02

1360 Kata
"Saaaan, nyontek nomer terakhir tolong!" Baru saja kakinya menyentuh ubin pertama di dalam kelasnya Sandra sudah dikejutkan dengan suara Dila yang meminta contekan PR padanya. "Matematika?" Tanya Sandra "Iyalah." "Bukannya masih nanti ya?" Tanya Sandra lagi. "Lo kok banyak tanya sih, nggak mau ngasih contekan apa gimana?" Tanya Dila sewot. "Ngegas mulu lo, nih." Buku berwarna merah itu Sandra tempelkan ke muka Dila. "Bukan masalah nggak mau, biasanya lo kan kalo nyontek mepet gitu." "Ya, nantikan olahraga, capek, ya udah gue kerjain aja sekarang." "Iya in deh." Setelah lima belas menit berlalu bel berbunyi, gerombolan anak kelas 12 MIPA 4 itu berbondong-bondong keluar kelas menuju lapangan. "Dih, itu kok pak Amin udah dateng aja sih, gercep banget." Ucap Bimo salah satu penghuni kelas Mipa 4. Priiit Peluit dibunyikan tanda semua siswa harus segera ke lapangan dan berbaris. "Ayo itu jalan lama sekali ya, ayo cepat." Alhasil semua berlari menuju lapangan karena nggak mau jadi tumbal kelas untuk mengambil perlengkapan di gudang olahraga, perjanjian di kelas pak Amin cukup unik, bukan yang piket yang mengambil alat peraga, melainkan yang datang terakhir menuju lapangan. Sialnya Rivan yang tidak tahu apa-apa hanya berjalan santai dan ditinggal oleh teman-temannya. Dilihatnya ada cewek yang sedang berjuang mengikat tali sepatu sebelum berlari namun percuma. Yang lain juga terlanjur sampai. Priiiit "Nah iya kamu, sama kamu, silahkan kerjakan tugas. Ambil bola basket dua ya." Sandra yang mendengarnya hanya menghela nafas berat, kenapa juga tali sepatunya pakai acara lepas-lepasan. Sedangkan Rivan yang tidak tau apa-apa menunjuk dirinya sendiri. "Saya pak?" Tanya Rivan dari kejauhan. Sandra yang melihat hal itu langsung menyeret Rivan menjauh dari lapangan dengan sekuat tenaga. Bisa gawat kalau nanti Pak Amin ceramah karena salah satu muridnya masih bertanya. Panjang urusannya. "Apa-apaan sih lo?" Rivan berusaha melepas tanganya, tidak membutuhkan usaha sih sebenarnya. "Sstt, lo mending ikutin gue ya? Nanti gue jelasin." Rivan mengikuti langkah cewek itu dan mendengarkan cerita cewek itu tentang guru olahraga barunya yang baru ia tahu bernama Pak Amin itu. Tanpa sadar mereka sampai di gudang olahraga itu,yang jaraknya memang jauh. Pantas saja orang malas ke sini, ucap Rivan dalam hati. "Cari satu bola basket, satunya gue." Ucap Sandra menginstruksi. Rivan hanya mengikuti apa yang dikatakan cewek itu, lalu mencomot satu bola basket yang bercampur bola lainnya di ruangan itu. Sandra juga mengambil satu. "Yuk! Balik." "Aww." Rivan dengan sigap menangkap tangan cewek didepannya yang tak sengaja ia tabrak itu. Tapi sedetik kemudian ia melepaskan tangannya, sehingga membuat Sandra jatuh terduduk ke bawah. Rivan hanya diam, dan memilih keluar dari ruangan itu untuk kembali ke lapangan. *** Rivan mengusap darah yang terus mengalir di pelipisnya, serta menahan perih di sudut bibirnya. Ya, dia tadi memang berkelahi dengan orang tak dikenal, tapi jelas-jelas orang tersebut tidak bersalah. Hanya Rivan saja yang sedang cari masalah karena mencari pelampiasan emosi. Dan sekarang Rivan ingin sekali mengendarai motornya dengan ugal-ugalan hingga menabrak seseorang, hingga dia dapat hukuman, dan mati dipenjara. Tapi itu cuma pikiran liar yang tidak sengaja mampir. "Akkhh... Shhh" Rivan mendesah saat mencoba ingin berdiri, perutnya terasa sakit. *** Sandra mengerutkan kening, saat lagi-lagi melihat orang yang sama, namun ditempat berbeda. Kening Sandra semakin berkerut saat menyadari wajah teman satu kelasnya itu babak belur, dengan darah yang sedikit terlihat keluar dari pelipis. Ingin rasanya Sanda kabur, dan lari saat ini juga mengingat kalau teman barunya itu galak bukan main, belum lagi insiden kemarin waktu dia sengaja melepaskan tangan Sandra sampai dia terjatuh. Tapi bisa apa dia? Sandra juga manusia yang masih punya rasa peduli. Hati nuraninya mengatakan untuk menolong orang tersebut Akhirnya dengan setengah hati, Sandra menghampiri cowok tersebut. "Andra?" Ucap Sandra. Merasa ada suara, cowok yang masih menatap lurus kedepan itu memalingkan pandangannya, hingga fokus kearah suara. "Gue obatin" ucap Sandra pelan "Jadi lo ngomong sama gue?" Cowok itu mendengus pelan, saat Sandra mengangguk. "Nama gue Rivan bukan Andra!" Tegas Rivan dengan nada tidak suka. Apa Sandra bilang, mau ditolong saja masih ngegas. "Eh, iya maksud gue Rivan. Sorry, habis nama depan lo ada Andra nya" Sandra menjelaskan agak terbata kepada Rivan. "Ck, pergi lo! Nggak usah sok kasihan sama gue." ucap Rivan sinis "Gue nggak kasihan sama lo. Sedikit aja gue nggak ada rasa kasihan. Gue cuma peduli sama lo" ucap Sandra "Halaah, gue udah tau, semua orang cuma kasihan sama gue. Nggak ada yang peduli satupun sama gue!" Rivan berdiri dari duduknya. "Heh, inget gue juga manusia. Dan semua manusia pasti punya rasa kasihan" Sandra berhenti bicara, dia mengeluarkan beberapa benda dari alam tasnya. "Nih, kalo lo nggak mau gue obatin" Sandra menyerahkan beberapa benda yang tadi sempat dia ambil dari dalam tasnya. Salep kulit, dan beberapa plaster. "Gue pergi!" Sandra meninggalkan Rivan yang masih termangu ditempatnya. Dia terlalu syok dengan kejadian yang menimpanya begitu saja *** "Gue nggak kasihan sama lo. Sedikit aja gue nggak ada rasa kasihan. Gue cuma peduli sama lo" Kalimat itu terus terngiang di kepala Rivan, berputar terus menerus layaknya  kaset rusak. "Dua kali gue ketemu dia, dua kali juga gue ada di titik lemah" Rivan menggumam pelan. "Padahal ini hari libur" Rivan menanggalkan jaket khaki nya, melepas sepatu dan membuangnya sembarangan, menghempaskan badanya yang terasa remuk tanpa tulang. Rivan tersenyum miris, merasakan hidupnya yang sudah banyak berubah, ini sudah tiga minggu dia menunggu keputusan orang tuanya. Tapi mana, bahkan Rivan seperti anak terlantar tanpa orang tua. Flashback on Prangg...!!! "Maksud Mama apa? Papa disana kerja Ma, bukan senang-senang!" "Udahlah, Pa. Mama sudah tau, Papa disana selingkuhkan, iya? Ngaku Pa!" Djafar tersenyum sinis dengan mata yang mengarah menuju istrinya—Yasmin. "Kamu pikir aku nggak tau selama ini apa yang kamu lakukan selama aku kerja? Iya? Kamu pikir aku buta Yas?! Aku tau, bahkan kamu yang selingkuh. Bukan aku. Selama ini aku selalu pura-pura jadi orang bodoh didepan kamu sama Andra, sakit hati aku, waktu tau kamu sudah nggak setia sama janji kita yang dulu!" Djafar menghirup udara rakus. Emosinya bisa saja meledak saat ini juga. Dan Yasmin, sudah syok dengan apa yang dikatakan suaminya kepadanya. Bagaimana bisa suaminya itu mengetahui perbuatan bejatnya. "Kenapa aku bisa tau itu semua?" Djafar bertanya pada dirinya sendiri, seolah mengetahui isi dari otak istrinya. "Aku selalu ngirim orang kepercayaan aku buat jagain kamu sama Andra, aku cuma mau kalian aman. Tapi yang aku dapat malah berita duka. Kamu tau, saat aku ngeliat foto kamu dengan mesranya sama selingkuhan kamu itu? Bahkan aku masih bisa berfikir positif soal itu. Tapi Fikiran positif aku hilang Yas, dan semua itu kamu yang menghilangkan, kamu bawa selingkuhan kamu ke rumah, saat aku dan Andra nggak ada? Iya?! Kamu pikir aku sama Andra itu siapa Yas? Siapa?!" Djafar mengguncang pelan bahu istrinya. Yasmin menepis tangan Djafar yang berada di bahunya. "Aku capek Mas, kamu nggak tau, selain uang, aku juga butuh kasih sayang kamu. Kamu harusnya sadar itu!" Yasmin menghapus air mata yang terus mengalir deras di pipinya. "Aku mau kita cerai!" Ucap Yasmin lantang. Djafar terperangah mendengar ucapan istrinya itu. "Aku mau begitu, aku mau sedikit bebas. Nggak terus mengalah dan mengalah. Tapi kamu tau, gimana perasaan Andra? Kamu tau gimana perasaan dia saat tau orang tuanya yang dulu harmonis jadi rusak dan hancur. Aku masih peduli sama Andra  Yas!" "Aku nggak peduli!" Teriak Yasmin. Brakkk...!!! Keduanya menoleh ke sah suara, didapatinya Rivan yang berdiri tegak di ambang pintu. "Mama memang nggak pernah sayang kan sama aku? Sebenarnya Mama malu ya punya anak kayak aku? Iya?" Rivan mendengus kesal. Sudah cukup selama ini, dia pura-pura tidak tahu atas hubungan kedua orang tuanya. Dua bulan terakhir ini sifat Mama maupun Papanya sedikit berbeda, sejak saat itu juga semua yang ada pada diri Rivan berbeda. "Andra? Sejak kapan kamu disitu nak?" Djafar melonggarkan dasi di lehernya, yang semakin terasa mencekik. "Sejak kapan? Sejak semua kisah gelap ini dimulai" ucap Rivan pilu "Andra... Bukan gitu maksud Mama nak, Mama nggak pernah malu punya anak-anak kayak Andra, Mama bangga. Andra jangan salah paham dulu" Yasmin mulai mendekat kearah anaknya itu. Dan satu langkah Yasmin mendekat, satu langkah pula Rivan menjauh dari jangkauan, wanita yang selalu ia jadikan malaikatnya, wanita yang selama ini menjadi keluh kesahya, dan wanita yang selama ini mengajarkannya akan arti penting cinta, kasih sayang, dan kesetiaan. Nyatanya juga yang memberi pengalaman dan duka paling mendalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN