CHAPTER TUJUH

2230 Kata
            Lula menuruni tangga dan langsung melihat Aileen di salah satu meja saat ia sampai di lantai satu. Ia melihat Aileen melambaikan tangan dan kakinya melangkah mendekati meja yang di tempati sahabatnya.              “Lo abis dikejar- kejar anjiing apa gimana?” tanya Lula saat melihat wanita itu memakai celana jeans yang sobek- sobek di berbagai sisi bagian depannya. Lula tetap mempertanyakan itu kendati sudah sangat mengetahui selera fashion sahabatnya.             “Siyalan.” Keluh Aileen saat Lula duduk di depannya. “anjiing mah jinak kali sama gue.” Kata Aileen.             “Buaya yang belum jinak, ya?” tanya Lula sambil tertawa. Tak bisa menyembunyikan nada geli dalam kalimatnya.             Lula tahu seberapa pelik kisah cinta yang kerap dihadapi Aileen. Bukan sekali dua kali wanita itu bertemu dengan pria yang hanya memanfaatkannya. Yang terakhir, wanita itu bahkan diporoti uangnya dan di selingkuhi. Wanita itu dibodohi habis- habisan oleh mantan pacar terakhirnya.             Sampai saat ini, wanita itu masih betah melajang karena trauma. Lula tahu seberapa besar ia mencinta mantanya namun pria itu malah menghidupi selingkuhannya dengan uangnya. Tak hanya Aileen, ia sebagai sahabatnya saja ikut sakit hati atas apa yang dilakukan pria itu.             “Buaya bukan untuk dijinakkan. Tapi untuk dimusnahkan.” Kata Aileen yang langsung membuat Lula tertawa.             Tak lama pesanan mereka sampai di meja. Mereka menikmati makan siang saat resto itu mulai ramai. Orang- orang dari luar berbondong- bondong masuk ke dalam resto dan langsung menuju meja kasir untuk memesan. Meja- meja yang tadinya kosong mulai terisi. Pelayan hilir mudik. Sibuk mengantarkan pesanan dan membereskan meja yang baru saja ditinggalkan.             “Kerjaan lo masih banyak?” tanya Aileen di tengah- tengah makannya. “anterin gue ke salon, yuk, nanti sore.” Pintanya.             “Mau ngapain lagi?” tanya Lula setelah ia berhasil mengosongkan isi mulutnya.             “Mau ngecat rambut.” Jawab Aileen cepat. Ia melihat Lula mengangguk di depannya. “gue udah booking untuk dua orang sore ini.”             “Yaudah.” Kata Lula. Mereka berdua menyelesaikan makannya hingga isi piring keduanya habis.             “Lo balik lagi ke kantor?” tanya Lula saat ia menyesap minumannya melalui sedotan yang mencuat dari dalam gelas.             “Nggak ah, gue kerja di sini aja.” Jawab Aileen. Setelah menyelesaikan kegiatan makan siangnya. Mereka berdua kembali ke lantai dua. Sama seperti Lula, Aileen juga menjadi member di tempat itu sehingga punya akses dua puluh empat jam di sana.             “Gue ke toilet dulu, ya.” Kata Lula. Mempersilakan Aileen mencari meja sementara ia berbelok ke arah toilet.             Aileen memindai sekeliling, menatap meja- meja yang masih kosong. Langkah kaki membawanya ke sebuah meja panjang tak jauh dari jendela. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Di depan seorang laki- laki yang tengah sibuk dengan dokumen dan komputer jinjingnya.             “Hai…” sapa Aileen ramah saat laki- laki di depannya menengadahkan kepala dan menatapnya.             “Hai…” laki- laki itu membalas sapaan Aileen dan menarik garis bibirnya tak kalah ramah.             Aileen ingat laki- laki itu. Seperti halnya laki- laki itu mengingatnya. Aileen menatap laki- laki di depannya tampak menatap sekeliling. Seperti sedang mencari keberadaan seseorang.             “Nyari Lula?” tanya Aileen dengan blak- blakan, membuat laki- laki di depannya terkejut.             “Lula?” laki- laki itu mengulang nama yang Aileen sebut.             “Iya, Lula. Sahabat gue. Yang kemarin duduk di sebelah lo.” Jelas Aileen.             “Oh… Lula…” lirih laki- laki itu. Saat melihat Aileen tersenyum jahil padanya, ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan. “eh, nggak, kok… nggak nyari dia.” Ralat laki- laki itu. Kegugupannya yang tidak bisa disembunyikan membuat Aileen terkekeh ringan.                    Laki- laki itu sudah mengembalikan fokusnya saat Aileen membuka laptopnya. Tak lama, Lula hadir diantara keduanya. Laki- laki itu ikut melirik saat Lula duduk di sebelah Aileen. Namun wanita itu sama sekali tak melirik ke arahnya. Ia langsung mengeluarkan semua peralatannya dan bersiap untuk bekerja.             Aileen tersenyum saat melihat laki- laki di depannya. Ia bisa melihat ekor mata laki- laki itu melirik ke arah sahabatnya. Bukan lirikan biasa. Ia bisa tahu apa yang ada di pikiran laki- laki itu.             Mata Aileen mengamati laki- laki itu dengan baik. Rambut tersisir rapi, kemeja dan celana bahan. Laki- laki itu tampak sangat rapi dan terlihat cukup baik. Aileen kini melirik Lula yang duduk di sebelahnya. Wanita itu sedang terlihat membuka email- email yang masuk ke kotak pesannya.             “Mas…” suara Aileen terdengar pelan. Namun cukup untuk didengar oleh laki- laki di depannya yang langsung menengadah. “kenalan, dong.” Katanya lagi. Lula yang ada sebelahnya langsung menoleh ka arah Aileen dengan dahi mengernyit dalam.             Tatapan Lula dan Malik bertemu. Tatapan sama- sama bingung sementara Aileen mati- matian menahan tawanya.             “Malik.” Pria itu akhirnya mengulurkan sebelah tangannya.             Aileen menjabat tangan itu dan memperkenalkan diri, “Aileen.” Katanya. Jabatan keduanya terlepas. Aileen melirik Lula dan mengisyaratkan wanita itu untuk ikut berkenalan. Lula melotot pada Aileen pertanda protes. Namun akhirnya ia ikut memperkenalkan diri.             “Lula.” Tangan keduanya bertautan. Tangan yang bagi Malik terasa pas dalam genggamannya.             “Saya kerja di sebuah EO dan Lula ini desainer grafis.” Kata Aileen sambil membuka dompetnya dan mengambil dua buah kartu nama dari sana. Kartu namanya dan Lula. “Ini kartu nama kita. Mungkin suatu hari lo butuh jasa kita.” Tangan putih yang memegang dua buah kartu nama itu terulur ke arah Malik yang langsung menerimanya dengan senang hati. Di sebelahnya, Lula masih tak mengerti dengan tindakan tiba- tiba sahabatnya itu.             “Saya simpan, ya.” Kata Malik. Ia tersenyum pada Aileen dan Lula lalu menaruh dua kertas itu di saku kemejanya.             Setelah perkenalan yang terasa canggung itu, ketiganya kembali melanjutkan pekerjaannya. Mereka menghabiskan siang di tempat itu. Lula masih berkutat dengan pen dan drawing padnya, Aileen berkutat dengan laporan- laporan keuangan di layar komputernya.             Jam menunjukkan pukul tiga saat Malik tampak membereskan barang- barangnya. Setelah memasukkan semua dokumen dan komputer jinjingnya ke ransel abu- abunya, ia berdiri dan pamit pada Lula da Aileen.             “Gue duluan, ya.” Katanya. Aileen mengangguk sambail tersenyum, sementara Lula memilih mengulas senyum tipis. Laki- laki itu menyantelkan sebelah tali ranselnya di bahu sebelah kanannya lalu berbalik dan berjalan menjauhi meja.             Mata Aileen masih manatap punggung tegap itu hingga sosok itu menghilang dari pandangannya.             “Lo kenapa sih? Aneh banget.” Protes Lala pada Aileen yang kini terkikik geli.             “Aneh gimana?” Aileen bertanya balik.             “Ya itu… tiba- tiba minta kenalan.” Jawab Lula.             “Nggak apa- apa. Nambah relasi aja. Kali aja nanti dia beneran butuh jasa kita.” Jawab Aileen sambil mengerling pada Lula yang masih tak bisa menangkap apa yang ada di otak sahabatnya. Kedua mata Aileen kembali pada layar laptop di depannya, Lula mengikuti. Ia kembali pada gambar di depannya. Menarik tiap garis dan meramu warna hingga tampak indah dan menarik.   ***               Mobil mewah Aileen membelah kemacetan ibukota. Jalanan di pusat kota memang selalu ramai memasuki jam pulang kantor. Aileen mengemudikan mobilnya perlahan. Langit mendung itu mulai memuntahkan rintik- rintih hujan. Aileen menatap kaca mobilnya yang mulai basah.             “Hujan…” lirih Lula. Melalui jendela, ia hisa melihat beberapa orang di trotoar mulai lari tunggang langgang, seakan air hujan itu dapat menyakiti mereka. Ada juga yang langsung mengeluarkan payung dari dalam tas dan membukanya. Para pengendara mencari tempat berteduh dan memakai mantel hujannya.             “Gimana Vano?” tanya Aileen saat ia menghentikan mobilnya di perempatan lampu merah.             “Nggak tau. Dia bilang pulangnya mau jemput Risa dulu.” Jawab Lula. Mereka memang berniat mengajak Revano untuk ikut ke salon dan memanjakan diri. Namun Lula yakin bahwa Risa tidak akan membiarkan laki- laki itu melakukannya. Wanita itu akan merengek pada Vano dan meminta adiknya mengantarnya ke tempat- tempat lain.             “Suruh ceweknya ikut aja.” Ucap Aileen saat ia kembali menjalankan mobilnya.             “Lo yakin?” tanya Lula.             “Yakin. Kan gue nggak punya masalah sama dia. Derita lo kalau malas ketemu dia.” Aileen tertawa. Lula berdecak di sampingnya.             Aileen melirik Lula yang tengah menatap layar ponselnya. Dua ibu jarinya menari- nari di atas layar gawainya.             Mobil mewah Aileen memasuki parkiran salon langgangan mereka.             “Vano sama Risa mau nyusul ke sini.” Kata Lula saat keduanya melepas safety beltnya.             “Yaudah.” Aileen membuka pintu saat melihat security salon yang sudah sangat mengenalnya menghampirinya dengan dua buah payung di tangannya. Security yang satu lagi menghampiri pintu tempat Lula duduk.             Lula dan Aileen mengucapkan terima kasih pada dua pria yang membantu mereka masuk ke dalam salon hingga tak terkena hujan. Sang resepsionis yang sudah sangat mengenal Aileen dan Lula langsung menyambut mereka dengan hangat. Wanita dengan seragam berwarna biru muda itu langsung memanggil dua orang pegawai salon yang akan menangani kedua wanita itu.   ***               Ini adalah kali pertama Aileen bertemu dengan Risa. Dalam pertemuan mereka, Aileen mendapatkan kesan baik dari wanita itu. Dalam pandangannya, wanita itu cantik dan periang. Secara fisik, wanita itu cocok bersanding dengan Vano. Cantik dan tampan.             Setelah selesai dari salon, mereka berempat pergi ke salah satu restoran yang ada di bilangan Kemang. Risa dan Lula mendapat perawatan di rambutnya dan setelah di blow, rambut keduanya tampak indah, jatuh melewati bahu keduanya. Vano tampak puas dengan potongan rambut barunya. Aileen sendiri memilih menggati warna rambutnya yang semula cokelat menjadi blue black. Wanita itu tampak puas dengan warna baru rambutnya.             Mereka menempati satu meja. Risa tampak senang bisa bertemu lagi dengan Lula, meski Lula sepertinya tak seperti itu. Gadis itu juga senang bisa mengenal Aileen. Wanita yang selama ini hanya ia dengar ceritanya dari Vano.             Mereka menempati satu meja kosong di restoran pizza itu. Aileen memesan satu pizza berukuran besar atas persetujuan yang lainnya. Juga empat buah minuman. Pelayan kembali setelah mencatat pesanan mereka lalu mereka kembali mengobrol.             Aileen dan Risa lebih banyak membuka obrolan. Lula berusaha mati- matian agar tak menatap Risa dengan sinis. Ia dan Vano menanggapi pembicaraan mereka seperlunya.   ***               “Nggak ada yang salah sama Risa, kok.” Kata Aileen saat ia mengekori Lula masuk ke dalam rumah. Selesai dari restoran, Vano mengantar Risa kembali ke rumah. “tapi egonya memang kelihatan sih.” Lanjut Aileen.             Lula menekan stop kontak dan membuat ruangan itu terang dan langsung mengempaskan tubuhnya di sofa, Aileen duduk di sebelahnya.             “Lo baru aja ketemu dia. Tunggu kalau kalian udah beberapa kali ketemu, atau kalau lo dengar Vano lagi ada masalah sama Risa. Lo bakal tahu Risa itu kayak apa.” Jelas Lula.             “Tapi kalau memang Vano bisa ngimbangin harusnya nggak apa- apa dong?” kata Aileen.             “Nggak apa- apa kalau Vano bukan adik gue.” Kata Lula dengan nada sewot. Aileen tertawa lalu merangkul bahu sahabatnya dan menatapnya dengan intens.             “Malik gimana?” tanya Aileen tiba- tiba. Kedua mata Lula menyipit, dahinya berkerut dalam. Seakan baru saja mendengar Aileen berbicara dalam bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti.             “Malik siapa?” Lula bertanya balik. Aileen berdecak sambil melepas pelukannya.             “Laki- laki yang tadi di Daily.” Jelas Aileen. Mecoba membuat sahabatnya mengingat.             “Oh…” Lula ingat. “gimana apanya?”             “Manurut lo, dia gimana?” Aileen bertanya lagi.             “Gimana apanya? Ya nggak gimana- gimana.” Kata Lula. Masih dengan nada bingung.             “Haduh… susah nih ngomong sama fakir cinta.” Kata Aileen. “secara kasat mata, menurut lo dia gimana.”             “Oh…” Lula kadang memang selemot itu. Sepertinya otaknya sudah lelah berpikir seharian. “keliahatannya baik, sih. Ramah juga.” Lula memberitahukan pendapatnya.             “Lo suka?” tanya Lula lagi. Aileen langsung menggeleng cepat.             “Terus ngapain nanyain gitu?”             “Nggak apa- apa. Iseng aja.” Aileen tersenyum lalu tatapannya beralih pada pintu yang terbuka. Vano masuk sambil mengucapkan salam.               Revano menghampiri sofa lalu mencium punggung telapak tangan kakaknya dan Aileen yang setiap malam selalu ada di sana. Wanita bahkan bisa menginap berhari- hari meski rumahnya berkali- kali lipat besarnya dari rumah itu. wanita itu juga punay apaertemen mewah yang lebih sering kosong karena penghuninya kerap menginap di rumah itu.             Maski selalu dilayani di rumahnya, wanita itu tak pernah keberatan melakukan pekerjaan rumah di rumah itu. Meski anak konglomerat, selalu mentraktir dan memberikan barang- barang mahal secara cuma- cuma pada Lula, kakaknya tak pernah memanjakan wanita itu. Ia selalu meminta Aileen mencuci piring dan gelas makannya sendiri, juga memintanya membantu membersihkan rumah jika rumah berantakan. Rumah itu sudah menjadi rumah kedua bagi Aileen. Secerewet apapun Lula, ia tetap betah di sana.             “Risa cantik. Dapet aja lo.” Kata Aileen pada Vano yang duduk di depannya. Vano tertawa.             “Cocok, ya, Kak?” tanya Vano.             “Iya, cocok. Udah nikah sana buruan.” Kata Aileen yang langsung membuat Lula melotot. Sebelah tangannya terulur untuk menarik ujung rambut Aileen dan membuat wanita itu mengaduh.             “Apaan sih. Gue nyuruh Vano yang nikah, kok, lo yang marah.” Kata Aileen sambil mengulum senyum. “kalau gue nyuruh lo nikah, tuh, baru lo marah. Lo kan belum punya pacar.”             Mulut Aileen memang kadang sejahil itu. Wanita itu bisa berbicara apapun bahkan tanpa berpikir dahulu. Wanita itu suka sengaja meledek Lula, padahal keadaannya tak jauh berbeda dengan sahabatnya, seperti masalah kekasih contohnya.             Ia suka bilang bahwa Lula sudah terlalu lama menjadi fakir cinta dan menyuruh wanita itu cepat- cepat mencari pacar sebelum menjadi perawan tua. Jika sudah seperti itu, keduanya akan tertawa keras. Menertawakan kehidupan percintaan mereka yang pahit. Menertawakan diri sendiri adalah cara mereka berdua untuk mengibur hingga tak merasa terbebani oleh masalah jodoh yang sampai sekarang belum nampak di ujung penglihatan mereka.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN