahunnya. Pekerjaan- pekerjaan yang membuat mereka tak perlu ke kantor. Pekerjaan- pekerjaan yang bisa dilakukan di mana saja. Sekarang semua hal bisa menjadi ladang uang jika orang bisa mencari peluang.             Motor itu berhenti di depan Daily resto and coworking spaces. Ia turun dari motor dan menyerahkan sejumlah uang pada pengemudi roda dua itu dan berterima kasih sebelum akhirnya berjalan pelan masuk ke dalam resto.             Ia langsung menuju lift di ujung ruangan. Menunggu sebentar hingga pintu di depannya terbuka. Ia menekan angka dua dan membiarkan kotak besi itu membawanya ke tempat biasa. Bunyi deting terdengar dan tak lama pintu di depannya terbuka. Lula keluar dari mendekat menuju ruangan besar yang hari itu tak seramai biasanya. Ada cukup banyak meja- meja kosong.             Lula bergerak ke ujung ruangan tempat meja berisi beberapa snack, cup, kopi, teh dan dispenser berada.             Ia mengambil satu cup kosong dan mengisinya dengan satu sachet kopi yang ada di kotak penyimpanan lalu menaruhnya di bawah kran dispenser. Sebelah tangannya menekan tombol di mesin itu hingga air panas keluar dan mengisi wadah berisi kopi bubuknya. Saat cup itu hampir penuh, Lula menarik tangannya dan mengaduknya dengan sendok plastik yang tersedia.             Lula memindai sekeliling hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah meja yang dikelilingi partisi. Ia mendekat dan menaruh cup kopinya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengempaskan bokongnya di kursi.             Ia mengeluarkan peralatannya lalu meniup kopinya yang asapnya masih mengepul dan menyesapnya pelan sebelum memulai pekerjaannya.             “Lula…” suara itu membuat Lula menengadah dan mencari sumber suara. Malik tersenyum dan berjalan cepat lalu duduk di sebelahnya.             “Kamu setiap hari tuh ke sini, ya?” tanya Lula saat Malik duduk di sebelahnya.             “Iya.” Jawab laki- laki itu.             Lula tak membuka obrolan lagi. Ia mulai mengecek kotak surat elektroniknya sedangkan Malik mengeluarkan laptop dari dalam ranselnya.             Selama setengah jam, Lula membalas email- email yang masuk. Beberapa diantaranya yang sudah pernah memakai jasanya dan akan memakai jasanya kembali, sisanya bertanya mengenai range harga dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permintaannya.              Untuk pekerjaan- pekerjaan yang sudah pasti, ia mencatatnya di list dengan detail agar tak terlewat. Setelah selesai dengan emailnya. Ia membuka aplikasi pada laptopnya dan memulai pekerjaannya. Pekerjaan yang ia lakukan setiap hari dan itu- itu saja.             Lula juga pernah merasakan bosan. Jika ia sudah mendapat tanda- tanda bahwa ia jenuh dan ingin beristirahat dengan cukup, ia bisanya menolak pesanan yang masuk. Ia hanya mengerjakan sisa pesanan yang sudah terlanjur ia ambil. Ada saat di mana- mana ia tak punya inspirasi apapun dan kegiatan yang biasa ia lakukan untuk mengembalikan moodnya tak lagi berhasil. Biasanya itu adalah tanda bahwa ia sudah cukup lama tak mengambil libur. Bisa dibayangkan, ia bekerja tujuh hari dalam seminggu dan setiap harinya kadang melebihi jam orang kantoran biasanya.             Lula selalu berpikir bahwa ia tak punya kegiatan yang biasa ia lakukan di akhir pekan. Ia tak punya pacar. Hanya Aileen yang kadang menemaninya. Mereka terkadang pergi keluar kota untuk liburan, tapi Lula tak pernah benar- benar meninggalkan pekerjaannya.  Ia selalu merasa bahwa waktunya terlalu banyak jika tak ia gunakan untuk bekerja.             “Kamu memang kerja sendiri?” tanya Lula pada Malik yang sedang membaca sebuah dokumen di tangannya.             “Eh? Iya.” Jawab laki- laki itu. Hatinya tiba- tiba mengembang. Merasa senang karena wanita itu membuka obrolan terlebih dahulu.             Lula mengangguk lalu meneguk isi cupnya hingga tersisa setengah.             “Hhhmm… kalau aku ajak kamu keluar akhir pekan ini, bisa?” Malik tak tahu setan apa yang merasukinya hingga ia bisa mengeluarkan pertanyaan itu. Ia mungkin hanya berpikir bahwa ia harus melakukannya. Ia tidak bisa terus menerus memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Ia harus terus bergerak agar bisa dekat dengan wanita itu.             “Nggak bisa.” Jawab Lula sambil mengulas senyum tipis.             “Kalau akhir pekan minggu depan?” tanyanya lagi. Sudah kepalang tanggung. Lain kali ia belum tentu seberani ini.             “Nggak bisa juga.” Jawab Lula. Ia melihat Malik menatapnya dengan seraut wajah bingung. “kerjaanku lagi banyak.” Kata Lula lagi yang ia harap bisa membuat laki- laki itu mengerti. Lula memutus kontak lalu kembali fokus pada layar komputer jinjingnya.             Malik mengangguk tanda mengerti. Melihat bagaimana wanita itu bekerja, ia percaya dengan apa yang dikatakan wanita di sampingnya. Ia tahu bahwa menjadi pekerja lepas membuat wanita itu tak seperti pekerja kantoran yang hanya bekerja dari pagi sampai sore atau malam. Pekerjaanya memang tak terikat waktu, namun itu membuatnya bisa bekerja lebih dari pada pekerja kantoran biasanya.             Lula tak heran dengan sikap- sikap seperti itu. Ia sudah mengalaminya berkali- kali. Sering bertemu di Daily, lalu kenalan, menjadi dekat hingga akhirnya pergi berdua sesekali. Lula tak memungkiri bahwa ia memiliki banyak teman yang ia kenal di tempat itu. Namun tempat itu bukan kantor atau lembaga pembelajaran. Mereka yang datang ke sana adalah orang- orang yang berbeda setiap harinya. Bisa dibilang hanya dirinya yang masih setia di tempat itu. Teman- temannya yang lainnya ada yang sudah mencoba tempat lainnya, atau para pekerja start up sudah mempunyai gedungnya sendiri, atau teman- teman freelancernya sudah bekerja di sebuah perusahaan yang membuat mereka tak lagi ke tempat itu. Hanya Lula yang masih tertinggal di sana dan tampak nyaman dengan keadaannya.             Lula sedang tak ingin melakukannya. Ia sedang tak ingin dekat ataupun terlibat romansa dengan siapapun. Ia ingin fokus pada pekerjaan dan kehidupannya sendiri. Ia ingin lebih mengenal dirinya dan membahagiakan dirinya sendiri.             Lula penah mengalami hari- hari yang berat selepas putus dengan pacar terakhirnya. Ia telah berjuang untuk bangkit dan berharap ia tak pernah merasakan itu lagi. Ia tak trauma, hanya sedang menikmati hidupnya selepas hari- hari terburuknya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN