7). Semua Baik-baik Saja?

1095 Kata
Dulu, Ananta selalu memimpikan sebuah pernikahan yang indah bersama seorang pria yang akan menjadi suaminya. Setelah akad, Ananta memimpikan sebuah resepsi yang berkesan, malam pertama yang indah, dan tentunya bulan madu yang romantis. Namun, impian itu kini terpaksa harus dia kubur dalam-dalam karena nyatanya pernikahan Ananta dan Aksa hanya sebuah pernikahan yang dilandasi sebuah keterpaksaan. Aksa terpaksa menikahi Ananta karena ancaman dari Dodi yang akan melaporkan pria bermanik abu itu ke polisi jika tak mau menikahi Ananta. Sungguh, jika saja Ananta tahu sejak awal kalau ternyata Aksa sudah memiliki kekasih, dia tak akan mau dinikahkan dengan pria itu. Ananta sadar sejak awal jika mungkin Aksa akan sedikit terpaksa menikah dengannya, tapi demi apapun, Ananta tidak tahu jika pria yang kini berstatus suaminya itu ternyata sudah memiliki kekasih bahkan sudah melamarnya tepat di malam kecelakaan itu terjadi. Ya Tuhan, jika bisa. Ingin sekali rasanya Ananta memutar waktu agar pernikahan ini tidak pernah terjadi. “Saya pergi dulu, kamu diam saja di sini. Jangan pernah minta bibi untuk mengantar keluar,” pinta Aksa setelah penampilannya begitu rapi dan tentunya setelah Bi Ijah—asisten rumah tangga yang akan menemani Ananta selama tinggal di apartemen datang. “Iya Mas,” jawab Ananta yang masih setia duduk di kursi rodanya. “Nanti pulang jemput pacarnya, Mas pulang ke sini kan?” “Kenapa?” tanya Aksa sambil menaikkan sebelah alisnya. “Jangan berharap ada momen malam pertama dengan saya, karena itu tidak mungkin. Jangan tunggu saya pulang, karena mungkin saya pulang malam. Tidur saja di kasur, biar nanti saya tidur di sofa.” “Bukan gitu maksud aku, Mas. Kalo Mas pulang, mungkin aku bisa siapin air panas buat mandi,” ucap Ananta memberanikan diri, karena meskipun Aksa jelas tidak mencintainya, status Ananta tetaplah istri pria itu dan kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya sebaik mungkin. Aksa tersenyum miring. “Menyiapkan air panas?” tanyanya. “Bukannya kaki kamu gak bisa jalan, kan? Bagaimana bisa kamu nyiapin air panas buat saya? Oh atau jangan-jangan kamu cuman pura-pura lumpuh aja supaya bisa nikah sama saya. Iya, hm?” “Mas ....” Ananta menatap Aksa dengan perasaan yang mulai terluka. Bagaimana bisa pria itu melayangkan tuduhan yang saangat tak masuk akal. Sebelum kejadian malam itu, Ananta bahkan tak mengenal Aksa, jadi untuk apa dia berpura-pura lumpuh hanya untuk menikahi pria itu? “Kenapa? Apa tuduhan saya benar, Ana?” “Enggak, Mas. Untuk apa aku pura-pura lumpuh cuman buat nikah sama kamu,” ujar Ananta. “Kita enggak saling kenal, jadi untuk apa aku lakuin itu semua.” Aksa menghembuskan napas kasar. “Ah, ya sudahlah kalau begitu,” ucapnya. Dia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. “Saya harus segera berangkat. Saya tidak mau Viola menunggu terlalu lama nanti.” Aksa melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun, baru saja dia berniat untuk membuka pintu, Ananta memutar roda kursi yang dia duduki untuk menghampirinya. “Mas.” Aksa menoleh dengan malas. “Apa lagi?” Ananta mengulurkan tangannya—berniat untuk melakukan sesuatu hal yang lumrah dilakukan seorang istri ketika suaminya hendak pergi. “Apa?” tanya Aksa. Dia hanya memandangi uluran tangan Ananta dengan sebelah alis yang terangkat. “Sun tangan,” ucap Ananta. “Bagaimanapun juga aku istrinya, Mas, dan sudah seharusnya aku lakuin ini.” Bukannya menyambut uluran tangan Ananta, Aksa justru tersenyum miring. “Tidak perlu,” ucapnya. “Saya hanya ingin perempuan yang benar-benar saya cintai, yang melakukan semua itu nanti.” “Mas.” “Saya berangkat.” Tanpa banyak berkata lagi, Aksara membuka pintu apartemen lalu keluar dan menutupnya kembali dengan sedikit kasar—meninggalkan Ananta yang perlahan mulai menurunkan uluran tangannya itu. “Ah, setelah hari ini, pasti banyak hal lebih berat lagi yang harus aku jalani.” “Non.” Dengan segera Ananta menghapus air matanya yang sempat menetes lalu membalikkan kursi rodanya dengan kedua tangan untuk menghampiri Bi Ijah. “Iya Bi.” “Ini kopernya mau Bibi bantu beresin?” “Ah iya, boleh Bi," jawab Ananta. "Tolong bantu bawa ke kamar ya, Bi." "Iya Non." Ananta memutar roda kursinya menuju kamar Aksa yang berada di bagian kanan ruang tamu. Dengan bantuan Bi Ijah, dia bisa membuka pintu kamar tersebut dan pemandangan yang pertama disuguhkan kamar tersebut adalah suasana serba abu. Ya, mulai dari cat tembok, kasur, juga perlengkapan di kamar didominasi dengan warna abu—membuat kesan kalem dan klasik jelas tercipta dari kamar itu. Jika kebanyakan kondisi kamar pria selalu berantakan, maka berbeda dengan kamar Aksa yang terlihat begitu rapi. Semua barang tertata dengan sempurna di sana. "Non, bajunya simpan di lemari mana?" Ananta yang sibuk mengagumi suasana kamar itu, sedikit tersentak ketika suara Bi Ijah menginterupsi. Dengan segera Ananta menoleh untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan perempuan paruh baya itu. "Di lemari yang pendek aja, Bi. Kata Mas Aksa ada tempat kosong di sana," pinta Ananta. "Oh baik, Non." "Terima kasih, Bi. Maaf juga merepotkan," ucap Ananta ketika Bi Ijah berjalan sambil menyeret koper miliknya menuju lemari pakaian yang dia tunjuk untuk menyimpan pakaiannya. "Tidak apa-apa, Non. Ini sudah kewajiban saya." Ananta tersenyum tipis, hingga tak lama dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Tanpa basa-basi Ananta merogoh ponsel miliknya dari dalam tas selempang yang dia pakai lalu menjawab panggilan yang ternyata berasal dari sang Papa. "Halo, Pa." "Halo Ananta. Bagaimana, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Dodi daria seberang sana. Sebelum menjawab pertanyaan Dodi, Ananta menggigit bibir bawahnya. Jika ditanya apakah semuanya baik-baik saja, maka jelas jawabannya adalah tidak. Semuanya tidak baik-baik saja karena kini di malam pertama pernikahan, Ananta justru ditinggalkan sang suami yang jelas ingin menemui kekasihnya. Namun, Ananta juga tak mungkin mengatakan semuanya pada sang Papa karena bukan tak mungkin, Dodi akan melakukans sesuatu hal yang lebih serius pada Aksa dan tentu saja semua itu akan membuat Aksa semakin membencinya. "Ananta?" Ananta terkesiap, saat suara berat dari ujung telepon menyadarkannya dari lamunan. "Ah iya, Pa. Semuanya baik-baik aja kok, Pa," jawabnya bohong. "Papa enggak perlu khawatir." "Syukurlah," jawab Dodi dari seberang sana. "Mungkin untuk sekarang suami kamu belum terbiasa, tapi nanti. Papa yakin dia akan cinta sama kamu karena Papa yakin, enggak ada pria yang bisa nolak anak cantik Papa." Ananta tersenyum tipis. "Iya Pa, semoga aja." "Sekarang di mana suami kamu?" tanya Dodi kemudian. "Dia enggak pergi ke mana-mana, kan?" Bagaikan firasat, dari sekian banyak pertanyaan, Dodi melayangkan pertanyaan tersebut pada sang putri, dan tentu saja lagi, Ananta harus berbohong dengan menjawab, "Ada Pa, Mas Aksa lagi mandi." "Oh ya sudah kalau begitu," ucap Dodi. "Papa tutup teleponnya ya, sayang. Baik-baik kamu di sana. Nanti Papa jenguk kamu." "Iya, Papa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN