CHAPTER DUA PULUH ENAM

2261 Kata
            Lula keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan fresh. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan sepotong kaos oversize dan celana pendek. Rambutnya yang dikeramas sudah dikeringkan dengan pengering rambut dan sudah tersisir rapi. Penampilannya tampak normal setelah mandi.             Saat ia keluar, ia melihat Aileen dan Malik sedang berbicara dengan akrab. Ia tak tahu sejak kapan keduanya menjadi dekat, namun ia tak mau memikirkannya. Ia jelas akan senang jika Malik akhirnya tertarik pada Aileen.             “Ai… gue ke minimarket dulu, ya.” kata Lula sambil duduk di sofa di depan Aileen. Wanita itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Vano mengirim pesan padanya bahwa ia akan ke rumah Risa setelah selesai dengan pekerjaan kantornya.             “Naik apa?” tanya Aileen.             “Naik motor. Vano kayaknya balik malam. Nggak enak gue mau minta di mampir ke minimarket.” Kata wanita itu.             “Yaudah biar Malik aja yang ngantar.” Kata Aileen. Ia menendang kaki Malik pelan. Menyuruh laki- laki itu menawarkan tumpangan.             “Nggak usah. Gue sekalian mau isi bensin motor.” Kata Lula lagi. Ia sudah berdiri dan mendekat ke lemari kecil di samping sofa. Sebelah tangannya terulur untuk menarik salah satu laci dan mengambil kunci motor dari sana.             Aileen melotot pada Malik. Mencoba menyuruh laki- laki itu untuk lebih berinisiatif.             Malik akhirnya berdiri saat Lula sudah membalik badannya. “Nggak usah. Beneran. Minimarketnya juga cuma di depan komplek, kok.” Dengan sebelah tangannya, Lula memberi isyarat agar Malik kembali duduk.             Malik melirik Aileen yang menatapnya dengan geregetan.             “Perempuan sama laki- laki nggak boleh berduaan dalam satu ruangan. Setan bisa jadi orang ketiga.” Kata Malik. Jika Lula terdiam dan matanya mengerjap dua kali mendengar kalimat yang keluar dari mulut laki- laki itu, Aileen menepuk dahinya keras, namun ia mengulum senyum dengan susah payah.             “Benar kata Malik. Bahaya kalau gue berdua sama Malik doang di sini.” Kata Aileen.             Lula berdecak, ia berjalan keluar dari rumah. Malik mengekorinya.             Aileen tertawa sepeninggal keduanya. Ia mengingat bagaimana wajah polos Malik saat mengatakan itu. Ia tak percaya dari sekian banyak kalimat, laki- laki itu memilih kalimat itu.             “Biar aku yang bawa motornya.” Tawar Malik dengan sopan. Dengan berat hati, Lula menyerahkan kunci motornya dan membiarkan laki- laki mengeluarkan motornya dari garasi.             Lula berjalan keluar rumah dan naik ke belakang Malik saat laki- laki itu sudah menyalakan motornya. Motor itu menyusuri jalanan sepi di komplek perumahan Lula. Angin dingin malam itu menerpa wajah keduanya. Rambut Lula yang kala itu tergerai bergerak terkena angin. Dari salah satu kaca spion yang sengaja Malik arahkan ke belakang, ia bisa melihat wambut wanita itu yang terlihat bebas. Ia mengulum senyum.             Motor itu berhenti di parkiran minimarket setelah sebelumnya mengisi bensin di pom bensin terdekat. Lula langsung turun dan membawa kantong belanjaannya masuk ke dalam minimarket. Malik mengunci motor lalu turun dan menyusul wanita itu.             Saat ia masuk ke dalam minimarket, Lula sedang berada di rak yang menjual kebutuhan wanita. Wanita itu sudah membawa keranjang dan tampak tengah memilah facial wash. Ia beralih pada rak lain. Ia ingat ibunya sempat menyuruhnya membeli beberapa bahan untuk membuat kue.   ***                 Vano menoleh saat mendengar pintu kembali terbuka. Risa muncul di baliknya. Dengan wajah masam. Ia tersenyum, namun gadis itu malah membuang muka. Gadis itu tak duduk di sebelahnya. Melewatinya begitu saja dan menuju taman yang ada di samping rumah.             Vano menghela napas. Menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi saat menyadari bahwa wanita itu belum juga membaik. Ia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah wanita itu.             Wanita itu duduk di kursi panjang berbahan kayu yang ada di salah satu sudut taman itu. Vano menyentuh pundak wanita itu lalu duduk di sebelahnya.             “Kamu udah makan belum?” tanya Vano, “makan di luar, yuk.” Ajaknya. Ia mencoba mencairkan suasana yang terasa mencekam. Angin dingin yang menerpa begitu dingin dan kencang. Ia berpikir bahwa sebentar lagi akan turun hujan.             “Ris…” lirih Vano. Ia menyentuh sebelah tangan Risa di atas meja. Wanita itu menatap lurus ke depan. Tak meliriknya sedikitpun. “aku minta maaf. Aku nggak tahu lagi gimana caranya biar kamu nggak marah lagi.” Ia meremas tangan gadis itu. Memberitahu wanita itu bahwa ia menyesal atas semua yang terjadi. Ia hanya ingin gadis itu memaafkannya. Ia bersedia melakukan apapun agar wanita itu memaafkanya. Ia ingin hubungannya kembali seperti sebelumnya.             “Kamu ngapain, sih, ke sini? Aku pikir kamu udah lupa sama aku.” Risa menoleh dan menatap Vano dengan tatapan dingin. Tatapan tajam gadis itu terasa menusuk kedua mata laki- laki itu.             “Kamu ngomong apa, sih?” tanya Vano. “mana mungkin aku lupa sama kamu.”             Risa tersenyum sinis, “Bisa, ya, kamu nggak telepon aku dari kemarin!” nada suara Risa sudah mulai meninggi. “kalau kamu udah punya perempuan lain, bilang sama aku.” Kata wanita itu lagi. Wajah putihnya mulai memerah. Menunjukkan bahwa gadis itu benar- benar marah.             Vano menjilat bibir bawahnya. Mencoba tenang. Ia mengusap pundak Risa dan mengusapnya pelan. “aku cuma berpikir kalau kamu butuh waktu.” Katanya.             “Kamu terlalu bersenang- senang sampai lupa sama aku.” Risa sudah berdiri dari duduknya.             Vano menahan tangan gadis itu dan ikut berdiri. “Nggak kayak gitu, Ris.” Katanya “aku cuma…” kalimat yang akan keluar dari mulut laki- laki itu terpotong. Kejadian itu begitu cepat dan mengejutkannya. Ia mengangkat sebelah tangannya dan meraba sebelah pipinya. Rasa panas tiba- tiba merambat di sana.             Mata laki- laki itu mengerjap dua kali. Tak mempercayai apa yang baru saja ia terima. Risa, gadis itu baru saja menamparnya. Sepertinya mengeluarkan semua amarahnya melalui tamparan yang cukup keras itu karena kepalanya sampai terlempar ke samping.             Vano terdiam. Ia menatap tepat ke manik mata Risa yang tampak tak menyesal.             “Aku udah minta maaf. Aku udah janji nggak akan terlalu dekat dengan rekan kerja aku. Aku harus gimana lagi?” tanya Vano dengan nada lirih.             “Aku mau kamu kayak dulu lagi.” Risa berteriak tepat di depan laki- laki itu. “kamu yang nggak pernah mengabaikan aku. Kamu yang selalu kirim pesan dan telepon aku kalau aku lagi marah. Kamu yang sekarang nggak kayak gitu.” Kata Risa. Kedua matanya sudah berkaca- kaca.             “Ris, nggak ada yang berubah sama aku. Aku tetap cinta sama kamu. Aku cuma perlu berpikir dan menenangkan diri. Begitu juga dengan kamu.” Kata Vano.             “Nggak. Kamu yang dulu nggak perlu menenangkan diri setiap ada masalah. Kamu yang dulu akan terus telepon aku sampai aku angkat panggilan kamu. Sekarang kamu bisa dua hari nggak telepon dan kirim pesan ke aku. Kamu berubah, Van!” sentak Risa. “aku nggak tahu siapa yang dua hari ini kamu telepon dan kamu chat.”             Vano menghela napas kasar, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. “kamu boleh cek kalau kamu mau.” Vano mengulurkan ponselnya ke arah Risa. Meminta gadis itu memeriksa pesan dan daftar panggilan dalam ponselnya.             Risa mengambil benda pipih itu. Namun wanita itu tak membukanya dan malah melemparkannya sekuat tenaga ke tembok taman.             Mata Vano membulat. Ia menatap ponselnya yang sudah tergetelak di antara rumput hijau.             “Nggak usah pakai ponsel kalau kamu nggak bisa chat atau telepon aku.” Gadis itu pergi dari sana, meninggalkan Vano yang mencoba menahan rasa sakit yang tiba- tiba merayapi seluruh sel tubuhnya. Angin dingin malam itu terasa menusuk hingga tulangnya yang paling dalam. Suara pintu yang ditutup dengan keras meyakinkannya bahwa gadis itu sudah masuk ke dalam rumah.             Vano merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak menyangka akan mengalami semuanya. Dengan langkah gontai, mendekati tembok taman dan memungut ponselnya yang layarnya sudah retak dan dalam keadaan mati. Ia menekan tombol power dan melihat layarnya menyala namun tak lama kembali mati. Ponsel itu bahkan tak bisa mencapai menu utama.             Ia mengacak- acak rambutnya lalu menaruh benda pipih itu kembali ke sakunya lalu pergi dari sana. Sesaat sebelum ia menutup gerbang rumah gadis itu, ia menatap pintu utama lamat- lamat. Sedikit berharap bahwa gadis itu akan keluar dan bilang bahwa ia menyesal melakukannya. Namun ia tahu bahwa itu tidak akan terjadi. Ia membalik badan lalu berjalan mendekati mobilnya dengan langkah gontai.   ***               Lula baru saja keluar dari minimarket saat hujan tiba- tiba turun dengan derasnya. Ia berdecak lalu menoleh saat Malik berdiri di sebelahnya dengan satu kantong belanja di salah satu tangannya.             Lula akhirnya berjalan mendekati meja dan kursi yang disediakan di depan minimarket. Malik mengekorinya dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong.             Lula melirik kantong belanjaan Malik yang ditaruh di bawah, tepat di sebelah kursi yang laki- laki itu duduki.             “Beli apa?” tanya Lula.             “Terigu, pewarna makanan sama bahan- bahan buat kue.” Jawab laki- laki itu. “mama nitip.” Katanya lagi saat melihat Lula menatapnya dengan tatapan penasaran. Lula membulatkan mulutnya lalu mengangguk pelan.             Bebarapa motor berhenti di depan minimarket. Mereka buru- buru turun dari motor lalu melangkah ke depan minimarket untuk berteduh.             “Aku minta maaf, ya.” kata Malik tiba- tiba. Lula yang sedang menatap hujan yang turun tiba- tiba menoleh ke arah Malik.             “Untuk?” tanyanya dengan nada bingung. Sebelah kakinya ditumpu ke kaki lainnya. Celana pendek wanita itu mengekspos sebagian paha dan betis wanita itu.             “Untuk pertanyaan tiba- tiba beberapa hari yang lalu.” Kata Laki- laki itu.             “Oh. Nggak apa- apa.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Lula. Ia bingung harus mengatakan apa dan mengobrol apalagi. Ia tak tahu bagaimana perasaan laki- laki itu sebenarnya, diam dan menjaga jarak adalah pilihan yang ia ambil untuk saat ini. Ia tak ingin kebaikannya disalah artikan oleh laki- laki itu.             Hening menyelimuti keduanya cukup lama. Selama itu hanya suara air hujan yang mendominasi. Malik sesekali melirik Lula yang tampak fokus menatap hujan di depannya yang entah kapan akan mereda dan berhenti.             Malik menatap seorang pria yang berdiri tepat di samping Lula. Pria itu tampak menatap ke arah kaki Lula dengan tatapan intens. Malik membuka jaket jeans yang melekat menutupi kemejanya lalu menarik kursi wanita itu agar mendekat ke arahnya.             Lula kaget saat tiba- tiba kursinya bergerak. Semakin kaget lagi saat tiba- tiba Malik menutupi kakinya dengan jaket jeansya.             “Nggak usah.” Kata Lula. Ia hendak mengembalikan jaket itu saat Malik menggeleng lalu melirik pria yang berdiri di samping wanita itu. Yang sudah mengubah arah pandangannya karena tertangkap basah.             Lula yang mengerti akhirnya menerima kebaikan Malik. Ia membenarkan posisi duduknya sehingga jaket jenas milik laki- laki itu bisa menutup kakinya yang terekspos.             Lula melirik Malik yang tiba- tiba berdiri dan berjalan untuk kembali masuk ke dalam minimarket. Pria yang tadi berdiri di sebelahnya sudah pergi menembus hujan. Matanya lalu menatap jaket milik laki- laki itu yang ada di pangkuannya.             Tak lama laki- laki itu kembali dengan dua buah cup kopi panas. Ia memberikan salah satunya pada Lula yang langsung mengucapkan terima kasih.             “Kamu tahu nggak, gimana proses terjadinya hujan?” tanya Malik tiba- tiba. Jika Lula sedang minum, ia yakin ia akan menyemburkan isi mulutnya mendengar pertanyaan laki- laki itu.             "Kenapa nanya gitu?" tanya Lula dengan nada bingung. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Malik menang baru saja bertanya padanya mengenai proses terjadi hujan. Ia melihat laki- laki itu mengangguk pelan. Ia tidak mengerti kenapa dari semua pertanyaan, laki- laki itu memilih pertanyaan itu.             “Aku bingung aja mau ngomongin apa.”             Setelah hujan mereda. Keduanya memutuskan untuk kembali. Malik sudah menaruh kantong belanjaannya dan milik Lula di bagian depan motor.             “Nih.” Lula mengembalikan jaket milik Malik sebelum laki- laki itu naik ke motor.             “Kamu pakai aja. Masih agak gerimis.” Katanya.             “Nggak usah.” Tolak Lula. Ia mengambil sebelah tangan Malik dan menaruh jaket itu di atasnya. Malik menatap ke langit. Masih gerimis meski tak seberapa. Angin habis ujan juga terasa begitu dingin.             Malik mengambil jaket itu lalu menyampirkannya di bahu Lula yang saat itu membelakanginya karena tengah memberikan selembar uang dua ribuan kepada tukang parkir.             Lula membalik badan dan menatap Malik. “Anginnya dingin.” Kata laki- laki itu. Ia langsung naik ke motor. Buru- buru agar tak menerima protes dari wanita itu.             Lula akhirnya menyerah. Ia naik ke belakang Malik setelah laki- laki itu menyalakan mesin motor. Perlahan roda motor itu berputar keluar dari parkiran minimarket dan kembali ke rumah Lula.             Benar kata Malik, udara malam itu dingin. Lula menggosok- gosok pahanya yang tak tertutup celana pendeknya karena dinginya terasa menusuk sampai ke tulang. Saat motor itu masuk ke dalam garasi rumah Lula, Aileen terlihat duduk di beranda rumah.             Keduanya turun dari motor lalu mendekati Aileen. Malik menyerahkan kantong belanjaan Lula dan mendengar wanita itu mengucapkan terima kasih.             Malik hendak pemit dan bertanya pada Aileen apakah wanita itu akan ikut dengannya karena mobil wanita itu ada di Daily.             “Nggak, deh, gue nginep di sini aja.” Kata Aileen. “makasih, ya.” kata Aileen. Ia melihat Malik mengangguk. Aileen mengambil kantong belanjaan dari tangan Lula dan membawanya ke dalam rumah. Meninggalkan Lula dan Malik di beranda rumah.             “Makasih, ya.” kata Malik. “kapan- kapan aku boleh main ke sini lagi, nggak?” tanyanya dengan nada ramah.             “Nggak boleh.” Kata Lula dengan nada tegas.             “Kenapa?”             “Aku nggak nyaman terlihat seperti gembel dihadapan orang lain. Meski aku bukan siapa- siapa kamu.” Jelas Lula dengan jujur. Malik tersenyum kecil.             “Nggak apa- apa. Kamu tetap cantik kok.” Kata Malik.             Lula terdiam. Ia melihat Malik tersenyum manis ke arahnya. Waktu terasa berhenti berputar. Lula tak tahu apa yang terjadi padanya. Ia merasa seluruh sel- selnya tubuhnya mati sehingga ia hanya melihat laki- laki itu berjalan menjauhinya dan masuk ke dalam mobilnya yang parkir di depan rumahnya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN