Kemudian Ibrar membawa kepala Adiknya itu ke dalam dekapannya. Ibrar pun mencium kepala Adik yang disayanginya itu. Rasa haru dan bimbang menyelimuti perasaannya.
Setelah beberapa saat, kemudian Ia melepaskan dekapannya itu. Lalu Ibrar memegang wajah Adiknya dengan kedua tangannya dan mengarahkan pandangan Fahad ke matanya.
"Dengarkan Kakak!" ucap Ibrar.
Fahad menganggukkan kepalanya menanggapinya.
"Fahad! Asal Kamu tahu, semuanya ini juga sulit bagi Kakak. Akan tetapi, Ayah dan Paman telah memutuskan semuanya. Di Dubai Kakak tidak hanya kuliah, akan tetapi Kakak juga mengurus bisnis Kita yang ada disana. Kakak adalah putra tertua Keluarga Kareem. Ini semua menyangkut tanggung jawab. Apakah Kamu mengerti, sekarang?" jelas Ibrar.
"Aku tidak tahu Kak! Dan Aku tidak ingin mengerti!" jawab Fahad.
"Tidak, tidak! Kamu harus mengerti, Fahad! Sudah saatnya Kamu belajar menjadi dewasa sekarang! Setelah Kakak ke Dubai, maka Kamu akan mulai dilibatkan dalam perusahaan Kita yang di Pakistan. Sudah saatnya berhenti bermain-main, Fahad! Kamu mengerti?" nasehat Ibrar.
Fahad mengangguk ragu menanggapi nasehat Kakaknya.
"Akan tetapi ini semua sulit bagiku, Kak. Aku harus menjalani semuanya tanpamu. Dan tentang Ibu.., Kakak tahu Dia tidak bersikap baik dan tidak pernah peduli kepadaku," jawab Fahad.
"Iya, Kakak tahu. Oleh karena itu Kamu mencari tambahan kasih sayang lain dari seorang gadis. Kakak sangat memahami bahwa itu semua adalah pelampiasanmu untuk mendapatkan kebahagian dan kasih sayang. Maka Kakak tidak melarangmu untuk memiliki pacar," ujar Ibrar.
"Iya Kak, itu semua benar! Tidak ada orang lain yang memahami Aku selain Kakak Ibrar. Dan hanya kasih sayangmu lah yang Aku dapatkan dari rumah ini. Sungguh miris kan nasibku? Tinggal di rumah mewah namun minim kasih sayang dan cinta kasih," ungkap Fahad.
"Iya, iya, iya! Aku sangat memahaminya! Akan tetapi sekarang sudah saatnya Kamu bangun dari semua pikiranmu itu, Fahad! Dewasalah! Jangan terlalu melankolis! Kamu adalah putra dari Keluarga Kareem. Kamu tahu apa maksudnya dan apa tanggung jawabmu?" tanya Ibrar.
"Apa?" tanya Fahad polos.
"Belajarlah menghadapi realita! Semua orang dirumah ini dan dilingkungan Kita, Mereka tidak memperdulikan kasih sayang dan cinta kasih. Hanya bisnis dan uang! Kamu seharusnya paham itu!" jawab Ibrar.
Ibrar menjeda kalimatnya. Fahad memanyunkan mulutnya menanggapi ucapan Kakaknya.
"Kemudian tentang pacaran. Kakak harap Kamu tidak terlalu menaruh harapan besar dalam hubungan percintaan. Kamu harus tahu, ketika keluarga memutuskan untuk pernikahan, maka Kita tidak bisa menolak. Berhati-hatilah bermain perasaan! Oke?" lanjut Ibrar menasehati Fahad.
"Iya Kak! Aku akan mulai belajar dari sekarang. Akan tetapi Kakak harus berjanji untuk selalu bersama di setiap langkahku. Aku masih sangat membutuhkanmu," mohon Fahad.
"Tentu saja Aku akan selalu bersamamu. Meskipun ragaku di Dubai, akan tetapi jiwaku masih ada di Kashmir. Telpon dan kirim pesan setiap saat Kamu membutuhkan Kakak! Kakak akan membalasnya di sela-sela kesibukan Kakak! Oke?" jawab Ibrar.
"Oke Kak! Terima kasih! Aku berjanji Aku akan menjadi lebih dewasa mulai hari ini," janji Fahad.
"Good boy!" ucap Ibrar.
Kemudian Mereka berdua pun tersenyum. Beberapa saat kemudian, datanglah Tuan Tariq bersama asistennya ke kamar Ibrar.
"Hai, handsome boy! Sudah siap untuk acara wisuda?" sapa Tuan Tariq yang merupakan Ayah dari Ibrar dan Fahad.
"Alhamdulillah sudah Yah," jawab Ibrar.
"MashaAllah. Lihat ini!" ucap Tuan Tariq.
Beliau melihat Ibrar, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Fahad dan asistennya. Lalu Beliau memandang Ibrar lagi. Beliau pun memegang kedua pundak Ibrar dengan kedua tangannya.
"Inilah Putra Pertama Keluarga Kareem! Kamu sangat sempurna! Begitu gagah, tampan, cerdas, handal dalam bisnis di usia muda. Ayah sangat bangga padamu! Dan Ayah mengandalkanmu untuk mengurus bisnis keluarga Kita," ucap Tuan Tariq bangga.
"InshaAllah Ayah. Ibrar akan berbuat semampu Ibrar," jawab Ibrar.
"Oke! Waktunya berangkat. Ayo Kita berangkat ke acara wisudamu!" ajak Tuan Tariq.
"Oke Ayah," jawab Ibrar.
Kemudian Mereka semua berangkat ke acara wisuda Ibrar. Mereka pun pergi ke sekolah Ibrar. Mereka harus menempuh dua jam perjalanan dari Mirpur menuju ke sekolah Ibrar.
Setelah itu Mereka pun sampai di gedung Government Zamindar College Gujrat. Sekolah itu berada di Bimber road, Islam Nagar, Distrik Gujrat, Punjab.
Tahun ini, Ibrar adalah lulusan terbaik dari jenjang intermediate college program pre engineering.
Waktu pun berlalu. Hari berganti hari. Kini semua urusan kelulusan Ibrar telah beres. Saat ini Ia sedang berada di Bandar Udara Internasional Sialkot, Punjab, Pakistan.
Bandar Udara Internasional Sialkot adalah Bandar Udara publik pertama yang dimiliki oleh pihak swasta di Pakistan dan juga di Asia Selatan. Bandar Udara ini memiliki landasan pacu terpanjang di Pakistan.
Dari Bandar Udara Sialkot, Ibrar akan bertolak ke Sharjah dengan pesawat PIA (Pakistan International Airways). Ia akan menghabiskan waktu selama dua jam dua puluh lima menit di dalam pesawat untuk mencapai Bandar Udara Sharjah.
Setelah beberapa saat. Kini Ibrar telah siap duduk di dalam pesawat. Ia mendapatkan tempat duduk tepat di samping jendela. Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit pagi. Lima menit lagi pesawat akan lepas landas.
Ibrar sangat menyukai pemandangan saat pesawat akan lepas landas yang akan membuat pesawat terbang tinggi mengangkasa. Ia berpikir bahwa hal itu sama saja dengan kehidupan.
Bahwasanya manusia harus bersusah payah dulu merangkak, kemudian berjalan, lalu berlari untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkannya.
Hal itu juga terjadi dengan Ibrar. Bukanlah hal yang mudah bagi Ibrar seperti yang orang-orang awam lihat. Mereka melihat kesuksesan yang dicapai Ibrar adalah kesuksesan instan yang didapat secara langsung dari Ayahnya.
Bahkan Mereka tidak tahu, seberapa keras Ibrar berjuang untuk sampai di titik ini. Dan seberapa banyak hal dan kebahagiaan yang telah Ibrar korbankan atas pencapaiannya kini.
Jam demi jam berlalu. Ibrar hanya menghabiskan waktunya dengan memandang keluar jendela. Sesekali Ia meminum teh dan menikmati biskuitnya.
Jam tangan Alexandre Christie berwarna silver di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua belas lewat lima puluh menit siang. Saat ini pesawat tengah bersiap untuk mendarat. Setelah beberapa menit, akhirnya pesawat mendarat dengan aman.
"Alhamdulillah. Sampai juga di Sharjah," ucap Ibrar lirih.
Ia lalu bersiap untuk turun dari pesawat. Setelah mengambil barang bawaannya dan mengurus visa, kini Ibrar menuju area kedatangan penumpang.
Disana terlihat ada papan bertuliskan Mister Ibrar Kareem. Dengan melihat papan itu, Ibrar tahu bahwa hanya seorang supir atau mungkin orang kantor yang menjemputnya.
Sebenarnya Ia agak kecewa karena Ayahnya tidak datang langsung untuk menjemputnya. Akan tetapi itu semua sudah menjadi hal yang biasa dalam hidupnya.
Meskipun terkadang sesekali Ia berharap Ayahnya melakukan hal-hal kecil untuk membuat hatinya senang. Perhatian, waktu, dan kasih sayang. Ia sangat merindukan itu.
Kemudian Ibrar pun mendekati dua orang yang menjemput dirinya di Bandar Udara itu.
"Selamat siang Tuan Ibrar," sapa keduanya bersamaan.
"Selamat siang," sapa balik Ibrar.
"Bagaimana perjalanan anda, Tuan? Apakah menyenangkan dan berjalan lancar?" sapa salah satu pria itu.
"Iya. Alhamdulillah. Seperti biasanya. Semuanya berjalan lancar," jawab Ibrar.
"Oh iya Tuan. Mari Kita ke area parkir valet! Mobil Anda akan segera diantar," ajak salah satu pria itu.
"Baiklah. Ayo!" jawab Ibrar.
Kemudian Mereka pun berjalan menuju area parkir valet dari Bandar Udara itu. Setelah beberapa menit, Ibrar pun mendapatkan mobilnya.
Pria yang menjemput Ibrar menaruh koper Ibrar di bagasi. Sementara pria yang lainnya memberikan kunci mobil kepada Ibrar.
"Tuan Ibrar, ini kunci mobil Anda. Selamat melakukan perjalanan! Hati-hatilah berkendara! Semoga selamat sampai rumah," ucap pria itu.
"Iya. Tentu saja! Terima kasih! Akan tetapi Aku akan mampir untuk makan siang dulu sebelum pulang ke rumah," jawab Ibrar.
"Oh iya. Itu terdengar lebih bagus, Tuan. Selamat menikmati makan siang Anda," ucap pria itu.
"Iya. Oke, Aku pergi! Sampai jumpa! Terima kasih telah menjemputku," jawab Ibrar.