Setelah Jesica pamit, kembali Arya berhiatus di atas matras. Kali ini, tak lagi menatap langit-langit. Melainkan terus menerus memandang nomor ponsel Jesica, tak luput dengan senyuman lebar seakan gadis itu berada di depannya, sambil mencium si layar datar.
"Duh, duh! Tuhaaan! Senengnya gue!" kembali Arys terkekeh. "Jesicaaa! I love you!" Pria itu berangan sambil memonyongkan bibir. Mendadak sebuah tangan besar mendarat di mulutnya.
"I love you to!" sahut seorang pria yang tiba-tiba hadir tanpa suara langkah kaki. Dan berhasil membuat Arya terperanjat.
"Babi ngepet! ngagetin banget sih loe!" Arya tersentak. "Dari mana loe, tiba-tiba aja muncul. Jangan-jangan, lu miara jin ya, biar bisa menghilang, trus muncul sesuka loe!"
"Ngaco lu! Ngatain gue miara jin! Gue itu pake pintu tiga dimensinya doraemon. Puas lu!"
"Hahahaha!" Arya terbahak.
"Eh, ngapain tadi lu ketawa-ketawa sendiri? Jangan bilang lu mulai gila gara-gara banyak ketiban sial?"
"Kepo aja lu!"
"Hmm, serah loe deh! Yang penting, kalo lu beneran gila, jangan lu tularin ke gue!"
"Gak bakalan!" jawab Arya. Ngomong-ngomong, lu ngapain nyambangin kamar gue?"
"Nah! Pas banget nih loe bertanya! Kebetulan gue juga mau ngintrogasi elo!"
"Ngintrogasi? Ck! Masalah apaan? Kalo masalah duit, gue gak ada waktu! Sana loe, balik!" usirnya yang pura-pura sibuk menatap layar.
"Eh, Ar! Ini tuh bukan masalah duit. Tapi, ini masalah si pembuat onar!"
Mendadak mata sipit Arya terbelalak. Ia melirik sepintas. "Emang kenapa dengan si pembuat onar?" tanyanya sedikit tegang.
"Lu sengaja ya ngerjain gue?"
"Ngerjain, apaan?" Arya sedikit heran.
"Lu ngapain ngasih jaket gue ke dia? Pake acara bilang kalo pemilik jaket itu pangeran penyelamatnya lah!" ungkap Boby kesal.
Seketika bola mata Arya semakin membulat. Dengan bersusah payah ia menelan saliva. "Ngomong apaan loe, gak ngerti, gue!" tukasnya. Ia berbohong, meski sebenarnya ia tahu persis, apa yang dikatakan Boby.
"Masih gak mau ngaku lu yee! Lu lihat nih!" Boby menunjukkan fotonya bersama Alona dan Jesica ketika di pantai sore itu. "Lu bilang jaket gue hilang kan?"
Netra Arya semakin bulat. Bukan karena jaket yang melingkar di pinggul Alona. Melainkan karena foto sesosok wanita yang berada di sebelah Boby, yaitu Jesica.
"Lu, lu kenal sama cewek ini?" tanya Arya sambil menunjuk foto wanita di sampingnya.
"Trik mengalihkan pembicraan! Basi!" tukas Boby.
"Gue serius, ini!"
"Ya kenal lah! Loe pikir, gue jalan bertiga karena di ajak sama si pembuat onar?!"
"Gue gak mikir gitu sih! Cuma berharapnya, gitu!"
"Sialan, lu! Emang lu habis ngapain sih sama dia? Sampai tuh anak bilang, pengen jadiin loe pacarnya kalo ntar ketemu! Lu kalo naksir sama dia, tembak dong! Jangan malu-malu tai kambing loe! Pake ngejebak gue!" Boby nyerocos tanpa mengerem.
"Serius, dia bilang begitu?" tanya Arya kaget.
"Tuh kan, lu sampai kaget. Lu terharu ya, karena tau isi hatinya, gak nyangka, akhirnya cinta loe terbalas! Ya kan! Haduuuh, Arya Arya! Lu ribet amat ya kalo naksir sama cewek!"
"Ih, sembarangan lu kalo ngomong!"
"Lah, emangnya gue salah ngomong?!"
"Iyee! Big wrong!" ucap Arya sok cool. Sementara Boby, pria itu menatap dengan menyunggingkan bibir. "Btw! Lu gak ada hubungan spesial 'kan sama Jesica?"
"Ada!" jawabnya singkat.
"Serius??"
"Iya, tapi, sebagai teman akrabnya!"
"Fiuh!" Arya menghela napas. Lega.
"Kenapa, emang?"
"Sebenarnya, cewek yang gue taksir itu, Jesica, temen loe!" ungkapnya sedikit malu.
"Seriuss??"
"Iya lah! Kapan sih gue suka bohong?!" sahut Arya.
Sedetik Boby terdiam. "Gue saranin, mending loe batalin aja deh rasa suka loe! Kasih ke cewek lain aja!"
"Enak aja lu, nyuruh gue batal-batalin. Memang apa salahnya kalo gue suka dia?"
