“Sayang, kamu ngantuk? Kalo ngantuk tidur aja, enggak usah nemenin aku nyetir. Abis perjalanan jauh, kamu pasti capek.”
Dengan lembut, Aksa mengusap paha Viola yang terbalut celana katun kotak-kotak. Posisi duduk perempuan itu memang persis di sampingnya. Semenjak mobil sedan hitam milik Aksa melaju, Viola sengaja merapatkan posisi duduknya dengan sang kekasih. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya pada tangan kiri Aksa yang memegangi kemudi dengan niat ingin menemani kekasihnya itu mengemudi agar tidak merasa bosan ataupun mengantuk.
“Enggak kok sayang, ngantuk dikit doang. Lagian aku mau nemenin kamu,” jawab Viola untuk kesekian kalinya—setiap Aksa meminta dirinya untuk tidur. “Lagian kalo aku tidur, nanti kamu bosen. Abis bosen kamu ngantuk, terus nyetirnya gak konsen. Kan, bahaya. Bisa-bisa kamu nabrak orang nanti.”
Deg.
Mendengar kata ‘nabrak orang’ dilontarkan Viola, ingatan Aksa seolah dikomando untuk kembali pada kejadian malam itu. Kejadian mengerikan yang membuat nasib percintaannya dan Viola di ambang kehancuran.
Ya, saat ini Viola mungkin baik-baik saja karena yang dia tahu Aksa masih seutuhnya dia miliki, tanpa sadar jika kini pria yang dia rangkul, pria yang duduk di sampingnya sudah berstatus suami perempuan lain.
Sungguh, mimpi terburuk bagi Aksa, jika sampai Viola tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Ananta. No, Viola tak boleh tahu semuanya. Sebisa mungkin Aksa harus menyembunyikan status bahkan sosok Ananta dari Viola. Biarlah nanti, setelah Ananta sembuh dan dia bisa menceraikannya, Aksa baru akan menceritakan apa saja yang terjadi.
“Ya udah kalo gitu, kamu enggak usah tidur,” ucap Aksa.
“Aksa.”
“Ya, sayang?”
“Beberapa malam yang lalu, aku mimpi buruk,” ungkap Viola tiba-tiba.
Aksa yang terus fokus pada jalanan, memutuskan untuk menoleh sekilas. “Mimpi buruk apa?” tanyanya.
“Aku mimpinya buruk banget,” ucap Viola. “Di mimpi itu kamu ninggalin aku. Kamu nikah sama cewek lain di depan aku, terus di mimpi itu kamu bilang kalo kamu enggak cinta lagi sama aku.”
Tidak ada angin, tidak ada hujan, bahkan tak ada apapun, Aksa tiba-tiba saja terbatuk seperti orang yang baru saha tersedak.
Panik. Viola melepaskan rangkulannya untuk mengambil botol minum dari atas dashboard lalu membukanya sebelum memberikan botol minum itu pada sang kekasih.
“Kamu kenapa? Aku salah ngomong, ya?” tanya Viola setelah batuk Aksa mereda.
“Enggak, aku enggak kenapa-kenapa, aku cuman kaget aja sama mimpi kamu, aneh banget,” ungkap Aksa—berusaha setenang mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan di benak Viola.
“Iya aneh banget, kan?” tanyanya. “Padahal kan kita enggak ada masalah atau apa, masa tiba-tiba aku mimpi gitu?”
“Iya. Aneh.”
“Mungkin karena aku kangen aja kali ya sama kamu,” ungkap Viola. “Kita kan enggak biasa jauh, jadi pas kita enggak ketemu beberapa hari, aku mimpi buruk.”
Aksa kembali tersenyum lalu mengelus puncak kepala Viola dengan lembut.
“Bisa jadi. Aku kan orangnya ngangenin, kamu jadi gampang kangen kalo enggak ketemu aku,” ucapnya.
“Dih dasar!”
Gemas. Viola meninju bahu kekasihnya itu—membuat konsentrasi menyetir Aksa buyar dan tentunya mobil sedan yang dia kendarai sempat oleng. Namun, tentunya tangan kakak Aksa dengan sigap mengendalikan kemudi agar mobil melaju seperti semula.
“Sayang ....” Aksa melirik Viola sekilas tanpa tatapan marah, bahkan cenderung gemas. “Mobilnya oleng tau, untung aja enggak nabrak.”
“Maaf, aku enggak sengaja,” ucap Viola penuh sesal.
“Iya enggak apa-apa, aku tau kamu enggak sengaja,” jawab Aksa dengan sikap manisnya. “Sini senderan lagi di bahu aku. Biar aku nyaman nyetirnya.”
“Oke deh.”
Viola kembali pada posisi semula. Dia menyandarkan lagi tubuhnya di bahu sang kekasih, hingga selang beberapa detik dahinya mengernyit saat menyadari di jari manis tangan Aksa, sebuah cincin perak melingkar dengan sempurna.
“Aksa.” Lagi, Viola duduk tegak. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh jari manis tangan Aksa yang kini berada persis di atas kemudi. “Ini cincin apa?”
“Cincin?” tanya Aksa. Tepat setelah Viola duduk seperti semula. Aksa mendesah pelan saat dia baru menyadari jika cincin pernikahannya dengan Ananta belum sempat dia lepas.
“Iya. Itu cincin apa?” tanya Viola—sekali lagi. Kali ini dengan intens kedua manik hitamnya menatap Aksa untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. “Kok bentuknya kaya cincin nikah?”
“Ci-cincin nikah?” Sial. Aksa merutuki mulutnya yang tiba-tiba saja gagap untuk menjawab pertanyaan Viola.
“Iya, kok kaya cincin nikah.”
Ayo Aksa berpikir. Kamu harus bisa nemu jawaban. Ayo Aksa ayo.
“Ah iya, sayang. Ini emang cincin nikah,” ucap Aksa pada akhirnya, dan tentu saja ucapannya tersebut berhasil membuat raut wajah Viola berubah.
“Maksud kamu?”
Aksa sudah tenang. Dia sudah bisa menemukan jawaban yang tidak akan membuat Viola curiga. “Iya ini emang cincin nikah, tapi bukan punya aku,” jawabnya. “Ini punyanya Papa Dirga. Tadi siang aku pinjem buat nyobain gimana rasanya pake cincin nikah. Eh keterusan. Lupa aku kembaliin.”
“Dih, kamu. Enggak sabaran banget. Nanti juga punya kali,” ucap Viola—percaya dengan ucapan sang kekasih. “Sampe pinjem punya Om Dirga segala. Kalo Tante Amanda nanyain gimana? Nanti bisa-bisa mama kamu nuduh yang macem-macem lho sama Papa kamu.”
Aksa tersenyum kembali. Entah kenapa berada di dekat Viola, selalu membuat hatinya tenang dan bahagia. "Enggak sayang, enggak bakalan," ucapnya. "Kamu tahu sendiri gimana setianya Papa Dirga dan saling percayanya Papa sama Mama. Jadi mereka atau Mama enggak bakalan langsung curiga cuman karena Papa enggak pake cincin nikah."
"Hm, iya sih. Papa sama Mama kamu itu emang pasangan suami idaman banget ya," ucap Viola. "Selalu romantis dan saling percaya. Makanya pernikahan mereka awet tahan lama."
"Iya, aku bahagia Mama nemuin Papa yang selalu ngerti. Bukan cuman sayang istri, Papa Dirga juga sayang banget sama anak-anaknya," ungkap Aksa.
"Iya," jawab Viola singkat. Dia yang sudah kembali bersandar, kini mendongak—menatap wajah Aksa. "Kamu juga harus kaya Om Dirga ya. Aku sama anak-anak kita nanti pasti bangga kalo kamu punya sifat dan sikap kaya Om Dirga."
"Iya sayang, kamu doain aku ya. Semoga aku bisa contoh sifat dan sikap Papa Dirga."
"Iya Aksa, aku selalu doain kamu."