CHAPTER EMPAT PULUH ENAM

2367 Kata
Vano menatap seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam bank tempatnya bekerja. Wanita itu tampak cantik dengan kemeja, celana bahan dan blazer yang melapisi kemejanya. Langkah kaki wanita itu tampak mantap dengan high heels lima sentimeter yang mempercantik kaki jenjangnya. Wanita itu terlihat sangat formal hari ini. Keduanya beradu pandang. Vano mengulas senyum ramah, begitu juga wanita itu. Ia berdiri dan duduknya dan menghampiri wanita itu. Ia menyapa wanita itu dengan formal dan bertanya apa yang bisa ia bantu. Wanita itu adalah salah satu nasabah prioritas di banknya, wanita itu adalah Aileen yang kini terkekeh melihatnya sikap sopannya. “Gue mau ke CS. Mau ganti kartu.” Kata wanita itu. Vano meminta wanita itu menunggu sebentar sementara ia kembali ke kursinya. Vano meninggalkan pekerjaannya sebentar. Ia fokus melirik wanita itu yang duduknya tak jauh dari tempatnya. Warna abu- abu blazer dan celana bahan wanita itu tampak pas di kulitnya yang putih. Sebuah jam analog mahal terlihat melingkari pergelangan tangan kiri wanita itu. Wanita itu tampak berdiri saat nomornya dipanggil. Tubuh rampingnya berdiri, meninggalkan kursi tunggu dan menghapiri customer service yang berdiri dan menyapanya dengan sangat ramah. Vano mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mengecek kelengkapan dokumen di atas mejanya satu persatu sebelum memberikan approvenya dan menginputnya di sistem komputer. Setelah gadis beseragam di balik meja itu membantunya mengganti kartunya yang sudah habis masa aktifnya, Aileen berdiri dari kursinya dan mendekati meja Vano yang tak jauh dari sana. “Makan siang, yuk.” Kata wanita itu sambil berdiri menjulang di depan meja laki- laki itu. Vano menengadahkan wajahnya lalu melirik jam analog di pergelangan tangannya. “Vano makannya harus gantian, Kak.” kata laki- laki itu. “teman Vano baru aja izin makan duluan.” Lanjutnya. Dengan berat hati menolak ajakan wanita itu. “Ish… yaudah kalau gitu. Bye.” “Kalau nanti Vano jemput buat makan malam gimana, Kak?” kata laki- laki itu pelan namun cukup untuk di dengar wanita itu sebelum wanita itu pergi dari hadapannya. Ia sudah berdiri dari duduknya dan bermaksud mengganti waktu makan sesuai dengan waktu yang ia bisa. “Gue ngajaknya makan siang, bukan makan malam.” Wanita itu terkekeh ringan. “bye…” katanya lagi. Wanita itu melambaikan tangan pada Vano yang masih berdiri dan melangkah mendekati pintu hingga menghilang dari pandangan laki- laki itu. *** Risa berkali- kali melirik ponselnya. Ia tak fokus pada pekerjaannya sejak tadi. Ia mengirim pesan pada Vano satu jam yang lalu dan sampai sekarang tak ada balasan. Dari informasi last seen nya, laki- laki itu memang belum membuka aplikasi chat itu sejak dua jam yang lalu. Dari sana ia berpikir bahwa laki- laki itu memang belum mebaca pesannya, bukan dengan sengaja mengabaikannya. Ia mati- matian menahan diri untuk tak menghubungi laki- laki itu. Ia ingin laki- laki itu percaya bahwa ia akan berubah. Ia akan membuktikan pada laki- laki itu bahwa semua omongannya bisa dipegang. Dan meski laki- laki itu menolak kembali padanya, ia yakin bahwa suatu saat laki- laki itu akan luluh jika melihat perubahannya. Ia hanya perlu untuk terus berkomunikasi intens dengan laki- laki itu namun tetap menjaga diri agar tak membuat laki- laki itu risih. *** Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Lula, Aileen dan Vano masih duduk mengitari meja di lantai satu Daily. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Piring- piring kosong terlihat di atas meja, isi gelas ketiganya masih tersisa setengah. “Gimana, Van, enakan jomblo kan?” tanya Aileen yang langsung membuat Vano tertawa. Jujur…Iya… ia tidak pernah merasakan sebebas ini. Risa masih beberapa kali mengiriminya pesan hari ini, ia membalas dengan singkat. Sepulang dari kantor, ia masih bisa berkumpul dengan Lula dan Aileen, hal yang dulu hanya bisa ia lakukan jika sedang bertengkar dengan Risa. Vano tak menyanka bahwa kebebasan akan terasa senikmat ini. Ia tak perlu terus menerus memegang ponselnya demi membalas pesan gadis itu dengan cepat, atau menjawab telepon gadis itu sasegera mungkin. Ia tidak perlu menjaga jarak dengan rekan- rekan kerjanya. Ia tak perlu meminta izin gadis itu saat ingin melakukan sesuatu. Vano mendapatkan kembali kebebasan yang tiga tahun direnggut paksa olehnya. Vano menggangguk pelan. Lula tersenyum. Bersyukur karena laki- laki itu bisa mendapatkan kembali hidupnya yang normal. Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan meminta izin untuk membereskan piring- piring yang ada di atas meja. Seperti biasa, semakin malam, restoran itu semakin ramai. Enam orang pria baru saja masuk ke dalam restoran melalui pintu kaca transparan itu. Pelayan berseragam bergerak lincah mengantar pesanan dan membersihkan meja yang baru saja ditinggal oleh pengunjung. Beberapa orang terlihat mengantre di kasir untuk melakukan pemesanan. “Malik…” Aileen sedikit berteriak dan melambaikan tangannya pada seseorang yang baru saja keluar dari lift. Vano dan Lula mengikuti arah pandang wanita itu dan melihat Malik berjalan pelan mengampiri meja mereka. “Hai…” laki- laki itu menyapa dengan ramah. “Udah mau pulang?” tanya Aileen. Ia menepuk sisi sebelahnya yang kosong. Mengiyaratkan laki- laki itu untuk di sampingnya. Malik menatap Lula dan Vano bergantian, meminta persetujuan keduanya. Kakak beradik itu mengangguk, mempersilakan laki- laki itu untuk duduk di samping Aileen, tepat di depan Lula. “Sopan banget, sih, lo. Gemes deh.” Kata Aileen sambil menepuk bahu laki- laki itu pelan. “Eh, minggu besok kantor ngadain acara lari santai di senayan. Mau pada ikut nggak?” kata Vano tiba- tiba. Ia menatap ketiga orang itu secara bergantian. “Buat umum? Atau khusus nasabah doang?” tanya Lula. “Buat umum.” Jawab laki- laki itu. Aileen dan Lula saling pandang dan tampak berpikir sebentar. “Kalau mau nanti gue daftarin.” Kata Vano lagi. “Boleh, deh, nggak ada acara juga.” Kata Aileen. mendengar jawaban sahabatnya, Lula akhirnya juga mengangguk. Ketiga orang itu lalu menatap Malik yang sedari tadi terdiam. “Saya diajak juga?” tanya laki- laki itu dengan nada polos. *** Vano baru saja mengempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya saat mendengar ponsel yang ia letakkan di atas nakas berdenting. Dengan sebelah tangannya, ia menggapai benda pipih itu dan melihat beberapa pesan yang masuk. Ada nama Risa yang tulisan namanya terbold, tanda pesan yang gadis itu kirimkan belum terbaca olehnya. Mengabaikan pesan wanita itu, ia beralih pada pesan grup yang sudah cukup banyak masuk ke ponselnya. Grup itu adalah grup sekolah dasarnya. Risa memang menghapus nomor Putri dari ponselnya, namun karena waktu itu mereka bertukan nomor, gadis itu langsung memasukkan ke dalam grup itu tanpa basa- basi. Ia jelas senang bisa kembali menjalin silaturahmi dengan teman- temannya meski awalnya kebingungan karena mulai lupa dengan mereka. Namun saat penghuni grup menceritakan kejian- kejadian lucu saat sekolah, Vano mulai mengingat mereka satu persatu. Banyak hal memalukan yang telah ia lewati bersama teman- temannya saat sekolah dasar. Mereka masih membicarakan masalah reuni yang akan mereka adakan dan mereka tengah mencari tanggal yang tepat agar banyak orang yang bisa datang. Vano tampak bersemangat. Dari grup itu, ia bisa mengobrol dengan teman- teman dekatnya melalui personal chat. Bernostalgia bersama teman- teman dekatnya yang sudah bertahun- tahun lost contact. Ia bahkan sudah punya acara sendiri untuk bertemu dengan teman- teman dekatnya dalam waktu dekat. Vano sedikit memanjat untuk membaca pesan- pesan yang belum sempat terbaca olehnya. Ia tak membalas. Saat ia menekan ikon back dan kembali melihat pesan dari Risa. ia berpikir sebentar hingga akhirnya memutuskan untuk tak membalas pesan itu. Ia justru mencari kontak Aileen dan mengirim pesan pada wanita itu. Vano: Udah sampai rumah, Kak? Ia menatap pesannya yang tak langsung terbaca. Ia memutuskan untuk berselancar di dunia maya. Ia membuka ikon i********: di layar dan langsung mengklik ikon profil. Masih banyak foto ia bersama Risa di feednya. Ia berpikir haruskah ia menghapus semua foto- foto gadis itu, hati kecilnya menghardiknya dengan keras. Tentu saja. Ia akhirnya mulai menghapus satu persatu foto gadis itu dari laman instagramnya. Di sela- sela kegiatannya, pesan balasan dari Aileen masuk ke ponselnya. Ia membukanya. Aileen: Udah. Baru aja selesai bersih- bersih diri. Gue tidur di apartemen hari ini. Apartemen mewah yang pernah ia datangi tiba- tiba terbayang diotaknya. Vano: Have a good sleep. Vano menatap pesannya dan menunggu hingga beberapa menit namun pesan itu tak juga terbaca apalagi berbalas. Ia memutuskan untuk keluar dari aplikasi pesan. Kegiatan membersihkan feed instagramnya akan ia lanjutkan besok. Terlalu banyak potret gadis itu di akunnya sehingga tak mungkin bisa menghapusnya sekaligus. Laki- laki itu bangun dari ranjang lalu menaruh gawainya di atas nakas. Sebelah tangannya mengambil gelas di atasnya dan meneguknya hingga tersisa setengah. Setelah mengembalikan gelas itu kembali ke tempat semula, ia menyembunyikan dirinya di balik selimut hangatnya. Ia tidur dengan pulas dalam hitungan menit. Kualitas tidur laki- laki itu terus membaik sejak pepisahannya dari Risa. *** Aileen memarkirkan mobilnya di depan rumah Lula. Ia turun dari mobil lalu menenteng tasnya dan mendekati pintu rumah Lula yang salah satu daun pintunya sudah terbuka, begitu juga dengan jendela- jendela rumah. Rumput dan tanaman di halaman rumah sudah basah. Ia masuk ke dalam rumah dan tak menemukan orang di sana. Langkah kakinya mendekati kamar Lula dan membuka pintunya pelan tanpa mengetuk. Ia melihat sahabatnya masih tertidur pulas di balik selimut tebalnya, dengan mulut sedikit terbuka. “Bangun…” teriak wanita itu saat kakinya memasuki ruangan temaran itu. Wanita di atas ranjang tak bergerak, seperti tak terganggu dengan kedatangannya. Aileen mematikan lampu tidur yang menyala di ruangan itu lalu bergerak mendekati jendela dan membuka tirainya lebar- lebar hingga sinar matahari masuk ke dalam kamar dan membuat sosok di bawah selimut menggeliat pelan. Menghindari sinar matahari, wanita itu malah menarik selimutnya hingga ke atas kepalanya “Ke Daily nggak? Gue ada meeting pagi di sana.” kata wanita itu sambil berdiri di samping ranjang. Ia tak memdapat jawaban sehingga sebelah tangannya terulur untuk menarik selimut yang menyelimuti seluruh tubuh wanita itu. “Apaan, sih?” keluh Lula sambil bergerak dan mencari posisi nyaman lainnya. “Ayo ke Daily.” ajak Aileen. “Nanti siang aja. Gue masih ngantuk.” Kata Lula, masih tak membuka kedua matanya. “Ini udah siang.” Kata Aileen tak mau kalah. Ia melirik nakas lalu duduk di tepi ranjang. Sebelah tangannya mengambil gelas yang ada di atas nakas. Ia mencelupkan jari- jarinya pada gelas hingga menyentuh air di dalamnya lalu mencipratkannya ke wajah Lula. “Aileen…” Lula mengeluh, namun belum juga membuka matanya. Ia membalik tubuhnya hingga membelakangi Aileen. Aileen berdecak, ia tak mau kalah. Ia mengambil posisi di depan Lula dan kembali melakukan keusilannya hingga suara Lula melengking. Wanita itu membalik badan dan menarik rambut Aileen yang juga langsung menjerit. *** Vano menggelengkan kepalanya mendengar suara ribut yang berasal dari kamar kakaknya. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan dua wanita yang hampir berumur tiga puluh tahun sampai bisa- bisanya membuat gaduh di pagi hari. Ia melanjutkan kegiatannya, memindahkan capcay dari penggorengan ke atas piring saji dan meletakkan di atas meja. Di meja persegi panjang itu sudah ada panci rice cooker berisi nasi juga semangkok berisi rendang. Suara derap langkah terdengar mendekati dapur dan tak lama sosok Aileen masuk ke dapur. Vano menatap Aileen yang wajahnya cemberut, rambut sebahu wanita itu acak- acak, lipstick merah bata yang wanita itu pakai terlihat berantakan. “Lula benar- benar, ya.” kata wanita itu. Ia duduk di kursi di meja makan. Ia menyisir rambutnya dengan jari- jari tangannya. “Lagian...masih pagi udah gelut aja.” Kata Vano dengan nada geli. Ia pergi mendekati wanita itu lalu duduk di sebelahnya. Sebelah tangannya terangkat untuk merapikan rambut wanita itu. “Kak Lula memang kesel banget kalau tidurnya di ganggu. Dulu Vano pernah ditendang gara- gara bangunin dia. Vano sampai sekarang trauma ditendang dia.” Kata Vano. Menceritakan kejadian yang mungkin tidak akan ia lupakan sampai kapanpun. Sebelah tangan laki- laki itu mengambil tissue basah di meja lalu mengeluarkannya satu lembar. Aileen tertawa, “untung adiknya elo, coba gue, bisa perang dunia setiap hari.” Kata wanita itu. “Maaf…” kata Vano. Aileen terdiam saat ujung jari laki- laki itu mengambil dagunya dan mengarahkan wajahnya ke laki- laki itu. Tisu basah itu terasa dingin saat menyentuh kulitnya. Dengan telaten, Vano menbersihkan lipstick wanita itu yang berantakan dan tampak mengotori sisi wajah gadis itu. Aileen terdiam. Ia ingat Lula tadi menyerukkan telapak tangan ke bibirnya dengan kasar sehingga membuat lipstiknya pasti berantakan. “Berantakan banget, ya? kurang ajar banget emang si Lula.” sebelah tangan Aileen sudah menggapai tisue basah dan baru akan menghapus semua yang menempel di bibirnya saat Vano melakukannya tanpa diperintah. Jari laki- laki itu yang terbalut tisu basah itu mengusap permukaan bibirnya dengan lembut. Jari- jari laki- laki itu membersihkan semua sisi bibirnya. Aileen menatap laki- laki itu yang mengulas senyum manis padanya. Tampak tak canggung dengan kedekatan yang terjadi. “Udah.” Kata laki- laki itu. Laki- laki itu berdiri untuk membuang tisu bekasnya ke tempat sampah lalu duduk di depan wanita itu. “Lain kali jangan coba- coba deh, Kak, gangguin kak Lula tidur. Bahaya.” Laki- laki itu memperingatkan. “Gue juga udah kapok kali.” Kata wanita itu sambil menyesap air dalam gelas yang baru saja diulurkan laki- laki itu. Vano mengambil centong nasi, menyendokkan nasi dan menaruhnya di piring di hadapan Aileen. Aileen mengucapkan terima kasih lalu mengisi piringnya dengan sayur yang dibuat laki- laki itu juga sepotong rendang yang kemarin laki- laki itu buat dan dipanaskan pagi ini. “Mendung, kayaknya mau hujan.” Kata Aileen saat melihat ke luar melalui taman samping dapur yang pintunya terbuka. Matahari sepertinya bersembunyi di balik awan sehingga langit terlihat mendung. “Iya… memang udah masuk musim hujan.” Kata Vano. Keduanya baru saja berhasil menghabiskan iri piring masing- masing. Vano membawa kedua piring bekas itu ke bak sink dan mencucinya. “Selamaaaat pagiiii…” suara Lula melengking saat wanita itu masuk ke dapur sudah dalam keadaan rapi. “Bangun juga lo.” Kata Aileen pada Lula yang baru saja duduk di depannya. “Setelah lo ngacak- ngacak muka gue, lo pikir gue bisa tidur lagi.” kata Lula yang langsung membuat Aileen tertawa. Vano tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Lula sudah mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur juga lauk. “Vano duluan, ya.” kata laki- laki itu. Ia mencium tangan kakaknya, juga Aileen dan pamit untuk berangkat. “Hati- hati, ya, ganteng…” kata Aileen sambil melambai. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN