Bab 8: Teman

1867 Kata
“Siang Fira!” Mikayla tersenyum dengan sangat riang ketika dia masuk ke dalam mobil Safira, seperti yang pernah mereka bicarakan beberapa hari yang lalu, mereka hari ini akan hunting makanan di kafe-kafe baru yang sedang trend di kalangan masyarakat. “Siang Mika,” jawab Safira dengan senyum yang cukup lebar. Seketika Safira merasa pilihannya untuk bertemu dengan Mikayla dan menghabiskan waktu dengan gadis ini adalah yang paling tepat. Safira sangat yakin Mikayla akan berhasil mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang sudah menganggunya beberapa hari terakhir. Terkadang Safira ingin berlari sejauh yang dia bisa tapi ternyata itu tidak berhasil sama sekali. “Kenapa? Lo kurang tidur?” tanya Mikayla sembari mengamati wajah Safira bahkan mata gadis itu terlihat menyipit. “Hm, banyak hal yang harus gue lakukan akhir-akhir ini,kita mau pergi kemana dulu?” tanya Safira berusaha mengalihkan perhatian Mikayla. Sepertinya itu sangat berhasil ketika Mikayla mengatakan kemana mereka harus pergi dan apa yang harus mereka makan nanti. Gadis itu sepertinya memang sudah menyiapkan semua hal dengan baik. “Fira, lo tahu, gue senang banget ketika lo bilang mau nemenin gue hari ini!” seru Mikayla dengan sangat semangat, dia tersenyum dengan sangat lebar, “gue baru sadar kalau gue nggak punya teman, entah apa yang gue lakukan selama ini. Mungkin karena Bhanu satu-satunya yang dekat sama gue dan sisanya cuma datang ketika mereka butuh aja kemudian semuanya hilang. Sekarang gue sendirian. Nggak ada yang bisa gue ajak buat pergi-pergi. Tapi hari ini gue punya lo. Makasih!” Mikaya kembali menatap Safira dengan sangat antusias dan gadis itu lagi-lagi tersenyum pada Safira yang membuat kedua sudut bibir Safira ikut tertarik. Dia bisa merasakan betapa senangnya Mikayla hari ini. “Bukan hanya lo yang nggak punya teman tapi gue juga,” jawab Safira membuat Mikayla langsung menoleh ke arah gadis itu, menatap Safira dengan mata menyipit seolah dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Safira. “Gue nggak percaya, gimana mungkin orang secantik dan sebaik lo nggak punya teman, itu mustahil banget!” seru Mikayla. “Nggak mudah untuk mencari teman Mikayla dan nggak semua orang yang pernah mampir dalam hidup kita bisa dianggap sebagai teman. Terkadang mereka hanya datang untuk beberapa keinginan dan ketika keinginan itu terpenuhi, mereka akan pergi begitu saja dan kemungkinan besarnya baru akan kembali lagi ketika dia memiliki keinginan lainnya. Nggak ada hal yang benar-benar bisa kita percaya,” ucap Safira dengan sangat lembut bahkan banyak hal tersirat dari setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu, Mikayla bahkan terdiam mendengar ucapan Safira sebelum akhirnya dia mengangguk berkali-kali seolah baru saja menyadari bahwa apa yang Safira katakan memang benar adanya. Tidak mudah untuk mencari seorang teman. “Safira,” ucap Mikaya ketika mobil yang dikendarai oleh Safira sudah terparkir dengan sempurna di parkiran kafe yang sebelumnya Mikayla katakan. “Hm?” tanya Safira dengan kening kerangkat, gadis itu tersenyum lembut. “Gue akan sangat kesepian. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama mulai bekerja di tempat yang sama bahkan sekarang kita ada di tim yang sama, Saf mau jadi teman gue?” tanya Mikayla, rasanya aneh sekali ketika mengatakan kalimat itu tapi ketika melihat Safira mengangguk dan tersenyum saat itulah Mikayla langsung tersenyum dengan sangat lebar. Sekarang dia resmi memiliki seorang teman. Mikayla yakin akan sangat menyenangkan. Safira adalah sosok orang dengan pemikiran dewasa dan sangat lembut yang terpenting, Safira adalah orang yang sangat sabar, Mikayla yakin mereka akan bisa bersama dalam waktu yang lama. “Makasih,” ucap Mikayla dengan senyum lebarnya, mereka melangkah masuk ke dalam kafe dengan obrolan santai ala mereka. Di sini mekera hanya akan mencicipi beberapa menu yang paling hits kemudian akan berpindah ke kafe berikutnya sampai mereka bena-benar merasa puas untuk semuanya. Mikayla dan Safira memang memiliki hubungan yang baik semenjak mereka bertemu di Maju Sukses namun sekarang semua menjadi sangat jelas, mereka secara resmi menjadi teman. Harapan keduanya jelas sama yaitu ingin saling ada untuk satu sama lain. Mikayla sama sekali tidak bisa membohongi dirinya sendiri sekarang, Mikayla sangat bahagia untuk hal baru dalam hidupnya. Dia benar-benar memiliki seorang teman. *** “Gue sekarang ngerti banget kalau apa yang di bilang kebanyakan orang itu memang benar adanya,” ucap Mikayla, gadis itu sedari tadi fokus pada layar ponselnya. Mereka sedang ada di jalan pulang menuju rumah Safira. Gadis itu mengajak Mikayla untuk mempir kesana, sekalian untuk makan malam bersama katanya. Mikayla sebagai teman yang sangat baik jelas tidak menolak itu. Terakhir kali dia memakan masakan mama Safira, rasanya sangat enak sekali, jadi tidak ada salahnya untuk datang dan makan lebih banyak. “Apa?” tanya Safira. “Lo itu memang cantik kebangetan dan jadi incaran cowok-cowok di luaran sana. Liat kolom komentar i********: lo. Padahal lo cuma upload lagi megang gelas kopi tanpa ada wajah lo tapi isinya kolom komentar udah kayak asrama putra. Mana beberapa username-nya gue kenal lagi!” seru Mikayla dengan cekikikan, Sekarang dia sadar bahwa temannya kali ini adalah incara para pria diluaran sana. “Nggak ada yang benar-benar serius Mika, mereka cuma penasaran, jadi biarin mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan,” jawab Safira. “Lo pernah nggak merasa nggak nyaman dengan keadaan yang seperti itu?” tanya Mikayla. Safira langsung mengangguk. “Sering, tapi semakin gue mikirin, semakin gue yang tersiksa jadi lebih baik untuk nggak menganggap hal seperti itu serius. Sekarnag gue mulai terbiasa dengan keadaanya,” jawab Safira. Mikayla mengangguk. Itu sebabnya Mikayla tidak terlalu peduli dengan akun sosial medianya. Walau Mikayla hidup bebas dan cukup glamor bahkan meghabiskan uang sesuka hatinya tapi Mikayla melakukan itu hanya untuk kesenangan dirinya sendiri, dia sangat jarang membagikannya ke sosial media. Mikayla merasa dia tidak akan sanggup untuk menghadapi ucapan orang-orang diluar sana. “Mika,” ucap Safira ketika mereka tiba-tiba diam. Mikayla sudah menutup ponselnya dan memilih fokus pada jalanan yang cukup padat sore ini. Sesekali mata Mikayla menyipit ketika dia merasa sangat kenal dengan jalan yang dia lewati bersama dengan Safira. “Hm?” “Lo sama Ali gimana?” tanya Safira, gadis itu mmbelokkan mobilnya masuk ke dalam perumahan yang sangat terkenal di kawasan mereka. Perumahan yang di huni oleh orang-orang yang memiliki ekonomi yang sangat baik. “Saf, lo serius tinggal di perumahan ini?” tanya Mikayla, Safira langsung mengangguk. “Kenapa?” tanya Mikayla. “Enggak papa, perumahannya nggak asing. Gue rasa pernah datang ke sini sama bokap dan nyokap ke sini," ucap Mikayla, Safira mengangguk mengerti. Orang seperti Mikayla jelas sangat mungkin datang ke tempat ini. Itu bukan hal yang aneh untuk Safira. "Jadi lo sama Ali gimana?" tanya Safira saat dia menyadari Mikayla belum menjawab pertanyaannya. "Gue sama manusia es itu? Nggak ada-nggak ada. Gue nggak bakal ngomong sama dia kecuali tentang pekerjaan. Gue baru tahu ada manusia senyebelin itu di dunia ini, yaampun pengen gue bejek-bejek itu orang, ih greget!" seru Mikayla sambil menggerakkan tangannya seolah dia benar-benar gregertan akan semuanya. Safira merapatkan bibirnya, sepertinya memang akan sangat sulit untuk membuat Mikayla dan Alistair untuk akur dan berhubungan baik. "Ngomong-ngomong kenapa lo tiba-tiba nanya kayak gitu sama gue?" tanya Mikayla, dia menyakiti matanya. Safira belum pernah sebelumnya bertanya seperti itu padanya. "Hah? Nggak papa, hanya saja gue dan Fandi berharap kalian akur, kita akan menghabiskan waktu dalam waktu yang sangat lama satu sama lain," jawab Safira, terlihat cukup gelagapan tapi gadis itu sangat berhasil mengontrol dirinya sampai Mikayla tidak menyadari itu. "Saf, tentang di Bandung, lo bilang Alistair nggak pernah meninggalkan lo tidur di kamar sendirian, kalian sebenarnya apa?" tanya Mikayla. Safira terbatuk kemudian menggeleng dengan sangat cepat. "Bukan apa-apa, kita dekat sejak dulu. Jadi itu hanya candaan belaka, lo tahu kan Alistair sekaku apa jadi gue lumayan sering ngegodain dia. Jadi jangan dianggap terlalu serius," ucap Safira dengan sangat cepat. Mikayla lagi-lagi mengangguk. Apa yang di katakan oleh Safira masuk akal. Alistair memang harus di pancing dulu baru mau buka mulut. "Ayo turun," ucap Safira ketika mobil yang di kendarai oleh gadis itu sudah terparkir sempurna di depan gerbang rumah mewah yang desainnya sangat familiar untuk Mikayla karena kediaman orangtuanya juga memiliki desain tidak jauh berbeda. "Saf, ini beneran nggak papa?" tanya Mikayla. Safira langsung mengangguk sembari tersenyum. Dia menggengam tangan Mikayla san membawa Mikayla masuk ke dalam rumahnya. Mikayla entah mengapa mendadak canggung sekali, ini untuk pertama kalinya Mikayla datang ke rumah seorang teman selain rumah Bhanu. Rasanya sangat aneh tapi Mikayla berusaha melebarkan senyumnya. Dia harus memberikan kesan pertama yang bagus karena kemungkinan besar nanti dia akan lebih sering datang ke rumah Safira untuk bermain. "Fir!" seruan suara berat itu membuat Safira dan Mikayla langsung menghentikan langkah mereka. Mata Mikayla langsung membola ketika melihat siapa yang sedang duduk di ruang keluarga Safira. Lagi-lagi Alistair terlihat menggunakan pakaian serba hitam walau kali ini terlihat lebih santai tidak seformal yang pernah Mikayla temui malam itu. "Bokap sama nyokap mana?" tanya Safira. Dia melangkah ke arah Alistair dengan masih menggenggam tangan Mikayla. "Baru pergi," jawab Alistair dengan singkat. Safira langsung melirik ke arah Mikayla. "Mika, tunggu di sini sebentar, gue mau ambil sesuatu dulu di kamar," ucap Safira. Mikayla mengangguk dengan kaku kemudian duduk di sofa tepat di seberang Alistair. Keheningan menyelimuti dua orang itu, Mikayla sesekali melirik ke arah Alistair yang hanya duduk diam sejak tadi. Mikayla juga sedang tidak berniat untuk memulai pembicaraan. Dia masih kesal pada pria yang duduk dihadapan nya. "Yuk makan malam. Al, kamu juga. Bokap sama nyokap bilang kamu belum makan sejak tadi," ucap Safira tiba-tiba sudah turun dari lantai atas. Gadis itu sudah menggantikan pakaiannya dengan lebih santai. Mikayla langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Safira. Alistair juga terlihat melakukan hal yang sama. Keadaan rumah Safira sangat sepi. Hanya ada mereka dan juga dua orang pekerja di rumah ini. Suasananya tidak berbeda jauh dengan kediaman kedua orang tua Mikayla sebenarnya tapi Mikayla merasa rumahnya jauh lebih hangat. Disini benar-benar terasa sangat sepi, sendu dan juga dingin. "Disini abis ada acara?" tanya Mikayla ketika menyadari banyak sekali makanan yang tertata di meja. Safira dan Alistair terlihat mengangguk dengan sangat cepat. Sekarang Mikayla tahu apa alasan Alistair ada di tempat ini. "Makan duluan, gue dan Safira ke sana bentar," ucap Alistair, dia menarik Safira begitu saja. Mikayla hanya mengakat bajunya acuh, dia kemudian bicara dengan pekerja yang ada di rumah Safira yang menawarkan beberapa menu padanya. Walau Mikayla sangat penasaran dengan semuanya tapi dia memilih untuk tidak terlalu jauh. Mikayla tahu semua orang utuh privasi. Lagian tadi Safira mengatakan dia dan Alistair kenal sejak lama. "Al!" seru Safira ketika mereka sudah ada di taman belakang rumah Safira. "Kenapa kamu ajak dia kesini?" tanya Alistair dengan tatapan yang sangat dingin. "Memang kenapa? Dia temanku sekarang. Lagian aku juga nggak mengatakan apapun," ucap Safira, dia menantang Alistair dengan tatapannya. "Kamu mau apa?" tanya Alistair. Pria itu terlihat sangat lelah, mood-nya juga telihat belum membaik. "Bersikap ramah pada Mikayla. Aku mau kamu melakukan itu!" seru Safira. Alistair menatap Safira dengan tatapan seolah sedang mengatakan apa kamu gila?! "Safira, are kidding me?" tanya Alistair. Safira langsung menggeleng. "No, berhenti Al semuanya sudah selesai, ini waktunya kamu untuk memulai semua sejak awal!" seru Safira dengan tatapan sangat sendu dan penuh permohonan. Alistair terkekeh, bukan kekehan yang ramah tapi itu salah satu bentuk sarkasme. "Fine! Aku akan melakukan seperti apa yang kamu mau."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN