ENAM BELAS

1583 Kata
"Ayo, Ri! Apalagi sih yang mau dibenerin! Astaga. Kamu takut telat tapi siap-siapnya lama!" "Kak Miya jangan teriak terus lho! Aku panik susah mikir kan. Ilang semua di kepala aku lho. Ah males." Gue memutar mata. Gimana orang nggak panik coba, ini kami belum jalan sama sekali. Gue dari tadi nunggu di bawah, dengan harapan dia bisa ekstra cepat karean semua serba dadakan. Mbak Zia nelepon pagi-pagi, minta tolong anter Riana karena dia harus ke kantor di jam yang lebih cepat dari biasa dan itu semua juga karena dadakan. Sekali lagi, dadakan. Alhasil, Riana kayak orang linglung yang nyari ini-itu nggak ketemu, gue pun sama paniknya. Berakhirlah gue di bawah. Eh, bukannya cepetan, malah makin lama. Ya nggak mungkin gue nggak panik. Belum lagi di jalan bakalan berjejalan kendaraan. Kalau telat, nanti dia ngambek dan aneh-aneh deh keluhannya. Anak tauladan mana boleh telat ke sekolah. Azriel aja udah lelah kalu nih sekarang nungguin dia nyampe. "Udah. Ayo, Kak Miya. Ngebut ya." "Ngebut ya? Terbang ke langit, mau?" Dia cemberut, gue jalan keluar rumah buru-buru. Pokoknya ini kalau sampai telat dan dia nyalahin gue, gue nggak akan segan-segan pelintir mulutnya. Gue sayang, tapi gue juga bisa jahat. Nggak tahu apa, pikiran orang lagi kalut banget sama masalah hidup. Perasaan bersalah itu emang nyekik sih, berengsek.  *** Awalnya gue bukan pecinta kopi. Bukan dalam artian gue nggak menikmati, tetapi memang nggak pernah minum aja. Sampai akhirnya, gue coba minum dan memang nggak sanggup kalau yang beneran murni kopi doang. Tapi, gue percaya banget aroma kopi, di kafe, sore-sore, itu bikin mood lo akan lebih baik. Alhasil, andalan minuman gue kalau ke sini adalah latte di mana susunya akan jauh lebih banyak ketimbang kopinya. Jujur aja, ninggalin cowok memang bukan pertama bagi gue. Perbedaannya, sebelumnya adalah, kami punya hubungan dulu, ketika gue merasa nggak bisa lanjut, maka gue yang memutuskan atau meninggalkan. Atau, sejak awal, ketika memang gue nggak punya ketertarikan sama sekali, maka mudah aja untuk bilang 'tidak'. Masalah yang sekarang, tentang Tarangga, adaah ketika di awal, gue tertarik dengan dia, kemudian mencoba karena ternyata dia pun sama. Gue mikirnya semua akan semudah yang sebelumnya. Ternyata, dia punya kecenderungan untuk berhubungan serius. Biasanya, ketika dia merasa begitu, dia akan bersikap 'normal' seperti cowok kebanyakan. Protektif yang berlebih atau mungkin malah jadi posesif, mengatur, clingy, dan lain-lain yang kesemuanya nggak gue suka. Payah, ribet, dan bukan gue banget. Jadi, meghindari semua risiko itu, apakah gue masih salah? "Hai. Sendirian?" "Astaga." Gue langsung menggelengkan kepala. "Sama siapa?" Dia cuma mengendikkan bahu. "Apa kabar, Reza?" Dia ketawa pelan. "Baik. Kamu kabarnya gimana, Miya? Udah mulai sadar belum kalau pendidikannya harus segera diselesaikan?" Setelah gue mendengus, dia tertawa pelan. "Biar aku tebak, keliatannya lagi galau banget, kantung mata kayak panda, muka jadi ditekuk, auranya gelap banget." "Apaan sih." Gue akhirnya ketawa juga. "Apa yang kamu dapet setelah pergi dari aku?" "Yang aku dapet?" tanyanya nggak perlu. Dia memutari pinggiran mug dengan jemari, kemudian menatap gue lagi. "Sesuatu yang nggak aku yakini ketika bareng kamu." Setelah mengatakan itu, dia ketawa lagi. "Miya dengan kerutan dahi yang sangat kentara kalau lagi bingung. Aku pengen nikah, Mi." "Wow." Gue cuma bisa mengucapkan kata itu, sambil tergelak. "Wow. Congrats!" Dia mengangguk sambil tersenyum geli. "Udah ada calonnya?" Kepalanya menggeleng. "Belumlah. Kan baru pengen, nyarinya tetep harus hati-hati." "Ternyata memang semua manusia itu pengen menikah ya, Za? Nggak ada yang punya pandangan kayak gue?" Matanya menyipit, gue melanjutkan. "Salahkah kalau gue nggak pengen menikah? Salahkah kalau gue menganggap bahwa hubungan bisa mneyenangkan tanpa perlu berjanji sehidup semati di hadapan Tuhan? Simbiosis mutualisme itu ada definisinya lho, bukan cuma kata kosong tanpa makna." Reza nggak langsung menjawab, mata kami saling bertemu, menatap seolah lomba mencari sesuatu di dalam mata masing-masing. Mungkin dia ngeh, kegalauan yang gue rasain. Mungkin dia ngerasa, apa bedanya gue sekarang dengan yang biasa dia kenal. "Mi." "Hm?" "Simbiosis mutualisme, memang ada definisinya. Dan, frasa-frasa semacam itu nggak bisa kamu artiin secara harfiah berdasarkan definisimu. Manfaat untukmu dan si lelaki, mungkin aja beda." Gue menunduk, memilih memandangi minuman dalam cup yang gue genggam. "Coba kita bedah satu-satu," katanya. Gue tertarik untuk kembali menatapnya dengan fokus yang tinggi. "Ketika kamu nggak suka sesuatu, bolehkah kamu memaksa orang-orang lain untuk sama nggak sukanya kayak kamu?" Refleks, gue menggeleng. "Itu dia. Rasa nggak suka dan suka itu subjektif, Miya. Hanya buat konsumsi pribadi. Kalau kamu nggak suka sesuatu, kamu yang harusnya jangan mendekat, jangan mencari tahu, dan nggak perlu menyalahkan mereka yang tetap suka. Iya, kan?" Gue mengangguk, membenarkan. "Ngapain maksa orang buat suka kopi sementara mungkin orang itu nggak sanggup karena efek ke perut? Ibaratnya gitu kan?" "Tepat! Begitupun sama pandanganmu tentang komitmen." "Itu hal yang beda dong, Za." "Apanya yang beda? Apakah salah ada cowok yang pengen punya hubungan serius?" "Tapi kan seharusnya nggak masalah kalau aku punya pandangan yang beda." "Bener. Bener banget." Dia menyeruput minumannya. "Nggak ada yang salah sama pandanganmu. Menurutmu, kenapa kita berhasil sebelum ini?" "Karena kita fair, dan nggak ghois." Dia mengangguk. "Karena dengan kesadaran penuh, aku tahu apa yang kamu mau, begitupun sebaliknya. Begitu aku berubah pikiran, menemukan keinginan yang baru, sesuatu yang baru di hidupku, yang itu bertentangan dengan rules kita berdua selama ini, aku cerita ke kamu, aku milih berhenti, artinya aku mulai menganggap komitmen dan pernikahan itu penting. Di sisi lain aku bosen karena nggak bisa mendapatkan itu dari kamu, aku tahu kamu nggak bisa, makanya aku milih berakhir. Apa kamu marah karena kita pisah?" "Enggak. Sama sekali." "Artinya apa?" "Maksudnya gimana sih?" Dia ketawa lagi. "Artinya, kita berhasil menjadi dua orang yang berbeda prinsip untuk memulai atau mengakhiri sebuah hubungan. Kamu hargai aku yang punya pandangan baru, aku tetap hargai kamu yang tetap dengan pendirianmu. Intinya di apa? Komunikasi, Miya. Negosiasi." Negosiasi. Jangan ambil keuntungan sepihak, Miya. "Kamu nggak salah dengan prinsipmu. Yang menjadi masalah adalah kamu memaksa orang yang kamu targetkan harus punya yang sama." Anj*ng. Jantung gue berasa dicubit kencang banget. "Kamu libatin orang yang berbeda prinsip, dan ketika semua nggak berjalan baik, kamu marah, menyalahkan dia yang kamu nilai nggak bisa menghargai pandanganmu. Kamu sendiri gimana, sudahkah menghargai pandangannya?" "Za ...." "Mi, hidup memang simpel banget kayak apa yang selalu kamu utarain. Tapi percaya sama aku, di luaran sana, setiap manusia yang bernyawa, mereka bawa definisi simpelnya masing-masing. Kamu nggak bisa menyamaratakan semua sesuai standarmu." Reza b*ngs*t. Tiba-tiba, air mata gue netes, dan gue buru-buru mengelapnya. "Kamu berengsek, bikin aku nangis bahkan setelah kita jadi mantan." "Sorry," lirihnya sambil tesenyum tipis. "Tapi aku rasa aku perlu ngomong ini semua untuk salah satu bekal hidup kamu ke depannya. Masih mau denger nggak?" Gue mendengus kencang. "Masih penting nanya setelah kamu hujam aku dengan kata-kata b*****t tadi?" Dia ketawa lagi. "Okay, aku lanjut. Dengar ini dan tolong diingat selalu ketika kamu lagi ketemu sama seseorang yang kamu taksir. Lelaki yang kamu targetin itu, Miya, diciptakan Tuhan dengan masalah hidup, pemikiran, pencapaian dan alurnya sendiri. Dia nggak serta merta lahir di dunia buat jadi sesuatu yang kamu mau, buat ngobatin luka kamu. Jangan berharap itu ke lelaki-lelaki biasa. Kecuali, kamu bisa dapetin itu ke mereka yang memang menyediakan jasa buat tempat kamu berobat. Buat tempat kamu mendapatkan apa yang dimau. Itu beda cerita." Miya, Miya, Miya. Tarangga yang sebaik itu malah lo jebak, dengan harapan dia akan paham dan syukur-syukur bisa mengikuti jenis hubungan yang lo mau. Keji banget emang otak lo. "Kalau kamu masih mau terus sama pandanganmu ini, jangan libatin orang-orang yang nggak berpandangan sama. Cari yang kayak aku waktu bareng kamu, itu akan lebih aman." Gue ketawa miris. "Tapi, kalau kamu berubah pikiran setelah ini nanti, mau mulai buat bersudut pandang lain, kamu bisa. Kalau memang butuh bantuan untuk itu, tenaga profesional banyak dan mereka siap membantu, Miya. Nggak semua cowok berengsek kok, cewek pun ada yang sama bejatnya. Dan nggak semua pernikahan itu berakhir hancur, ada  mereka yang punya sejuta cara buat bangkit." "Kamu makin keren, Za." "Thank you." Senyumnya semringah. "Ingat ya, Mi. Jangan jadiin orang yang niatnya serius sebagai korban ya, Mi. Kamu bukan penjahat cuma karena kamu nggak pengen menikah. Cari lelaki yang memang punya keinginan sama kayak kamu. Jangan puasin egomu untuk menaklukkan laki-laki dan mengubah dia jadi apa yang kamu mau, cukup cari yang sama." "Thank you." Gue menatapnya penuh haru. "Thank you." Dia nggak cuma jadi Reza yang bisa memberikan seks yang hebat, tetapi pikirannya bahkan tetap sekeren dulu. Bedanya, dulu dia keren di mata gue karena kami punya pikiran yang sama. Dia sama nggak maunya dengan komitmen yang mengikat, dan dia bahagia karena ketemu cewek yang nggak menuntut untuk pernikahan. Kami simbiosis mutualisme. Kalau sekarang, dia tetap keren karena pemikirannya yang sudah berbeda. "Satu lagi, Miya." Kali ini, senyumnya merekah. "Seks itu overrated. Nggak semua laki-laki rela melakukan apa pun buat seks. Kurasa perempuan juga sama? Jadi, hati-hati ke depannya. Jangan sedih lagi, aku duluan ya." Selepas kepergiannya, badan gue otomatis melorot, gue bersandar di kursi. Seks itu overrated. Nggak semua cowok rela melakukan apa pun buat dapetin seks. Prinsip gue nggak sespesial itu sampai harus dilindungi dan didukung oleh semua orang. Hanya karena prinsip gue minoritas, bukan berarti gue berhak menganggap remeh prinsip kebanyakan orang. Gue harus menghargai mereka yang mau serius dalam sebuah hubungan. Gue harus memilah dengan teliti, siapa cowok yang gue ajak kerja sama. Karena sekali lagi, pikiran gue minoritas, jadi yang bisa gue jadiin partner nggak akan sebanyak yang gue pikir. Atau, kalaupun gue mau mencoba menjadi seperti kebanyakan, gue harus mengajari diri gue sendiri, dengan tangan sendiri atau bantuan orang yang memang menyediakan jasanya untuk itu. Bukan berharap pada seseorang dengan mengorbankan orang tak berdoa itu pada akhirnya. Semua itu ... adalah apa yang dimaksud dengan ucapan Reza tadi, kan? Itu kan inti dari semuanya? Bahwa pemikiran Tarangga mungkin memang kolot. Dia bilang mau meresmikan kalimatnya. Bisa kadi ngajak gue jadian, kan? Kalau gue selalu berpikir, memangnya setelah jadian itu apa? Mau ngapain? Siapa tahu Tarangga dan Tarangga-Tarangga yang lain, berpikir kalau hubungan yang baik adalah dimulai dengan PDKT, jadian, perkenalan lebih jauh, lamaran, menikah, punya anak, dan berakhir meninggal. Gue menundukkan kepala di atas meja, merasa bodoh seboboh-bodohnya.  --- TAMAT.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN