“Maaf. Aku memang teramat takut kehilangan kamu,” kata Teguh lirih. Apalah dirinya dibanding Wiwit yang super kaya itu?” “Oke kita sekarang makan dulu. Intinya mas Teguh sudah kasih izin. Tinggal jalannya mungkin nanti kita atur.” “Winda bisa jalan dengan Abang Adnan atau sesekali Winda dengan Pelangi untuk bertemu dengan Sukma dan segala macamnya. Tapi yang pasti seperti itu.” Biru tak ingin masalah hati terus dibahas di pertemuan kali ini. Itu sebabnya dia potong. “Lalu benderanya apa ini?” tanya Teguh pada Sukma. “Pakai personal saja. Belum pakai bendera. Pakai personal saja dulu,” jawab Biru. “Oke baik. Kita siapkan berkasnya,” Adnan akan segera mempersiapkan berkas. “Mungkin saat bicara berkas, saya bisa berangkat dengan mas Teguh. Kita ketemu dengan Wiwit dan mbak Sukma di lu

