CHAPTER DUA PULUH DUA

2286 Kata
            “Di mana- mana… orang mau ngajak pacaran aja harus pendekatan dulu, Malik. Nah ini kamu pendekatan nggak, langsung ngajak nikah. Ya perempuan mana yang mau.” Indah memberi penjelasan pada anaknya. Layaknya guru yang sedang mengurai rumus matematikan pada anak muridnya.             Indah melihat anak semata wayangnya terdiam dan tampak berpikir. Ia tahu bahwa anaknya sama sekali tak memiliki pengalaman percintaan. Namun ia tak menyangka anaknya punya keberanian seperti itu.             “Jadi Malik harus gimana, Bu?” tanya laki- laki itu. Mereka masih duduk di beranda rumah. Namun kini ada dua buah cangkir berisi teh juga piring berisi kue lapis surabaya.             “Kamu dekatin pelan- pelan.” Kata Indah. “pokoknya sabar dan jangan terburu- buru.” Indah memberi petuah pada anaknya. “Perempuan itu juga bisa suka karena terbiasa.” Katanya lagi.             Malik mengangguk. Ia mendengarkan semua kata- kata ibunya dengan baik. Ia memang tak berniat untuk menyerah sehingga ia tampak mencermati semua yang keluar dari mulut ibunya. Ia tahu bahwa ia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati wanita itu. Mungkin dirinya memang terlalu terburu- buru.             “Jadi… siapa perempuan itu?” tanya Indah. Ia ingin tahu siapa wanita beruntung itu. Menurutnya tak ada yang kurang dari anak laki- lakinya. Malik tampan, baik, perhatian, pekerja keras dan bertanggung jawab. Ia selalu bingung bagaimana bisa laki- laki itu tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Laki- laki itu seperti tak tertarik dengan gadis- gadis di sekitar komplek yang sempat mendekatinya. Laki- laki itu terlalu fokus pada pekerjaannya dan sepertinya tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan.             “Dia salah satu member di Daily.” Jawab Malik.             “Orangnya gimana?”             “Cantik, baik, ramah.” Malik menjawab. “Malik juga nggak tahu apa sebenranya bikin Malik yakin sama perempuan itu.”             Indah tersenyum melihat ekspresi anaknya. Laki- laki di sebelahnya tampak sedang menerawang jauh. Untuk yang pertama kali, ia melihat binar cinta di mata anaknya. Ia tahu, anaknya benar- benar sedang jatuh cinta.   ***               Risa masih berada di dalam kamarnya saat matahari sudah bersinar dengan terik. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap ponselnya yang tenang di atas nakas. Tak ada bunyi panggilan masuk ke benda pipih itu. Ia mendesis kesal. Menyadari bahwa Vano tak menghubunginya sejak semalam. Laki- laki itu tak seperti biasanya. Biasanya laki- laki itu akan terus mencoba menghubunginya dan membujuknya. Ia merengut sebal. Sebelah tangannya menepuk- nepuk kasur dengan kesal.             “Ris…” suara itu terdengar bersama dengan ketukan di pintu kamarnya. Tak lama ia melihat pintu kamarnya terbuka dan sosok ibunya muncul di baliknya. “Kamu udah bangun kenapa nggak turun?” Dini, Ibu Risa mendekati ranjang dan duduk di tepinya.             “Risa sebal sama Vano.” kata gadis itu dengan nada merajuk. Ia bangun dari posisinya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.              “Kenapa lagi?” tanya Dini. Ia sebagai ibu juga kerap mendengar masalah yang terjadi antara anaknya dan pacarnya. Dan sepertinya semakin hari, anaknya dan Vano semakin sering berselisih.             “Risa ngelihat Vano dekat sama teman kantornya.” Kata gadis.             “Yakin mereka dekat? Atau memang cuma perasaan kamu aja.” Dini mengusap kaki anaknya pelan. Ia melihat anak perempuannya melipat kedua tangannya di depan d**a.             “Beneran atau cuma perasaan Risa, pokoknya Risa nggak suka, Ma.” Jawab gadis itu.             “Risa… kamu nggak boleh ngekang Vano begitu.” Dini mencoba memberi penjelasan pada anaknya.             “Risa nggak ngekang, Ma. Risa cuma nggak mau Vano berinteraksi lebih sama teman- temannya. Mama tahu kan gimana perasaan Risa ke Vano.”             “Iya, Mama tahu. Tapi kalau kayak gitu kamu sama aja ngekang Vano. Dia malah bisa pergi kalau kamu kayak gitu.”             Dini melihat anaknya terdiam. Gadis itu menunduk. Masih tak bisa menyembuyikan rasa marah dalam wajahnya.             “Tapi lihat, Ma. Vano sampai sekarang nggak nelepon Risa. Dia pasti memang lagi dekat sama temannya itu. Mama tahu, kan, Vano nggak biasanya kayak gini.” Risa berujar.   ***               Aileen mengajak Lula untuk langsung berenang setelah mengisi perutnya dengan makanan yang mereka pesan dari resepsionis. Keduanya memakai sepotong kaos dan celana pendek saat turun ke kolam. Vano ada di dekat kolam. Menikmati secangkir kopi panas dengan pemandangan yang memanjakan mata.             Laki- laki itu tampak kebingungan dan mulai berpikir. Apakah keputusannya untuk tak menghubungi Risa adalah hal yang tepat. Ia mulai gelisah di kursinya. Sebelah kakinya bergerak tak beraturan. Matanya melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja di depannya.             “Ah, gue telepon gue pasti nggak diangkat.” Katanya pada dirinya sendiri. Tapi ia tahu bahwa gadis itu tak akan memikirkan apa yang terjadi dengan keduanya. Atau berpikir bahwa gadis itulah yang keterlaluan. Gadis itu akan selalu menyalahkannya dan membuatnya menuruti semua kemauannya. Mendiamkan gadis itu dan memberinya waktu tidak akan ada gunanya. Mereka harus berbicara empat mata dari hati ke hati.             “Jadi, kemarin lo sama Malik nggak ngapain- ngapain?” tanya Aileen. Lula melotot mendengar pertanyaan dari sahabatnya.             “Maksud gue, lo ke mana- mana lagi? Ke perpustakaan doang?” Aileen meralat pertanyaannya sambil mengulum senyum.             “Parah banget tuh orang. Sumpah.” Kata Lula.             Aileen yang berada di seberang Lula berjalan mendekat dan berdiri di samping wanita itu. “kenapa?” tanya Aileen. Ia melihat Lula menggeleng pelan sambil berdecak.             “Nggak ngerti gue. Gue nggak mau ketemu dia lagi. Gue mau cari coworking space lain aja.” Ujar Lula.             “Kenapa, sih?” Aileen semakin penasaran.             Lula melirik Vano yang sedang duduk di tempatnya lalu menghela napas kasar. “Dia ngajak gue nikah, tahu, nggak?” Lula berbisik di telinga Aileen yang kedua matanya langsung membulat dan terlihat nyaris keluar dari tempatnya.             “Nikah jadi suami istri?” Aileen tampak meminta penjelasan. Ia tahu bahwa keduanya belum lama kenal dan tak begitu dekat. Ia tak percaya bahwa laki- laki itu bisa mengajak sahabatnya menikah. Dibalik wajah canggung dan lugunya, ia tak tahu bahwa laki- laki itu memiliki keberanian yang patut diacungi jempol.             Aileen memiringkan tubuhnya dan menatap sahabatnya yang mengangguk. “terus?” tanyanya lagi.             “Ya gue tolak, lah.” Kata Lula. Ia masih berbisik agar Vano tak bisa mendengar pembicaraan mereka.             “Kenapa dia bisa tiba- tiba ngajak lo nikah gitu?” Aileen bertanya lagi.             “Nggak ngerti gue.” jawab Lula. “dia cuma bilang kalau dia yakin kalau gue orang yang tepat.”             “Uuuuhhh… so sweet banget.”             “So sweet dari mana? Cringe, tahu, nggak?” Lula menggeleng dan bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi dengan padanya kemarin. Dilamar oleh orang asing jelas tak pernah terbayang olehnya.             “Muka doang cupu kelihatannya. Nyalinya gede juga.” Aileen berpendapat.   ***               Risa sedang termenung di dalam kamarnya saat ponselnya akhirnya berdering. Ia yang sedang duduk di meja rias di kamarnya menoleh dan melihat benda pipih yang ada di atas nakas bergerak.             Ia berdiri dari duduknya dan mendekati nakas dan melihat nama Vano di layar. Ia menarik napas lalu mengambil benda itu dan menslide layar untuk menjawab panggilan.             Gadis itu mendengar Vano menyapanya di ujung sambungan lalu bertanya dirinya sedang apa dan kenapa belum juga tidur.             “Bagus, ya, kamu baru telepon sekarang.” Kata Risa. “kamu liburan sama siapa buat gatiin aku.” Katanya lagi.             “Ris. Aku cuma pergi sama Kak Lula dan Kak Aileen.” Suara Vano menjawab di ujung sambungan.             “BOHONG!!!” Risa tak sadar berteriak dengan kencang. “terus kenapa kamu baru hubungin aku sekarang. Kamu sengaja? Kamu memang udah nggak cinta, kan, sama aku.”             Gadis itu mendengar helaan napas di ujung sambungan.             “NIKMATIN AJA LIBURAN KAMU!!!” Risa menyentak lalu menekan tombol untuk memutuskan panggilan, bahkan saat Vano belum sempat berbicara untuk menyangkal semua tuduhannya yang tidak berdasar. Ia melempar benda pipih itu ke atas ranjang lalu menendang nakasnya hingga bunyi berdebam keras terdengar.   ***               Vano mengusap wajahnya dengan kasar. Udara dingin Bandung terasa bisa menjatuhkan tubuhnya kapan saja. Dinginnya terasa menusuk hingga ke tulangnya yang paling dalam. Namun ia masih bertahan posisinya. Menentang hawa dingin yang menyelimuti bagian kulitnya yang telanjang.             Ia menarik napas panjang. Masih terasa dengan jelas bagaimana bentakan Risa melolosi gendang telinganya. Membuatnya terkejut dan tak bisa berkata- kata. Ia menjatuhkan diri di bangku kayu di depan kamarnya. Hanya ada dirinya di sana. Lula dan Aileen sudah masuk ke dalam kamar dan sepertinya sudah bergelung di balik selimut tebalnya.             “Belum tidur?” suara itu membuat Vano menoleh. Ia melihat Aileen keluar dari kamar dan berjalan mendekatinya. Wanita itu memakai sweater oversize untuk menghalau dingin diluar kamarnya.             Vano tak menjawab. Ia melihat Aileen mengambil posisi di depannya. Dipisahkan meja panjang berbahan kayu. Sebuah api unggung di sebelahnya sudah tak menyala, meninggalkan asap yang masih mengepul. Piring- piring bekas makan malam mereka sebelumnya sudah dibersihkan.             “Kakak kenapa belum tidur?” mengabaikan pertanyaan Aileen. Vano balik bertanya. Wanita itu membawa ponsel, satu pak rok0k lengkap dengan koreknya. Tiga hal yang sepertinya tak akan bisa terlepas dari wanita itu.             “Kebangun.” Jawab wanita itu. Wanita itu membuka bungkus rok0knya dan mengeluarkan satu batang dan menyelipkannya di bibirnya. Vano melihat wanita itu mengambil pemantik api yang semula ia taruh di atas meja dan menyulut api ke ujung rokoknya.             Sebelah tangan Vano terulur untuk mengambil bungkus rokok di depan Aileen. Namun tangan Aileen berhasil menahan tangan laki- laki itu sebelum laki- laki itu sempat menyentuh kotak itu.             “Anak kecil nggak boleh ngerokok?” kata Aileen saat ia menyelipkan lintingan nikotin itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia mengambil kotak rok0knya dan menaruhnya di kursi di sebelahnya.             Vano menghela napas. Ia mendekatkan tubuhnya dan mengambil lintingan nikotin yang terselip di bibir Aileen lalu menyelipkannya di antara bibirnya. Aileen berdecak dan melihat laki- laki itu menyesap rok0knya dan mengembuskan asapnya melalui mulutnya.             Kali ini Aileen membiarkannya. Ia berpikir mungkin laki- laki itu membutuhkan asupan nikotin saat ini. Ia tak mengambil rok0k yang baru. Ia malah merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan satu permen dari sana dan memakannya setelah berhasil membuka bungkusnya.              Selama beberapa menit, tak ada yang membuka pembicaraan. Vano sibuk dengan lintingan nikotin di tangannya sementara Aileen sibuk mencecap permennya. Suara serangga mendominasi suasana sekeliling. Udara semakin malam semakin terasa dingin.   ***               Malik menatap gadis di depannya. Gadis itu berkulit kuning langsat itu tampak cantik dengan gaun floral yang membalut tubuhnya. Dengan bulu mata lentik yang membingkai kedua matanya dan hidup mancung juga bibir tipis, semua laki- laki akan mengengok ke arahnya dua kali saat melihatnya. Namun hati Malik tak juga tergerak.             “Mama banyak cerita tentang kamu.” Kata gadis bernama Ardina itu. Mama Ardina, Husna adalah tetangga Malik yang rumahnya hanya berjarak empat rumah dari rumahnya. Ia kali pertama mereka saling bertemu karena sebelumnya Ardina kuliah di luar kota dan baru beberapa minggu ini kembali ke rumah setelah menyelesaikan skripsi dan wisuda.             Malik hanya mengulas senyum tipis. Mereka sedang berada di sebuah restoran steak yang hari itu tak begitu ramai. Malik menerima tawaran ibunya untuk berkenalan dengan anaknya bu Husna.             Kedua tangan Malik dan Ardina sibuk dengan garpu dan pisau. Mulut keduanya sibuk bergerak untuk mengunyah. Ardina lebih sering membuka pembicaraan terlebih dahulu sedangkan Malik hanya menjawab seperlunya. Malik hanya berusaha menghargai gadis itu. Ia yang memang sosok pendiam memang tak mudah bergaul dengan orang- orang baru sehingga lebih banyak diam dan menjawab seperlunya.             Waktu makan itu terasa begitu lama bagi Malik. Ia tahu ini tak sopan, tapi sudah merasa tidak betah di tempat itu. Ia risih melihat gadis itu terus menerus menatapnya dan berusaha mengorek semua tentangnya. Di bawah meja, sebelah kaki laki- laki itu ikut bergerak gelisah.             “Kamu setiap hari ada di Daily?” tanya gadis itu lagi.             “Iya… tapi akhir- akhir ini lebih sering di luar kantor, sih.” Jawab Malik. Ia memang memutuskan untuk membuka cabang baru. Ia sedang dalam masa pencarian gedung dan lokasi yang strategis untuk usahanya.             Setelah menghabiskan isi piringnya. Malik langsung mengajak gadis itu untuk pulang. Ardina sebenarnya masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama laki- laki itu dan mengenal lebih jauh. Namun ia berpikir bahwa mereka masih banyak waktu. Ia tak memungkiri bahwa laki- laki itu menarik perhatiannya. Ia tadinya tak menanggapi dengan serius saat ibunya menceritakan tentang Malik setiap kali ia menelepon ibunya. Ia juga tak berekspektasi tinggi dengan laki- laki itu. Ia tak sempat mencari tahu sosok laki- laki itu karena laki- laki itu tak memiliki media social apapun. Ia hanya menemukan official intagram Daily, usaha milik laki- laki itu.             Namun saat bertemu, laki- laki itu ternyata lebih menarik daripada perkiraannya. Laki- laki itu berkulit kuning langsat dengan wajah tampan dan raut wajah teduh dan menenangkan. Laki- laki itu hanya lebih pendiam untuk ukuran laki- laki yang banyak dikenalnya.             Setelah mengantarkan Ardina sampai di rumahnya, ia kembali melajukan mobilnya hingga menghentikan mobilnya di garasi rumahnya.             Ia masuk ke rumah sambil menggucapkan salam. Ia melihat ibunya duduk di sofa ruang tamu dan menjawab salamnya.             “Gimana? Ardina cantik kan?” tanya Indah. Ia menatap anaknya yang baru saja duduk di depannya dengan tatapan intens. Ia penasaran mengenai tanggapan laki- laki itu.             “Cantik, Bu. Cantik banget.” Jawab Malik. Indah tersenyum lebar.             “Kamu suka?” tanyanya lagi. Kali ini ia memajukan tubuhnya. Sangat berharap bahwa laki- laki itu akan cocok dengan gadis itu.             Malik menggeleng pelan. Ia tidak bisa membohongi perasaannya ataupun berbohong demi menyenangkan hati ibunya. Indah mengembuskan napas kasar. Bahunya melemas. Ia menyandarkan punggungnya di sofa.             “Yaudah. Kamu kejar aja, deh, perempuan yang kamu suka itu.” kata Indah. Ia sudah menyerah mengenalkan anak temannya pada Malik. Dari sekian banyak, tak ada satupun yang tertambat di hati anaknya.             Malik tersenyum.             “Awas aja kalau kamu nggak berhasil dapatinnya.” Kata Indah dengan nada mengancam yang justru membuat Malik terkekeh pelan.             “Sabar, ya, Bu. Malik berjuang dulu.” Kata laki- laki itu. Senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi.             “Mau dekatin perempuan aja udah kayak mau perang, kamu.”  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN