“Nyokap gue ngajak lo makan malam besok.” Kata Aileen saat mereka bertiga masih mengelilingi rak di supermarket itu. Ketiganya sedang berada di rak- rak makanan ringan.
“Nyokap lo kangen sama gue.” Lula terkekeh sambil mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan menaruhnya di troli.
“Vano nggak di ajak, Kak?” tanya Vano yang berada di samping keduanya.
Aileen menoleh dan menatap Vano, “anak ganteng mau ikut juga? Boleh… besok yaa…”
Ketiganya melanjutkan perjalanan. Mereka sampai ke area buah dan sayur. Sementara Lula memilih- milih sayur, Vano bergerak untuk mengambil beberapa kantong buah.
“Lo nggak malam mingguan sama Risa?” tanya Aileen saat ia berdiri di samping Vano di depan rak buah jambu kristal. Sebelah tangan laki- laki itu tampak lihai memilih- milih lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.
“Udah janjian duluan sama Kak Lula.” jawab Vano.
“Berarti Risa ngajakin? Nggak ngomel lo malah pergi sama Lula?” tanya Aileen dengan nada penasaran. Sebelah tangannya ikut memilih- milih buah di dalam keranjang dan memasukkannya ke dalam plastik.
“Yaaa gitu…” jawab Vano sambil tersenyum kecil.
Bergerak dari area buah dan sayur, ketiganya pergi ke lantai bawah dengan travelator dan membeli beberapa kebutuhkan rumah.
Setelah memastikan semua keperluan sudah ada di troli, mereka bertiga pergi ke kasir. Vano mendorong troli yang sudah hampir penuh sementara Lula dan Aileen sibuk mengoborol dan tertawa, entah apa yang mereka bicarakan.
Lula dan Aileen keluar dari supermarket lebih dahulu sementara Vano mengantre di kasir. Kedua wanita itu kini sibuk berpikir akan makan di mana setelah ini.
“Tante Indah…” kata Aileen saat ia melihat seorang wanita yang dikenalnya baru saja keluar dari kasir. Wanita itu tersenyum lalu mendekati keduanya.
“Eh… Malik… kok beda?” kata Aileen lagi saat menyadari bahwa laki- laki yang bersama wanita itu adalah Malik yang hari ini terlihat sedikit berbeda. Laki- laki itu mendorong troli berisi plastik belanjaannya.
“Kalian habis belanja juga?” tanya Indah setelah menjabat tangan keduanya.
“Iya, Tan. Habis nganterin Lula belanja.” Aileen menjawab.
“Lho… mana belanjaannya?” tanya Indah saat melihat kedua tangan wanita itu kosong.
“Lagi dibayar di kasir, Tan.” Aileen menunjuk sosok Vano yang sudah sampai di kasir.
“Dia…”
“Adiknya Lula.” jawab Aileen langsung.
“Oh…” hanya kata itu yang keluar dari mulut Indah.
Malik berkali- kali membuang pandang dari Lula. Seperti kata Bagas, ia tak boleh terlihat begitu tertarik pada wanita itu.
“Anaknya hari ini ganteng banget, Tan?” tanya Aileen dengan nada bercanda sambil melirik ke arah Malik yang langsung menatapnya.
Indah hanya membalas dengan senyum dan bertanya apa yang akan dilakukan kedua wanita itu selanjutnya. Setelah tahu mereka punya tujuan yang sama, Indah meminta izin bergabung dengan ketiganya. Aileen menyambut hal itu dengan sangat baik. Ia bahkan tak berbicara pada Lula dan Vano terlebih dahulu dan langsung mengajak Indah dan Malik untuk bergabung bersamanya.
Mereka berlima akhirnya memutuskan untuk pergi ke restoran shabu and grill. Indah, Lula dan Aileen jalan lebih dulu dan asik mengobrol sementara Vano dan Malik mengekori sambil mendorong troli masing- masing.
Seorang pelayan berseragam menyambut mereka saat mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan itu membawa mereka ke salah satu meja kosong yang sesuai dengan jumlah orang.
“Tan, anaknya cuma satu?” tanya Aileen saat mereka sudah duduk di depan meja panjang. Seorang pelayan baru saja mencatat pesanan minuman kelimanya.
“Iya. Malik anak tunggal. Kenapa?” tanya Indah. Ia tak hentinya tersenyum mendengar celetukan Aileen yang baginya lucu. Semenata Lula tampak tak secerewet Aileen.
“Kali gitu ada lagi.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aileen.
Mereka makan seperti sebuah keluarga. Indah tampak begitu mudah berbaur dengan Lula dan Aileen yang lebih muda darinya. Hal itu juga karena Lula dan Aileen tampak tak canggung namun juga tetap menghormati wanita itu.
Ketiga wanita itu tampak menguasai pembicaraan sementara Vano dan Malik hanya tertawa dan menimpali sesekali.
Malik sesekali melirik Lulah yang hari ini berpakaian santai. Ia menyukai gaya rambut wanita itu yang di gulung dengan asal sehingga menjatuhkan beberapa anak rambut di sisi samping wajahnya.
Malik menatap Lula setiap kali ia punya kesempatan. Ia tahu bahwa ia harus memasok senyum wanita itu sebanyak yang ia bisa. Lain kali, ia belum tentu ia bisa melihat senyum wanita itu. Sekali lagi, ia ingat perkataan Bagas bahwa ia tak boleh terlalu dekat dengan wanita itu untuk sementara waktu.
“Lula sama Aileen ini, apa sudah punya pacar?” tanya Indah di sela- sela makan. Keduanya kompak menggeleng. “kalau Vano?” tanya Indah lagi.
“Sudah, Tante.”
“Kalau Malik gimana?” kali ini Aileen yang bertanya. Semua mata kini menghujam ke arah Malik yang langsung menggeleng pelan. Aileen mengulum senyum, tak tahan dengan wajah polos laki- laki itu. Sedangkan Lula lebih memilih wajah datar. Ia tak ingin merasa terlalu dekat dengan laki- laki itu.
“Anaknya ganteng, Tan. Kenapa belum punya pacar?” tanya Aileen. Malik menatap ke arah Aileen. Tak percaya dengan pilihan kata yang dipakai wanita itu untuk menggambarkannya. Kalimat itu terdengar seperti kalimat godaan dibanding kalimat pertanyaan.
Vano mengulum senyum melihat respon Malik yang berlebihan. Laki- laki itu sepertinya masih belum mengenal Aileen dengan baik sehingga masih kerap tak percaya dengan pemilihan kata Aileen yang memang kadang terkesan blak- blakan.
“Nggak tahu juga. Malik susah banget nyangkut sama perempuan.” Jawab Indah singkat. Malik menyenggol lengan ibunya. Meminta ibunya untuk tak lagi menceritakan mengenai dirinya. Ia tak mau cerita hidupnya menjadi konsumsi publik.
Setelah selesai dengan kegiatannya makannya, Aileen dan Indah pamit untuk ke kamar mandi sebentar. Keduanya meninggalkan Lula, Malik dan Vano yang tengah mengabiskan isi gelas masing- masing.
Suara dering ponsel terdengar. Vano merogoh saku celananya, lalu berdiri menjauhi meja untuk mengangkat telepon.
Suasana tarasa sangat canggung sepeninggal Vano. Malik berusaha melirik sekeliling, sedang Lula asik pada poselnya. Keduanya terdiam. Tak ada yang membuka pembicaraan. Keduanya seperti dua orang yang tak saling mengenal yang kebetulan berada dalam satu meja yang sama dan saling berhadapan.
Kecanggungan itu sangat menyiksa Malik. Ia ingin membuka pembicaraan namun tak tahu apa yang harus ia bicarakan atau ia tanyakan pada wanita itu.
“Mau tambah minumnya?” tanya Malik saat ia mendengar suara yang dihasilkan oleh sedotan yang menyesap gelas yang sudah kosong milik Lula. Ia melihat wanita itu langsung menggeleng.
“Boleh nggak aku tanya progres lukisan?” tanya Malik dengan nada hati- hati saat ia tak kuat lagi berdiam lebih lama. Ia tahu tahu saling berdiam diri bukan pilihan yang tepat. Ia hanya perlu membuka obrolan yang tak menyangkut kehidupan pribadi dan tak berlebihan.
Lula melepas pandangannya dari layar pipih di tangannya. Ia menatap ke arah Malik dan berkata, “Udah selesai dua.” Jawabnya. Ia lalu mengutak atik ponselnya dan menunjukkan lukisan yang ia buat yang ia abadikan potretnya.
“Bagus…” puji laki- laki itu. Ia memerhatikan potret lukisan itu di dalam galeri ponsel Lula. Ia sudah berpikir bahwa lukisan itu akan sangat indah jika ia letakkan di ruang tamu rumahnya.
Lula mengambil gawainya dari tangan Malik dan mengulas senyum tipis sebagai ucapan terima kasih atas pujian laki- laki itu.
Malik belum sempat kembali membuka mulutnya karena ibunya, Aileen dan Vano kembali ke meja secara bersamaan.
“Pulang, La. Vano udah dicariin Risa, tuh.” Kata Aileen. Lula berdecak lalu melirik adiknya yang hanya mengulas senyum tipis.
Malik berdiri lalu mendekati kasir dan menyelesaikan pembayaran. Setelah kasir mengembalikan kartu dan memberikan bill, ia kembali ke meja. Semua sudah bersiap- siap.
Aileen mengulurkan tangannya dan meminta nota itu pada Malik untuk membagi totalnya.
“Nggak usah… nggak apa- apa. Sekali- kali gue yang traktir.” Kata Laki- laki itu. Aileen menatap Lula dan Vano secara bergantian lalu memutuskan untuk berterima kasih, begitu juga dengan Lula dan Vano.
***
“Lula biar bareng gue aja deh kalau lo buru- buru.” Kata Aileen saat mereka baru saja keluar dari lift dan kini berjalan diparkiran untuk mencari mobil mereka yang terparkir di sana.
“Beneran, Kak?” tanya Vano. Sebenarnya ia merasa tak enak. Namun setelah melihat Aileen dan Lula tampak tak keberatan, ia akhirnya menyetujuinya.
“Iya. Gue sekalian mau ke rumah Lula dulu.”
Vanoa akhirnya menyerahkan trolinya pada Lula dan meminta maaf pada kakaknya karena tak bisa mengantarnya pulang lebih dulu. Lula hanya berdecak kesal, namun tak memarahi laki- laki itu. Ia melihat laki- laki itu pergi ke arah berlawanan. Keduanya menatap punggung tegap Vano hingga menghilang dari pandangan mereka.
***
Vano menlajukan mobilnya ke sebuah kafe di bilangan Pejaten. Ia berusaha sampai di sana secepat mungkin. Ia menekan pedal gas dalam- dalam. Berusaha menyalip di beberapa kesempatan karena tak ingin membuat Risa menunggu terlalu lama. Ia tahu gadis itu paling benci di suruh menunggu. Ia tidak punya pikiran lain selain sampai di tempat itu secepatnya.
Suara klakson terdengar menyemprotnya yang baru saja berhasil menyalip sebuah mobil. Ia mengembuskan napas lega karena badan mobilnya nyaris saja menyerempet mobil itu. Matanya melirik ponselnya yang ia geletakkan di kursi sebelah. Ponsel itu sempat berbunyi tanpa henti selama beberapa menit saat mobil Vano keluar dari mall. Ia padahal sudah bilang pada gadis itu bahwa ia dalam perjalanan. Namun gadis itu terus memberondongnya dengan panggilan yang membuatnya takut. Ia tahu bahwa jika ia mengangkat panggilan itu, ia hanya akan mendengar amarah dan makian Risa. Kini ponselnya tampak tenang, namun tak juga menanangkan hatinya.
Ia terus melajukan mobil secepat yang ia bisa hingga akhirnya sampai di tempat tujuannya. Ia memelankan mobilnya saat memasuki parkiran kafe hingga akhirnya berhasil memakirkan mobilnya di parkiran yang masih tersedia.
Ia mengambil ponselnya dalam satu sentakan lalu menghubungi Risa. Namun panggilan itu tak terjawab. Ia mencoba menghubungi lagi dan hasilnya sana. Ia akhirnya menoleh ke sekeliling. Kafe itu tampak ramai, beberapa bunga papan bertuliskan ucapan selamat atas pembukaan kafe itu terlihat di pinggir dekat parkiran.
Dari dalam mobilnya, ia bisa melihat ke dalam kafe yang di desain dengan dinding kaca transparan yang menyelimutinya. Suasana di dalam kafe itu ramai, ia bisa mendengar riuh dari dalam saat ia keluar dari mobil. Risa mungkin terlalu asik mengobrol dengan teman- temannya sehingga tak mengangkat panggilannya. Ia tidak punya pilihan selain pergi ke dalam dan mencari gadis itu.
Kakinya akhirnya melangkah dengan mantap ke pintu transparan yang satu daun pintunya terbuka. Sepertinya semua yang ada di dalam adalah teman- teman pemilik kafe karena semua yang ada di sana tampak berbaur dengan akrab.
Vano masuk ke dalam kafe itu dan memindai sekeliling. Ia berusaha mencari Risa di antara krumunan orang yang memadati kafe itu. Ia masih menatap tiap meja satu persatu hingga akhirnya seorang pria dengan kemeja pendek dan celana jeans mendekatinya dan bertanya apa ia butuh bantuan. Laki- laki itu menyelipkan rok0knya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Saya cari pacar saya, Risa.” Kata Vano.
“Oh… pacaranya Risa, ya?” kata laki- laki itu. Vano mengangguk dan menjabat tangan yang laki- laki itu ulurkan padanya. “Risanya udah pulang. Tadi bareng sama temannya. Katanya lo kelamaan jemputnya.” Jawab laki- laki itu.
Mulut Vano ternganga. Ia terdiam untuk beberapa saat karena tak mengira jawaban itu yang akan ia dengar.
“Daru dulu tuh anak memang nggak berubah. Nggak sabaran banget.” Kata laki- laki itu lalu menyesap lintingan nikotinnya. Ia menggeleng pelan, seperti sudah sangat tahu sifat Risa yang hingga tak berubah.
Vano akhirnya pamit dan pergi dari sana. Ia berjalan kembali menghampiri mobilnya sambil terus mencoba menghubungi Risa namun tak juga mendapat jawaban.
Putus asa karena tak juga bsia mendengar suara di ujung sambungan, Vano masuk ke dalam mobil dan melanjukan mobilnya menuju kediaman Risa.
Ia sampai di rumah sederhana itu kurang dari satu jam. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah lalu keluar dan mendekati gerbang. Dengan sebelah tangannya, ia membuka gerbang yang tidak terkunci itu dan mendekati pintu rumah.
Ia perlu mengetuk hingga lima kali hingga akhirnya salah satu daun pintu itu terbuka dan memunculkan sosok Risa yang sudah berpakaian santai.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Risa tanpa basa- basi. Ia bahkan tak repot- repot meminta maaf karena telah meninggalkan Vano yang sedang dalam perjalanan menjemputnya.
Vano terdiam sesaat. Ia menatap Risa yang wajahnya sedingin es.
“Kamu kenapa pulang duluan? Kan aku udah bilang kalau aku dalam perjalanan.” kata Vano. Nada suaranya pelan namun penuh tuntutan. Risa berjalan dan mendorong sedikit bahu laki- laki itu untuk bisa keluar dari rumah.
Vano membalik badan lalu berdiri di depan Risa.
“Kamu kelamaan, Van.” Jawab Risa. “kamu kan tahu aku nggak suka nunggu lama- lama.” Kata gadis itu.
“Kamu nunggu nggak sampai satu jam, Ris.” Kata Vano. “kamu tahu nggak aku bawa mobil udah kayak orang kesetanan cuma biar bisa secepatnya sampai di sana.” laki- laki itu menjelaskan apa saja yang ia alami dalam perjalanan.
Namun seperti biasa, Risa tak mau mendengar semua penjelasan itu. Semua yang keluar dari mulut Vano hanya masuk ke telinga kanannya dan keluar lewat kiri.
“Kamu mikir nggak kalau aku bisa kenapa- kenapa di jalan cuma karena nurutin kamu yang nggak mau nunggu lama.” Kata Vano. “kamu pernah mikirin perasaan aku nggak?” lanjutnya. “kamu tuh dari awal cuma mikirin perasaan kamu doang. Kamu yang terus- terusan minta dimengerti. Kamu nggak tahu kalau aku berdarah- darah ngikutin semua kemauan kamu.”
Risa memejamkan matanya karena tak tahan mendengar semua kenyataan yang keluar dari mulut Vano. Kedua mata gadis itu terbuka dan menyalang tajam, bibirnya bergetar, hingga akhirnya sebelah tangannya melayang menyentuh pipi laki- laki itu. Kali ini gadis itu mengeluarkan semua tanaganya karena pipi laki- laki itu langsung terlihat memerah. Vano terdiam. Tamparan itu menghantikan semua unek- unek yang sedang ia keluarkan mengenai gadis itu. Ia sudah cukup lama bersabar dan kali ini kesabarannya habis.
“Kamu nggak berhak ngomong kayak itu tentang aku.” Kata Risa. Ia melihat Vano yang masih mengusap sebelah pipinya yang baru saja ia tampar.
Vano tersenyum sinis, “kamu pikir kamu berhak nampar aku.” Kata Vano. Nadanya rendah namun sarat tekanan. “orangtua aku yang ngerawat dan ngebesarin aku aja nggak pernah nampar aku. Kamu pikir kamu siapa?” kali ini mata laki- laki itu berkilat marah.
“Makasih… kamu bikin aku sadar kalau aku berhak dapat yang lebih baik dari kamu.” Kata Vano. “kita cukup sampai di sini aja.”
Vano pergi dari sana. Meninggalkan Risa yang menatapnya dengan bingung. Tubuh gadis itu menegang, Sebulir airmatanya jatuh ke pipinya hingga akhirnya ia terisak pelan. Gadis itu jatuh terduduk dan memeluk lututnya sendiri. Ia menggeleng pelan. Bukan ini yang ia inginkan. Ia tidak pernah berpikir untuk putus dari laki- laki itu. Ia tahu bahwa ia tidak bisa kehilangan laki- laki itu. Dalam mimpinya sekalipun, ia tidak pernah berpikir untuk berpisah. Ia harus mendapatkan laki- laki itu kembali. Bagaimanapun caranya.
TBC
LalunaKia