Seperti yang terjadi pada umumnya, semakin banyak menghabiskan waktu bersama, semakin erat hubungan seseorang dengan orang lain. Itu pula yang terjadi pada Alistair dan Mikayla. Berawal dari pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di antara mereka, berlanjut pada kerja tim yang sama sekali tidak bisa di hindari kini dua orang itu sangat dekat satu sama lain. Mikayla yang sangat cerewet dan sangat aktif dapat melengkapi Alistair yang sangat irit berbicara dan selalu bersikap tenang.
“Kalian sekarang benar-benar dekat?” tanya Safira, dia menatap Mikayla dengan senyum menggodanya. Mikayla langsung berdehem kemudian nyengir.
“Ternyata nggak terlalu nyebelin,” jawab Mikayla berusaha sekalem mungkin. Dia tidak boleh terlalu salah tingkah di hadapan Safira. Mikayla tidak ingin gadis yang duduk di hadapannya ini berpikir terlalu berlebihan.
“Lo akan berhasil bersama dengan Ali,” ucap Safira, kali ini gadis itu tersenyum dengan sangat tulus. Mikayla menyipitkan matanya. Tingkah Safira sejak awal terasa cukup aneh untuk Mikayla. Gadis itu seolah benar-benar mendukung Mikayla bersama dengan Alistair.
“Saf, sebenarnya lo sama Ali itu apa?” tanya Mikayla, gadis itu menatap Safira dengan sangat serius. Safira terlihat cukup terkejut dengan pertanyaan Mikayla namun gadis itu berhasil menguasai diri dengan sangat cepat sampai akhirnya dia tersenyum pada Mikayla.
“Hubungan yang cukup dekat dan tidak akan pernah bisa lepas,” jawab Safira dengan senyum tipis, mata gadis itu terlihat mendadak kosong, Safira seolah sedang membayangkan hal yang cukup berat untuknya namun lagi-lagi gadis itu tersenyum pada Mikayla.
“Hubungan keluarga?” tanya Mikayla dengan ragu-ragu. Tapi hanya hubungan itu yang tidak pernah lepas bukan? Alistair sepertinya mengenal baik keluarga Safira, jadi kemungkinan besar mereka memang keluarga, entah keluarga dekat atau jauh, yang namanya keluarga tetaplah keluarga.
“Semacam itu. Ali terlihat lebih enjoy menjalani hidupnya akhir-akhir ini. Gue yakin lo sangat membantu dia,” ucap Safira. Lagi-lagi ucapan gadis itu membuat Mikayla merasa kebingungan. Terlampau banyak pertanyaan untuk Alistair dan Safira tapi Mikayla merasa tidak semua pertanyaan itu bisa dia tanyakan secara langsung. Mikayla takut itu akan menyinggung Alistair maupun Safira. Mikayla sekarang hanya berusaha percaya pada waktu, mungkin suatu hari nanti dia akan menemukan jawaban dari pertanyaanya entah itu melalui Alistair, Safira atau orang lain.
“Membantu? Gue bahkan nggak melakukan apapun Saf, nggak usah becanda,” ucap Mikayla, gadis itu langsung bangkit dari kursinya ketika namanya di panggil. Mikayla dan Safira memang sedang menunggu pesanan kopi mereka yang akan di bawa ke lantai lima. Mereka sekarang sedang lembur, ada Alistair dan Fandi juga di lantai lima.
“Gue nggak becanda,” ucap Safira, dia mengambil alih kopi dari tangan Mikayla. Mereka melangkah beriringan untuk kembali ke lantai lima.
“Saf, Alistair bukan orang yang bisa gue capai dengan mudah dan gue juga tidak berniat untuk mencapai dia, bagaimana gue bisa membantu sedangkan gue tidak pernah bergerak sedikitpun. Lagian juga, Alistair sejauh ini terlihat fine-fine aja, nggak ada masalah sama dia,” ucap Mikayla, mereka masuk ke dalam lift.
“Lo akan ketemu jawabannya sendiri nanti. Lo benar-benar membantu Alistair,” ucap Safira, gadis itu menggandeng tangan Mikayla dan mereka keluar dari dalam lift, “Mika tolong jangan percaya tentang apapun yang lo dengar tentang Alistair kalau hal itu nggak keluar dari mulut Alistair sendiri.” Safira kemudian gadis itu langsung masuk ke dalam ruangan dimana ada Alistair dan Fandi yang terlihat sangat sibuk menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.
Mikayla memilih langsung duduk di sofa. Pekerjaan Mikayla sudah selesai sebelum mereka pergi membeli kopi, sekarang hanya tersisa pekerjaan Alistair, Safira dan Fandi. Mikayla mengamati interaksi Safira dan Alistair. Jika keduanya benar-benar keluarga, rasanya semua pergerakan mereka tidak menggambarkan itu. Alistair dan Safira tidak terlihat seperti itu.
Bagaimana Alistair menatap Safira dan cara pria itu berbicara pada Safira, semuanya terlihat sangat berbeda.
“Lo mikirin apa?” Mikayla tersentak ketika Fandi tiba-tiba duduk di sampingnya.
“Mas Fan, menurut lo apa hubungan antara mereka berdua?” tanya Mikayla. Alistair dan Safira terlihat sedang berbiacara satu sama lain, terlihat sangat professional tapi pergerakan mereka tidak bisa bohong satu sama lain.
“Itu masih jadi misteri di lantai lima. Sejak mereka bergabung dengan Maju Sukses tidak ada yang tahu pasti seperti apa hubungan Alistair dan Safira yang sebenarnya. Tapi beberapa kesempatan beberapa anak kantor pernah melihat mereka pergi liburan bersama, Negara yang selalu jadi kunjungan wajib mereka setiap tahun adalah Thailand. Terus ada juga yang pernah lihat keduanya sama-sama check in di kamar hotel yang sama,” ucap Fandi dengan sangat pelan. Gosip tentang Alistair dan Safira sebenarnya cukup banyak tapi karena tidak pernah mendengar tentang fakta yang sebenarnya, gosip itu hilang begitu saja.
“Lo serius, Mas?” tanya Mikayla dengan cukup terkejut. Ingatan Mikayla membawanya kembali pada saat mereka menginap di Bandung. Safira pernah mengatakan pada Alistair bahwa pria itu tidak pernah meninggakannya sendiri di kamar sebelumnya kemudian saat malam harinya Alistair mengatakan pada Mikayla bahwa pria itu hampir saja melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Mikayla menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat, kepalanya mendadak terasa sangat pusing.
“Itu gosip yang gue dengar sebelum lo bergabung dengan Maju Sukses.” Fandi meneguk kopinya, tatapannya tidak lepas sediktpun dari Alistair dan Safira yang terlihat masih sibuk dengan urusan mereka.
“Terus sekarang gosip itu udah hilang?” tanya Mikayla, gadis itu terlihat sangat penasaran.
“Tidak bisa dikatakan benar-benar hilang karena beberapa orang masih membicarakan itu. Kalau lo mau tahu tentang Alistair lebih jauh, gue rasa ada satu orang yang bisa lo tanya.”
“Siapa?”
“Bhanu, dia satu-satunya orang yang bisa dekat dengan Alistair dengan cepat. Gue beberapa kali pernah melihat Alistair dan Bhanu terlibat dalam obrolan yang cukup serius dan itu di luar jam kerja. Gue yakin Bhanu tahu lebih banyak,” ucap Fandi. Mikayla mengangguk. Sebenarnya itu tidak mengherankan. Bhanu memang semudah itu membuat seseorang nyaman ketika berbicara dengannya.
“Fan, jadi pulang bareng?” tanya Safira yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.
“Memang udah selesai?” tanya Fandi. Safira mengangguk. “Ali bilang kita bertiga bisa pulang lebih awal, dia akan menyelesaikan sisanya. Mika bawa mobil kan?” tanya Safira, Mikayla tentu saja mengangguk.
“Yuk pulang,” ucap Safira, gadis itu membereskan barang-barangnya, Fandi juga melakukan hal yang sama. Mikayla menatap Alistair yang terlihat masih sangat sibuk. Dia mengabaikan Safira dan Fandi yang sudah pergi lebih dahulu.
“Sisa sebanyak apa?” tanya Mikayla. Dia berdiri tepat di samping Alistair.
“Selesai,” ucap Alistiar. Pria benar-benar mengakhiri pekerjaanya. Mikayla mengangguk. Gadis itu langsung mengambil barang-barangnya kemudian berniat melangkah meninggalkan ruangan namun saat ingin melakukan itu, Alistair tiba-tiba menahan tangannya dan menarik Mikayla lebih dekat. Tatapan mereka bertemu satu sama lain.
“Al, kenapa?” tanya Mikayla. Jantungnya kali ini benar-benar berdetak dengan sangat kencang. Posisinya yang tersandar ke meja dan Alistair yang berdiri tepat di hadapannya jelas membuat Mikayla merasa tidak baik-baik saja.
“Kenapa lo mencari tahu tentang gue pada orang lain?” tanya Alistair, tatapan pria itu semakin lekat bahkan wajah mereka semakin dekat satu sama lain. Tangan Mikayla menggenggam tepian meja dengan sangat erat. Sepanjang hidupnya, ini untuk pertama kalinya Mikayla ada di posisi yang seperti ini. Cukup menakutkan untuknya.
“Gue nggak mencari tahu apapun,” ucap Mikayla setelah berhasil mengumpulkan kekuatannya. Dia ikut menantang Alistair dengan tatapannya walau itu tidak bertahan sampai lima detik.
“Kenapa bohong? Lo bahkan mengobrol dengan cukup keras dengan Fandi. Apa yang lo inginkan dari gue, Mikayla?” tanya Alistair, suara pria itu semakin rendah, jarak di antara mereka bahkan hampir terkikis habis. Mikayla menahan napasnya, dia menghindari tatapan Alistair.
“Gue nggak menginginkan apapun. Lepasin gue sekarang Al, nggak enak di lihat orang lain,” ucap Mikayla, dia berusaha mendorong Alistair namun alih-alih menjauh Alistiar justru semakin merapatkan tubuhnya.
“Alistair, please lepasin gue, ini nggak nyaman sedikitpun!” seru Mikayla, gadis itu menoleh dan hal yang tidak pernah Mikayla duga sedikitpun terjadi. Bibirnya bertemu dengan bibir Alistair.
“Al, gue…” ucap Mikayla lagi-lagi terhenti karena Alistiar justru berbalik menciumnya bahkan bibir pria itu bergerak di atas bibirnya. Mata Mikayla membola. Genggaman tangannya pada tepian meja semakin mengerat. Ini adalah pengalaman pertama untuk Mikayla. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya. Hal yang bisa Mikayla lakukan hanya diam. Dia membiarkan Alistair melakukannya sendiri. Ketika tangan Alistair bergerak ke pinggangnya saat itu Mikayla tersentak dan dengan sangat refleks gadis itu mendorong Alistair. Napas Mikayla memburu, Pikiran Mikayla mendadak kosong.
“Mika…” ucap Aistair, pria itu ingin kembali mengambil tangan Mikayla namun yang dilakukan oleh Mikayla adalah menepis tangan Alistair. Gadis itu melangkah dengan sangat cepat meninggalkan ruangan itu. Ini sangat mengejutkan untuk Mikayla. Ciuman pertamanya bahkan di ambil oleh seseorang yang tidak berhasil Mikayla kenali dengan sangat baik dan seseorang yang tidak ingin Mikayla capai sedikitpun.
“Gue benar-benar bisa gila, jika terus terlibat sama dia!”seru Mikayla, gadis itu menyadarkan tubuhnya dengan sangat sempurna di kursi mobilnya. Jantung Mikayla masih berdebar dengan sangat kencang.
“GILAK BIBIR GUE, SIAL!” seru Mikayla, gadis itu memukul setir mobilnya dengan sangat kuat kemudian buru-buru mengambil kaca dari dalam tasnya. Mengamati bibirnya dengan sangat lekat.
“Gue harus gimana sekarang? Bibir gue?! Alistair sialan!” seru Mikayla. Gadis itu buru-buru menyalakan mobilnya ketika melihat Alistair berjalan ke parkiran, mobil pria itu sejak pagi memang terparkir di samping Mikayla.
“Gue nggak tahu harus bersikap seperti apa besok. Seharusnya dia yang merasa bersalah kan? Gue adalah pihak yang sangat dirugikan di sini. Tapi malu banget yaampun!” seru Mikayla, dia langsung menggerakkan mobilnya saat Alistair baru saja ingin mengetuk kaca mobilnya.
Mikayla tidak tahu cara menghadapi Alistiar mulai sekarang. Semua yang terjadi di antara mereka begitu cepat. Mikayla bahkan tidak sempat memikirkan bahwa Alistair akan kembali menciumnya bahkan dengan ciuman yag seperti itu. Ini akan gila. Mikayla tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin ini awal untuk akhir atau juga sebaliknya.