1. Di rumah Ayah dan Ibuk

794 Kata
" Kok cantik ya " Arkam menggumam dan tersenyum samar. lalu ia lanjutkan perjalanan menuju ruangannya karna banyak pekerjaan sudah menumpuk. di rumah ibunya, Dira disapa ayahnya " Halo sayang " Tara ayah Dira sambil tersenyum lebar. " Hai Ayah, kok masih ngepel aja sih "di balas dengan tersenyum pula. " Iya nih, bentar lagi selesai kok. Vero lagi bobok tuh, eh.. gimana wawancaranya? " tanya ayah Dira yang tau kalau putrinya menerima panggilan wawancara " Iya Yah, Alhamdulillah lancar kok. Ya udah yuk masuk dulu ini biarin aja dulu." Dira " Iya dikit lagi tanggung. nanti nyonya besar marah klo gak selesai,...hahaha " kompaklah Dira dan ayahnya tertawa. Lalu Dira pun masuk rumah lebih dulu dan langsung menuju kamarnya semasa belum menikah dulu. Dilihatnya Vero yang sedang tidur. Ia memilih membersihkan diri dan lalu menyusul ibunya di dapur. Dilihatnya sang ayah yang sedang duduk dan mengobrol bersama sang istri. " Masak apa, buk? " tanya Dira " Nih masak sayur lodeh kesukaan ayahmu, dah sana bangunin terus mandiin cucuku ini tinggal nyambel doang. Ayah juga mandi dulu sana, habis itu Shalat berjamaah baru makan. Sehabis Shalat magrib berjamaah, mereka semua makan malam dengan nikmat sesekali bercanda tawa. Vero yang makan berantakan tapi sendiri dan tak disuapi lagi karna merasa sudah bukan anak kecil lagi. Disela waktu makan Dira mengatakan bahwa ia akan pulang pagi karena harus berebes dan melihat kos-kosan yang ia kelola apakah ada masalah atau tidak. “ Kamu gak mau tinggal bareng Ayah dan Ibuk aja, Ra? Nanti kalo kamu emang keterima kerja kan pasti repot tuh. Urus rumah, Vero, nganter sekolahnya belum lagi ngurusin kos-kosan yang pasti bikin kamu capek. Lagian kan kamu tinggal sendiri sana Vero, mending kumpul lagi di sini. Vero biar Ayah sama Ibuk anter jemput sekolahnya “ ucap Tara dengan muka cuek bebek sambil makan tapi mode serius. “ Iya Ra, Ibuk juga kesepian loh. Kan kalo kita bareng jadi rame lagi nanti rumah kamu sewa jasa tukang bersih-bersih seminggu sekali aja. “ “ Yah Buk, kalo gak ditempatin jadi serem ih. Gak tega juga kalo dibiarin kosong Yah. “ Dira. “ Vero juga ada teman disini Mah, kalo di rumah pulang sekolah aku kesepian dong.” Vero ikut menimpali. Rumah Dira adalah komplek perumahan yang cukup sepi karna penghuninya sibuk dengan urusannya masing-masing dan orang-orangnya pun cuek, pun tidak banyak anak-anak di sana. Dira terdiam sambil berpikir bagaimana baiknya dia dan anaknya jika ia diterima bekerja nantinya. “ Ya nanti dipikirin lagi Yah, Buk. Sekarang jalanin aja dulu gimana nantinya. “ jawab Dira “ Sayang, ngapain aja tadi disekolah? “ tanya Dira kepada anaknya yang sedang duduk santai di ruang tamu rumah ibunya karna dia ingin menginap. Besok hari sabtu dan Vero libur, ia juga belum ada pemberitahuan diterima kerja. Jadi ia ingin menginap di rumah orangtuanya. “ kami bercerita tentang kegiatan di rumah Mah, jadi aku maju kedepan kelas dan menceritakan kegiatan sehari-hari di rumah. “ kata Vero “Wah seru tuh pasti, eh besok jalan-jalan ke mall yuk. Kita cari sepatu baru buat Vero. Biar ada gantinya, masak Cuma pake yang itu-itu aja sih” ajak Dira “ Boleh. “ Vero. “ Duh nak, kok cuek lagi sih. Jangan kayak bapakmu dong, cuek abis apa-apa harus mamah yang ngurusin” rengek Dira dalam hati jika anaknya dalam mode cuek bebek. “ Vero sayangnya yang ti, yuk ambil wudhu terus isya berjamaah” ajak Ranti dengan senyum lebarnya “ Iya yang ti, yuk Mah sama yang kung kita shalat isya dulu terus bobok” jawab Vero sekaligus mengajak kakek dan mamahnya. “ Yuk! “ jawab Tara dan Dira serempak Mereka berempat shalat dengan khusuk dan diimami sang ayah, setelah selesai mereka mengaji bersama sebentar sampai waktu menunjukkan pukul 21.00. Lalu merapikan perlengkapan shalat kemudian duduk- di ruang keluarga. “ Heh, udah pada tidur ih dah malem tau “Ranti menitah karna ia yang terakhir keluar dari ruang shalat melihat anak, suami dan cucunya sedang mengobrol ringan diruang tamu. Apalagi sudah pukul 21.30, sudah waktunya Vero tidur jadi sekalian yang tua ikut tidur. “ Iya nyah “ sahut Dira, Tara dan Vero serempak terhadap titah sang nyonya besar. wkwk nih semua pada nurut ya. Ibuk dan Ayahnya masuk ke dalam kamar mereka, Dira dan Vero menyusul masuk kamar ibunya sebelum menikah dulu. Tak lama Vero sudah tidur karna memang sudah waktunya tidur, sementara Dira masih sibuk berfikir bagaimana baiknya hari-hari esok ia lewati. Apakah memang harus ia pindah, tapi kan sayang karna di rumah itulah kenangan dari awal menikah sampai akhirnya sang suami harus meninggalkan ia dan anak mereka. Kalu ia tinggalkan pasti rumahnya jadi tak terawat lagi. Dan lagi pasti jadi horor, ih pusing harus gimana dong. Besok pikirin lagi sekarang waktunya bobok. Dan tak lama kemudian ia menyusul anaknya mengarungi alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN