Hamil, adalah sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh Zia ketika usia pernikahannya dengan Alfa memasuki bulan kedelapan. Setelah penyakit bernama miom itu mengganggu segala hal optimis dari dirinya yang kemungkinan terburuknya tidak bisa hamil, namun Tuhan sepertinya lebih mencintai Zia dengan dititipkannya calon manusia dalam rahimnya. Hal itu membuat dua keluarga besarnya dan keluarga besar suaminya mengucap syukur tak terkira. Akan tetapi setelah kabar membahagiakan tersebut, Zia harus dibawa menyerah dengan kandungannya. "Makan ya?" Kata Billa, bunda Zia yang sejak semalam menemaninya di rumah sakit. Melihat tubuh ringkih putri pertamanya membuat hati sang bunda tak tenang. Zia menggeleng menolak, entahlah ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun walaupun itu hanya mengunyah ma