"Ya, takutnya aja, ntar lu nyesel!"
"Nyesel kenapa?" Jesica 'kan manis!"
"Jesica memang manis! Tapi, lu harus tau, dia itu cuma menang diperawatan. Ada banyak cewek yang cantik sekelas Jesica kok! Nih ya, gue kasih tau! Bahkan, cewek secupu Alona aja bisa lebih cantik kalo udah nyentuh yang namanya perawatan. Dan satu lagi, Jesica itu, MATRE!"
"Ah, bohong, lu. Paling juga, lu syirik kan sama gue! Gak percaya gue sama omongan lu!"
"Yee, dibilangi juga! Malah ngeyel. Gue tuh udah lama temenan sama dia! Gue tau persis karakter ntuh cewek kayak gimana!"
"Ah! Gak percaya gue!"
"Hedeeh! Terserah loe deh kalo gak percaya! Gue sih cuma ngingetin. Jangan nyesal ntar kalo udah ketahuan sifat aslinya!"
"Lu kenapa sih? Kayaknya, gak setuju banget kalo gue naksir Jesica. Jangan-jangan, loe juga suka ya sama dia?"
"Bro, Bro! Ngapain juga gue naksir dia. Cewek yang suka sama gue itu ada banyak. Ngantri berjejer, kayak antrian di pom bensin!"
"Eleeeh, sombong amat lu! Cewek yang naksir gue juga ngantri! Cuma, gue aja yang gak mau sama mereka. Toh, mereka cuma ngincar harta gue!"
"Ya, sama!"
"Lah, sama dari mana? Semua barang mewah yang lu punya kan ngutang di gue!"
"Iye, iye, gue kalah! Apalah gue, yang cuma menang tamvan!"
"Kata siapa? Tampan juga gue!"
"Tampan gue!"
"Gue!"
"Gue!"
Kedua sahabat itu saling melotot, melipat kedua lengan di atas d**a. Sedetik kemudian, saling buang pandang.
******
Sementara itu di kediaman Alona ....
"Huaaa! Jesicaaa!" Alona menangis bak gadis kecil yang meminta permen.
"Aduuh, Al! Gue kan udah bilang, lu jangan nangis lagi! Kenapa masih nangis sih?"
"Jes! Lu musti tolong gue! Ini bener-bener darurat! Huaaa!"
"Darurat apanya, coba?"
"Tapi janji ya, lu musti bantu gue!"
Jesica menghela napas. "Iyee, emang lu butuh bantuan apa?"
"Gue butuh duit! Lu bisa pinjamin gue kan?"
"Oh, jadi soal duit! Lu butuhnya berapa?"
"Sekitar 900an, Jes!"
"Lah, duit sebanyak itu buat apa?"
"Buat bayar utang," ucap Alona dengan wajah melas. Membuat Jesica mendesah. "Temponya cuma sampai besok pagi! Atau nasib gue bakal berakhir tragis! Huaaa!"
"Berakhir tragis gimana? Lagian, lu ngutang 900an buat apaan?
"Lu ingat belanjaan gue yang numpuk kemarin gak? yang bayar itu, dia! si m***m yang bikin gue kesengsem!"
"Serius?? Jadi, yang maksa loe bayar cepat itu, cowok m***m yang loe taksir itu?" tanyanya kaget.
"Iyaa!" jawab Alona pelan. wajahnya menunduk. Membuat amarah membuncah di benak Jesica.
"Yang mana orangnya? Kasih tau gue, biar gue beri pelajaran dia!" ungkapnya emosi, lengkap dengan menggulung bagian lengan baju. "Berani-beraninya dia ngancam elo!"
"Gak usah, Jes! Lu pinjamin aja gue uangnya!" sahut Alona melas.
"Lu pasrah banget sih!"
"Biarlah, Jes, gue gak mau masalahnya jadi lebih rumit."
"Terserah loe deh! Tapi, gue gak bisa pinjamin loe kalo sebanyak itu!"
"Kenapa? Pliiss, Jeess! Cuma loe harapan gue!" Alona memelas.
"Bukan gue gak mau tolong lu! Cuma, uang gue juga tinggal sedikit, buat bertahan selama liburan di sini!"
"Tapi, lu kan punya banyak kenalan orang kaya, lu bisa pinjam ke mereka kan!"
Iya sih! Tapi ... gue kan malu!"
"Tolong lah, Jes! Pliis! Lu pasti punya temen yang bisa bantu tanpa harus malu."
"Ada sih! Gue bisa pinjam sama Boby!"
"Nah, iya! Boby! Lu pinjam sama Boby dulu ya. Pliss!"
"Ta-tapi! Boby itu kan calon gebetan gue juga! Gue malu dong, Al. Belum juga jadi ceweknya!"
"Ayolah, Jes!" rengeknya. "Kalo lu gak mau, biar gue aja yang ngehubungi dia!" Mendadak Alona meraih ponsel yang digenggam sahabatnya itu.
"Al, Al! Lu mau ngapain!" gertaknya, berusaha merebut kembali ponsel miliknya di tangan Alona. Sementara gadis itu, ia sibuk mengotak-atik daftar nama di kontak Jesica.
"Dapat!" seru Alona yang langsung menekan tombol panggilan atas nama Boby.
"Al, lu jangan nakal ya! Balikin gak!" hardiknya sambil terus berusaha merebut ponselnya.
"Kagak mau! Ueee!" Alona tak mengembalikan. Sebaliknya, gadis itu mengolok sambil terus bersikeras mempertahankan panggilan telepon yang terlanjur masuk.
Sementara itu, di kediaman Arya, kedua sohib itu masih sibuk bertengkar. Masalahnya sepele, keduanya merasa diri paling tamvan. Hingga tiba-tiba, sebuah panggilan masuk berhasil menghentikan pertengkaran mereka.
Keduanya nampak terbelalak melihat nama pemanggil yang masuk di ponsel Boby. Tertera 'Jesica'.
"Baru juga diomongin, langsung nelpon! Panjang umur banget sih!" tukas Boby yang langsung meraih ponsel miliknya. Membuat rasa iri menggerayungi pikiran Arya.
Klik! "Halo, Jes!"
[Halo, lu Boby kan?]
"Lah, lu siapa? Kok nelpon pakai nomor Jesica?"
[Ini gue, Alona! Lu ingat kan?] sahutnya dari dalam telepon. Membuat pria di sebelahnya bergidik menatap Boby. Mengerutkan dahi sebagai bahasa isyarat, seakan bertanya siapa si penelpon?
"Alona!" bisik Boby pelan.
"Oo!" sahut Arya tanpa suara.
Kembali Boby berbicara dengan si penelpon. "Oh, Alona. Iya gue ingat! Lu ada perlu apa nelpon gue?"
[Gue butuh bantuan loe, Bob]
"Bantuan apa?"
[Lu bisa pinjamin gue duit gak? Tapi, kalo bisa sekarang, ini darurat! Gue janji, bakal lunasin setelah gaji gue keluar bulan depan!] jawab Alona dari dalam telepon.
Kembali Arya bertanya dengan bahasa isyarat. Membuat Boby menjauhkan telpon dari wajah. Lalu menutup lubang speaker dengan jemarinya. "Mau pinjam duit katanya!" sahut Boby.
"Jangan dipinjamin!" tukas Arya seakan sebuah perintah. Nyaris membuat kerutan di dahi Boby.
"Lah, emang kenapa, kok gak boleh? Duit, duit gue juga!"
"Gue bilang jangan, ya jangan!"
"Lu kenapa sih?"
"Gakpapa! Pokoknya lu jangan pinjamin dia! Atau insentif loe, gue potong seratus persen! Gak mau kan! Ya udah nurut aja apa kata gue!"
"Wah, kejam lu!" ungkapnya yang langsung kembali meletakkan ponsel di sela daun telinga. "Halo, Al?"
[Iya, Bob gimana? Lu bisa kan bantu gue?]
"Duh, gue minta maaf banget ya, gue gak bisa! Tapi kalo lu perlu pertolongan yang lain, gue siap bantu kok!" Boby terpaksa mengatakannya. Toh, Alona bukan siapa-siapa. Tapi tetap, ada rasa sesak di hatinya.
[Serius, Bob? Lu gak bisa bantu?] sahut Alona di seberang dengan nada pilu.
"I-iya, gak bisa. Maafin gue ya, Al" ucap Boby yang kemudian menutup telepon. Sejenak ia terdiam. Kemudian pandangannya beralih ke Arya.
"Kenapa lu lihatin gue?" tukas Arya.
"Lu kejam bener ya!"
"Udahlah, gak usah lu bahas. Cuma masalah gini doang!" Sahutnya, lalu kembali berbaring sambil memainkan gawai.
"Lu tau gak sih, tuh cewek sampai nangis karena gue bilang gak bisa!"
"Iya, gue tau!"
"Trus, kenapa lu jadi begini, Bro? Ini tuh bukan Arya yang gue kenal!"
"Begini, gimana maksud loe? Gue kan cuma gak ngizinin elo pinjamin dia!"
"Lu kurang manusiawi!"
"Wah! Sekarang lu mulai lancang ya, ngatain gue!" gertak Arya. "Lu tau gak, dia minjam uang buat apa? Gak tau kan lu!"
Boby terdiam.
"Dia minjam buat bayar hutang sama gue! Lu pikir kenapa gue gak mau lu bantu dia? Biar tu cewek ngerti, dan tau sopan santun! Lu gak tau kan, nasib sial apa aja yang sudah menimpa gue semenjak gue bertemu dia?"
Boby masih bergeming.
"Udahlah, Bro. Gue malas bahas! Mending sekarang lu balik aja! Soal jaket itu, gue minta maaf! Tapi gue janji bakal ganti!"
Boby tak menjawab. Sejenak ia masih berdiam di tempat. Hingga beberapa saat, ia memutuskan beranjak dari kamar Arya setelah drama diusir secara halus.