5

2056 Kata
"Abang kenapa?" tanya Ola pada pria yang sejak tadi diam saja di depan tv. Televisinya sih menyala, tapi roh orangnya tak tahu dimana. Soalnya, pria tampan yang mendapat gelar abang gantengnya itu sedang melamun. "Abang, ih malah dikacangin Olanya." Seru Ola sebal, Ketika Alfa masih diam tak menanggapi. Alfa menghela nafas panjang, kepalanya menengok Ola yang sudah cemberut melihatnya. "Menurutmu, abang ini gimana?" Ola mengernyit mendengarnya, "Kenapa abang tanya begitu?" tanya Ola tak mengerti, Alfa kembali menghadap ke depan dengan gelengan kepala. "Tidak ada, ya sudah abang mau keluar sebentar." Setelah mengatakan itu, Alfa beranjak pergi meninggalkan Ola yang menatapnya kebingungan. *** "Wajah lo kok sumpek banget?" tanya Raisa pada Zia yang menatap sendu pada ponselnya. Sejak sampai tadi, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tampak sendu entah apa penyebabnya. Padahal yang mengajak kongkow Zia, eh yang ada dia sendiri yang terlihat malas. "Gue galau." Zia berucap dengan meminum jus jambu kesukaannya. Raut lelahnya terlihat sekali pada wajah cantiknya. "Jiah, bahasa lo alay banget." Seru Fafa, membuat Zia semakin manyun saja. "Masih belum move on dari Dion?" Zia bergidik mendengarnya, hell!! pria penghianat itu? Yang ada Zia semakin enek mendengar namanya. "Please, cowok begitu buat gue gak bisa move on, yang ada gue nyesel pernah jadi pacarnya." Balas Zia tak terima. "Beneran? Padahal kemarin nangis darah gara-gara si mantan." Zia memutar matanya malas mendengarnya, "Gue gak nangis darah kali, lebay deh lo pada. Lagian gue udah ada penggantinya yang lebih cakep dari si mantan. Lebih kaya dari si mantan, dan lebih segalanya dari si mantan." Ujar Zia sombong, mengingat jika Alfa memiliki standar lebih tinggi dari si Dion. Padahal kenyataannya dia ditolak sama tu cowok kegantengan, mirisnya dalam hati. Raisa dan Fafa terbahak mendengarnya, "Sehat lo Zi?" Ujar mereka bersamaan, membuat Zia melemparkan bantal sofa pada dua sahabatnya itu. "Lo kira gue gila!!" Zia berkata tak terima. "Iyalah, lo baru putus dan itu belum seminggu. Masa iya udah punya gandengan aja. Kalau gak gila, mungkin ya lo kurang sehat." Raisa berkata dengan suara kekehan mengganggu telinga. "Dibilangin juga, gue itu dijodohin. Dari orang kalangan atas, yang dibandingin dengan Dion itu gak ada sekuku jarinya." Jelas Zia menggebu, membuat dua sahabatnya itu semakin tertawa. "Yakali situ Siti Nurbaya, pake acara dijodohin. Lagian pria kaya mana yang nyasar jadi jodoh Lo. Nia Rahmadani bukan, Sandra Dewi bukan, Luna Maya bukan, dan lo ngimpiin jadi istri pria CEO? Sana masuk lambe Turah, sana." Fafa k*****t!! Belum tau aja calon gue pria pemilik hotel yang sering kita datangin ketika ada acara kawinan. Zia mendengus sebal, "Fafa ih, dibilangin juga. Kalian berdua gak ada percayanya sama gue!" "Percaya itu dengan Tuhan Yang Maha Esa, kalau sama lo, musyrik jadinya." Tambah Raisa membuat Zia beranjak berdiri. "Lah, lah mau kemana?" Tanya Fafa, "Mau nemuin CEO," ketus Zia sebal bukan main. Lalu beranjak meninggalkan dua sahabat yang masih tertawa keras. *** Pukul tujuh malam, mobil hitam Alfa berhenti di sebuah rumah minimalis yang beberapa hari lalu ia kunjungi. Jantungnya berdetak kuat, dengan tangan yang sudah berkeringat dingin. Alfa kembali menghela nafas panjang menutup mata, dan memutar kejadian beberapa waktu lalu. "Karena saya bukan pria Soeteja." Zia menatap Alfa tak percaya, "Lalu?" "Kita tidak bisa bersama." Kata Alfa lagi, dan sekarang Zia sudah menatap sebal buka main pada pria di depannya ini. "Kamu menolak aku, lagi?" Tanya Zia tak percaya. Ya ampun ada apa dengan dirinya hingga pria ini dua kali menolaknya. Pertama di depan orang tuanya, sekarang di depannya sendiri. Alfa diam saja, dan Zia kembali berkata. "Dengar ya Alfa, kamu dan keluarga kamu sendiri yang datang ke rumah dan berniat menjodohkan kita. Aku? Aku tidak tahu apapun jika akan dijodohkan denganmu. Jadi sebelum kamu semakin besar kepala atau terlalu percaya diri, aku juga menolak perjodohan ini!" Jelas Zia dengan suara tegasnya, sungguh ia sudah tak tahan melihat pria tampan dan mengesalkan ini. "Maksud kamu?" Tanya Alfa, wajahnya sudah tak sedatar tadi. Tetapi Zia tidak menyadari itu, yang ada ia ingin segera keluar dari mobil ini. "Selamat malam, terimakasih makan malam dan tumpangannya." Kata Zia tanpa menjawab pertanyaan Alfa, tangannya membuka pintu mobil ketika lengannya ditarik oleh Alfa. "Maksud saya bukan begitu, dengarkan saya dulu." Kata Alfa tegas, membuat Zia memutar matanya malas. "Dengar ya Alfa, kamu tampan aku cantik, kamu kaya dan aku seorang dokter. Kamu Soeteja dan aku Fahreza. Jadi walaupun kita tak jadi bersama, itu tak masalah denganku. Jadi lepaskan tanganmu, karena aku sudah lapar ingin makan orang!!" Kata Zia ketus, lalu menyentak tangan pria itu lalu keluar dari mobil hitam yang telah mengantarkannya dengan selamat di depan rumahnya. Alfa kembali menarik nafas panjangnya, lalu membuka pintu mobilnya dan keluar. Wajah tampannya tampak gugup dengan debaran jantung yang terasa sekali. Setelah yakin, barulah langkah Alfa berjalan menuju rumah Zia. Tok Tok "Assalamu'alaikum," Alfa mengucapkan salam setelah mengetuk pintu bewarna coklat itu, namun taka da jawaban. Alfa kembali mengetuk dan mengucapkan salam, hingga ketika salam yang ketiga pintu itu akhirnya terbuka. "Walaikumsalam, loh Alfa?" Kata wanita dibalik pintu, yang Alfa kenal sebagai Bunda Zia, Billa. "Malam tante." Alfa berucap sopan, dan mengambil tangan Billa lalu menciumnya sopan. "Malam, mari silahkan masuk Alfa. Zianya belum pulang tapi," kata Billa setelah mempersilahkan Alfa duduk. Alfa menggeleng, "Saya kesini ingin bertemu Om Alif, Tante." "Maksud kamu, suami Tante?" Tanya Billa tak mengerti, kenapa pria yang dijodohkan dengan putrinya ingin menemui suaminya. "Iya Tante, Om Alifnya ada?" Kata Alfa lagi. "Oh ada, sebentar Tante panggilkan." Kata Billa, lalu beanjak pergi meninggalkan Alfa untuk memanggil suaminya. Lima menit kemudian, Alif muncul dengan senyum wibawanya. "Alfa?" "Om," sapa Alfa sambil menyalami sahabat Pappinya itu. "Ada apa mencari, Om?" Tanya Alif setelah duduk bersandar menghadap Alfa yang tampak gugup di depannya. "Begini Om, saya mau mengatakan sesuatu." Alif mengangguk, "Jadi katakanlah." Alfa berdehem sebentar sebelum menatap Alif yang juga menatapnya. "Saya bukan bagian dari keluarga Soeteja, Om." Alfa berkata dengan raut serius, melihat bagaimana reaksi orang di depannya ketika ia mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Alif diam tanpa memberi tanggapan, dan Alfa kembali berkata. "Saya bukan putra kandung Pappi dan Mommi." Alfa diam sejenak, sungguh hatinya sesak ketika harus mengatakan jati dirinya yang bukan siapa-siapa. Alif masih diam, dan Alfa kembali berbicara. "Saya anak yang ditemukan ketika lahir, dan diangkat oleh Mommi dan Pappi sebagai anaknya. Jadi saya tidak pantas jika mendapatkan Zia sebagai istri saya, karena saya bukan siapa-siapa dari keluarga Pappi." Jelas Alfa, membuat dadanya berdenyut sakit ketika mengatakannya. Sungguh mengingat semua itu membuatnya sakit. Sudah lama, dan Alfa masih tidak menerima penjelasan Pappinya dulu jika dia bukan putra kandungnya. flashback "Selamat ulang tahun anak Pappi, sudah tujuh belas tahun berarti sudah tahu tanggung jawabnya sebagai seorang pria, kan?" Raffi berkata dengan memeluk erat anak lelakinya yang sudah besar. Tak terasa, anak yang sejak lahir ia rawat, sudah sebesar ini sekarang. Alfa mengangguk mendengarnya, "Makasih Pi, udah membuat Alfa berada di dunia ini." Jawab Alfa, dan melepaskan pelukan dengan Pappinya. Raffi tersenyum, "Mommi dan Ola mana? Pappi telat ya bikin kejutannya?" Tanya Raffi ketika tidak mendapati dua wanitanya. "Di dalam Pi, dan Alfa tahu jika Pappi selalu datang walaupun telat. Jadi tidak masalah." Alfa tertawa mengatakannya. Walaupun sibuk, Alfa tahu jika Pappi nya itu adalah orang yang menepati janjinya, dan tentunya menyangi keluarganya. "Maaf, ada hal yang tidak bisa Pappi tinggalkan tadi. Jadi, bisa Pappi berbicara berdua denganmu Al?" Alfa mengernyit, "Berbicara apa, Pi?" "Pembicaraan antar lelaki." Kata Raffi. Dan mengajak Alfa ke ruang kerjanya. "Jadi pembicaraan apa yang Pappi maksudkan tadi?" Tanya Alfa setelah duduk di depan Pappinya. Wajahnya semakin tampan, di usianya yang baru tujuh belas tahun. "Pappi harap, setelah kamu tahu ini. Kamu tidak berubah, atau membuat dirimu menjadi tidak percaya diri di depan Pappi, Mommi dan Ola. Kamu sudah besar, kamu wajib tahu. Dan Pappi rasa, kamu sudah siap mendengarnya dari Pappi. Kamu bisa berjanji?" Suara Raffi serius mengatakannya. "Janji." Jawab Alfa mantap tanpa keraguan. Raffi mengangguk, lalu mata yang selalu menatap tajam itu menatap mata Alfa penuh rasa kasih sayang seorang Ayah. "Maafkan Pappi mengatakan ini, kamu anak Pappi dan Mommi yang kami rawat sejak lahir di dunia. Tetapi kami bukan orang tuamu yang sebenarnya."  Raffi berkata tenang, tetapi ia bisa melihat keterkejutan putranya ketika mendengarnya. "Maksud Pappi?" Suara Alfa bergetar, tanda ia tak mengerti atau dia yang terlalu bodoh, Alfa tidak tahu. "Pappi dan Mommi dulu menemukanmu ketika kamu dilahirkan oleh ibumu, dia meninggal saat kami membawanya ke rumah sakit." Jelas Raffi. Alfa tak berkata bahunya terkulai lemas, matanya tak lagi menatap Pappinya. "Jadi, aku bukan anak Pappi dan Mommi?" Suara Alfa tertelan dengan sesak di hatinya. Matanya memerah, menatap Pappinya yang juga tampak bersalah melihatnya. Ada apa sebenarmya, Alfa tidak tahu kenapa tiba-tiba Pappinya mengatakan hal yang luar biasa mengguncang batin dan jiwanya. "Lalu aku siapa Pi? Anak haram?" suara itu bergetar dengan sendirinya, menyalurkan jika Alfa tak sanggup menahan rasa sesak dalam dadanya. Raffi sudah menduga Alfa akan mengatakan hal itu, dan itu sangat menyakitkan hatinya pasti. Sejak dulu Alana selalu melarang Raffi mengatakan hal sebenarnya karena takut membuat anak tersayanya akan terguncang hatinya dan hal terburuknya akan meninggalkan mereka. Namun bagi Raffi, itu tidak adil bagi ibu kandung Alfa yang sudah meninggal. Alfa perlu tahu ibunya, dan ibunya butuh Alfa untuk ketenangannya di alam sana. "Kamu Alfa, putra Pappi dan Mommi, kamu tetap akan menjadi anak kami. Tapi kamu harus tahu, ada ibu yang juga perlu kamu doakan di alam kuburnya. Hanya itu niat Pappi berkata itu padamu. Selain itu, apapun yang terjadi kamu tetap anak kami, putra satu-satunya Pappi dan Mommi." "Tapi Pi," Raffi mendekat merangkul putra semata wayangnya itu, "Tuhan mengirimkanmu pada kami dulu lewat ibumu, Mommi yang merasakan detak jantungmu terlebih dahulu dan Pappi yang mengadzani kamu untuk pertama kali. Jadi sampai kapanpun kau tetap putra kami satu-satunya." *** "Pappimu belum mengatakan jika kamu juga bagian dari keluarga Opamu?" Suara Alif membuat lamunan Alfa buyar. Mata Alfa kembali menatap Alif yang sudah tersenyum padanya. "Maksud Om?" "Kamu tetap menjadi keluarga Soeteja, di darahmu mengalir darah Soeteja yang kental. Dulu ketika kamu masih di ICU, Pappi kamu mencarikan donor ASI untukmu. Dan alhamdulillah, sepupu dekat Pappimu dulu sedang menyusui. Dan kamu tahulah Pappimu seperti apa, dia memberikan apapun untuk mendapatkan ASI yang memang sangat dibutuhkan untukmu saat itu." Jelas Alif, membuat Alfa kembali mengetahui cerita hidup yang tidak ia tahu sebelumnya. Pappinya tidak mengatakan hal itu padanya. "Jadi dalam kata lain, ada darah Soeteja yang kamu dapatkan dari Asi yang kamu minum dulu. Walupun DNA kalian berbeda, tapi kamu satu ibu s**u dan itu berasal dari sepupu Pappimu sendiri. Jadi jika kamu merasa kurang percaya diri karena kamu bukan anggota keluarga Soeteja, buat Om itu kesalahan." Alif menghirup nafas sebelum kembali melanjutkan. "Alana merawat mu sejak kecil hingga dewasa untuk menjadikanmu anak yang baik seperti Pappinya. Dan Raffi mendidik kamu agar bisa menjadi pria bertanggung jawab yang seperti dirinya, pria Soeteja. Walaupun kamu bukan darahnya, tapi apakah Raffi membedakanmu? Tidak, dia tidak membedakanmu dan Ola sampai saat ini. Dia menjadikanmu penerusnya, dia menjadikanmu pria yang bisa Om percayakan untuk bertanggung jawab pada Zia, Putri Om." "Tapi Om, Alfa__" Alif memotong perkataan Alfa cepat, "Biarkan Zia yang memutuskan, karena dia yang akan menjadi pendampingmu kelak. Om mempercayaimu, karena Om rasa kamu pria yang tepat untuk Putri Om. Jadi jika memang kamu menolak perjodohan ini, Om bisa menerimanya." Kata Alif, membuat Alfa diam tanpa kata. Alfa keluar dari rumah Zia dengan langkah lesunya, matanya menyipit ketika menyadari wanita yang sejak tadi dibicarakan sedang berdiri bersama seorang pria yang duduk di atas sepeda motor hitamnya. "Hahaha, abang bisa aja. Ya udah hati-hati ya bang, besok Zia panggil lagi kalau butuh tumpangan." Zia tertawa dengan tangan yang menepuk pundak pria itu, tidak menyadari jika Alfa sudah berdiri di belakangnya dengan tangan yang tersimpan di saku celana hitamnya. "Siap mbak cantik, yaudah abang pulang dulu sebelum masnya cembekur sama abang hahaha." Jawab pria itu, membuat Zia mengernyit tidak mengerti maksudnya. Dan ketika tangan pria itu menunjuk arah belakang Zia, barulah wanita cantik itu berbalik dan mendapati siapa yang sedang menatapnya datar. "Alfa? Kamu kok?" Zia terkejut mendapati pria yang sudah menolaknya tadi malam, sekarang sedang berdiri menjulang di depannya. Suara sepeda motor berjalan, membuat suasana menjadi canggung karena hanya tinggal Alfa dan Zia yang saling menatap. "Darimana?" Tanya Alfa datar, Zia mencoba santai, padahal jantungnya sudah berdetak tak karuan seperti tertangkap selingkuh oleh pria di depannya ini. "Rumah sakit." Jawab Zia sesantai mungkin. Alfa mengangguk, lalu tanpa berkata lagi berjalan ke arah mobil meninggalkan Zia yang tercengang luar biasa. Itu cowok maksudnya apaan? Cuman tanya begitu, lalu dirinya ditinggal pergi begitu saja? "Al," panggil Zia. Sungguh ia ingin memarahi pria yang sudah membuatnya emosi sejak semalam. Alfa berhenti melangkah dan berbalik menghadap Zia yang sudah menarik nafasnya kesal. "Kamu itu, NYEBELIN!!" Seru Zia penuh penekanan, dan berbalik pergi ketika Alfa memanggilnya. "Zia," Zia tidak berbalik, karena ia sudah malas menatap pria yang sok kedinginan itu. "Besok jangan naik gojek lagi, kamu bisa menelfonku untuk menjemputmu."  Zia berbalik cepat ingin tahu maksudnya apa, ketika Alfa sudah masuk dan menjalankan mobilnya. "Hey!!! Itu tadi maksudnya apa??!!!!"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN