Bab 33: Kesempatan

1436 Kata

“Lorry, kamu sudah cerita ini dengan orang tua kamu?” Lorry menunduk dalam dan menggeleng kecil. Tangannya yang masing-masing bertumpu di atas lutut terkepal erat. Ia duduk di tengah-tengah ayah dan ibunya sementara wali kelasnya, Bu Erna, duduk di hadapannya, hanya dibatasi oleh meja. Walaupun tak bisa melihat apa-apa selain kedua kakinya dan rambut panjangnya yang berjuntai ke bawah, Lorry dapat merasa semua mata tertuju padanya. Rasanya seperti ditelanjangi. Takut, tak mampu bergerak dan tak bisa mengatakan apa pun. “Lorry, dijawab dong, Sayang. Mama sama Papa ingin tahu kamu sebenarnya ada masalah apa.” Letha berusaha membuat putrinya itu tenang agar lebih leluasa berbicara. “Sebelum Ibu perlihatkan video ini, lebih baik kamu katakan apa yang ingin kamu katakan, Lorry. Jangan dipen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN