Rivan memainkan bolpoin di tangan kanannya, malam ini kembali hujan setelah sore tadi sempat reda. Duduk di meja belajar sambil mengerjakan beberapa soal di bukunya ia rasa juga tidak bisa fokus karena otaknya terus memikirkan permintaan maaf Sandra saat di kafe cookies tadi. Kenapa ia jadi merasa bersalah karena seperti memaksa cewekbitu bercerita hak yang tidak ingin di ceritakan kepadanya. Tok... Tok... Tok... Rivan menjatuhkan bolpoin di tangannya saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk "Van." Suara Ayahnya terdengar dari sana, sejak beberapa bulan lalu dia dan Ayahnya sudah sepakat mengganti nama panggilannya dengan Rivan. Rivan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, membukanya untuk sang Ayah. "Ada apa, Yah?" Ayah Rivan mengangkat nampan yang dibawanya dari dap

